10 Mengucap  Syukur Dalam Segala Hal

Orang Jahudi telah banyaksekali menderita pengayaniayaan yang bersifat agamawi, hal ini membuat mereka lebih toleran terhadap agama-agama (selama agama itu tidak mengancam kepercayaannya). Tetapi masyarakat ultra-ortodox di Israel masih menyimpan kepahitan, khususnya atas orang Jahudi yang percaya pada Yesus. Mereka akan mencoba mempersulit orang-orang percaya dimana saja mereka bisa (walaupun tindakan yang mereka lakukakan itu belum dapat disetarakan dengan penganiayaan secara nyata). Mereka hanya terdiri dari sekelompok kecil masyarakat Israel tapi luarbiasa kuatnya. Namun kebanyakan orang Jahudi punya alasan yang cukup untuk memandang orang-orang percaya jahudi sebagai penghianat agama Jahudi. Sejarah dipenuhi dengan penganiaayaan-penganiayaan yang menentang orang Jahudi oleh orang-orang yang bertopengkan agama „kristen“. Bagaimana mereka bisa tahu bahwa orang-orang yang penuh dengan kekejian dan kebencian itu sebenarnya sama sekali bukan orang kristen? Hanya kasih Mesias mereka atas mereka satu-satunya yang dapat menyembuhkan luka tersebut dan menghapuskan segala bekasnya oleh namaNya.

Ketika anak-anak dan saya untuk pertama kalinya tiba di Israel, fakta ini membuat saya merasa takut dan menyadari bahwa saya belum menyerahkan diri sepenuhnya pada Tuhan, saya tetap merahasiakan bahwa saya percaya pada Yesus. Kami menyembunyikan Alkitab kami dan berdoa dengan berbisik pada malam hari. Dan saya tidak menceritakan kepada siapapun kepercayaan yang baru saya temukan itu!

Seorang pemuda yang tinggal di kompleks itu nampaknya begitu sdih dan kesepian, namun ketakutan saya telah menghalangi rasa simpati saya terhadap pemuda itu. Saya tahu bahwa hanya Yesus satu-satunya yang dapat mengisi kekosongan hatinya!

Nama pemuda itu adalah Stan. Ia berasal dari suatu keluarga berada di Amerika, namun hidupnya lebih dikuasai kesepian. Ia sering ditinggalkan bersama dengan pembantu rumah tangga, sementara kedua orangtuanya melancong ke negara-negara lain. Ketika untuk pertama kali ia mengunjungi saya pada suatu sore bulan Oktober, topik pembicaraan kami beralih kepada masalah agama. Setelah diam-diam saya berdoa minta pertolongan Tuhan, saya menunjukkan ayat-ayat referensi tentang Mesias dalam Alkitab, khususnya Yes.53. saya menjelaskan tentang nubuatan-nubuatan mengenai Yesus dalam Kitab Torah dan bagaimana saya menemukan bahwattiap-tiap nubuatan itu ternyata dipenuhi dalam diri Yesus. Saya juga menjelaskan bahwa Dialah Mesias orang Jahudi, dan mempercayaiNya sebagai Mesias kita, menyempurnakan warisan Jahudi, hukum dan nubuatan-nubuatannya!

Ia banyak mengajukan pertanyaan hari itu, dan saya share dengannya sebagaimana kasih Yesus telah menjamah hidup saya dan meletakkan kasih yang khusus bagi Israel. Kami mendiskusikan hal itu satu atau dua kali, kemudian bermingu-minggu tema itu tinggal begitu saja.

Satu kali, pada awal bulan Desember, Stan datang mengunjungi kami, dan pada saat yang bersamaan Kalaus teman baik kami pun datang. Klaus yang sangat antusias dalam penginjilan itu, tanpa malu melainkan dengan semangat yang berapi-api terus menceritakan kasih Yesus yang luarbiasa itu. Kali ini Stan menjadi sangat sedih. Hari-hari berlalu, sikap Stan semakin menampakkan rasa was-wasnya dan saya sendiri semakin merasakan adanya sesuatu bahaya yang tersembunyi.

Satu hari, sebelum masuk sekolah, seorang Amerika datang pada saya: „Saya rasa lebih baik memperingatkanmu,“ ucapnya. „Stan telah melaporkan kepada direktur kompleks imigrasi ini, dan menyebarkan di seluruh kompleks ini, bahwa kamu adalah orang percaya dan kamu sebenarnya datang ke Israel sebagai imigran atas alasan yang palsu. Ia menyebutkan nama-nama mereka yang sudah mendengar hal itu dari Stan, saya menjadi amat sedih, sebab tak seorangpun diantara teman-teman ini yang memeberitahukan nya pada saya! Saya berterimakasih atas kebaikannya dan ternyata masalah itu sudah membesar.

Saya memasuki ruang kelas dan duduk disebelah Stan, sebagaimana biasa. Fakta bahwa saya telah mengetahui tindakannya itu, rupanya begitu terpancar diwajah saya sehingga ia dapat membacanya, karena kemudian ia memandang saya dan berkata, „Maafkan saya, tapi saya merasa bahwa saya harus melakukan hal apa yang harus saya lakukan.“

„Tidak apa-apa,“ Jawab saya. „Saya sungguh dapat menghargainya.“

Dan hal itu benar. Saya sungguh menghargainya. Saya benar-benar mengerti perasaannya. Baginya adalah hal yang sangat mustahil bahwa seorang Jahudi asli menerima Yesus sebagai Mesiasnya, tapi tetap mengaku sebagai orang Jahudi. Hal yang hanya dapat dimengerti, melalui jamahan Allah Abraham, Isak dan Jakob. Di matanya, saya tidak lebih dari seorang penghianat, yang menghianati idealisme Jahudi. Saya sangat menghargai sikapnya.

Sementara pelajaran berlangsung saya sukar sekali memusatkan perhatian. Saya memikirkan tentang kelanjutan masalah tersebut. Saya mengarahkan pandangan saya pada Stan, tiba-tiba Yesus memenuhi hati saya dengan kasihNya dan penyerahan diri secara total padaNya.

Dan sekonyong-konyong, Ia menganugrahkan pengertian yang dalam buat saya tentang pergumulanNya di kayu salib menjelang kematianNya! Saat itu, Ia mencelikkan mata saya untuk melihat, hatiNya yang luka ketika Ia dihianati, dicaci, digiring sebagai penjahat bahkan dijatuhi hukuman mati demi kita. Penderitaan yang bukan tidak ada bandingannya. Melalui kejadian itu Dia juga menolong saya untuk mengerti bahwa Dia telah menderita demi kasihNya pada tiap orang yang telah menganiayaNya. Kasih yang sama berlaku juga bagi setiap orang yang mengakibatkan suasana yang tidak masuk akal itu. HatiNya bahkan bertambah pilu, sebab Ia menyadari bahwa para pelaku itu sendiri sama sekali tidak menyadari perbuatan mereka itu. Air mata saya menjadi amat sukar dibendung ketika saya menyadari akan kedangkalan kasih saya. Kasih Yesus yang tak terbatas itu, memampukan Dia tekun menanggung semua penderitaanNya demi kita.

Sukar sekali melukiskan bagaimana Tuhan menyentuh hati kita yang terdalam dengan cara mengingatkan kita akan diriNya sendiri dan melaluinya segala sesuatu bisa menjadi jelas! Akibatnya saya meninggalkan ruangan kelas itu tanpa rasa belaskasihan terhadap diri sendiri, sebaliknya Tuhan telah memberi peluang bagi saya untuk dapat merasakan sebagian dari penderitaanNya. Saya juga dapat merasakan kasihNya yang begitu besar atas kita dan bebanNya yang berat atas jiwa Stan. Keadaan sungguh berubah hanya dalam sekejap mata.

Ketika saya keluar meninggalkan ruangan kelas, penerima tamu di pintu gerbang memanggil saya. „Bapak direktur ingin berbicara denganmu di kantornya sekarang, katanya. Saya pergi menghadap sang direktur dipenuhi dengan rasa damai.

„Silahkan duduk,“ ucap Saul (nama direktur tersebut), lalu langsung to the point. „Saya dengar bahwa kamu percaya pada Yesus, apakah itu benar?“

Secara duniawi kini saya punya satu pilihan. Saya dapat menyangkali hal itu, dan dengan demikian situasi akan kembali seperti semula. Atau saya mengakuinya dan kemungkinan harus meninggalkan pusat imigrasi itu. Dari segi iman, bagaimanapun hal itu bukan suatu pilihan. Saya mengasihi Yesus. Bagaimana mungkin saya melukaiNya– yang tentu akan terjadi– jika saya menyangkaliNya.

„Ya, hal itu benar,“ jawab saya. Saya tambahkan lagi, „Namun iman saya pada Yesus tidak merubah kejahudian saya, sebaliknya saya justru semakin mengakui identitas saya sebagai orang Jahudi, sebab Dia adalah penggenapan nubuatan tentang Mesias dalam Kitab Tenah!“

Saul menatap saya dengan tercengang! Oleh karena dia sama sekali tidak mengharapkan jawaban yang demikian atas pertanyaannya! Setelah berpikir sejenak, dia menjelaskan pada saya, bahwa saya dan kedua anak saya harus meninggalkan pusat imigrasi tersebut.

„Ini semata-mata bukan karena kami tidak menyukaimu“! tambahnya. „tetapi kami telah punya pengalaman yang menimbulkan banyak persoalan oleh kasus yang mirip dengan kasusmu ini.“

Saya tanyakan padanya apakah kami harus meninggalkan tempat itu pada hari itu juga.

„Tidak, tidak harus hari ini, namun secepat mungkin.“ jawabnya mengakhiri pembicaraan kami.

Saya berjalan menaiki tangga kelantai atas menuju kamar kami. Dan setelah saya menutup pintu dibelakang saya, air mata sayapun mulai bercucuran. Saya menangis oleh karena saya memikirkan kedua anak saya. Mereka menghadapi masalah baru! Masalah yang bisa jadi cukup berat bagi dua anak kecil seperti mereka khususnya bagi Joey yang sedang punya masalah di sekolah!. Dengan tiba-tiba mereka harus hidup tanpa tempat tinggal yang tetap, dan waktu itu persis menjelang Hari Natal. Kemanakah kami harus pergi? Apa yang harus kami lakukan? Saya masih punya sedikit uang dari uang bulanan kami dari Amerika, tapi dengan uang itu kami tidak akan mungkin dapat menyewa tempat tinggal baru!

Ketika anak-anak kembali dari sekolah, saya berusaha sekuat tenaga menghilangkan air mata saya. Saya menjelaskan keadaan yang sebenarnya kepada mereka dengan nada seyakin mungkin. Setelah makan siang, kami pergi ke Gereja Skandinavia. Saya yakin, bahwa mereka akan menolong kami dan akan merelaan kami tinggal di sana untuk sementara sampai tiket pesawat kami ke USA tiba, sebagaimana kami telah rencanakan sebelumnya.

Di sana kami tidak menemukan seorangpun di rumah, akibatnya saya menjadi panik. Saya berusaha mengirim telegram kilat pada Joe untuk memberitahukan kepadanya tentang keadaan yang sebenarnya, yang berbunyi:

„Oleh karena agama, kami harus meninggalkan pusat imigrasi. Tolong kirim surat ke Gereja Scandinavia (dan mencantumkan alamat).

Setelah makan malam kami kembali ke Gereja Skandinavia. Pada saat itu Jenny sudah berada kembali di rumah. Segera saya menceritakan segla sesuatu yang telah terjadi padanya. Jenny adalah orang yang sangat baik dan penuh pengertian, saya tahu bahwa ia sangat mengerti keadaan kami.

„Sudah tentu engkau akan dijinkan tinggal di sini,“ lalu ia menelepon sang Pendeta jemaat yang berwenang memberi ijin tersebut.

Pada saat yang sama saya punya suatu firasat yang tak mungkin diragukan lagi; saya mulai berdoa. Dalam beberapa menit kemudian Jenny kembali dengan wajah yang memancarkan kekecewaan yang luar biasa.

„Beliau menolak, beliau tidak berani memberi ijin bagi seorang percaya Jahudi untuk tinggal di sini demi menjaga keamanan akan reaksi pihak Ultra-Ortodox Jahudi.“ Jenny yang malang kelihatannya begitu kwatir dan kecewa saat itu maka saya mencoba untuk meyakinkannya.

„Tidak apa-apa,“ ucap saya, „ Tuhan baru saja mempersiapkan saya akan apa yang akan terjadi. Jangan takut, sesuatu pasti akan terjadi !“

Untuk sementara kami membungkam lalu membicarakan hal itu. Hal yang benar-benar mengherankan bagi kami bahwa seseorang dengan nama Tuhan telah tega menolak seorang ibu dengan anak kecil tanpa tempat bernaung! Kami tahu bahwa alasan penolakannnya adalah suatu tanda penyakit rohani. Kami berdua berdoa baginya, dan bagi keadaan kami. Kemudian saya menelfon ke Amerika.

Sebelum saya meninggalkan Amerika, ada banyak orang kristen yang berjanji akan siap membantu saya sedapat mungkin. Maka sayapun menjadi sangat yakin, bahwa saya tinggal menelepon saja. Dengan penuh harapan saya menelefon teman saya Jean. Saya menceritakan semua kejadian itu padanya dan memohon agar ia menghubungi anggota jemaat gereja maupun teman-teman lainnya apakah mereka bersedia membantu. Jika mereka bersedia memberi bantuan satu atau dua dollar perorang, maka itu akan lebih dari apa yang kami miliki! Sedetikpun saya tidak pernah meragukan kebaikan mereka tiap orang dan „pengorbanan-pengorbanan mereka jika diperlukan“, maka dengan yakin saya berharap bahwa dalam waktu singkat kami akan menerima uang untuk menolong kami dari kesulitan tersebut!

Saya berteimakasih pada Jenny atas dukungan dan bantuannya,sambil berjanji bahwa saya akan memberi kabar tentang selanjutnya. Dia juga berjanji akan mencari tempat tinggal buat kami.

Kedua anak saya dan saya, menghabiskan waktu yang panjang berbincang-bincang malam itu. Keesokan harinya mereka pergi ke sekolah dengan jaminan saya bahwa sesuatu akan segera terjadi. Hari-hari berikutnya, Richard menghubungi orang-orang kristen di Jerusalem untuk meminta bantuan bagi kami, namun tak seorangpun yang rela menolong satu keluarga Jahudi yang yang percaya oleh karena hal itu telah diketahui pihak penguasa.(Oleh karena peristiwa itu persis menjelang Natal, maka saya dapat membaca riwayat kelahiran Yesus dengan pengertian-pengertian baru,khususnya mengenai perasaan Maria dan Josef ketika mereka mengalami kesulitan mencari tempat!)

Beberapa hari telah berlalu, namun kami belum kemana kami harus pergi. Jenny terus mencoba membantu kami kami dengan mencarikan tempat, dan Richard menelefon kemana-mana demi kepentingan kami, sementara itu situasi di Pusat Imigarasi semakin meruncing. Tak seorangpun dari sahabat-shabat lama saya mau berbicara dengan saya dan pimpinan asrama tersebut semakin membuat jarak. Tetapi tiba-tiba saya menyadari situasi sekarang ini sebenarnya tidak lebih berat dibandingkan dengan siatuasi-situasi yang lain! Sejak peristiwa dalam kelas, ketika Yesus menyingkapkan penderitaanNya pada saya, saya sama sekali telah melupakanNya. Sebaliknya saya kembali mengandalkan pertolongan dari manusia.

Mengapa Ia terus mengasihi saya –mengapa Ia terus mengasihi setiap orang diantara kita – sungguh suatu hal yang melampaui akal saya. Namun sebagaimna biasa, pengampunanNya selalu sempurna dan segeera berlangsung. Kemudian, untuk pertama kali sejak peristiwa itu berlangsung, saya mulai menyerahkan persolan tersebut secara total kepadaNya. (Seandainya hal itu saya lakukan sejak awal, tentu saya akan terhindar dari kekecewaan-kekecewaan yang telah timbul).

Malam itu saya pergi tidur dengan penuh keyakinan, bahwa jalan keluar akan segera muncul. Itulah sebabnya saya menjadi heran, ketika tengah malam saya terbangun dan menemukan Michael panas tinggi oleh fiber dan nampaknya penyakitnya serius.

Suhu badan Michael begitu tinggi sehingga ia menginginkan agar saya terus berada disisinya. Saya merangkulnya dan tak putus-putusnya berdoa sepanjang malam yang terasa berkepanjangan itu. Keesokan harinya Joey tidak pergi ke sekolah, sama seperti saya dia juga mengkhawatirkan kesehatan Mike, maka ia menemani kami ke Dokter. Saya menggendong Michael, sebab saya tidak punya cuup uang untuk menyewa taxi. hasil periksaan dokter menyatakan bahwa Michael kena serang flu dan bisa jadi ia sakit untuk beberapa hari. dengan dibekali obat-obatan, kami kembali menuju asrama. Sementara itu saya menjadi sangat lelah oleh perjalanan panjang dan tekanan-tekanan dan saya tahu, tanpa petolongan Tuhan, saya tidak akan mampu memikul semua itu. Dalam kompleks asrama itu dengan menggendong anak kecil yang sakit, saya menghadap pada Saul.

Tanpa pikir panjang, saya hanya katakan, „Silahkan jangan minta kami pindah sekarang, Michael sakit keras dan kami tidak tahu kemana hendak pergi!“ Lalu airmata pun mengalir dipipi saya.

Apa yang kemudian terjadi adalah hal yang selalu membuat saya terheran-heran. Saul mempersilahkan kami memasuki ruangan kerjanya lalu katanya, „Oleh karena kamu telah merencakan untuk meninggalkan tempat ini secepat mungkin, maka adalah lebih baik jika kamu tinggal di sini sampai ex suamimu mengirimkan tiket pesawat anak-anakmu. Saya tidak akan pernah tega membiarkanmu dijalanan!“ Saat itu saya begitu lelah sehingga saya tidak dapat segera melihat muzijat Tuhan. Saya hanya berterimakasih dan saya bersama anak-anak langsung pergi menuju kamar kami.

Penyakit Michael bertambah parah dan ia menginginkan agar saya tetap berada di sisinya. Jenny dengan setia datang tiap hari atau sekali dua hari. Ia membantu kami untuk berbelanja dan saya sendiri mencoba melakukan yang terbaik bagi Michael dan Joey. Baru setelah keadaan mulai membaik dan untuk pertama kali saya bisa tidur dengan nyenyak, saya mulai benar-benar menyadari apa yang telah terjadi. Pada hari saya menyerahkan masalah kami ke tangan Yesus, Ia menyediakan rumah bagi kami! Oleh karena kondisi Michael, hati Saul menjadi lunak. Hal ini juga mengingatkan saya kembali atas salah satu sifat orang Israel. Banyak orang „kristen“ menolak kami, tetapi adalah hal yang mustahil bagi orang Jahudi termasuk Saul, untuk menolak orang yang sedang kepepet, mungkin oleh karena mereka sepanjang sejarah sering mengalami kesusahan.

Sering sekali di tengah-tengah kesulitan amat sukar melihat tangan Tuhan. Baru setelah kesulitan itu berakhir, kita mulai melihat hikmat dan kasihNya yang begitu nyata, yang juga menyadarkan kita, bahwa Ia tidak pernah meninggalkan kita!

Setelah beberapa hari, kesehatan Michael semakin membaik dan kehidupan kembali mulai normal. Saat itu saya masih punya sedikit uang sisa dari hari raya Hannukah dan hadiah- hadiah Natal. Saya tahu bahwa tiket kami ke Amerika akan segera tiba, sementara anak-anak baru melihat sebagian kecil dari Israel! Setelah berdoa, saya mengetahui bahwa keinginan saya membawa mereka tiga hari ke Galilea, agar mereka juga dapat mengunjungi tempat kesayangan Yesus itu adalah kehendak Tuhan. (Karena pengalaman kami di Eliat di luar kehendak Tuhan, maka kali ini saya sungguh mencari pimpinan Tuhan!) Oleh karena pendeta gereja Scandinavia itu merasa bersalah telah menolak kami, maka kini beliau menginjinkan kami untuk menggunakan rumah mereka di Heifa. Pernyataan beliau inipun saya ambil sebagai peneguhan terakhir dari Tuhan akan rencana kami!

Sebelum berangkat, dengan amat hati-hati, kami meninggalkan pesan pada Saul bahwa kami akan pergi ke Asdod selama tiga hari, dengan harapan tiket kami ke Amerika akan tiba jika kami kembali. lalu kamipun memesan tiket Kreta Api dan berangkat menuju Galilea! Perjalanan dengan Kreta Api begitu mengagumkan! Rel Kreta Api memanjang melalui pemandangan yang indah sepanjang Mediteranian sampai ke Haifa. Kami begitu menikmati perjanan tersebut!

Haifa adalah kota pelabuhan yang amat indah. Hari pertama kami di sana kami habiskan untuk menelusurinya. Dengan angkutan Kreta Api dalam kota, kami mendaki sampai ke Gunung Karmel, dari puncak gunung itu kami menikmati pemandangan Mediteranian yang begitu indah sampai ke kota Acre di kejauhan.

Pada hari kedua kami naik Bus. Kami berhenti di Tiberias di penghujung danau Galilea. Tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan keindahan Danau Galilea yang kelilingi oleh pegunungan itu! Pemandangan yang melahirkan rasa damai. Tidak mengherankan lagi, mengapa Yesus begitu mencintai tempat itu. Lagi-lagi saya menjadi terpukau mengagumi betapa Israel dalam banyak hal tidak mengalami perubahan. Tentu keindahan tempat itu tidak jauh berbeda dengan dua ribu tahun yang lalu, ketika Yesus berkhotbah di sana dengan khotbahNya yang masih berkumandang di hati manusia sampai sekarang!

Di sana kami menemukan tempat yang nyaman dekat air. Saya membacakan bagian-bagian Alkitab menceritakan pelayanan Yesus di tepi Danau Galilea dan segala sesuatu yang telah terjadi di sana. Kami benar-benar merasa sangat beruntung boleh berada di sana.

Kemudian kami berhenti untuk makan siang dan menikmati makanan khusus di sana, yaitu „Ikan Santo Petrus“! Michael memandanginya sepintas dan menjadi terkejut.

„ Mam, masih ada matanya“, bisiknya! Saya tidak menceritakan bahwa saya telah memesan sesuatu yang lebih realistis buatnya.

Pemberhentian kami yang berikut adalah Nazaret, yang sekarang adalah bagian dari Arab. Kami menelusuri jalan-jalan kecil yang diliputi dengan kesibukan manusia, sambil memandang bukit-bkitnya, membayangkan Yesus berjalan bersama murid-muridNya. Malam itu kami kembali ke Heifa dengan perasaan amat dekat dengan Yesus dalam bentuk yang khusus. Rasanya Dia telah membagikan sebagian hidupNya buat kami!

Pagi hari berikutnya kami harus kembali ke Asdod, namun kami benar-benar telah menikmati tiga hari yang kami lalui.

Ketika kami tiba di Asrama Imigran itu, ternyata dua telegram penting telah menanti saya di kotak pos. Satu diantaranya dari Joe dan yang lain dari kantor konsulat Amerika di Jerusalem. Keduanya berisi pesan penting agar segera saya telefon! Dengan penuh kebingungan, saya menelefon Amerika lebih dahulu.

Segera setelah Joe mendengar suara saya, ia langsung bertanya, „Apakah kau baik-baik saja?“ Dari getaran suaranya saya menyadari kepanikannya.

„Tentu Joe, kenapa kamu bertanya demikian?“ Mungkin dia telah mendengar berita Israel melalui radio bahwa kami menghilang selama tiga hari. Saya benar-benar tidak terpikir akan jawabannya.

„Seseorang telah mengarbarkan pada saya, bahwa engkau melarikan diri, dan saya tidak akan pernah melihat kedua anak itu lagi, jika saya tidak segera mengirim tiket pesawat.“

Saya begitu kecewa. „Joe hal itu sama sekali berita palsu! Anak-anak dan saya baru saja berlibur tiga hari di Galilea! Jika seandainya saya melarikan diri, bagaimana mungkin saya bisa menerima pesanmu untuk menelefon kembali? Sebelum berangkat, saya menjelaskan rencana saya kepada pimpinan Asrama ini. Mengapa ada berita yang menyatakan bahwa saya melarikan diri?“

„Saya tidak tahu, saya hanya merasa lega setelah mendengar bahwa engkau baik-baik saja!“

„Tentu kami semua ada dalam keadaan baik! Mereka ada di sini, saya akan kasih mereka berbicara denganmu agar engkau semakin yakin!“

Joe dan Michael bercerita banyak pada ayah mereka tentang segala sesuatu yang kami lihat dan alami. Ketika mereka selesai, saya mengambil telefon kembali. „Joe, mengapa ada pesan untuk menelefon konsulat?“

Jawabnya luar biasa! Berita bahwa kami telah „melarikan diri“ membuatnya ketakutan, oleh sebab itu, ia menelefon senator Amerika demi jaminan keselamatan kami dan senator Amerika telah menelefon konsulat di Jerusalem!

„Saya sama sekali tidak mengerti bagaimana kamu mungkin berpikir seperti itu dan bagaimana kamu mungkin mempercayai issue yang demikian, Joe. Kami baik-baik saja. Anak-anak senang sekali menantikan saat mereka kembali ke Amerika!“ Lalu ia menjelaskan bahwa ia telah menyelesaikan segala urusan tentang peralihan tugas mengasuh anak-anak sesuai dengan hukum, dengan demikian saya tidak akan direpotkan oleh urusan tersebut lagi jika kami tiba di Amerika!“ „Jika semua urusan tersebut selesai, saya akan segera mengirimkan tiket itu via Perwakilan Jahudi di Boston“, ucapnya. Saya berterimakasih, airmata saya mulai mengalir menerima kenyataan bahwa perpisahan saya dengan anak-anak tidak akan terhindarkan lagi.

Beberapa menit kemudian saya menelefon konsulat Amerika untuk meyakinkan mereka tentang keadaan kami.“Kami sama sekali tidak ‘melarikan diri’, saya tidak bisa membayangkan kekacauan yang terjadi akibat salah faham ini!“ Saya berterimakasih atas perhatian mereka dan mohon agar melupakan semua itu. Saya tidak pernah memikirkan bahwa hal itu hanyalah awal dari suatu usaha seseorang di pihak perwakilan Jahudi agar saya meninggalkan Israel!

Suatu malam, seorang muda datang mengunjungi kami di Asrama. Ia memperkenalkan dirinya Manuel, teman Klaus, seorang Jahudi yang lahir di India.

„Saya telah mendengar banyak tentang Yesus dan kasihNya dari Klaus“, ucapnya dan sebagaimana ciri khas orang Israel ia langsung to the point. „Saya ingin tahu apakah kasihNya benar-benar nyata atau tidak!“

Saya tidak tahu mau buat apa. Tetapi Manuel menyelamatkan saya. „Maukah engkau menolong saya berdoa“, tanyanya.

Sementara berdoa saya menggenggam tangannya. Ia minta ampun dan mengundang Yesus masuk dalam hatinya. Saya mohon agar Yesus menjamah hatinya, menyucikannya dan memmenuhinya dengan Roh Kudus. Selesai berdoa Manuel tediam. Beberapa menit kemudian, saya tidak dapat lagi menahan diri.

„Manuel, apakah kamu merasakan kasihnya ketika kita berdoa?“,tanya saya. Suatu pertanyaan yang aneh, namun sebelum kami tiba di Israel saya mengamati, bahwa setiap kali saya berdoa buat seseorang, orang itu akan mersakan kasih Yesus. Sehingga saya merasa bahwa hal itu adalah berkat Tuhan buat saya! Tetapi sejak kami tiba di israel, Tuhan telah menampakkan ketidak berartian saya, maka saya tidak bisa membayangkan bahwa Ia masih menggunakan saya sebagai bejana kasihNya.)

„Tentu“, jawab Manuel segera dan pasti. Betapa kerdilnya iman saya saat itu dibandingkan dengan iman Manuel. Orang yang baru saja dalam Tuhan itu secara diam-diam telah mengajarkan sesuatu pada saya melalui ketenangannya!

„Manuel, kamu harus pergi menceritakan hal ini pada Klaus, Ia pasti akan bersorak-sorai.

Manuel pergi ke Gereja Scandinavia setelah berjanji akan datang kembali mengunjungi kami. Segala sesuatu hanya berlangsung sekejap, namun dalam waktu sekejab itu, dua orang telah melimpah dengan berkat!

Klaus adalah contoh iman yang hidup bagi kami semua. Dia masih muda belia, namun ia telah menyerahkan hidupnya secara total pada Tuhan. Ia memancarkan kasih dan sukacita Yesus dan saya belum pernah melihat ia menolak untuk menolong seseorang. Ia menginjili setiap orang yang ia temui. Yesus adalah bagian terbesar dalam hidupnya,sehingga mau tidak mau, mengabarkan kasih Yesus menjadi kehidupannya.

Salah seorang dari yang diinjilinya adalah orang Jahudi bernama Yehuda. Yehuda adalah fanatik Jahudi yang beriman teguh pada Allah Abraham, Isak dan Yakob, namun dia tidak bisa menerima ketuhanan Yesus.

Namun demikian, dia bersedia mengunjungi Klaus di Gereja Scandinavia dengan mengenderai sepeda untuk berjam-jam berdikusi tentang keagungan Tuhan dalam bahasa Ibrani.

Setelah satu tahun melayani di Gereja Scandinavia, dalam waktu singkat Klaus akan meninggalkan Israel menuju Norwegia sebelum ia kembali ke negerinya di Jerman. Rencananya ke Norwegia adalah untuk mengunjungi seorang nona Norwegia tunangannya. Dua minggu sebelum keberangkatannya, ia menerima surat yang sangat mengecewakan dari tunangannya. si nona itu memutuskan hubungan mereka, karena ia yakin bahwa Tuhan tidak menghendaki mereka menikah. Setelah berdoa Tuhan juga meneguhkan hal itu padanya, namun sulit baginya untuk menerimanya, maka  ia tetap berencana akan singgah di Norwegia, paling tidak untuk membicarakan hal itu secara langsung!

Malam sebelum keberangkatannya, gereja Skandinavia mengadakan pesta perpisahan. Saat yang sangat menyedihkan buat kami semua! Joey dan Mike akan sangat kehilangan dia, sebab biasanya Klaus selalu membawa mereka bermain. Dia telah meringankan beban mereka dalam kesulitan-kesulitan di negara asing itu dan menghabiskan kebanyakan waktu lowongnya dengan mereka. Pelukan perpisahan malam itu benar-benar sesuatu yang menyedihkan!

Sore hari berikutnya, Jenny datang ke Asrama kami.

„Saya ingin mengabarkan bahwa Klaus telah mengalami kecelakaan mobil menuju Lapangan Udara.Tidak ada luka berat, tetapi ia harus opname.“

Suatu berita kejutan, namun baik Jenny maupun saya, kami merasa damai.

Jenny, kamu ngak lihat dia memuji Tuhan di Rumah Sakit?“ Kami berdua menjadi tersenyum, sebab kami tau bahwa Klaus akan tetap memancarkan sukacitaNya di rumah Sakit.

Wolfgang akan menjemput kita malam ini untuk mengunjunginya jika kamu dan anak-anak mau ikut. Kami sepakat dan jenny kembali ke tempat kerjanya.

Ketika saya menceritakan hal itu pada Joey dan Michael serta meyakinkan mereka bahwa Klaus tidak mengalami luka berat, mereka sangat gembira, sebab Klaus tidak jadi pergi dan mereka masih bisa bermain dengan Klaus kembali!

Ternyata Jenny dan saya tidak salah,. Klaus tetap tersenyum lebar sebagaimana biasa!

Kami banyak belajar melalui pengalaman ini. Oleh karena kecelakaan itu, Klaus harus memperpanjang waktunya di Israel selama dua minggu. Sementara itu ia semakin mengerti bahwa Tuhan oleh anugrah dan pengasihanNya telah memberikan Klaus kesempatan kedua untuk menerima kehendakNya baginya. Akhirnya Klaus siap menerima kenyataan untuk membatalkan pertunangan itu. Tentu hal itu telah mengecewakannya, namun kasihnya pada Yesus menjadi kekuatan baginya!

Persis sebelum Klaus berangkat ke Jerman, Tuhan menghadiahkan sukacita besar buat dia. Suatu malam temannya Jehuda datang ke Gereja dengan wajah cemerlang. Jehuda menceritakan bahwa ia telah mendapat penglihatan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan bagi oarang Jahudi! Dengan meletakkan tangan di dadanya Jehuda berkata : „Yeshua Hashiavch!“ (Yesus adalah Mesias!) lalu memeluk kami semua. Dalam usia 6o tahun, ia telah menemukan penggenapan imannya pada Allah Abraham dan dia begitu bersukacita. Klaus mencucurkan airmata, sebab Tuhan telah mengijinkannya melihat dengan mata kepala sendiri satu dari benih yang ditaburnya telah tumbuh. Saat- saat yang paling membahagiakan.! Klaus berangkat ke Jerman dua minggu lebih lama dari yang direncanakan, namun waktu yang dua minggu itu telah membuat dia semakin akrab dengan Kekasihnya yang sesungguhnya.