14 PELAJARAN AKAN KASIH

Setelah meninggalkan persekutuan di Pensylvania, saya kembali ke Conneticut untuk menjenguk kedua putra saya pada akhir pekan. Setiap akhir minggu saya sangat mendambakan untuk mengunjungi mereka, namun saya tahu hal itu hanya mempersulit proses penyesuaian diri mereka itu saja. Pertemuan kami adalah pertemuan pahit dan manis. Kami merencanakan pertemuan kami yang akan datang, dua minggu berikutnya. Namun kali ini saya berpisah dari mereka dengan suatu kekuatan yang baru dan dengan rasa penuh pengucapan syukur pada Tuhan atas pertolonganNya. Saya masih menangis ketika mereka menaiki mobil Joe, tapi tidak sama lagi dengan kesedihan saya seperti waktu di Pensylvenia itu.

Pagi berikutnya saya kembali dalam perjalanan menuju Philadelphia mengunjungi sebuah persekutuan di sana. Dari sana saya naik bus Greyhound menuju rumah adik saya di Minneapolis.

Setelah lama berdiam diri dan tenang dalam bus, Tuhan menyingkapkan kejutan untuk bulan depanNya pada saya! Ia meneguhkan bahwa keinginan saya untuk mengikuti retreat Paskah di Jerman yang saya dengar sebelumnya adalah sesuai dengan kehendakNya. Maka saya akan mengunjungi Klaus di Castrop-Rauxel dalam perjalanan ke Inggris untuk mengunjungi adik bungsu saya Cathy dan suaminya. Dan saya akan kembali ke rumah saya di Israel.

Benar-benar suatu yang baru! Berarti saya benar-benar akan berpisah dari Mike dan Joe –bahwa kami akan tinggal di negara yang berbeda. Tiada yang lain yang dapat saya lakukan kecuali percaya akan kasihNya bagi mereka dan bagi saya.

Kabar baru untuk pergi ke Jerman juga kejutan. Memang saya pernah berjanji pada Tuhan ketika saya begitu bergairah, bahwa saya dengan senang hati akan pergi kemana saja Dia mau, asal jangan ke Jerman. Saya tidak pernah ingin pergi ke sana. Nampaknya Jerman adalah negara pertama dalam perjalanan keliling saya yang akan datang. Saya tidak tahu bagaimna saya akan pergi ke sana, namun entah bagaimana saya merasa yakin, walaupun ongkos pulang saya ke Philadelphia sajapun sudah tidak ada, apa lagi ke Jerman. Maka saya hanya meletakkan hal itu di tanganNya.

Sementara bus masih berjalan terus saya membaca buku Watchman Nee. Dia berbicara tentang kebutuhan pengikut Kristus untuk senantiasa mengesampingkan kehendak diri sendiri sebaliknya menyerahkan diri secara penuh dibimbing oleh Roh Kudus dalm setiap aspek kehidupan termasuk akan budi.

„Mengapa, bukankah hal itu tak masuk akal!“ Pikir saya. „Seolah-olah Tuhan menginginkan kita untuk berhenti berpikir!“ Dan saat itu juga Tuhan katakan „ya“.

Saya jadi sedih.“ Segera saya membantah, „Tapi hal itu tidak mungkin Tuhan. Bagaimana mungkin saya akan berhenti berpikir di dunia ini? Dan untuk apa Engkau telah memberikan kami otak?“

JawabanNya tegas. Setiap kali otakmu mulai berpikir, berhentilah sejenak dan menelitinya. Terbanyak adalah rencana, kebimbangan dan kritik. Setiap kali engkau habis pikir, berhentilah dan ajukanlah satu pertanyaan. – ‘Apakah yang sedang saya pikirkan membawa saya dekat pada Yesus? Atau sebaliknya hal itu menghalangi saya untuk mendengar suaraNya?’“

Dalam sejenak saya tahu bahwa apa yang dikatakanNya adalah benar. Pikiran saya jarang bahkan hampir tak pernah membawa saya dekat pada Yesus. hal yang hampir tak mungkin untuk mengesampingkan pikiran saya, namun Ia telah memangil saya untuk memulai satu pelajaran berat. Pada mula „kedagingan“ sering menolak. Saya mengajukan seluruh argumen-argumen yang lazim. „Jika Tuhan menghendaki saya seperti robot, seharusnya Ia menciptakan saya tanpa pikiran!“ Namun dalam lubuk hati saya, saya tahu bahwa itu adalah bisikan kesombongan. Betapa sakit dan lambatnya proses kematian kita terhadap diri sendiri. Ketika akhirnya saya menerimanya, saya segera mengerti bahwa hikmatNya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan hikmat manusia. ketika masih anak-anak test IQ menyatakan bahwa saya punya IQ tinggi. Saya telah melewati Universitas dan menyandang dua gelar, bahkan Ijazah tambahan di bidang Therapy keluarga. Semuanya itu, jika dibandingkan dengan hikmat Tuhan – Pencipta kita – sama sekali tidak ada artinya.

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.
Yesaya 55: 8-9

Ia mulai mengajarkan tahapan kepercayaan yang sebelumnya tidak saya kenal. Saya pikir saya telah beriman kepadaNya ketika saya menyerahkan kedua anak saya di tanganNya. Tapi sekarang Ia mengajarkan pada saya bagaimana hidup bergantung sepenuhnya pada Dia. Bukan hanya untuk kedua anak saya dan makanan sehari-hari maupun pakaian tapi juga untuk berpikir. Saya tahu bahwa kita hanya dapat mendengar suaraNya yang halus dan lembut melalui keterbukaan kita pada saat otak kita beristirahat.

Hari iitu juga saya mencoba untuk meletakkan pikiran saya ke dalam tanganNya. Segera saya mengerti bahwa yang pertama muncul ialah pertanyaan „Apakah itu suara saya sendiri atau kehendakNya?“ Pada saat kita mengesampingkan kehendak diri kita sendiri, Ia akan mengajarkan kehendakNya saja pada kita! Hal ini memberi pengertian baru bagi saya tentang saudara Lawrence dan bagaimana ia secara terus-menerus dapat merasakan kehadiran Tuhan.

Beritahukanlah jalan-jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, tunjukkanlah itu kepadaku. Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari.
Mazmur 25: 4-5

 "Engkau ini harus berbalik kepada Allahmu, peliharalah kasih setia dan hukum, dan nantikanlah Allahmu senantiasa."
Hosea 12 : 6

Andrew Murray menjelaskan konsep ini secara konkrit dalam bukunya, „Menunggu Tuhan:

„Jika menunggu Tuhan menjadi dasar suatu agama, ketergantungan secara roh akan terus.menerus berlangsung. Panggilan Tuhan, ‘Menunggu Tuhan terus-menerus,’ harus diterima dan dituruti... Menunggu secara terus-menerus harus menjadi suatu kebutuhan. Bagi mereka semua yang puas dengan kekristenan yang biasa-biasa saja, kekayaan adalah merupakan bukti seorang kristen yang baik. Tapi bagi setiap orang yang berdoa, ‘Tuhan jadikan aku kudus, sebagaimana Engkau telah menguduskan orang berdosa. Penuhilah saya dengan kasihMu sebanyak mungkin! Bimbinglah saya di sisiMu senantiasa!’ penuhilah segera sesegala sesuatu yang harus dimiliki seseorang. Mereka merasa tidak ada waktu sedetikpun terpisah dari Allah, tidak ada ketetapan dalam Kristus, bahkan tidak ada kemenangan iman maupun kesediaan melayani tanpa kesediaan menunggu Tuhan secara terus-menerus. Menunggu secara terus-menerus bukanlah sesuatu yang tidak mungkin...“

Seterusnya Andrew Murray menjelaskan bahwa kita harus memiliki konsep tentang Allah terus-menerus bertindak dalam hidup kita. Jika kita memikirkan bahwa Allah terus menerus bertindak, maka hal itu memungkinkan kita untuk mengerti, mengapa kita harus senantiasa menunggu Dia!

Dengan demikian, ketekunanmu dalam menunggu akan terjadi dengan sendirinya. Dengan keyakinan yang pasti dan kesukaan hal berikut ini akan menjadi kebiasaan jiwamu: ‘Aku menantiMu setiap hari’ Roh Kudus akan menolongmu senantiasa memiliki sikap menunggu.

Sementara bus berjalan terus saya mulai mencatatat pelajaran-pelajaran khusus yang saya anggap perlu dan yang masih akan Tuhan ajarkan pada saya. (Namun karena saya bukanlah orang yang setia dalam membuat catatan harian, saya hanya membuat catatan tiga kali!) Yang pertama muncul terjadi pada tgl.18 Maret 1977:

„Hari ini dalam bus seorang wanita tuli duduk berdampingan dengan saya dan saya mulai berpikir, ‘Alangkah indahnya jika saya punya karunia kesembuhan!’ Dan Engkau menolong saya untuk mengerti bahwa tidak ada yang lebih berharga daripada karunia akan kehadiran dan kasihMu.’Apa artinya mendengar jika kita buta dan tidakdapat melihat? Apa artinya melihat jika kita tuli dan tak dapat mendengar?’ Engkau telah menganugrahkan diriMu sendiri bagi saya, tentu itu adalah anugra yang terbesar. Saya merasakan kebesaranNya. Yesus tolong saya untuk senantiasa terbuka kepadaMu!“

Kira-kira satu atau dua jam setelah meninggalkan Chicago, tiba-tiba kami menyadari bahwa seorang pemuda telah naik di bus tanpa karcis. Ketika kami berhenti di halte bus, dia masih tidak mau meninggalkan bus. Tetapi ketika diminta agar dia membeli karcis, ia menjawab bahwa dia tidak punya uang. Pihak pemerintah tidak menginjinkan penumpang sedemikian diturunkan tanpa pihak berwajib, maka jalan keluar satu-satunya ialah seluruh penumpang harus turun dan dipindahkan ke bus lain. Tentu hal itu akan menyusahkan penumpang lainnya yang harus memindahkan barang-barang mereka. Sang supir terus meminta agar dia meninggalkan bus ddengan demikian penumpang yang lain bisa meneruskan perjalanan, namun dia berkeras.

Saya yakin penumpang yang lain sependapat dengan saya. „Jika orang ini mengambil risiko untuk naik bus dengan cara yang demikian, itu adalah urusannya. Tapi mengapa ia merusak ketenangan orang lain dengan bersikeras untuk tidak meninggalkan bus? “

Saya pun menjadi jengkel. Detik itu juga, tanpa diduga Tuhan berbicara. „PikiranKu bukan pikiranmu!“ Dan pada saat yang sama, saya dapat melihat keadaan pemuda itu dengan pandangan Yesus bukan pandangan Eileen. Saya telah menghakiminya dan lupa akan diri sendiri yang juga orang berdosa. Tetapi Yesus melihat seorang pria malang dan ketakutan, bukan hanya miskin secara materi tapi juga miskin rohani.

Saat itu saya mulai bergumul. Saya tahu saya harus menolongnya, namun tidak mudah bagi saya untuk melepaskan rasa jengkel saya begitu saja. „Jika saya menolongnya,“ pikir saya, „apakah hal itu sungguh akan menolongnya? Apakah tidak lebih baik jika tidak satupun menolongnya agar dia menjadi jerah?“

Yesus kembali berkata: „PikiranKu bukan pikiranmu!“ Dan seperti sebelumnya hati saya menjadi luluh. PikiranNya dipenuhi dengan kasih bukan dengan mempersalahkan pemuda yang naik tanpa karcis itu. Kita semua adalah orang berdosa, namun Yesus telah menjangkau kita dengan kasihNya!

Setiap orang dalam bus memandanginya dengan kejengkelan. Dengan pikiran Yesus, (paling tidak saat itu!) saya melangkah menuju pemuda itu dan duduk disampingnya. Saya menyalamkan $35.00 padanya. „Sayang sekali saya hanya punya uang ini, kalau tidak saya akan kasih lebih. Yesus mengasihimu. Ia telah menyuruh saya untuk memberikan uang ini buatmu. Tinggalkan saja bus ini agar kamu tidak mengalami kesuliatan yang lebih besar. Yesus sungguh-sungguh mengasihimu. Ia menghendaki agar engkau berubah dan meminta pertolonganNya. Ia tidak akan membiarkan engkau hancur. Saya mengusap bahunya dan kembali ke tempat saya semula. Beberapa menit kemudian ia beranjak meninggalkan bus. Saya berdoa agar dia merebahkan diri dalam rangkulan Yesus yang sedang menantinya.

Jika Tuhan menunjukkan sesuatu yang perlu diperbaiki dalam hidup kita („dosa yang nyata“ seperti gossip atau „dosa tak nyata“ seperti kesombongan atau iri hati), Ia menyatakan itu bukan untuk memojokkan kita, sebaliknya karena Ia melihat kesempataan yang tepat untuk menolong kita dalam mengatasi hal itu. Sama halnya dengan tingkat-tingkat kedalaman iman. Dan hampir dalam setiap situasi, Tuhan menyediakan langkah iman yang baru agar kita terjun dalam air. Dan hampir selalu dalam setiap keadaan, Ia segera memberikan kesempatan bagi kita untuk mempraktekkan apa yang telah disingkapkanNya. Itulah sebabnya, jika kita memang benar-benar ingin menyerahkan hidup kepadaNya dengan ketaatan, maka kita harus segera melakukan apa saja yang Dia inginkan bagi kita tiap-tiap hari. Banyak orang berhenti sebelum mereka memulainya.

Corrie ten Boom adalah contoh yang amat baik dalam hal ini, ketika ia berkata pada Tuhan, „Tuhan saya akan pergi kemana saja Engkau mengutus saya!“ Pada hari yang sama, tuhan menghendaki agar ia mengunjungi satu keluarga yang tinggal di sebuah apartemen lantai yang kesepuluh. Corrie mulai menaiki tangga ke lantai yang kesepuluh itu sambil menggerutu pada Tuhan. Akhirnya Tuhan berkata kepadanya: „Bukankah engkau telah berkata bahwa engkau sedia pergi kemana saja?“ (Ketika ia tiba di tengah-tengah keluaga itu, mereka menyerahkan diri pada Tuhan.)

Maka adalah sangat penting bila Allah mulai bekerja dalam segi-segi kehidupan kita yang perlu dirubah, disucikan atau menantang kita dalam mengikuti panggilanNya. Kita menaatinya selangkah demi selangkah, itulah yang menuntun kita masuk dalam kerajaannya. Jika Tuhan ingin menegur kita tentang gossip, maka dengan tidak ragu-ragu dengan tak diduga kesempatan akan muncul dimana kita tidak dapat lagi membuat gossip. Dan dengan caraNya yang ajaib Tuhan telah memberi kesempatan buat saya dalam bus untuk merubah pusat pemikiran saya dengan pikiranNya yang dipenuhi dengan kasih dan pengampunan.

Kita masing-masing perlu menyesuaikan diri dengan cara dan pimpinanNya dan senantiasa siap menjawab „Di sini aku Tuhan“ terhadap setiap panggilanNya, besar maupun kecil sebab Tuhan tidak mengukur dengan ukuran duniawi.

Ketika saya pada akhirnya tiba di Minneapolis, saya merasa pribadi saya lain dari pribadi yang dua hari sebelumnya memulai perjalanan tersebut. Saya sama sekali tidak membayangkan hal-hal yang akan terjadi sebab tiap hari selalu diselingi dengan kejadian-kejadian yang indah dan pahit lembaran demi lembaran. Beberapa hari berikutnya adalah lembaran khusus!

Goldie dan saya sangat bersuka cita dalam saling membagi berkat pengalaman kami atas Yesus Mesias kami. Kami sangat terharu menyadari kuasa Roh Kudus yang telah mengikat kami sebagai kakak dan adik dalam kasih Yesus. Sementara kunjungan saya di rumah Goldie dan Dave, saya mendengar bagaimana mereka melayani Tuhan melalui puji-pujian dalam satu group yang dinamai „ Yeshua’s Children“(Anak-anak Yesus). Group ini mengambil bagian dalam pelayanan penginjilan di Jemaat Mesianis Jahudi. Betapa mereka telah menjadi berkat!

Saya tiba pada hari Sabtu di Minneapolis dan hari Rabu berikutnya saya harus kembali dengan bus ke Connecticut demi ulang tahun Michael yang ke VI.

Hari Senin malam saya berjumpa dengan pendeta jemaat tersebut. Setelah beberapa menit berbincang-bincang, beliau bertanya, „Jika kami bersedia membiayai tiket pesawat buatmu pada hari sabtu, apakah kamu bersedia untuk tinggal lebih lama dan memberi kesaksian di jemaat kami pada hari Jumat malam?“

„saya akan mendoakannya. Trimakasih.“ jawab saya tiba-tiba. Ketika saya benar-benar membawa hal itu pada Tuhan malam harinya, jawabanNya membuat saya tertawa. „Engkau telah ditawarkan tiket pesawat pengganti dua setengah hari naik bus kamu masih harus mendoakannya?“

„Saya rasa saya harus menjawab ya“, ucap saya pada diri sendiri. Saya menelepon sang pendeta untuk mengiayakan tawaran itu dan saya begitu bersukacita atas penyediaan Tuhan? Saya tiba di Minneapolis tanpa uang untuk ongkos bus kembali, dan tidak pernah bermimpi bahwa Dia menyediakan pesawat!

Kini masih ada satu permohonan lagi, yaitu uang untuk membeli hadiah buat Michael. Malam itu saya berbicara di salah satu gereja, saya diberi $75.00! Lebih dari cukup untuk membeli hadiah buat Mike!

Pagi hari berikutnya, saya bangun dengan sukacita dan kembali bersyukur kepadaNya atas jawaban doa saya. Tiba-tiba Tuhan berkata, „Saya ingin agar kamu menyerahkan semua uang itu buat Goldie dan Dave.“

Saya menyangkal untuk mempercayai hal itu. Saya hanya punya satu hari saja untuk menyiapkan hadiah buat Michael, kini Tuhan mau agar saya menyerahkan semua uang yang saya miliki! Saya takut kalau-kalau saya „beriman“ pada saat yang sama ketika saya mengekam uang $75.00 itu buat saya sendiri. Saya tidak bersedia melepaskannya!

Saya berusaha melupakannya dan mengambil buku yang sedang saya baca. Persis seperti masalah saya, saya mulai membaca kisah tentang perjalanan iman seseorang. Ia menceritakan suatu keadaan dimana tidak ada lagi pemasukan uang. Setelah berdoa beberapa waktu, ia menyadari hal itu terjadi oleh karena ia kurang beriman dan bertobat! Saya tahu bahwa Tuhan berbicara melalui contoh ini pada saya. „O.K., Tuhan,“ jawab saya dengan geram seperti anak kecil yang bandel. „Saya akan memberikan yang $75.00 itu pada mereka.“

Saya menyerahkan uang itu pada Dave. „Kami tidak membutuhkan uang itu!“ Jawab Dave.

„Silahkan ambil Dave! Saya punya cukup masalah dengan Tuhan oleh karena itu!“

Benar, saat itu mereka tidak membutuhkan uang itu, tapi empat jam kemudian! Dave kembali ke rumah dengan tergesa-gesa setelah ia menghabiskan waktunya sepanjang sore itu untuk mencari sebuah apartemen sebab masa kontrak mereka akan segera habis.

„Saya mencek kembali apartemen yang sudah kita lihat tiga minggu yang lalu,“ jelasnya. „Semula saya tidak yakin bahwa itu masih kosong, ternyata sampai sekarang masih belum disewakan. Mereka minta uang muka $100.00 dan trimakasih atas pembrianmu, kini kami punya cukup uang untuk membayarnya.!“ Betapa saya hampir kehilangan kesempatan untuk menyalurkan berkat Tuhan oleh karena iman saya yang kerdil.

Malam itu saya mengunjungi teman Goldie dan Dave. Kami berbincang-bincang dengan asyik dan dalam percakapan itu saya menjelaskan bahwa saya akan ke Jerman untuk mengikuti satu retreat Paskah. (Saya tidak pernah tahu bahwa salah satu dari mereka bekerja di Biro Perjalanan. Hari berikutnya ia pergi ke kantor dan dengan iman ia membuking tiket saya ke Jerman, dan di bawahnya ia mengetik, „Kiranya Tuhan memberkati perjalananmu dengan caraNya yang khusus.“)

Keesokan harinya teman lain menjemput saya untuk sarapan orang Jahudi dan berkata bahwa Tuhan telah menggerakkan hati mereka untuk memberi $35.00 buat saya. Hadiah untuk Michael!

Kemudian ketika saya sedang mencari hadiah buat Michael, saya teringat bahwa saya sangat membutuhkan beberapa pasang kaus kaki, namun kemudian saya belajar untuk mempercayakan segala kebutuhan saya pada Tuhan. Saya tidak tahu mengapa Ia begitu memperhatikan sampai pada hal yang sekecil-kecilnya dalam hidup kita. Namun demikianlah kenyataannya.

Malam ketika kami semua tiba di Jemaat Mesianis Jahudi. Sepasang suami istri menyerahkan sebuah kantungan pada saya. Diluarnya tertulis:

Eileen yang kekasih,

Kami berharap bahwa kamu akan senang menerima hadiah ini. Kami telah mendoakan apa yang harus kami berikan buatmu, Tuhan meletakkan dalam hati kami agar kami membeli barang-barang ini! ‘Bagaimana mereka akan berkhotbah kalau mereka tidak diutus? Sebagaimana tertulis: BETAPA INDAHNYA LANGKAH-LANGKAH PEMBERITA KABAR BAIK!’  

Salam dalam kasih – “

Dalam kantongan itu terdapat tiga pasang kaus kaki hangat. Tak seorangpun kecuali Tuhan yang tahu bahwa saya membutuhkan hal itu. Hadiah itu menandai permulaan malam yang penuh kenangan!

Ketika saya berbicara di depan jemaat saya mulai dengan sebuah cerita yang pernah saya dengar di Jaffa, yaitu tentang seorang tentara Rusia yang menggertak orang kristen sementara dalam persekutuan. Sambil mengarahkan senjatanya pada hadirin tentara itu berteriak, „SEMUA YANG TIDAK PERCAYA PADA YESUS BOLEH PERGI!“

Ketika saya mengakhiri cerita tersebut, saya berkata, „Sekarang saya tidak mengulangi metode yang sama untuk menemukan orang kristen sejati!“ Kami semua tertawa. „Namun saya yakin bahwa Yesus telah berbicara pada kita masing-masing melalui kisah yang singkat ini. Ketika sang militer berseru, ‘Semua yang tidak percaya pada Yesus boleh pergi’ banyak yang melarikan diri dari pintu. Dalam hidup mereka masih ada banyak hal yang lebih berharga dari Yesus. Orang yang masih tertinggal menunggu detik-detik menghilanya nyawa mereka, mengasihi Dia dengan sepenuh hati. Pikiran untuk menghianati Dia adalah mustahil bagi mereka. Saya berhenti sejenak. “Apa yang Yesus katakan pada kita malam hari ini ialah penyerahan yang sama. Jika kita benar-benar menghadapi penganiayaan, kita tidak akan bisa bertahan tanpa Dia sendiri mempersiapkan kita. Hari ini juga kita harus menempatkan Dia di tempat nomor satu dalam hidup kita, sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi kemudian! Kita harus menanyakan diri sendiri tentang reaksi kita seandainya pintu di depan akan terbuka sekarang,“ sambil menunjuk ke arah pintu. Dan pada detik yang sama pintu itu terbuka pelan-pelan. Sangat di luar perhitungan!

Salah seorang anggota jemaat yang datang terlambat berharap diam-diam tanpa mengganggu perhatian yang lain ingin menyelinap dalam ruangan. Bayangkan betapa terkejutnya ia yang membuka pintu secara perlahan-lahan dan semua orang mengarahkan pandangan padanya dengan berteriak! (Saya yakin hal itu akan menjadi pelajaran baginya sepanjang hidup untuk tidak datang terlambat.).

Tentu setelah keadaan menjadi reda, saya menjelaskan persoalan itu padanya. Namun kami semua tahu bahwa hal itu bukan kebetulan. Kami benar-benar tersentuh oleh pengalaman ini. Kami semua tahu bahwa Tuhan sedang memanggil kami untuk menyerahkan hidup maupun mati dalam tanganNya.

Setelah pertemuan selesai, sementara saya masih berbincang-bincang dengan beberapa orang, orang-orang menyalami saya dengan uang, sambil berkata bahwa Tuhan memimpin mereka untuk berbuat demikian. Tapi sekarang saya tidak tahu tentang mujizat yang terbesar! Jemaat itu sangat kecil, namun mereka selalu mengumpulkan persembahan kasih buat pembicara-pembicara yang datang. Persembahan paling besar yang pernah mereka kumpulkan adalah $100.00, tapi kali ini §367.00, tentu cukup untuk pembayar tiket pesawat saya yang sudah di buking dengan iman untuk ke Jerman. Kemudian setelah saya menghitung semua uang yang mereka salamkan setelah selesai pertemuan ternyata masih ada §75.00. Sehari sebelumnya saya dengan tangan hampa telah menyerahkan semua uang yang saya punya ke tangan Yesus. Hanya dalam jangka 24 jam kemudian Ia bukan saja mengembalilkan §75.00, tapi saya juga sudah membeli hadiah buat Michael, mendapat tiga pasang kaus kaki, ditambah lagi tiket pesawat ke Jerman!

Hari sabtu pagi-pagi benar, dengan ngantuk-ngantuk, Goldie, Dave dan teman mereka mengantar saya ke Lapangan Terbang. Saya tahu bahwa mereka telah menjadi bagian khusus dalam keluarga Kristus buat saya, dan saya melambaikan tangan dengan linangan air mata ketika kami harus berpisah. Betapa indahnya minggu itu buat saya.

Saya masih tinggal dua kali akhir pekan dengan anak-anak sebelum saya berangkat ke Jerman. Saya menyadari tangan Tuhanlah yang telah menyediakan pintu untuk perjalanan ini, maka hal ini sangat menghibur saya sebelum saya berpisah dengan mereka. Mereka masih kecil-kecil, baru enam dan sembilan tahun dan sayalah ibu mereka.

Kami bersama-sama harus mempercayai Tuhan akan saat yang lebih baik.