16 Perjalanan ke Rumah

Sejak saya meninggalkan Amerika saya selalu menyurati Mike dan Joey dua atau tiga kali seminggu. Saya mengirim surat, kartupos, hadiah-hadiah kecil maupun uang kalau saya bisa. Pagi ketika saya meninggalkan tiverton saya mulai rekaman buat mereka dalam casset. (Sedikitpun saya tidak tahu bagaimana hasil casset itu kelak.)

Cathy dan Bev mulai dengan ucapan selamat dan menceritakan kisah penyediaan uang yang ajaib itu. Bev sengaja berbicara dengan mereka dengan logat Britis. Lucu sekali. Kemudian saya menjelaskan pada Joey dan Mike bahwa saya dalam perjalanan ke London dan melalui casset itu mereka akan mengadakan perjalanan bersama saya hari itu.

Salah seorang teman Bev menawarkan untuk mengantar saya sampai Exester, di mana saya akan ambil KA menuju London. Ketika Charles tiba saya berterimakasih pada Cathy dan Bev untuk penerimaan mereka selama satu bulan tersebut dan meninggalkan mereka dengan genangan air mata – sebagian sebab saya akan merasa kehilangan mereka, sebagian lagi saya menjadi sedih karena tidak lebih dekat pada Yesus dari sebelum kunjungan saya.

Dalam pertengahan jalan menuju Exerter, mobil Charles itu rusak. „Hal ini biasa terjadi“ jelasnya sambil meminta agar saya menumpang pada mobil lain saja. „Saya harus menunggu lebih satu jam sampai pihak bengkel akan tiba untuk menolong saya, “ ucapnya. Ia menilfon pihak bengkel dan mulai membaca koran.

Saya mengeluarkan ransel saya dan berjalan ke sebrang jalan. „Betapa berbelit-belitnya awal perjalanan saya ke Israel ini“ pikir saya. Saya merasa tak berdaya, sebab saya belum pernah menyetop mobil dalam perjalanan sepanjang hidup saya. Bahkan saya bingung untuk mengulurkan tangan tanda stop.

Daerah Devon memang sangat indah, mendatangkan rasa damai. Sayang buat saya bahwa ketentraman tersebut adalah juga akibat jarangnya lalu lintas. Sementara saya menunggu di seberang jalanan saya mulai mempertanyakan sisa perjalanan selanjutnya. Jika telah dimulai sedemikian jelek, apa sebenarnya artinya kepergian saya ke Israel? Beberapa mobil yang datang berlalu dengan cepat, seolah-olah saya tidak akan pernah sampai ke Exester.

Setelah menunggu bagaikan 1000 tahun lamanya, sebuah mobil tua dengan lambat muncul. Ketika saya mengamatinya, saya hampir tidak percaya. Dalam mobil tersebut ternyata Elisabeth, suaminya dan anak-anaknya. Di tengah perkampungan Devon. Tuhan memberikan kesempatan untuk bertemu kembali, di luar akal pikiran kami. Siapa yang pernah membayangkan bahwa kali pertama saya menyetop mobil, justru sahabat baik sayalah yang akan membawa saya!

Oleh akrena saya sudah mulai untuk merekam perjalanan hari itu buat Mike dan Joey, maka kini mereka dapat berjalan bersama saya. Saya minta Elisabeth untuk berbicara dengan Joey dan Mike melalui casset tersebut sementara kami menuju Exester. Inilah ceritanya:

„Hullo, Michael dan Joey! Nama saya Elisabeth. Saya dalah salah seorang dari teman ibumu. Saya sedang duduk di mobil dengan kedua putri saya dan suami saya Rick. Kami sedang dalam perjalan yang biasa kami lakukan sekali sebulan ke Exester, dan kami melihat ibu kalian sedang menunggu mobil stop. Semula kami tidak bisa percaya bahwa orang yang menyetop mobil tersebut adalah ibu kalian. Ibu kalian telah menceritakan kisah iman kepada kami, maka kami mengerti bahwa hal ini adalah anugrah Tuhan buat kami.“

Tentulah demikian!
Sementara berdiri dekat rel KA di exester, saya dmeneruskan rekaman tersebut. „Baiklah anak-anak,“ ucap saya pada casset tersebut. „Sekarang tutup mata, bayangkan seolah-olah kamu sedang bersama saya. Saya akan berbicara padamu seolah-olah kamu berdua di sini dan saya akan menjelaskan bagaimana caranya kita memulai perjalanan ini.

Saya mematikan tape itu sampai saya mendengar suara KA yang datang mendekat., lalu saya teruskan. Itu sirenenya, anak-anak jangan terlalu dekat ke pinggir Kretanya sudah tiba. Kemudian, berdasarkan pengalaman bersama mereka, saya teruskan lagi. „Apa? Kamu masih mau ke WC sekarang?“ Itu di sudut sana, tapi cepat, kalau tidak kita akan ketinggalan!“

Tiba-tiba saya melihat seorang bapak di samping saya mencoba sekuat mungkin untuk menahan tawanya. Secara daging saya tahu bahwa adalah hal yang aneh, seorang ibu beruban berbicara ke taperecorder, bilang „Apa? Kamu masih mau ke WC sekarang?“ Lebih parah lagi sebab hal itu sangat memalukan bagi adat orang Inggris. Saya merasa sekujur tubuh saya menjadi pucat. Saya menjelaskan bahwa saya sedang merekam buat anak-anak saya di Amerika.

Sang bapak tersebut menjelaskan bahwa ia sedang dalam perjalanan ke Amerika untuk mengadu nasib bagi keluarganya. „Bolehkah saya duduk dekat anda tanyanya?“ Segera saya mengerti bahwa Tuhan sedang membuka jalan.

Dalam perjalanan tiga jam itu saya menceritakan perjalanan hidup saya dengan Yesus kepada Martin. Dia dengan cermat mendengar kesaksian saya yang menyatakan bahwa pimpinan dan kasih Yesus itu nyata. Lalu ia berkata bahwa ia sebernarnya sudah pernah menerima Yesus dalam hidupnya. „Tapi itu sudah alama sekali.

Ketika akhirnya kami tiba di statiun di London, Martin meminta agar saya berdoa bersama dengannya, sebab ia menginginkan penyerahan yang baru lagi apada Yesus. „Saya tidak akan berjalan satu mil sekalipun tanpa Dia.“ ucapnya.

Airmata menggenangi pelupuk mata sambil berjalan bersama-sama menuju sebuah sudut untuk berdoa. Sementara ratusan manusia lalu lalang di stasiun itu, malaikat di surga bersuka cita menyaksikan Martin yang membuka hatinya kembali bagi akasih Yesus. Ketika saya memperhatikan dia berjalan meninggalkan saya, saya tahu bahwa Yesus berjalan di depannya.

Banyak orang takut dan menjadi kecut untuk menceritakan kasih Tuhan pada orang lain sebab setan telah memperdaya mereka dengan alasan, oarang yang baru lahir kembali, akan hilöang.tanpa bimbingan pribadi. Betapa piciknya pandangan kita yang membatasi kuasa Tuhan untuk memelihara domba-dombaNya, dimana saja Ia menempatkan mereka.

Beberpa bulan kemudian saya menerima surat ini dari Martin:

„Eileen yang kekasih,

Salam dalam kasih Tuhan yang mengasihi kita dan yang telah memimpinmu untuk menolong saya kembali kepadaNya. Saya memuji Tuhan dan berterima kasih kepadamu atas pembicaraan kita dalam KA menuju London itu. Ketika saya menginjakkan kaki di Lapangan terbang Cicago, saya bertemu dengan tiga orang pemuda kristen. Salah satu dari mereka mengundang saya untuk tinggal di rumahnya untuk beberapa hari. Selanjutnya saya tinggal dengan tiga keluarga kristen di sekitar Cicago. Bukan hanya saya yang telah menyerahkan diri pada Yesus sekarang tapi juga istri dan anak kami yang tertua. Sekarang kami menunggu pimpinan Tuhan untuk masa depan kami, namun kami merasa yakin bahwa Ia menghendaki agar akami tinggal di Amerika. Saya ragu apakah engkau mesih buat rekakman buat anak-anakmu!

Kiranya Tuhan memberkati pelayananmu dan memelihara engkau.

Salam dalam kasih yang berasal dariTuhan.
Martin“

 

Setelah Martin dan saya berpisah saya membeli tiket Kapal saya, lalu naik KA menuju rumah Ruth dan Daniel, dimana saya akan menginap sebelum meninggalkan Inggris. saat itusaya sudah punya tiket bus dan tiket kapal, namun saya tidak punya sepeserpun untuk pembeli makanan dalam perjalanan, maupun biaya penginapan jika saya hhhtiba di Venecia. Ketika saya mendoakan hal itu, hanya satu jawaban Tuhan, yaitu agar saya menyerahkan Seruling saya buat Ruth dan Daniel. Sedikit aneh sebab saya tidak tahu apakah mereka akan menggunakannya atu mungkin mereka mengenal seseorang yang membutuhkan hal itu.

Saya begitu gembira dapat bertemu dengan mereka kembali. Sukar untuk dipercayai bahwa sebenarnya kami bariu saja berkenalan.

Setelah kami salaing menceritakan pengalaman-pengalaman kami seajak kami berpisah beberapa hari sebelumnya, saya mulai bertanya, „Apakah kalian mengenal seseorang yang membutuhkan sedang Seruling?“ Ruth dan Daniel saling berpandangan lalu tertawa.

„Saya pikir, kami sendiri!“, jawab Daniel. Kemudian mereka menceritakan sebuah kisah yang ajaib buat saya.

Kamu ingat ketika engkau telah menghabiskan uangmu yang terakhir untuk mengajak kami makan malam di Restorant bukan? ucap Ruth memulai ceritanya. Saya mengangguk. „Beberapa hari kamudian ketika engkau berada di Devon, Tuhan berbicara pada kami bahwa engkau tidak punya uang untuk mebeli makanan dalam perjalananmu ke Israel.“

„Ya??? sahut saya keheranan.

„Ya, namun kami tidak punya uang untuk menolongmu,“ sambung Daniel. Namun kami tahu bahwa Tuhan menyatakan hal itu pada kami dengan satu maksud tertentu. Maka kami menyerahkan hal itu kehadiratNya. Tuhan menyatakan apa yang harus kami lakukan. Dengan ketaatan kami menjual Klarionette (Trompet) kami dan apa saja yang dapat kami jual. Lalu kami berguyon, bahwa satu hari Dia akan mengembalikan sebuah alat tiup kecil buat kami.“Kami jadi tertarwa terbahak-bahak.

Kami tidak merencakan untuk menceritakan padamu bahwa akami telah menjual kami punya, „sahut Ruth menjelaskan, tapi karena kau telah memulainya dan menanyakan kami mengenal seseorang yang membutuhkannya, maka kami tahu bahwa Tuhan telah menerima Seruling dari tuhan.“ Lalu mereka menunjukkan setumpuk makanan yang telah siapkan untuk perjalanan saya. di bus

„Luar biasa, cukup utuk semua penumpang bus! Kalian sungguh amat baik!“ Kebaikan mereka sungguh meliputi jiwa saya.

Bagi mereka yang belum pernah mengalami apa artinya perjalanan iman, akan sukar untuk membayangkan kesukaan yang kami alami saat itu. Saya sering merasa kasihan bagi mereka yang memililki terlalu banyak, sebab pastilah mereka ini tidak bisa menikmati keajaiban pemeliharaan Tuhan bagi anak-anakNya.Bertahun-tahun saya sudah mengenal, bahwa tidak sebenarnya „mujizat“ kecil. Setiap kali Tuhan menyentuh hat kita , itu adalah mujizat. Dan kenyataan bahwa Dia memelihara kita sampai pada hal-hal kecil sekalipun – walaupun kita sebenarnya penuh dosa dan mungkin kotor – senantiasa akan membangkitkan rasa kagum saya akan Dia.

Bebera jam kami berbincang-bincang dan dengan berat kami harus berpisah keesokan harinya. Persis sebelum saya naiik dalam bus, mereka menyalamkan sebuah enflop pada saya. Di bagian luar mereka melukis sebuah salib. Saya membukanya setelah bus meninggalkan stasiun tersebut. Dan ketika saya melihat jumlahnya, $160.00, saya hanya bisa menangis. Peristiwa yang mengiangkan kembali akan apa yang telah terjadi pada masa Rasul-rasul.

Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.
Kis.2: 44-45

Saya yakin Yesus sangat bersukacita atas hal itu dan telah memberkati mereka dengan kelimpahanNya.

Tas yang penuh dengan persediaan makanan tersebut mereka disiapkan dengan penuh kasih sayang. Paling sedikit selusin sandwich dan pada setiap bungkusan tertempel sebuah ayat yang diketik dan sangat menguatkan. Mereka juga menyiapkan sendok dan garpu perak, bubuk teh, gula dan buah-buahan segar serta sayuran, roti dan keju untuk persediaan dua haridi Venesia bahkan makanan ringan lainnya.

Wanita yang duduk berhadapan dengan saya dalam bus melirik saya dengan mata yang bercahaya, maka sayapun mulai menceritakan kisah tas makanan tersebut. Namanya Sue dan dia berasal dari Australia. Dari pembicaraan saya tahu bahwa ia sama sekali tidak percaya adanya Tuhan. Saya mulai bersaksi tentang Yesus dan kasihNya yang nyata. Sementara itu ferry kami akan melewati Terowongan Inggris, ia bertanya apakah ia boleh meminjam Alkitab saya. Ia membacanya sejak kami mulai berlayar sampai kami tiba di seberang.

Ketika kami kembali dalam bus, kami meneruskan pembicaraan kami. Setiap kali saya mulai menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan, matanya berbinar-binar penuh kekaguman. Bus tersebut berjalan terus siang dan dan malam, akhirnya suatu pagi di salah satu kota kecil di Francis dekat perbatasan Italia, ia menyerahkan diri pada Yesus. Saya tahu dari Tuhan bahwa saya harus merelakan Alkitab saya terbut untuknya, walaupun Alkitab itu banyak artinya buat saya. Saya menerimanya sebagai hadiah dari Marcia dan Yesus telah mengajarkan banyak hal pada saya, setiap kali saya membacanya setiap hari. Maka sebelum saya serahkan, saya berdoa agar Yesus menyatakan FirmanNya pada Sue dan menjadikan Alkitab itu sebagai berkat khusus baginya. (Sejak semula Sue punya karunia iman seperti anak-anak)

Persediaan makanan saya tersebut, saya makan bersama dengan seorang Jahudi tua yang duduk di belakang saya dalam bus. Beliau tidak berkata apa-apa pada saya sampai kami mendekati Venecia. Kemudian beliau mengutip ayat demi ayat yang di dapatnya pada sampul makanan itu.

Oleh karena Sue akan meneruskan perjalanannya menuju Atena, maka saya menyerahkan alamat dimana saya akan tinggal satu malam di Haifa pada hari pertama ketibaan saya di Israel dan mintaq agar ia memberi khabar. Dan sebelum saya meninggalkan bus tersebut saya memberikan $50.00 padanya, sebab saya tahu dari Tuhan bahwa uangnya sudah menipis.

„Tak pernah saya ditolong seseorang seperti ini,“ sahutnya dengan kebingungan.

Ketahuilah Sue, bahwa Yesuslah yang telah menyediakan uang yang saya miliki. Itu adalah uangNya bukan uang saya. Saya masih punya lebih dari yang saya butuhkan, sebab itu sangat engkau perlukan. Namun engkau harus sadar bahwa IA sangat mengasihimu. Kemuadian kami berpisah setelah kami berpelukan.

Bermingu-minggu telah berlalu sebelum saya mendengar berita dario Sue. Suatu hari pada bulan Juli, seorang teman saya pergi ke sebuah toko kristen di Jerusalem untuk membeli sebuah Alkitab buat saya sesudah kebaktian bersama. Hari itu saya sering teringat pada Sue, sebab Alkitab tua saya berada di tangannya. (Sebuah surat yang dialamatkan ke Haifa, entah dengan cara bagaimana hari itu saya terima di Jerusalem) Saya yakin anda dapat menebaknya, bahwa surat itu berasal dari Sue. Lagi-lagi menyatakan betapa setianya Tuhan dalam memelihara domba-dombaNya. Inilah isi suratnya:

„Eileen yang kekasih,

Saya adalah Sue, seorang wanita yang dijamah Tuhan melalui imanmu. Sekarang saya sedang berada di Puerto Rico. Bagaimana saya tiba di sini, sangat mengherankan. Saya sebenarnya naik kapal sebagai penumpang gelap. Dalam kapal iman saya hampir kandas, tapi oleh doa saya, saya selamat tiba didaratan. Saya juga mengalami mujizat-mujizat Tuhan sejak kita berpisah dan saya yakin kamu pasti senang mendengarnya. Ketika saya masih dalam kapal, petugas kapal mengadakan razia tiket dan penyeludupan. Selama dua jam setengah sepuluh orang dengan walkietalky memeriksa seisi kapal. Saya menyadari bahwa tindakan saya sebagai penumpang gelap tidak diperkenankan Tuhan, maka saya minta ampun dan memohon perlindunganNya serta menguatkan iman saya. Dan Ia melakukannya. Saya mulai membaca Alkitab yang kamu berikan, ternyata sangat menolong. Di dalam Kapal adalah seorang pria peminum. Saya berdoa agar Tuhan menolongnya dan melalui seorang teman ia katakan pada saya bahwa ia sudah mulai berhenti minu. Semua ini terjadi, saya tidak dapat menolong, tapi saya diliputi oleh rasa kagum. Tuhan telah memimpin saya ke sebuah rumah di sini, dimana saya diperlukan. Pria dalam Kapal itu memberikan $350.00 buat saya, sebab mereka tahu bahwa saya tidak punya uang. Kini saya tahu bahwa Tuhan telah memberikan uang itu buat saya untuk menolong keluarga ini sebab mereka punya utang yang tak terbayar. Seorang teman memberikan seekor anjing mainan dan pakaian anak-anak pada saya yang ternyata cocok untuk anak kecil dalam rumah ini. Luar biasa! Saya tidak merokok dan tidak mengisap ganja lagi, walaupun tergoda untuk mengulanginya ketika saya hampir kehilangan iman. Tapi kini Ia telah mengembalikan iman saya dan saya sama sekali tidak berpikir untuk merokok lagi.

Baiklah, terimaksih banyak. Saya aan berdoa buatmu dimana saja engkau berada.

Saya yakin kita akan bertemu kembali dan Tuhan memberkati!
Yang kekasih, Sue“

Kesederhanaan imannya sungguh menyentuh hati saya, dari seorang wanita yang dua bulan yang lalu bahkan tak percaya bahwa Tuhan ada.

Ketika saya turun dari bus itu, saya hampir tidak percaya bahwa saya bisa tiba di Venecia. Dan saya terlalu terharu untuk menikmati keajaiban itu. Supir bus menayangkan musik Junani siang dan malam dan baginya tidur.adalah tidak mungkin. Saya menyebrang terowongan pertama (Venencia adalah sebuah kota yang didirikan di atas air di Italia) dan berhenti di hotel yang pertama saya dapat.

„Saya membutuhkan sebuah kamar untuk satu malam,“ ucap saya pada penerima tamu di sana. Dia menyambut saya dengan terheran-heran dan dalam suara yang agak meremehkan, ia berusaha menjelaskan, „Ini adalah First Class Hotel di sekitar sini dan harganya 28.000 Lira (sekitar Rp.40.000) permalam!“. Saya terdiam. Saya telah menukar uang sebab saya sudah satu setengah hari di sana, tetapi semuanya hanya 25.000 Lira.

„Kalau begitu, maukah anda menolong saya untuk menemukan hotel kelas dua di sini? Saya sedang melaksanakan kehendak Tuhan dan di hadapanNya sebenarnya kita semua hanya satu kelas.“

Ia menjadi sedikit lebih sopan dan menjelaskan bahwa di seberang terowongan berikut ada juga hotel yang bagus dan tidak terlalu mahal. Akhirnya saya menemukan sebuah hotel yang bagus dengan harga hanya 9.000 Lira per malam. (Saya senang menukar uang di Italia, sebab saya merasa bagaikan seoarang jutawan)

Saya segera menyegarkan diri dan saya pergi menuju restaurant untuk makan spagetti sebagai santapan malam. Kemudian saya merencakan akan segera kembali dan tidur. Saat itu saya sangat capek, bahkan saya tidak punya selera lagi untuk sejenak menikmati keindahan Venencia. Di restoran saya memilih sebuah meja yang menghadap ke perairan. Venencia kelihatan begitu indah pada malam hari dengan pantulan cahaya lampu dari aira, sebagai ganti daratan. Ketika sang pelayan tiba , saya memesan spagetti. Dengan emosi ia meminta saya untuk pindah ke meja lain yang jauh dari tepian dan menyediakan spagetti saya di sana dan tidak bersedia lagi membawa makanan saya ke tempat dimana saya berada. Saya tidak pernah membayangkan kesalahan saya karena memesan spagetti di Italia, sebelum saya membaca Daftar Menu. Nampaknya di Venencia spagetti hanyalah makanan selingan dan bukan merupakan makanan utama. Ketika pelayanan mendengar pesanan murahan saya itu, ia segera meminta saya untuk pindah tempat. Nyata benar orang di sini sangat kuat dalam hal klasifikasi. Namun demikian saya tetap menikmati spagetti saya. Suatu kenikmatan tersendiri, sebab kali ini saya boleh makan makanan kesayangan saya di negara asalnya.

Hari berikutnya saya mengadakan perjalanan keliling di atas air pada pagi hari, sorenya saya berangkat menunju Livorno. Setelah saya naik di Kapal, saya segera menemukan tempat saya, yaitu „Kass DD“ yang dipenuhi dengan jejeran bangku seperti dalam pesawat. Itu berarti saya akan tidur di atas bangku selama empat malam. Sesuatu yang sangat menarik bukan? Tapi karena saya sangat bahagia untuk pertama kali dalam sejarah hidup saya dapat menelusuri Samudra, maka saya yakin bahwa saya akan dapat tidur dalam keadaan duduk dengan gembira.

Saya pergi ke Deck. Saya berdiri dan memandang pelabuhan Venecia sampai hilang ditelan kejauhan.. Kemudian saya duduk di Kafetaria untuk menikmati secangkir kopi. Seorang pria duduk berhadapan dengan saya. Ternyata beliau adalah seoarang professor Perbandingan Agama-agama. Beliau telah mengajar selama 40 thn. sebagai professor dan telah mempelajari agama-agama besar di dunia. Saya menyaksikan penyataan Yesus sebagai Anak Allah dalam hidup saya secara pribadi.

„Sayang sekali, tentu hal yang sangat menyedihkan, jika anda berhenti sampai di situ,“ sahutnya. Begitu banyak pengalaman lain di luar pengalaman iman. Jika anda dapat melewati lubang jarum tersebut, anda akan menemukan Piramide, pengalaman-pengalaman ajaib yang menunggu anda. Anda hanya mempersempit wawasan anda dengan Yesus.“

Oleh karena beliau adalah seorang terpelajar, seorang professor, saya jadi merasa terpojok dalam beragumentasi. Tapi kemudian saya menyadari bahwa rasa minder yang tidak pada tempatnya itu, telah melukai hati Tuhan dan saya tahu bahwa saya harus menyatakan kebenaran, maka saya berdoa minta pertolonganNya.

„Apakah anda sudah membaca Perjanjian Baru?“, tanya saya, karena saya merasakan pimpinan Tuhan untuk mengajukan pertanyaan tersebut, walaupun menurut logika saya, pertanyaan itu terlalu dungu untuk diajukan pada orang terpelajar itu.
Jawabnya, „Sebagian“
„Anda belum penah membaca keseluruhan?“ tanya saya meyakinkan.
„Tidak, saya tidak pernah membaca sesuatu sampai habis.“

Saya menjelaskan kutipannya tentang „melewati lubang jarum“. Pernyataan Yesus, bahwa seekor unta lebih mudah melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk dalam Kerajaan Sorga. Saya menantangnya, „Bagaimana anda bisa tahu bahwa Yesus buakanlah satu-satunya jalan keselamatan, jika anda belum pernah membaca Perjanjian Baru sampai habis?“

„Saya telah menemukan sejuta pengalaman iman yang menakjubkan. sebagai hasilnya saya telah menulis sebuah buku.“ jawabnya dan meyakinkan saya bahwa ia telah menemukan kebenaran.

„Menurut saya, argumentasi anda tidak mengena sama sekali, selama anda sendiri belum mengerti tentang apa yang saya jelaskan.“ Oleh sebab itu saya akan memberikan sebuah Alkitab buat anda. Silahkan membaca Kitab-kitab Injil dan minta agar Tuhan meneranginya sementara anda membacanya. Kemudian barulah Anda bisa membicarakan hal itu dengan saya,“ ucap saya. Di luar dugaan saya, dia setuju. Saya segera mengambil sebuah Perjanjian Baru dan menyerahkannya padanya dan dia membawanya tersebut ke kamarnya. Saya berdoa agar Yesus menyatakan diri padanya sementara dia membacanya.

Untuk beberapa hari saya benar-benar menikmati ketenangan dan istirahat. Betapa luxusnya kenikmatan berjemur di atas kapal di tengah-tengah lautan Mediteranian. Kesempatan baik bagi saya untuk menulis surat, membaca atau bahkan sekedar beristirahat  dan berdiam diri dihadapan Tuhan. Hal ini benar-benar jadi waktu beristirahat, sebab perjalanan yang begitu banyak sebelumnya cukup melelahkan.

Sementara berjemur pada sore hari, saya membaca Kitab ester untuk pertama kali. Saya tidak mengerti mengapa saya merasa begitu akrab dengannya dan saya benar-benar digerakkan oleh imannya yang telah merubah sejarah bangsa Jahudi. Kemudian secara tak masuk akal saya merasakan kehadiran Allah yang berbicara dengan jelas dan tegas dalam hati saya, „Mulai sekarang, engkau akan dinamai Ester..“, ucapNya.

Kadang-kadang saya melihat sang proffessor itu dengan Perjanjian Baru di tangannya. Namun kami tidak pernah lagi membicarakan hal itu sampai kami tiba di pelabuhan Atena, di mana beliau harus turun. Persis sebelum berlabuh, ia muncul di deck saya dengan Perjanjian Baru di tangannya.

„Trimakasih“, ucapnya sambil menyerahkan Perjanjian Baru tersebut kembali kepada saya. „Terimalah kembali Alkitab ini dan ceritakanlah itu kepada siapa saja sebanyak mungkin. Saya telah mempelajari sistem-sistem agama bertahun-tahun dan dalam beberapa hari ini, saya telah menemukan apa yang sebenarnya yang saya cari.“ Dengan ucapan itu, iapun meninggalkan kapal.

Saya sangat bersyukur kepada tuhan atas kesempatan untuk menyaksikan karyaNya dalam hidup manusia. Saya juga yakin, jika ia tetap ssetia dan terbuka dalam ketaatan pada Tuhan, Tuhan akan dapat menggunakan pengetahuannya yang luar biasa tentang agama-agama itu untuk membawa orang kembali kepadaNya. Hal ini juga semakin menegaskan, bahwa kita tidak akandapat mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh hanya dengan intelektual tanpa penyerahan jiwa secara penuh.

Hari berikutnya, jam 6 pagi dalam keremangan kami menghapiri pelabuhan Haifa.

16 PERJALANAN KE RUMAH

Sejak saya meninggalkan Amerika saya selalu menyurati Mike dan Joey dua atau tiga kali seminggu. Saya mengirim surat, kartupos, hadiah-hadiah kecil maupun uang kalau saya bisa. Pagi ketika saya meninggalkan tiverton saya mulai rekaman buat mereka dalam casset. (Sedikitpun saya tidak tahu bagaimana hasil casset itu kelak.)

Cathy dan Bev mulai dengan ucapan selamat dan menceritakan kisah penyediaan uang yang ajaib itu. Bev sengaja berbicara dengan mereka dengan logat Britis. Lucu sekali. Kemudian saya menjelaskan pada Joey dan Mike bahwa saya dalam perjalanan ke London dan melalui casset itu mereka akan mengadakan perjalanan bersama saya hari itu.

Salah seorang teman Bev menawarkan untuk mengantar saya sampai Exester, di mana saya akan ambil KA menuju London. Ketika Charles tiba saya berterimakasih pada Cathy dan Bev untuk penerimaan mereka selama satu bulan tersebut dan meninggalkan mereka dengan genangan air mata – sebagian sebab saya akan merasa kehilangan mereka, sebagian lagi saya menjadi sedih karena tidak lebih dekat pada Yesus dari sebelum kunjungan saya.

Dalam pertengahan jalan menuju Exerter, mobil Charles itu rusak. „Hal ini biasa terjadi“ jelasnya sambil meminta agar saya menumpang pada mobil lain saja. „Saya harus menunggu lebih satu jam sampai pihak bengkel akan tiba untuk menolong saya, “ ucapnya. Ia menilfon pihak bengkel dan mulai membaca koran.

Saya mengeluarkan ransel saya dan berjalan ke sebrang jalan. „Betapa berbelit-belitnya awal perjalanan saya ke Israel ini“ pikir saya. Saya merasa tak berdaya, sebab saya belum pernah menyetop mobil dalam perjalanan sepanjang hidup saya. Bahkan saya bingung untuk mengulurkan tangan tanda stop.

Daerah Devon memang sangat indah, mendatangkan rasa damai. Sayang buat saya bahwa ketentraman tersebut adalah juga akibat jarangnya lalu lintas. Sementara saya menunggu di seberang jalanan saya mulai mempertanyakan sisa perjalanan selanjutnya. Jika telah dimulai sedemikian jelek, apa sebenarnya artinya kepergian saya ke Israel? Beberapa mobil yang datang berlalu dengan cepat, seolah-olah saya tidak akan pernah sampai ke Exester.

Setelah menunggu bagaikan 1000 tahun lamanya, sebuah mobil tua dengan lambat muncul. Ketika saya mengamatinya, saya hampir tidak percaya. Dalam mobil tersebut ternyata Elisabeth, suaminya dan anak-anaknya. Di tengah perkampungan Devon. Tuhan memberikan kesempatan untuk bertemu kembali, di luar akal pikiran kami. Siapa yang pernah membayangkan bahwa kali pertama saya menyetop mobil, justru sahabat baik sayalah yang akan membawa saya!

Oleh akrena saya sudah mulai untuk merekam perjalanan hari itu buat Mike dan Joey, maka kini mereka dapat berjalan bersama saya. Saya minta Elisabeth untuk berbicara dengan Joey dan Mike melalui casset tersebut sementara kami menuju Exester. Inilah ceritanya:

„Hullo, Michael dan Joey! Nama saya Elisabeth. Saya dalah salah seorang dari teman ibumu. Saya sedang duduk di mobil dengan kedua putri saya dan suami saya Rick. Kami sedang dalam perjalan yang biasa kami lakukan sekali sebulan ke Exester, dan kami melihat ibu kalian sedang menunggu mobil stop. Semula kami tidak bisa percaya bahwa orang yang menyetop mobil tersebut adalah ibu kalian. Ibu kalian telah menceritakan kisah iman kepada kami, maka kami mengerti bahwa hal ini adalah anugrah Tuhan buat kami.“

Tentulah demikian!

Sementara berdiri dekat rel KA di exester, saya dmeneruskan rekaman tersebut.

„Baiklah anak-anak,“ ucap saya pada casset tersebut. „Sekarang tutup mata, bayangkan seolah-olah kamu sedang bersama saya. Saya akan berbicara padamu seolah-olah kamu berdua di sini dan saya akan menjelaskan bagaimana caranya kita memulai perjalanan ini.

Saya mematikan tape itu sampai saya mendengar suara KA yang datang mendekat., lalu saya teruskan. Itu sirenenya, anak-anak jangan terlalu dekat ke pinggir Kretanya sudah tiba. Kemudian, berdasarkan pengalaman bersama mereka, saya teruskan lagi. „Apa? Kamu masih mau ke WC sekarang?“ Itu di sudut sana, tapi cepat, kalau tidak kita akan ketinggalan!“

Tiba-tiba saya melihat seorang bapak di samping saya mencoba sekuat mungkin untuk menahan tawanya. Secara daging saya tahu bahwa adalah hal yang aneh, seorang ibu beruban berbicara ke taperecorder, bilang „Apa? Kamu masih mau ke WC sekarang?“ Lebih parah lagi sebab hal itu sangat memalukan bagi adat orang Inggris. Saya merasa sekujur tubuh saya menjadi pucat. Saya menjelaskan bahwa saya sedang merekam buat anak-anak saya di Amerika.

Sang bapak tersebut menjelaskan bahwa ia sedang dalam perjalanan ke Amerika untuk mengadu nasib bagi keluarganya. „Bolehkah saya duduk dekat anda tanyanya?“ Segera saya mengerti bahwa Tuhan sedang membuka jalan.

Dalam perjalanan tiga jam itu saya menceritakan perjalanan hidup saya dengan Yesus kepada Martin. Dia dengan cermat mendengar kesaksian saya yang menyatakan bahwa pimpinan dan kasih Yesus itu nyata. Lalu ia berkata bahwa ia sebernarnya sudah pernah menerima Yesus dalam hidupnya. „Tapi itu sudah alama sekali.

Ketika akhirnya kami tiba di statiun di London, Martin meminta agar saya berdoa bersama dengannya, sebab ia menginginkan penyerahan yang baru lagi apada Yesus. „Saya tidak akan berjalan satu mil sekalipun tanpa Dia.“ ucapnya.

Airmata menggenangi pelupuk mata sambil berjalan bersama-sama menuju sebuah sudut untuk berdoa. Sementara ratusan manusia lalu lalang di stasiun itu, malaikat di surga bersuka cita menyaksikan Martin yang membuka hatinya kembali bagi akasih Yesus. Ketika saya memperhatikan dia berjalan meninggalkan saya, saya tahu bahwa Yesus berjalan di depannya.

Banyak orang takut dan menjadi kecut untuk menceritakan kasih Tuhan pada orang lain sebab setan telah memperdaya mereka dengan alasan, oarang yang baru lahir kembali, akan hilöang.tanpa bimbingan pribadi. Betapa piciknya pandangan kita yang membatasi kuasa Tuhan untuk memelihara domba-dombaNya, dimana saja Ia menempatkan mereka.

Beberpa bulan kemudian saya menerima surat ini dari Martin:

 

„Eileen yang kekasih,

Salam dalam kasih Tuhan yang mengasihi kita dan yang telah memimpinmu untuk menolong saya kembali kepadaNya. Saya memuji Tuhan dan berterima kasih kepadamu atas pembicaraan kita dalam KA menuju London itu.

Ketika saya menginjakkan kaki di Lapangan terbang Cicago, saya bertemu dengan tiga orang pemuda kristen. Salah satu dari mereka mengundang saya untuk tinggal di rumahnya untuk beberapa hari. Selanjutnya saya tinggal dengan tiga keluarga kristen di sekitar Cicago.

Bukan hanya saya yang telah menyerahkan diri pada Yesus sekarang tapi juga istri dan anak kami yang tertua. Sekarang kami menunggu pimpinan Tuhan untuk masa depan kami, namun kami merasa yakin bahwa Ia menghendaki agar akami tinggal di Amerika.

Saya ragu apakah engkau mesih buat rekakman buat anak-anakmu!

Kiranya Tuhan memberkati pelayananmu dan memeliharamu.

Salam dalam kasih yang berasal dariTuhan.

Martin“

 

Setelah Martin dan saya berpisah saya membeli tiket Kapal saya, lalu naik KA menuju rumah Ruth dan Daniel, dimana saya akan menginap sebelum meninggalkan Inggris. saat itusaya sudah punya tiket bus dan tiket kapal, namun saya tidak punya sepeserpun untuk pembeli makanan dalam perjalanan, maupun biaya penginapan jika saya hhhtiba di Venecia. Ketika saya mendoakan hal itu, hanya satu jawaban Tuhan, yaitu agar saya menyerahkan Seruling saya buat Ruth dan Daniel. Sedikit aneh sebab saya tidak tahu apakah mereka akan menggunakannya atu mungkin mereka mengenal seseorang yang membutuhkan hal itu.

Saya begitu gembira dapat bertemu dengan mereka kembali. Sukar untuk dipercayai bahwa sebenarnya kami bariu saja berkenalan.

Setelah kami salaing menceritakan pengalaman-pengalaman kami seajak kami berpisah beberapa hari sebelumnya, saya mulai bertanya, „Apakah kalian mengenal seseorang yang membutuhkan sedang Seruling?“ Ruth dan Daniel saling berpandangan lalu tertawa.

„Saya pikir, kami sendiri!“, jawab Daniel. Kemudian mereka menceritakan sebuah kisah yang ajaib buat saya.

Kamu ingat ketika engkau telah menghabiskan uangmu yang terakhir untuk mengajak kami makan malam di Restorant bukan? ucap Ruth memulai ceritanya. Saya mengangguk. „Beberapa hari kamudian ketika engkau berada di Devon, Tuhan berbicara pada kami bahwa engkau tidak punya uang untuk mebeli makanan dalam perjalananmu ke Israel.“

„Ya??? sahut saya keheranan.

„Ya, namun kami tidak punya uang untuk menolongmu,“ sambung Daniel. Namun kami tahu bahwa Tuhan menyatakan hal itu pada kami dengan satu maksud tertentu. Maka kami menyerahkan hal itu kehadiratNya. Tuhan menyatakan apa yang harus kami lakukan. Dengan ketaatan kami menjual Klarionette (Trompet) kami dan apa saja yang dapat kami jual. Lalu kami berguyon, bahwa satu hari Dia akan mengembalikan sebuah alat tiup kecil buat kami.“Kami jadi tertarwa terbahak-bahak.

Kami tidak merencakan untuk menceritakan padamu bahwa akami telah menjual kami punya, „sahut Ruth menjelaskan, tapi karena kau telah memulainya dan menanyakan kami mengenal seseorang yang membutuhkannya, maka kami tahu bahwa Tuhan telah menerima Seruling dari tuhan.“ Lalu mereka menunjukkan setumpuk makanan yang telah siapkan untuk perjalanan saya. di bus

„Luar biasa, cukup utuk semua penumpang bus! Kalian sungguh amat baik!“ Kebaikan mereka sungguh meliputi jiwa saya.

Bagi mereka yang belum pernah mengalami apa artinya perjalanan iman, akan sukar untuk membayangkan kesukaan yang kami alami saat itu. Saya sering merasa kasihan bagi mereka yang memililki terlalu banyak, sebab pastilah mereka ini tidak bisa menikmati keajaiban pemeliharaan Tuhan bagi anak-anakNya.Bertahun-tahun saya sudah mengenal, bahwa tidak sebenarnya „mujizat“ kecil. Setiap kali Tuhan menyentuh hat kita , itu adalah mujizat. Dan kenyataan bahwa Dia memelihara kita sampai pada hal-hal kecil sekalipun – walaupun kita sebenarnya penuh dosa dan mungkin kotor – senantiasa akan membangkitkan rasa kagum saya akan Dia.

Bebera jam kami berbincang-bincang dan dengan berat kami harus berpisah keesokan harinya. Persis sebelum saya naiik dalam bus, mereka menyalamkan sebuah enflop pada saya. Di bagian luar mereka melukis sebuah salib. Saya membukanya setelah bus meninggalkan stasiun tersebut. Dan ketika saya melihat jumlahnya, $160.00, saya hanya bisa menangis. Peristiwa yang mengiangkan kembali akan apa yang telah terjadi pada masa Rasul-rasul.

 

Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.

Kisah para Rasul 2: 44-45

Saya yakin Yesus sangat bersukacita atas hal itu dan telah memberkati mereka dengan kelimpahanNya.

Tas yang penuh dengan persediaan makanan tersebut mereka disiapkan dengan penuh kasih sayang. Paling sedikit selusin sandwich dan pada setiap bungkusan tertempel sebuah ayat yang diketik dan sangat menguatkan. Mereka juga menyiapkan sendok dan garpu perak, bubuk teh, gula dan buah-buahan segar serta sayuran, roti dan keju untuk persediaan dua haridi Venesia bahkan makanan ringan lainnya.

Wanita yang duduk berhadapan dengan saya dalam bus melirik saya dengan mata yang bercahaya, maka sayapun mulai menceritakan kisah tas makanan tersebut. Namanya Sue dan dia berasal dari Australia. Dari pembicaraan saya tahu bahwa ia sama sekali tidak percaya adanya Tuhan. Saya mulai bersaksi tentang Yesus dan kasihNya yang nyata. Sementara itu ferry kami akan melewati Terowongan Inggris, ia bertanya apakah ia boleh meminjam Alkitab saya. Ia membacanya sejak kami mulai berlayar sampai kami tiba di seberang.

Ketika kami kembali dalam bus, kami meneruskan pembicaraan kami. Setiap kali saya mulai menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan, matanya berbinar-binar penuh kekaguman. Bus tersebut berjalan terus siang dan dan malam, akhirnya suatu pagi di salah satu kota kecil di Francis dekat perbatasan Italia, ia menyerahkan diri pada Yesus. Saya tahu dari Tuhan bahwa saya harus merelakan Alkitab saya terbut untuknya, walaupun Alkitab itu banyak artinya buat saya. Saya menerimanya sebagai hadiah dari Marcia dan Yesus telah mengajarkan banyak hal pada saya, setiap kali saya membacanya setiap hari. Maka sebelum saya serahkan, saya berdoa agar Yesus menyatakan FirmanNya pada Sue dan menjadikan Alkitab itu sebagai berkat khusus baginya. (Sejak semula Sue punya karunia iman seperti anak-anak)

Persediaan makanan saya tersebut, saya makan bersama dengan seorang Jahudi tua yang duduk di belakang saya dalam bus. Beliau tidak berkata apa-apa pada saya sampai kami mendekati Venecia. Kemudian beliau mengutip ayat demi ayat yang di dapatnya pada sampul makanan itu.

Oleh karena Sue akan meneruskan perjalanannya menuju Atena, maka saya menyerahkan alamat dimana saya akan tinggal satu malam di Haifa pada hari pertama ketibaan saya di Israel dan mintaq agar ia memberi khabar. Dan sebelum saya meninggalkan bus tersebut saya memberikan $50.00 padanya, sebab saya tahu dari Tuhan bahwa uangnya sudah menipis.

„Tak pernah saya ditolong seseorang seperti ini,“ sahutnya dengan kebingungan.

Ketahuilah Sue, bahwa Yesuslah yang telah menyediakan uang yang saya miliki. Itu adalah uangNya bukan uang saya. Saya masih punya lebih dari yang saya butuhkan, sebab itu sangat engkau perlukan. Namun engkau harus sadar bahwa IA sangat mengasihimu. Kemuadian kami berpisah setelah kami berpelukan.

Bermingu-minggu telah berlalu sebelum saya mendengar berita dario Sue. Suatu hari pada bulan Juli, seorang teman saya pergi ke sebuah toko kristen di Jerusalem untuk membeli sebuah Alkitab buat saya sesudah kebaktian bersama. Hari itu saya sering teringat pada Sue, sebab Alkitab tua saya berada di tangannya. (Sebuah surat yang dialamatkan ke Haifa, entah dengan cara bagaimana hari itu saya terima di Jerusalem) Saya yakin anda dapat menebaknya, bahwa surat itu berasal dari Sue. Lagi-lagi menyatakan betapa setianya Tuhan dalam memelihara domba-dombaNya. Inilah isi suratnya:

„Eileen yang kekasih,

Saya adalah Sue, seorang wanita yang dijamah Tuhan melalui imanmu. Sekarang saya sedang berada di Puerto Rico. Bagaimana saya tiba di sini, sangat mengherankan. Saya sebenarnya naik kapal sebagai penumpang gelap. Dalam kapal iman saya hampir kandas, tapi oleh doa saya, saya selamat tiba didaratan.

Saya juga mengalami mujizat-mujizat Tuhan sejak kita berpisah dan saya yakin kamu pasti senang mendengarnya.

Ketika saya masih dalam kapal, petugas kapal mengadakan razia tiket dan penyeludupan. Selama dua jam setengah sepuluh orang dengan walkietalky memeriksa seisi kapal. Saya menyadari bahwa tindakan saya sebagai penumpang gelap tidak diperkenankan Tuhan, maka saya minta ampun dan memohon perlindunganNya serta menguatkan iman saya. Dan Ia melakukannya. Saya mulai membaca Alkitab yang kamu berikan, ternyata sangat menolong.

Di dalam Kapal adalah seorang pria peminum. Saya berdoa agar Tuhan menolongnya dan melalui seorang teman ia katakan pada saya bahwa ia sudah mulai berhenti minu. Semua ini terjadi, saya tidak dapat menolong, tapi saya diliputi oleh rasa kagum.

Tuhan telah memimpin saya ke sebuah rumah di sini, dimana saya diperlukan. Pria dalam Kapal itu memberikan $350.00 buat saya, sebab mereka tahu bahwa saya tidak punya uang. Kini saya tahu bahwa Tuhan telah memberikan uang itu buat saya untuk menolong keluarga ini sebab mereka punya utang yang tak terbayar. Seorang teman memberikan seekor anjing mainan dan pakaian anak-anak pada saya yang ternyata cocok untuk anak kecil dalam rumah ini. Luar biasa!

Saya tidak merokok dan tidak mengisap ganja lagi, walaupun tergoda untuk mengulanginya ketika saya hampir kehilangan iman. Tapi kini Ia telah mengembalikan iman saya dan saya sama sekali tidak berpikir untuk merokok lagi.

Baiklah, terimaksih banyak. Saya aan berdoa buatmu dimana saja engkau berada.

Saya yakin kita akan bertemu kembali dan Tuhan memberkati!

Yang kekasih, Sue“

 

Kesederhanaan imannya sungguh menyentuh hati saya, dari seorang wanita yang dua bulan yang lalu bahkan tak percaya bahwa Tuhan ada.

Ketika saya turun dari bus itu, saya hampir tidak percaya bahwa saya bisa tiba di Venecia. Dan saya terlalu terharu untuk menikmati keajaiban itu. Supir bus menayangkan musik Junani siang dan malam dan baginya tidur.adalah tidak mungkin. Saya menyebrang terowongan pertama (Venencia adalah sebuah yang didirikan di atas air di Italia) dan berhenti di hotel yang pertama saya dapat.

„Saya membutuhkan sebuah kamar untuk satu malam,“ ucap saya pada penerima tamu di sana. Dia menyambut saya dengan terheran-heran dan dalam suara yang agak meremehkan, ia berusaha menjelaskan, „Ini adalah First Class Hotel di sekitar sini dan harganya 28.000 Lira (sekitar Rp.40.000) permalam!“. Saya terdiam. Saya telah menukar uang sebab saya sudah satu setengah hari di sana, tetapi semuanya hanya 25.000 Lira.

„Kalau begitu, maukah anda menolong saya untuk menemukan hotel kelas dua di sini? Saya sedang melaksanakan kehendak Tuhan dan di hadapanNya sebenarnya kita semua hanya satu kelas.“

Ia menjadi sedikit lebih sopan dan menjelaskan bahwa di seberang terowongan berikut ada juga hotel yang bagus dan tidak terlalu mahal. Akhirnya saya menemukan sebuah hotel yang bagus dengan harga hanya 9.000 Lira per malam. (Saya senang menukar uang di Italia, sebab saya merasa bagaikan seoarang jutawan)

Saya segera menyegarkan diri dan saya pergi menuju restaurant untuk makan spagetti sebagai santapan malam. Kemudian saya merencakan akan segera kembali dan tidur. Saat itu saya sangat capek, bahkan saya tidak punya selera lagi untuk sejenak menikmati keindahan Venencia. Di restoran saya memilih sebuah meja yang menghadap ke perairan. Venencia kelihatan begitu indah pada malam hari dengan pantulan cahaya lampu dari aira, sebagai ganti daratan. Ketika sang pelayan tiba , saya memesan spagetti. Dengan emosi ia meminta saya untuk pindah ke meja lain yang jauh dari tepian dan menyediakan spagetti saya di sana dan tidak bersedia lagi membawa makanan saya ke tempat dimana saya berada. Saya tidak pernah membayangkan kesalahan saya karena memesan spagetti di Italia, sebelum saya membaca Daftar Menu. Nampaknya di Venencia spagetti hanyalah makanan selingan dan bukan merupakan makanan utama. Ketika pelayanan mendengar pesanan murahan saya itu, ia segera meminta saya untuk pindah tempat. Nyata benar orang di sini sangat kuat dalam hal klasifikasi. Namun demikian saya tetap menikmati spagetti saya. Suatu kenikmatan tersendiri, sebab kali ini saya boleh makan makanan kesayangan saya di negara asalnya.

Hari berikutnya saya mengadakan perjalanan keliling di atas air pada pagi hari, sorenya saya berangkat menunju Livorno. Setelah saya naik di Kapal, saya segera menemukan tempat saya, yaitu „Kass DD“ yang dipenuhi dengan jejeran bangku seperti dalam pesawat. Itu berarti saya akan tidur di atas bangku selama empat malam. Sesuatu yang sangat menarik bukan? Tapi karena saya sangat bahagia untuk pertama kali dalam sejarah hidup saya dapat menelusuri Samudra, maka saya yakin bahwa saya akan dapat tidur dalam keadaan duduk dengan gembira.

Saya pergi ke Deck. Saya berdiri dan memandang pelabuhan Venecia sampai hilang ditelan kejauhan.. Kemudian saya duduk di Kafetaria untuk menikmati secangkir kopi. Seorang pria duduk berhadapan dengan saya. Ternyata beliau adalah seoarang professor Perbandingan Agama-agama. Beliau telah mengajar selama 40 thn. sebagai professor dan telah mempelajari agama-agama besar di dunia. Saya menyaksikan penyataan Yesus sebagai Anak Allah dalam hidup saya secara pribadi.

„Sayang sekali, tentu hal yang sangat menyedihkan, jika anda berhenti sampai di situ,“ sahutnya. Begitu banyak pengalaman lain di luar pengalaman iman. Jika anda dapat melewati lubang jarum tersebut, anda akan menemukan Piramide, pengalaman-pengalaman ajaib yang menunggu anda. Anda hanya mempersempit wawasan anda dengan Yesus.“

Oleh karena beliau adalah seorang terpelajar, seorang professor, saya jadi merasa terpojok dalam beragumentasi. Tapi kemudian saya menyadari bahwa rasa minder yang tidak pada tempatnya itu, telah melukai hati Tuhan dan saya tahu bahwa saya harus menyatakan kebenaran, maka saya berdoa minta pertolonganNya.

„Apakah anda sudah membaca Perjanjian Baru?“, tanya saya, karena saya merasakan pimpinan Tuhan untuk mengajukan pertanyaan tersebut, walaupun menurut logika saya, pertanyaan itu terlalu dungu untuk diajukan pada orang terpelajar itu.

Jawabnya, „Sebagian“

„Anda belum penah membaca keseluruhan?“ tanya saya meyakinkan.

„Tidak, saya tidak pernah membaca sesuatu sampai habis.“

Saya menjelaskan kutipannya tentang „melewati lubang jarum“. Pernyataan Yesus, bahwa seekor unta lebih mudah melewati lubang jarum daripada seorang kaya masuk dalam Kerajaan Sorga. Saya menantangnya, „Bagaimana anda bisa tahu bahwa Yesus buakanlah satu-satunya jalan keselamatan, jika anda belum pernah membaca Perjanjian Baru sampai habis?“

„Saya telah menemukan sejuta pengalaman iman yang menakjubkan. sebagai hasilnya saya telah menulis sebuah buku.“ jawabnya dan meyakinkan saya bahwa ia telah menemukan kebenaran.

„Menurut saya, argumentasi anda tidak mengena sama sekali, selama anda sendiri belum mengerti tentang apa yang saya jelaskan.“ Oleh sebab itu saya akan memberikan sebuah Alkitab buat anda. Silahkan membaca Kitab-kitab Injil dan minta agar Tuhan meneranginya sementara anda membacanya. Kemudian barulah Anda bisa membicarakan hal itu dengan saya,“ ucap saya. Di luar dugaan saya, dia setuju. Saya segera mengambil sebuah Perjanjian Baru dan menyerahkannya padanya dan dia membawanya tersebut ke kamarnya. Saya berdoa agar Yesus menyatakan diri padanya sementara dia membacanya.

Untuk beberapa hari saya benar-benar menikmati ketenangan dan istirahat. Betapa luxusnya kenikmatan berjemur di atas kapal di tengah-tengah lautan Mediteranian. Kesempatan baik bagi saya untuk menulis surat, membaca atau bahkan sekedar beristirahat  dan berdiam diri dihadapan Tuhan. Hal ini benar-benar jadi waktu beristirahat, sebab perjalanan yang begitu banyak sebelumnya cukup melelahkan.

Sementara berjemur pada sore hari, saya membaca Kitab ester untuk pertama kali. Saya tidak mengerti mengapa saya merasa begitu akrab dengannya dan saya benar-benar digerakkan oleh imannya yang telah merubah sejarah bangsa Jahudi. Kemudian secara tak masuk akal saya merasakan kehadiran Allah yang berbicara dengan jelas dan tegas dalam hati saya, „Mulai sekarang, engkau akan dinamai Ester..“, ucapNya.

Kadang-kadang saya melihat sang proffessor itu dengan Perjanjian Baru di tangannya. Namun kami tidak pernah lagi membicarakan hal itu sampai kami tiba di pelabuhan Atena, di mana beliau harus turun. Persis sebelum berlabuh, ia muncul di deck saya dengan Perjanjian Baru di tangannya.

„Trimakasih“, ucapnya sambil menyerahkan Perjanjian Baru tersebut kembali kepada saya. „Terimalah kembali Alkitab ini dan ceritakanlah itu kepada siapa saja sebanyak mungkin. Saya telah mempelajari sistem-sistem agama bertahun-tahun dan dalam beberapa hari ini, saya telah menemukan apa yang sebenarnya yang saya cari.“ Dengan ucapan itu, iapun meninggalkan kapal.

Saya sangat bersyukur kepada tuhan atas kesempatan untuk menyaksikan karyaNya dalam hidup manusia. Saya juga yakin, jika ia tetap ssetia dan terbuka dalam ketaatan pada Tuhan, Tuhan akan dapat menggunakan pengetahuannya yang luar biasa tentang agama-agama itu untuk membawa orang kembali kepadaNya. Hal ini juga semakin menegaskan, bahwa kita tidak akandapat mengenal Tuhan dengan sungguh-sungguh hanya dengan intelektual tanpa penyerahan jiwa secara penuh.

Hari berikutnya, jam 6 pagi dalam keremangan kami menghapiri pelabuhan Haifa.