IV

Karena lihatlah, musim dingin telah lewat, hujan telah berhenti dan sudah lalu.
Di ladang telah nampak bunga-bunga, tibalah musim memangkas; bunyi tekukur terdengar di tanah kita.
Pohon ara mulai berbuah, dan bunga pohon anggur semerbak baunya. Bangunlah, manisku, jelitaku, marilah! 
Kidung Agung 2 : 11-13

 


 

17 Para Dewan dan Raja-raja

Setelah melewati prosedur yang umum, saya meninggalkan kawasan pelabuhan menuju sebuah tempat retreat di Haifa. Uang yang saya miliki hanya cukup untuk membayar ongkos penginapan selama tiga malam, maka sayapun memesan tempat untuk tiga malam saja. Seorang petugas menunjukkan sebuah Kamar kepada saya berupa sebuah ruangan besar yang didalamnya terdapat sebuah dipan untuk berbaring.

Setelah mengemasi barang-barang yang saya miliki, saya duduk merenung dan mulai berbelas kasihan terhadap diri sendiri. Kursus Alkitab baru akan dimulai dua minggu mendatang, sementara saya tidak tahu mau buat apa dan juga hampir sudah tidak punya uang. Dan sudah sejak beberapa minggu terakhir, saya terus menerus teringat pada Mike dan Joey. Saya sangat merindukan mereka bahkan mulai merasa jengkel terhadap ibu tiri mereka yang kini telah mengambil alih segala sesuatu yang seharusnya menjadi tugas saya. Oleh karena saya tidak punya kegiatan apa-apa dan tidak punya pimpinan yang jelas dari Tuhan, maka setiap hari saya hanya merenung dan mempersalahkan diri sendiri sebanyak mungkin.

Tiba-tiba saya mendengar ketukan halus di pintu kamar saya. Ternyata pemimpin Yayasan itu datang bersama istrinya. „Coba dengarkan!“ katanya, „Seorang asisten kami di sini sedang ke luar kota, kami sangat membutuhkan penggantinya selama dia pergi. Apakah anda bersedia menolong kami selama dua minggu mendatang. Anda boleh pindah ke kamar lain, makan gratis ditambah sedikit uang saku.“

Lagi-lagi saya kembali merasa malu. Malu karena saya begitu cepat melupakan Tuhan dan kuasaNya mengatasi segala keadaan. Dengan alasan apakah saya harus merasa, bahwa saya telah ditinggal dan dilupakan Tuhan, sementara hidup saya terus dipimpinNya? Dengan senang hati dan dengan keyakinan penuh bahwa Tuhan telah mengulurkan tanganNya untuk menolong saya selama dua minggu di depan, saya menerima tawaran mereka tersebut.

Waktu yang sangat menyenangkan. Bekerja keras secara jasmani sangat menolong saya untuk melupakan beban berat dalam hati saya. Satu hari, ketika saya sedang membersihkan WC, saya jadi tersenyum sendiri karena mengingat dunia yang mengejar kesuksesan yang sudah saya tinggalkan dibelakang saya. Dunia tidak akan pernah mengerti bagaimana mungkin saya bisa gembira sebagai tukang cuci Kamarmandi sementara semua izasah universitas saya jadi sia-sia. Namun melayani Tuhan, itulah kebahagiaan yang terbesar. Dan jika semua pekerjaan rendah itu saya lakukan buat Dia maka pekerjaan itu akan berlangsung dalam suasana cinta kasih.

Waktu berlalu begitu cepat. Saya harus segera ke Jerusalem untuk mengikuti kursus Alkitab selama enam minggu. Para peserta kursus tersebut berjumlah 20 orang berasal dari Kanada, Inggris dan Amerika Serikat. Kursus itu sangat menarik, kami mempelajari tentang sejarah, tradisi, lagu-lagu daerah dan tari-tarian orang Jahudi . Selain itu kami juga mempelajari hari-hari raya mereka dalam terang Injil. Sebagai lanjutan dari Studi Alkitab adalah perjalanan menelusuri Israel, bernyanyi dan saling membagi berkat kemana saja kami pergi. Kami menelusuri negri itu dari satu ujung ke ujung yang lain. Bagi saya acara kunjungan tersebut untuk beberapa tempat yang telah kami kunjungi bersama Mike dan Joey sebelumnya menjadi sebuah kunjungan yang kedua.

Setelah Kusrus enam minggu tersebut, saya mendapat tawaran untuk tinggal di sebuah apartemen bersama satu kelompok kecil orang percaya di sebelah utara Israel, di daerah Nahariya. Nahariya adalah sebuah kota yang sangat tenang dekat perbatasan Libanon. Jendela kamar saya mengarah ke laut Mediteranian. Lagi-lagi saya mengerti bahwa ini adalah juga kesempatan yang dihadiahkan Bapa di surga buat saya, sebab saya sangat mencintai lautan.

Suatu hari sementara berdoa, Tuhan memberikan kata-kata ini buat saya:

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.
Mat.10:17-20

Ia menggarisbawahi firman ini begitu jelas buat saya sampai-sampai saya tidak bisa mengabaikannya begitu saja Namun isinya tetap masih teka-teki dalam benak saya. Apa gerangan maksudNya? Saya tidak punya rencara untuk menghadap majelis agama maupun para penguasa atau raja-raja.

Bulan September 1977, ijin tinggal saya selama dua tahun di Israel hampir beralkhir, saya tahu, saya harus kembali memperbaharuinya. Suatu sore, ketika saya menceritakan hal ini pada teman-teman serumah saya di Naharaiya, saya menceritakan juga tentang semua kejadian di pusat penampungan imigrasi di Asdod. Setelah saya selesai bercerita, seorang teman bertanya:

„Bukankah mereka di lapangan terbang telah menjanjikan akan mengembalikan surat-surat imigrasimu itu jika engkau tiba kembali kembali di Israel?“

„Ya, mereka mengatakan demikian pada hari keberangkatan kami.“ Jawab saya.

„Lalu mengapa kamu tidak pergi saja ke kantor imigrasi di Haifa untuk meminta kembali surat-surat tersebut?“

Sayapun mendoakan hal itu dan Ia meneguhkan agar saya menerima usul itu. Beberapa hari berikutnya, saya berangkat menuju Haifa dengan naik Bus untuk meminta kembali surat-surat tersebut. Bapak Rozman, yang menangani bagian imigrasi dari US menghubungkan saya dengan sekretarisya. Mula-mula beliau menilfon kantor imigrasi di Asdod untuk mencari foto-copy data-data saya disana, ternyata dinyatakan tidak ada. Lalu beliau menilfon ke Berseba, dari sana dinyatakan, bahwa mereka telah mengirim senmuanya ke Asdod segera setelah kami dipindahkan ke Asdod. Mereka menganjurkan agar beliau menanyakan ke kantor di Tel Aviv, namun sia-sia saja. Nampaknya surat-surat tersebut telah menghilang.

„Baiklah,“ ucap sang sekertaris itu. „Oleh karena surat-surat tersebut tidak ditemukan, kita harus membuat surat yang baru!“ Beliau pergi ke ruangan lain untuk mengambil hal-hal yang ia diperlukan.

Pada saat itu juga saya sudah tahu bahwa saya sedang berada dalam persimpangan jalan yang benar-benar sulit dalam hidup saya. Saya tahu bahwa jika data-data itu tidak ditemukan kembali, bagi saya terbentang satu kesempatan untuk tinggal di Israel secara „biasa“ sekaligus suatu kesemptan untuk memulai hidup yang baru tanpa masalah seperti yang telah terjadi di Asdod. Maka sayapun berharap agar surat-surat terdahulu hilang untuk selamanya. Tetapi firasat saya berkata, bahwa ayat-ayat Firman Tuhan yang baru saya dapat itu pasti punya tujuan tertentu. Saya kembali menyerah kepada kehendakNya, apapun yang akan terjadi (sebab saya tahu Dia memperhatikan kerinduan saya yang dalam untuk sungguh melupakan semua kejadian di Asdod).

Sekretaris tersebut segera tiba kembali dengan surat-surat penting ditangannya, tetapi persis sebelum beliau mulai mengetik, ia berkata,: „Mungkin lebih baik jika saya lebih dahulu menilfon ke Kantor Perwakilan Jahudi di jerusalem untuk menanyakan apakah mereka mengetahui sesuatu tentang anda“.

Setelah itu, kejadian berlangsung begitu cepat. Segera setelah nama saya didengar oleh entah siapa di kantor di Jerusalem sana, ia mulai meringas, „Mau buat apa dia kembali ke Negri ini? Kami telah memerintahkan kepada petugas Lapangan Terbang untuk tidak mengijinkannya masuk kembali. BAGAIMANA DIA BISA MASUK? Apa yang telah terjadi?“

Sekretaris itu menjadi sangat ketakutan oleh reaksi yang meringas di seberang sana dan meminta agar saya segera meninggalkan tempat itu. Dia sendiri segera menyerahkan Tilfon pada bosnya, tanpa sempat memperhatikan air mata yang mulai bercucuran di pipi saya.

Bapak Rosman memasuki ruangan dan satu-satunya yang sempat saya dengar sebelum pintu dibelakang saya tertutup ialah, „Kisah apa yang telah terjadi atas Ibu Dorflinger?“

Beberapa waktu kemudian, Bapak Rozman keluar dan mendekati saya di ruang tamu. Airmata masih terus mengalir membanjir di pipi saya, namun hal itu tidak akan menolong keadaan.

„Sayang sekali,“ ucapnya prihatin. „Saya sama sekali tidak tahu, apa yang telah terjadi dengan anda, tapi segera setelah mereka di Jerusalem mendengar nama anda, mereka sangat beringas!“ Beliau melihat kekalutan saya, lalu meyakinkan saya dengan berkata, „Jangan takut, kami telah meminta agar pihak yang berwajib di Jerusalem mengirim data-data anda kemari. Kemudian kita akan melihat apa yang bisa kita lakukan selanjutnya. Tetapi, apa gerangan tindakan anda yang membuat mereka begitu jengkel?

„Saya tidak melakukan apa-apa. Sungguh, satu-satunya yang membuat mereka jengkel ialah, karena saya percaya pada Yesus.“

„Hanya itu? Anda benar-benar yakin?“ Tanyanya kurang yakin.

„ya, hanya itu.“ ucap saya menegaskan.

„Baiklah, tidak usah bersedih, data-data itu sedang dikirimkan kemari. Anda boleh datang kira-kira seminggu lagi kemudian kita akan melihat langkah-langkah selanjutnya. Jika benar hanya itu penyebab satu-satunya, yakinlah anda akan mendapatkan surat-surat imgrasi saudara kembali.“

Saya begitu bersyukur atas kebaikannya dan berterimakasih padanya sebanyak-banyaknya. Saya tidak punya bayangan tentang apa yang akan terjadi di depan, tetapi saya tahu bahwa kesempatan untuk tinggal dengan tenang tanpa masalah di Israel bagi saya telah hilang lenyap.

Ketika saya tiba kembali di Kantor Imigrasi tersebut seminggu kemudian, bapak Rozman membawa dokumen saya dengan bergaya seolah-olah benda itu sangat berat. Memang dokumen itu sedikit lebar.

„Tolong ibu dengarkan baik-baik!“, ucapnya. „saya telah membaca keterangan di sini, memang masalahnya hanya seperti yang ibu jelaskan pada saya. Satu-satunya yang menjadi alasan kemarahan mereka adalah iman ibu dan hal ini secara khusus telah sangat menyinggung perasaan seseorang yang sangat berpengaruh di Kantor Perwakilan Jahudi di Jerusalem. Hal itu telah mengakibatkan munculnya masalah-masalah lain. Namun secara jujur saya tidak punya alasan untuk menolak hak ibu untuk mendapatkan Kartu Imigrasi itu hanya karena masalah agama.

Kita akan coba melakukan sesuatu. Dalam beberapa hari lagi Ijin Tinggal ibu akan berakhir. Silahkan besok pergi ke Kantor Kementerian Dalam Negri di Acco untuk meminta pembaharuan ijin tinggal. Jangan ceritakan apa-apa, hanya mengisi formular isian seperlunya dan meninggalkan Paspor Ibu di sana sebagai mana lazimnya. Jika mereka telah memberi Visa yang baru, kami akan mengeluarkan Kartu Imigrasi ibu. Namun,“lanjutnya, jangan putus asa, dari pihak perwakilan Jahudi di Jerusalem telah mengirim surat ke pihak kementerian dalam negri agar mereka tidak mengeluarkan visa baru buat ibu. tetapi kita tunggu saja apa yang akan terjadi okey? Dan segera setelah ibu mendapatkan jawaban dari pihak kementerian, segeralah datang kemari.“

Keesokan harinya saya sudah berada di kantor Kementerian Dalam Negri di Acco untuk mengisi surat permohonan perpanjangan ijin tinggal di Israel.

Awal bulan September 1977 saya mengunjungi teman-teman saya yang tinggal di pusat kota Jerusalem, karena saya ingin sekali berada di Pusat Kota untuk merayakan Rosh Hashanah dan Yom Kippur. Satu pagi setelah Hari-hari Raya Kudus itu, Tuhan membangunkan saya dengan perintah untuk mendatangi percetakan surat kabar harian yang berbahasa inggris di Israel, yaitu The Jerusalem Post. Hal ini benar-benar menjadi suatu teka-teki buat saya, namun seorang teman dengan rela menemani saya ke sana. Kami mencari nama editornya dan bergerak menuju kantor The Jerusalem Post.

Ketika kami tiba, saya menjelaskan pada sekretaris disana, bahwa kami ingin bertemu dengan sang editor. Beliau menanyakan nama kami. Segera setelah beliau mendengar nama saya, „Kami koq menerima nama Anda untuk dua hari penerbitan?ucapnya dengan heran sambil membimbing kami ke luar pintu untuk menunjukkan surat tersebut dalam surat kabar. Benar-benar dalam Surat Kabar itu ada surat tentang saya hari itu. (Saya telah menceritakan masalah perpanjangan visa tersebut kepada beberapa teman, maka surat ini adalah merupakan reaksi mereka yang dikirimkan melalui The Jerusalem Post)

Mesianis Jahudi
Kepada Editor The Jerusalem Post

Yang terhormat,

Kami menulis surat ini sehubungan dengan masalah teman kami, Eileen Dorflinger, yang status imigrasinya dipertanyakan hanya karena ia percaya pada Yesus sebagai Mesias orang Jahudi. Kami sagat menyesali hal ini dan merasa bahwa hal demikian sangat merugikan Bangsa Israel, karena seorang Jahudi harus meninggalkan negara ini disebabkan oleh imannya. Sesuai dengan Hukum 1950 yang berisi bahwa setiap orang Jahudi mendapat jaminan imigarasi untuk kembali ke Israel, maka diskriminasi atas saudari Eileen Dorflinger sangat bertentangan dengan Iman dan Nilai-nilai Bangsa Israel sendiri. Sepanjang tahun yang lalu kami berada di Israel. Sebagai orang Kristen kami mengakui nubuatan dalam Perjanjian Lama dan penggenapan-penggenapannya dalam hidup kami sehari-hari. Waktu setahun berada di Israel telah mengajarkan banyak hal tentang kejahudian iman kami. Hal ini melahirkan cinta kasih dan penghargaan kami yang dalam kepada bangsa Israel.

J. Muller
W. Muller
Fjerdingby, Norway

Surat tersebut di tulis oleh Jenny dan Wolfgang dari Norwegia. Waktu dan hikmat Tuhan sungguh mengagumkan. Ia mengutus saya ke The Jerusalem Post persis pada waktu nama saya dimuat di sana. Oleh karena nama saya sudah terpampang di sana maka kami dapat langsung menemui sang Redaksi tanpa kesulitan.

„Hallo, kami telah menerima beberapa surat tentang permasalahan anda, bagaimana hal itu sebenarnya ?“, ucapnya memulai pembicaraan. Saya mulai menceritakan semua yang terjadi dalam hidup saya sejak masa kanak-kanak sampai pada waktu kami tiba di Ashdod. Menarik sekali, tetapi anda sebenarnya tidak punya masalah selama anda belum mendengar keputusan pihak kementerian dalam negeri. Setelah anda mendapat jawaban silahkan mendatangi saya kembali.“

Kami berterimakasih padanya dan meninggalkan Kantor tersebut. Hari berikutnya saya mengunjungi Kantor Kementerian Dalam Negeri di Jerusalem untuk menanyakan keputusan apakah yang telah mereka lakukan sehubungan dengan permohonnan saya. Untuk ketiga kalinya saya mengunjungi mereka setelah beberpa hari kemudian, jawaban yang saya terima tetap menyatakan belum ada kepastian. Bahkan saya mendengar kemungkinan besar permohonan saya untuk perpanjangan visa akan ditolak. Saat itu kesempatan untuk mengajukan permohonan untuk pembaharuan visa sudah berlalu sedang Ijin Tinggal saya di Israel telah berakhir.

Beberapa hari kemudian saya menceritakan semua kejadian ini kepada seorang Pendeta gereja setempat di Jerusalem. Beliau mengusulkan agar saya membawakan permasalahan ini kepada Badan Urusan Bidang Permasalahan Orang Asing. Oleh karena Richard tinggal di Jerusalem, maka ia sering mengorbankan waktunya untuk menemani saya. Seteleh membuat jadwal pertemuan, maka kamipun mendatangi kantor kementerian. Orang yang menerima kehadiran kami mendengarkan segala keluhan saya dengan baik. Ia nampaknya menyadari bahwa saya sungguh punya masalah berat dan tidak bersedia campur tangan dalam hal itu.

„Sama sekali tidak ada cara lain untuk menolong anda,“ jawabnya sambil melihat jamnya dengan maksud menyuruh kami pulang.
„Apa yang dapat kita lakukan sekarang?“ Tanya saya pada Richard ketika kami sudah berada di luar. Mengapa kita tidak pergi saja langsung ke Kantor Perwakilan Jahudi, dimana semua persoalan ini dimualai, ujar Richard sekaligus bergerak menuju Bus yang menuju ke sana. Dengan tergesa-gesa saya mengikutinya. Rasa takut  membayangkan perdebatan di Kantor Perwakilan Jahudi nantinya mulai menghantui perasaan saya. Maka akupun mulai berseru, „Oh, Tuhan tolonglah!“

Tidak lama kemudian kami sudah tiba dan Richard segera menemui seorang kenalannya di sana. Sebelum kami mendapat jawaban yang sebenarnya kami sudah berada di ruangan pimpinan Kantor Perwakilan tersebut. Semua berjalan sangat cepat dan saya yakin inilah kehendak Tuhan.

Tanpa berpikir panjang, saya segera menceritakan kisah saya pada pejabat tersebut. Setelah beberapa menit, ia memotong cerita saya dan berkata: „Apakah anda menduga bahwa saya sudah mengetahui persoalan ini? Saya belum pernah mendengarnya. Saya diberi tugas dan betanggungjawab untuk setiap keputusan bagi pihak Perwakilan di sini, tetapi untuk masalah-masalah pribadi seperti permasalahan anda ini biasanya adalah dibagian lain, namun demikian silahkan teruskan ceritanya.“

Setelah saya mengakhiri cerita tersebut, ia berkata, „Anda diperhadapkan dengan kasus yang paling sensitif di Israel, yang menjadi pertanyaan ialah, siapakah sebenarnya seorang Jahudi? Menurut saya, seandainya ibu anda seorang Budha, maka bisa saja anda mengalami banyak kesulitan. Tapi kasus anda jelas. Ibu anda adalah seorang Jahudi, secara otomatis anda berhak mendapatkan warganegara Jahudi berdasarkan Undang-Undang. Apalagi anda kan bukan anggota salah satu agama. Menurut saya,anda harus mengurusnya sampai pihak tertinggi kalau perlu. Masalah siapa yang berhak mendapatkan kewarganegaraan Jahudi sudah lama sekali diputuskan, maka jika anda telah mendapatkannya bagaimna mungkin hak anda bisa dicabut kembali? Saya akan membantu anda jika diperlukan.“

Setelah berjabatan tangan, „Secara pribadi saya sangat tertarik mendengar kisah tentang iman anda, namun hal ini perlu didiskusikan di kedai kopi. Hal itu tidak dapat dijadikan alasan untuk mengatakan anda orang Jahudi atau tidak. Anda berhak memegang kepercayaan anda.“ ucapnya melepaskan kami.

Saya menjadi termangu-mangu atas pintu yang telah dibukakan Tuhan. IA telah mengutus saya ke pimpinan Kantor Perwakilan Jahudi, yang telah menolak saya tujuh bulan sebelumnya, tapi kini sebaliknya mendorong saya untuk memperjuangkan hak saya. Lagi-lagi saya menjadi terharu melihat betapa Tuhan menyingkapkan hal-hal yang tak diduga di depan kita. Berjalan dalam iman bisa saja berupa petualangan.

Pagi hari berikutnya, sebelum matahari terbit, Tuhan membangunkan saya kembali dan memberi FirmanNya:

Tetapi waspadalah terhadap semua orang; karena ada yang akan menyerahkan kamu kepada majelis agama dan mereka akan menyesah kamu di rumah ibadatnya. Dan karena Aku, kamu akan digiring ke muka penguasa-penguasa dan raja-raja sebagai suatu kesaksian bagi mereka dan bagi orang-orang yang tidak mengenal Allah. Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga.  
 Mat.10:17-19

„Tapi Tuhan!“, jawab saya segera. „Saya kan tidak berhadapan dengan para raja dan pegawainya!“
JawabNya dengan tegas. „Saya akan mengutus engkau untuk berbicara dengan Presiden Menachem Begin.“
Buluh roma saya merinding dan berusaha untuk berpura-pura bahwa saya tidak mendengarkan suara itu. (Bagi mereka yang pernah mengelak dari Tuhan mengenal kebodohan saya). Namun oleh karena Firman Tuhan senantiasa benar, saya tahu entah bagaimana caranya, dalam waktu dekat saya akan berbicara dengan Presiden Begin. Segera saya menyadari hal itu, saya meletakkan semuanya itu ke dalam tanganNya. Ketika saatnya tiba saya tahu semua itu diluar pengertian saya.

Sore harinya dalam pertemuan orang-orang percaya sambil minum teh, seseorang berkata: Apakah kalian tahu bahwa presiden Menachem Begin akan mengadakan Perjamuan Terbuka pada hari sabtu sore? Itu berarti dua hari lagi. Jantung saya mulai bergetar sekencang-kencangnya.
„Bolehkah anda menjelaskan, apa syarat-syarat yang diperlukan oleh seseorang yang ingin ke sana!“ sahut saya setenang mungkin.
„Ya, yang saya tahu sih, tidak ada kekhususan, sama sekali bebas bagi umum, yang penting hadir saja di sana!“

Setelah mengetahui bahwa inilah waktunya untuk menggenapkan sasaaran Tuhan, maka sayapun membagikan beban saya tersebut dengan mereka. „Tolong doakan saya!“, pinta saya. Saya sama sekali tidak ingin menemui Presiden di luar kehendak Tuhan.

Sabtu pagi berikutnya tiba begitu cepat. Saya tahu inilah hari dimana saya akan muncul di depan Raja-raja...“Dalam perjalanan menuju Rumah Presiden yang hanya berjarak tiga blok dari tempat dimana saya berdiri, saya berhenti di sebuah Toko Buku Kristen. Saya membalik-balik sebuah buku kecil berjudul „Ucapan Pengharapan“ dan mengherankan sekali, di halaman yang saya buka tertulis:

„Janji Allah“
„Kiranya kasih setia-Mu mendatangi aku, ya TUHAN, keselamatan dari pada-Mu itu sesuai dengan janji-Mu, supaya aku dapat memberi jawab kepada orang yang mencela aku, sebab aku percaya kepada firman-Mu. Janganlah sekali-kali mencabut firman kebenaran dari mulutku, sebab aku berharap kepada hukum-hukum-Mu. Aku hendak berpegang pada Taurat-Mu senantiasa, untuk seterusnya dan selamanya. Aku hendak hidup dalam kelegaan, sebab aku mencari titah-titah-Mu. Aku hendak berbicara tentang peringatan-peringatan-Mu di hadapan raja-raja, dan aku tidak akan mendapat malu. Aku hendak bergemar dalam perintah-perintah-Mu yang kucintai itu. Aku menaikkan tanganku kepada perintah-perintah-Mu yang kucintai, dan aku hendak merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.“
Maz. 119:41-48

Saya yakin inilah peneguhan dari Allah, maka sayapun melangkah maju menuju Istana Presiden untuk turut dalam acara Open House tersebut. Ketika saya tiba di pintu gerbang, saya mendekati salah seorang pengawas keamanandi sana.
„Bolehkah saya tahu jam berapa mulai Open House itu? Tanya saya dalam bahasa inggris.
„Jam lima sore kemarin,“jawabnya segera.
„Kemarin“! Tanya saya dengan rasa kesal karena saya telah merasa salah mengerti akan pimpinan Tuhan. Tetapi ketika saya berbalik, dengan lembut Jesus menjelaskan pada saya, „Maksudnya hari ini, tapi dia katakan kemarin.“
Dengan gembira saya menanyakan pengawal tersebut dalam bahasa Ibrani, „Ha yom?“ (Hari ini?)
„Ken, ken, ha yom!“ jawabnya.

Saya yakin beliau itu tidak pernah berpikir bahwa „Kemarin“ tidak sama dengan „Hari ini“
Saya kembali menuju rumah seorang teman baik saya untuk menunggu sampai jam lima dalam ketegangan. Akhirnya saatnyapun tiba. Namun saya masih tetap berharap agar Tuhan merubah rencanaNya.
„Tuhan, jika ini bukan kehendakMu, biarlah saya pingsan di depan bangku sana,“ ucap saya sementara berjalan menuju pintu gerbang tersebut dengan perlahan-lahan. „Tuhan saya sudah dekat bangku ini,“ ucap saya lagi seolah-olah saya ingin mengingatkan Tuhan untuk menghalangi langkah saya selanjutnya.

Bangku pertama saya lalui tanpa masalah, namun saya coba lagi memohon yang sama ketika saya mendekati bangku yang kedua. Saya berharap bahwa Tuhan tidak mendengarkan doa saya yang pertama, karena Tuhan telah sibuk dengan seseorang yang lain. Tetapi beberapa menit kemudian saya sudah tiba di pintu gerbang Istana dengan segar bugar.

Di sana dipasang sebuah gang kecil berupa tali di kiri kanan dan persis jam lima, para pengawas mulai mengadakan pemeriksaan bagi setiap pengunjung yang akan masuk ke Istana. Perhatian saya pertama-tama terarah ke sebuah Video Camera dan TV yang siap untuk menyambut detik-detik munculnya sang Presiden.

Tidak lama kemudian beliau dan istrinya muncul dan dengan hangat menyambut para tamu. Dengan debaran jantung kembali saya berseru, „Tuhan, jika Engkau menghendaki agar saya berbicara dengan beliau, biarlah beliau itu mendatangi dan menyalam saya!“ Lalu saya berdiri sejauh mungkin. Ternyata itu adalah kehendak Tuhan. Rasanya semua berlangsung begitu cepat, beliau telah mendatangi dan menyalam saya. Sambil meminta hikmatNya saya memperkenalkan diri.

„Shalom, nama saya Eileen Dorflinger,“ ucap saya seolah-olah bebisik di depan mikrofon. „Saya adalah seorang Jahudi yang telah menerima Yesus sebagai Mesias, tapi karena iman saya tersebut saya telah dipersulit dalam urusan kewarganegaraan saya sebagai orang Jahudi. Sambil memandang sekelilingnya, beliau bertanya, „Apakah ibu anda seorang Jahudi?“ Sebab berdasarkan hukum, inilah yang menjadi syarat utama untuk mendapatkan kewargaan Jahudi.

Dengan mengangguk, saya menjawab „Ya“
„Ayah anda juga?“ Tanyanya.„Ya“ Jawab saya menegaskan.
„Baik, tentu anda berhak menjadi warga Israel. Tentu saya mengharapkan agar anda tetap mengikuti tradisi nenekmoyang saudara, namun anda tetap seorang jahudi!“

Beliau berjalan meniggalkan saya, tetapi kemudian berbalik ke arah saya dan berkata: „ Jika anda dipersulit, silah tulis surat pada saya.“
Detik-detik yang sangat menakjubkan, dimana pemimpin Israel menyatakan di depan umum, bahwa saya masih berhak menjadi warga negara Israel. Dengan rasa haru saya meninggaalkan Opening House tersebut untuk menceritakan pengalaman tersebut pada teman-teman saya.

Hari berikutnya saya mngunjungi kantor Kementerian Dalam Nbegri kembali untuk melihat apakah mereka telah membuat keputusan baru atas permohonan pembaharuan visa saya.

„Sampai hari ini belum ada keputusan, namun sejauh yang saya ketahui, kelihatannnya permohonan anda akan ditolak.“ Apakah anda berencana untuk  mengajukan hal itu langsung pada Menteri Dalam Negri?“ Tanyanya.
„Apakah anda merasa hal itu akan berguna?“ Tanya saya.
„Kemungkinan tidak, bisa saja hal itu hanya membuang-buang waktu!“
Saya berterima kasih atas bantuannya dan meninggalkannya menuju Redaksi The Jerusalem Post.
„Nampaknya, visa saya akan di tolak,“ ucap saya.
„Lalu, bagaimana sekarang ?“
Pertanyaannya sangat mengejutkan saya sebab saya mendatanginya untuk meminta jalan keluar.
„Saya tidak tahu, jawab saya. Saya mengira bahwa saya akan mendapatkannya tanpa masalah sambung saya, mengingat usul pimpinan Kantor Perwakilan Jahudi yang saat itu saya yakini sebagai peneguhan dari Tuhan.
„Siapa Advokat anda?“ tanyanya.
Lagi-lagi saya bingung! Ngak tau!“ Apakah anda mengenal seseorang? saya balik bertanya.
Beliau terdiam beberapa waktu, dan saya mulai menyadari bahwa saya telah mengajukan suatu pertanyaan yang seharusnya tidak dipertanyakan pada seorang pimpinan Surat Kabar.

„Try Uri Huppert. Saya tidak mengenal beliau secara pribadi, namun saya tahu tentang beliau, tolong memberitahukan keadaan selanjutnya pada saya,“ sahutnya kemudian. Tuhan meneguhkan bahwa itulah pilihaNya, maka saya segera membuat jadwal dengan beliau. Ternyata beliau telah mengetahui keadaan.

„Silahkan kembali ke rumah dan mengetik semua kejadian sejauh yang dapat anda ingat. Bawalah itu besok ke kantor saya dan saya akan mempelajarinya,“ kata Uri. Saya membutuhkan banyk waktu untuk mengetik semuanya, namun keesokan harinya saya sudah siap untuk menyerahkannya pada Uri. Silahkan datang tiga hari kemudian setelah Hari Raya Simchar Torah, saya akan memutuskan apakah persoalan ini perlu diajukan atau tidak.“ Jelasnya.

Kembali saya menyerahkan masalah ini sepenuhnya kepada Yesus. Nampaknya pintu demi pintu telah terbuka, namun saya belum mengerti mengapa Tuhan membawa permasahan ini sampai ke tangan para pejabat Israel. Satu-satunya doa saya ialah, biarlah kehendak dan MaksudNya yang terjadi. „Jika hal ini memang bukan kehendakMu Bapa, biarlah Engkau sendiri menghalanginya!“

Malam itu juga saya menulis surat pada Presiden Manachem Begin:

Presiden Manachem Begin
Di Kartor Kepresidenan
Jerusalem - Israel

Bapak Presiden Yang terhormat,

Dua minggu yang lalu saya hadir pada Perjamuan Terbuka di Istana. Saya menjelaskan bahwa saya adalah seorang Jahudi yang percaya bahwa Yesus adlah Mesias bangsa kita, dan oleh karena iman saya tersebut hak kewarganegaraan saya jadi dipertanyakan. Bapak mengetahui bahwa kedua orangtua saya orang Jahudi dan saya sendiri adalah Jahudi dan berhak jadi warga negara Israel. Bapak berkata, saya boleh menyuarati Bapak jika saya mengalami kesulitan.

Pada hari Rabu tanggal 28 September 1977, pihak Kementerian Dalam Negeri berkata bahwa permohonan Visa A/I saya ditolak karena iman saya pada Yesus (berdasarkan perintah dari pihak Perwakilan Jahudi).

Saya sangat mencintai Israel dan beridentitas yang sama dengan bangsa saya. Saya bukan penganut agama lain. Saya punya Ijazah Master di bidang Sosial dan saya yakin bahwa saya dapat mengabdikan diri di Israel. Saya merencakan untuk menaikkan persoalan ini kepengadilan tinggi jika saya harus melakukakannya, sebab saya sungguh mencintai negara ini.

Jika Bapak mengetahui jalan kelaurnya, hal itu akan sangat menolong dan menggembirakan saya.

Hormat saya
Eileen Dorflinger.

Keesokan harinya saya membantu seorang teman yang pindah dari sebuah kamar yang kecil ke sebuah apatermen yang lebi besar. Ketika saya memasuki kamar itu, saya merasa bahwa Tuhan mengehndaki agar saya menyewa kamar tersebut. Saya menjadi heran. Saya tinggal di sebuah Apartemen yang indah di Nahariya dengan pemandangan kearah lautan. Kini hanyalah sebuah kamar sederhana dengan sebuah Kamar Mandi yang juga akan digunakan bersama dengan penghuni lainnya. Dindingnya bercat coklat dan kotor dan sebuah jendela tertutup. Lingkungannya gelap, kotor dan persis di salah satu jalan terramai di Jerusalem. Di tambah lagi, saya sama sekali tidak punya uang untuk membayar sewanya. Namun perasaan saya tidak mungkin salah.

„Joice, rasanya saya kan menyewa kamar ini,“ ucap saya.
„Super!“ Kamar ini belum disewakan, kamu bisa masuk besok!“
Sangat mengherankan sebab sewanya sangat murah, yaitu hanya $35.00 sebulan, api itupun saya tidak punya. saya yakin Joice tidak punya uang lebih banyak dari saya maka sayapun tidak mau memberatkan.
 „Baiklah, jika saya punya uang sebanyak itu sampai besok pagi, saya akan tahu benar bahwa itu kehendakNya. Mungkin saya akan menerimanya dalam surat.“ Kata saya menegaskan.
„Jangan membatasi Tuhan hanya dengan surat“ sahut Joice.
Setelah saya selesai membantunya pindah saya memeriksa Kotak Pos. Saya tidak menerima sepucuk suratpun, maka saya pergi ke rumah teman. Beberapa jam kemudian Joice datang.
„Lihat, Tuhan memerintahkan saya untuk menyerahkan uang ini buatmu. Cukup untuk ongkos satu bulan dan biaya untuk membeli cat,“ katanya sambil mengulurkan uang sebanyak 650 Sikal.
„Tapi saya tidak mengharapkan uang sebanyak itu daripadamu Joice,“ jawab saya.
„Saya memang tidak punya uang, tapi orangtua saya baru mengirim sedikit uang buat saya,“ jelasnya.
„Luar biasa.“ Lagi-lagi saya memuji Tuhan yang menghendaki agar saya tidak memusingkan hidup saya sendiri, sebagaimana Yesus dengan hikmaNya mengajarkan:

Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
Mat. 6 : 34.

Saya sama sekali tidak pernah bermimpi bahwa pada keesokan harinya saya akan pindah ke Kamar saya sendiri di tengah-tengah Jerusalem. Saya mencat ruangan itu dengan warna putih. Joice menjahit sarung bantal, gardinen sprei-sprei yang indah dan dalam jangka waktu yang singkat, kamar itu kelihatan dua kali lebih besar dan hidup. Dengan gembira, saya memenuhi janji saya dengan Uri. Beliau berkata bahwa seorang mahasiswanya telah mempelajari Undang-Undang Israel pada hari raya Simchat Torah tersebut.

„Kami tidak menemukan kasus yang sama dengan kasus anda sepanjang sejarah Israel.“ Katanya lalu menceritakan sebuah kasus yang berjudul  „Kasus Vater Daniel“ Kasus ini menyangkut seorang Jahudi yang menjadi Pastor Dominikan. Dia kembali ke Israel lalu mengajukan permohonan sebagai warga negara. Pengadilan memutuskan untuk menolak permohonannya, karena ia jelas telah berubah agama, maka jelas ia bukan Jahudi lagi. sdang kasus saya, saya tidak berpindah agama sebaliknya, saya semakin mendalami kejahudian saya yang sudah saya warisi sebelumnya.

„Saya akan menangani permasalahan ini dan saya harap anda tahu bahwa saya tidak hanya menerima masalah ini dalam kepala tapi juga dalam hati saya.“ Kata Pak Uri (Saya yakin, keputusannya tidak asing lagi bagi Tuhan, sebab Ia tahu isi hati manusia)

„Kita akan membawanya ke Pengadilan Tinggi.“ Katanya. Beliau menjelaskan bahwa di Israel ada tiga Pengadilan Tinggi. Dua diantaranya adalah pengadilan Tinggi yang menangani kasus-kasus yang lebih rendah, yaitu satu kasus  berhubungan dengan masalah sipil sedang yang lain berhubungan dengan masalah kriminal. Sedang Pengadilan yang ke tiga yang akan kita masuki adalah Pengadilan Tertinggi yang disebut Pengadilan Tertinggi akan Kebenaran, dimana masalah perubahan Undang-Undang dibicarakan. „Anda harus langsung ke sana, tanpa melalui Pengadilan yang lebih rendah.“ Katanya.

Beliau menjelaskan selanjutnya, bahwa kami akan mengajukan permasalahan tersebut secara tertulis kepada Pengadilan dan pihak pengadilan akan memutuskan apakah mereka dapat berbuat sesuatu. Jika mereka melihat adanya kemungkinan, maka mereka akan memberikan waktu pada pihak Kementerian Dalam Negeri untuk memberi penjelasana-penjelasan seperlunya sehubungan dengan hak saya sebagai warga negara Israel.

„Maka tugas kami sekarang ialah menyiapkan usulan kami dalam bentuk tulisan. Segera setelah mereka menerima usulan kita, kita akan segera minta agar mereka meminta keterangan dari bagian Kementerian Dalam Negeri. Sekarang Visa anda telah berakhir, maka anda secara praktis adalah penduduk illegal, namun hal itu bukan kesalahan anda sendiri.Mereka dapat sewaktu-waktu mengusir anda, hal itu wajar, oleh sebab itu adalah lebih baik jika anda meninggalkan Apartemen anda di Nahariya dan menyembunyikan diri untuk sementara waktu. Jangan memberitahu siapa-siapa dimana anda tinggal bahkan tidak kepada saya sendiri. Tentu hal ini hanya berlangsung sampai usulan kita diterima di Pengadilan Tinggi, kemudian mereka akan melarang pihak Kementerian Dalam Negri mengusir anda sampai mereka membuat keputusan.“ Katanya.

Untuk kesekian kalinya saya mengagumi kebijaksanaan Allah dan untuk kesekian kalinya saya bersyukur atas ketaatan saya padaNya walaupun saya sendiri saat itu belum mengerti sama sekali akan perintahNya. Saya pindah ke Kamar di Jerusalem hanya karena saya tahu bahwa itu adalah kehendakNya, dua hari kemudian baru saya dijelaskan mengapa. Rupanya tempat itu adalah „Tempat Persembunyian“. saya menjadi geli karena Tuhan telah menemukan Tempat Persembunyian bagi saya di tengah-tengah Jerusalem, yang berjarak hanya beberapa Blok dari Kantor Kementerian Dalam Negeri. Betapa mengagumkan caraNya menunjukkan pemeliharaanNya agar saya tidak takut atas apapun.

Saya membuat jadwal dengan Bapak Huppert kapan beliau dapat memeriksa Usulan yang akan saya tulis sebagai bahan beliau untuk diajukan ke pengadilan.

„Masih ada asatu hal lagi,“ kata beliau. „Hal ini membutuhkan biaya sebanyak 35.000 Sikal ($3500.00) sebelum sampai kepengadilan.“ Saat itu saya hanya punya 10 Sikal. Dengan ketakutan saya mengarahkan pandangan saya pada Joice yang menerima saya saat itu.

„Jangan kwatir, dia akan membayarnya.“ Kata Joice pada Bapak Huppert, sementara saya saat itu sama sekali tidak punya banyangan apa-apa.

Selebihnya saya membawakan semua ini kehadapan Tuhan dalam doa. Saya tidak membuat ajuan ini berdasarkan pengertian akal budi saya. Saya sendiri hanya mengharapkan agar semua kejadian berlalu dan dilupakan begitu saja. Namun selangkah demi selangkah, nampaknya Tuhan memimpin masalah ini sampai ke pengadilan. Mengapa, saya tidak tahu, dan dalam setiap langkah saya selalu berdoa agar Dia sendiri yang menutup jalan jika hal itu benar-benar bukan kehendakNya.

Dengan situasi seperti ini saya tidak punya uang untuk membayar biaya pengadilan. Saya diberi kesempatan selama enam hari. Maka sayapun berdoa „Bapa di sorga, sekali lagi saya sangat membutuhkan pimpinanMu dalam situasi ini. Jika ajuan uni kepengadilan adalah salah satu jalan untuk mencapai tujuanMu, maka saya yakin, dalam jangka enam hari ini entah bagaimana akan tersedia. Tapi jika ini bukan kehendakMu, silahkan tutup pintu sekarang, amen.“

Saya merasa perlu untuk membagikan masalah ini dengan saudara-saudara seimanyang tinggal di Israel. Bagi saya senndiri belum jelas mengapa Tuhan menghendaki masalah ini sampai kepengadilan, namun saya merasa sangat membutuhkan doa mereka dalam situasi seperti ini. Maka sayapun membagikan masalah ini dari satu ujung kota samapai ujung yang lain di Jaffa, Tel Aviv, Jerusalem, Berscheba, Haifa, Nahariya, Tiberias dan bagian-bagian lainnya di galilea. Pada umumnya mereka mendorong saya untuk meneruskan proses tersebut dengan doa dan bantuan mereka.^

Akhirnya peneguhan dari Tuhan tiba. Dalam jangka enam hari uang itu terkumpul termasuk pajak delapan porsen. Kebanyakan berasal dari orang-orang percaya di Israel.

Ketika semua surat-surat telah siap saya ditilfon ke kantor Bapak Huppert untuk menandatanginya sebelum mereka meneruskannya ke Pengadilan Tinggi. Semuanya ditandatangani pada tanggal 14 Oktober 1977 pada hari ulang tahun saya yang ke 34.

Beberapa waktu kemudian seorang teman menjelaskan pada saya apa yang diucapkannya pada Tuhan pada saat itu. „Tuhan, Ester bukan orang pintar yang dapat memahami semua kasus seperti ini. Dia sama sekali tidak tahu apa arti semua ini. Dia sama sekali tidak mengerti tentang kenyataan“ Tapi Tuhan menjawab. „Justru itulah sebabnya saya tidak memilih kamu dan bukan kamu.“

Ada waktu yang benar-benar menegangkan.