18 Mawar Berduri

Beberapa hari setelah Pengaduan kami diterima pihak Pengadilan Tinggi, Bapak Uri dan saya diminta untuk menghadap tiga orang Hakim pada tgl.17 Nopember 1977 dan kami baru akan mendengar di sana apakah Pengaduan kami diterima atau tidak. Saya merasa,Tuhan menghendaki agar saya mengadakan doa puasa selama tiga hari sebelum pertemuan tersebut . Saya meminta beberapa teman untuk turut berdoa dan berpuasa dengan saya agar Tuhan sendirilah yang memimpin pertemuan tersebut. Saya juga berdoa agar, jika memang hal ini tidak dikehendakiNya, kiranya Pengaduan kami ditolak. Saya mengingatkan saudara-saudara seiman di seluruh Israel akan hari yang penting itu.

Suatu hari saya menerima sebuah Kartu Pos dari teman-teman dari Jerusalem. Melalui Kartu Pos tersebut mereka ingin menyatakan kasih dan doa-doa mereka untuk mendukung saya. Pada sampul Kartu Pos tersebut terlukis setangkai bunga Mawar yang aneh, duri-durinya nampak sangat tajam. Tentu, duri adalah bahagian dari bunga mawar, tetapi kuntumnya begitu indah sehingga duri-duri tersbut dengan mudah bisa saja terlupakan. Namun beberapa hari kemudian saya menerima sebuah Puisi:

Duri

Aku berdiri,  seorang hamba pemelas bagi Tuhan,
Di hadapan tahta kekuasaan-Nya,
Dan memohon pada-Nya sebuah hadiah yang tiada taranya,
Bagiku yang dapat disebut sebagai milikku.

Aku mengambil hadiah itu dari tangan-Nya
Tetapi ketika aku ingin berpisah,
Aku menjerit,"Tetapi Tuhan ini adalah duri,
Dan duri itu telah menusuk hatilu!

Ini adalah sebuah hadiah yang aneh dan berat
Yang Engkau berikan padaku."
Dia berkata: "Aku suka memberi hadiah,
Aku telah memberimu yang terbaik."

Aku membawanya ke rumah, semula aku berpikir
Duri yang tajam sungguh melukai,
Dari tahun ke tahun aku bekajar
Untuk semakin mencintainya.

Aku belajar, Dia tidak pernah memberi
sebuah duri tanpa membawa berkat 
Dia mengambil duri itu dan menancapkannya di tempat lain
Sehelai kain penutup wajah-Nya!

Seandainya Tuhan memberikan bunga Mawar tersebut beberapa bulan sebelumnya, saya tidak akan pernah memikirkan tentang makna duri-duri sang Mawar. Saya sungguh mengagumi pengajaranNya yang khusus melalui bunga Mawar ini, namun saya tetap yakin bahwa saya tidak akan terus dalam lembah kekelaman. Walaupun semula hampir semua kenalan saya sepakat agar saya meneruskan permasalahan ini ke Pengadilan Tinggi, namun nampaknya dalam beberapa minggu terakhir sang musuh mulai menaburkan benih-benih perpecahan. Hampir di setiap tempat yang saya datangi, saya diserang dengan kritik demi kritik. Orang-orang mengeritik segala aspek kehidupan saya termasuk jalan hidup saya bersama Tuhan dan kritik tersebut dimulai dari masalah pengadilan tersebut. Hal ini mengingatkan saya, akan peristiwa perampasan atas Sekolah yang pernah saya dirikan di Amerika, bedanya ialah orang-orang ini adalah pengikut Yesus. Apa yang telah membuat mereka menjadi pengeritik tajam dan menghakimi?

Saya semakin memahami, betapa saya sungguh memerlukan „Tempat Persembunyian“ saya tersebut. Kamar saya yang kecil di King George Street, benar-benar menjadi tempat perlindungan atas badai kritik yang terus-menerus menyerang saya. Pemojokan yang terus-menerus, membuat saya sungguh merasa disingkirkan dan kesepian. Mengapa gerangan mereka begitu tajam mengeritik saya ?

Sayapun mulai menuliskan dalam catatan harian saya tgl.6 Nopember :

„Berhari-hari lamanya saya menanggung kritikan banyak orang:
‘Dia tidak perlu berkata, „Tuhan berkata pada saya“, sebab hal itu menimbulkan iri hati.’
‘Jika ia benar-benar orang percaya, maka ia tidak akan meninggalkan kedua putranya’
‘Bagaimana mungkin ia hidup tanpa kerja?’
‘Ia membutuhkan pendamping’
‘Seharusnya ia menggabungkan diri dengan orang-orang percaya’
‘Dia menginginkan popularitas, tapi setelah semua ini berakhir, ia akan pergi begitu saja.’
‘Masalahnya mengancam status dan keluarga kita di Israel.’
‘Israel sebagai suatu bangsa tidak ada hubungannya dengan masalahnya, bagaimana mungkin ia melakukan hal itu pada situasi Israel sekarang ini?’
Mendengar semua ini saya benar-benar merasa dihempaskan. Pagi ini, setelah penderitaaan yang cukup banyak, kembali Engkau menjamah saya untuk dapat menyelami penderitaanMu yang dalam itu. Ya, Yesus bagaimana gerangan Engkau dapat menanggung semua itu? Betapa sering Engkau dikritik, dihina dan dihakimi, namun Engkau menghadapinya dengan penuh kasih. Trimakasih, atas kesempatan yang Kau berikan padaku untuk lebih dekat pada kasihMu yang begitu dalam itu buat kami. Penuhilah saya dengan pengampunan yang sama seperti yang Engkau miliki. Tolonglah saya agar saya tidak berusaha untuk selalu dibenarkan orang lain, selama hal itu benar dihadiratMu. Kini saya memahami mengapa Engkau sendiri meninggalkan orang banyak untuk bersekutu dengan Tuhan. Penuhilah saya dengan kasihMu di tempat yang tenang ini untuk mengasihi orang lain. Trimakasih untuk teman-teman yang masih setia, tolong saya dalam keputus asaan ini dan mampukanlah saya untuk membalas setiap kritik dengan kasih.!“

Saya coba untuk menjadi kuat, namun saya tidak berdaya. Beberapa hari kemudian, persis seminggu sebelum jadwal pertemuan di Kantor Pengadilan Tinggi itu, saya menerima surat dari Kantor Presiden:

Ibu yang terhormat:

Bersama ini kami ingin memberitahukan pada Ibu bahwa, pihak Kementerian Dalam Negri telah memutuskan untuk mengeluarkan perpanjangan Ijni Tinggal dengan Visa A/I Ibu selama 2 tahun sebagai penduduk sementara di Israel.

Dengan Hormat
Kantor Presiden
Jerusalem

Hari berikutnya saya menerima surat dari kantor Kementerian Dalam Negri yang berisi Paspor saya yang telah lama saya nanti-nantikan lengkap dengan Visa baru dan KTP Israel. Dengan sukacita saya berpikir, bahwa tidak lama lagi saya akan bebas dari beban untuk menghadap Pengadilan. Hal ini semakin membuat saya sungguh membutuhkan waktu teduh dan tenang di Israel.

Hari berikutnya saya membawa Visa dan KTP tersebut ke kantor Pak Huppert. Saya meminta teman-teman terus mendoakan saya agar saya tetap setia menaati kehendakNya, apapun yang akan terjadi. Pak Uri sangat senang melihat Visa tersebut dan memberi peluang satu hari untuk mempertimbangkan tindakan apa yang harus kami ambil kemudian.

Ketika saya menemui beliau kembali, saya yakin bahwa keputusan beliau adalah sesuai dengan kehendak Tuhan. Pak Uri menjelaskan, „Pihak Kementerian Dalam Negri sengaja mengeluarkan Visa dan KTP tersebut agar dengan demikian, Ibu akan membatalkan pengaduan Ibu. Tetapi sebaliknya hal itu akan mendukung kita di hadapan Pengadilan Tinggi. Pengadilan Tinggi  itu sangat fair, oleh sebab itu mereka juga sangat mengaharapkan clean yang jujur. Sampai saat ini Ibu tinggal di Israel tanpa Ijin walaupun hal itu bukan kesalahan Ibu, namun di depan pengadilan Ibu tetap dilihat bersalah. Dengan alasan itu mereka bisa menolak pengaduan kita. Para Hakim akan berkata, ’Anda tidak punya Ijin Tinggal di Negara ini, bagaimana mungkin anda bisa minta agar kami menangani masalah anda di sini?’ Tapi sekarang dengan adanya surat-surat ini, posisi kita menjadi kuat.“

Kemudian Pak Uri minta agar saya menunjukkan KTP saya. „Coba lihat ini baik-baik,“ katanya, sambil menunjuk bagian sudut halaman pertama, dimana batas berlakunya tercantum. Ternyata tanggal yang tercantum di sana sama dengan tanggal yang terdapat dalam Visa saya, padahal biasanya dalam Kartu Pengenal tidak ada  batas berlakunya.

„Menurut saya, kita harus terus maju, sebab kalau tidak, setelah dua tahun Ibu harus keluar kembali. Sekarang Ibu telah mendapatkan Ijin tinggal hal ini sangat menguatkan posisi kita, walaupun Ibu masih dianggap bukan penduduk Israel.“ „Selain itu, coba lihat ini,“ katanya menunjuk bagian KTP tersebut.

Di sana saya memebaca, „Jahudi“
Hal ini juga akan menolong kita di depan pengadilan.“
Saya jadi heran. Pihak Kementerian Dalam Negri tahu bahwa saya percaya bahwa Yesus adalah Mesias ... tapi mereka menulis identitas saya sebagai seorang Jahudi. Tuhan sungguh telah membuka jalan buat kami untuk memasuki pengadilan Tinggi pada tgl.17 Nopember 1977, sedang masa berpuasa yang sudah saya rencanakan harus saya mulai pada tgl.13 Nopember.

Berpuasa adalah sesuatu hadiah khusus dari Tuhan buat kita. Waktu khusus bagi kita untuk mendengar, mempelajari dan memahami kekuasaan Tuhan pada masa ini. Saat-saat berpuasa ini adalah saat untuk meyakinkan kehendak Tuhan akan masalah tersebut, untuk menyerahkan masalah tersebut kedalam tanganNya dan meminta anugrahNya demi ketaatan saya mengikuti pimpinanNya. Namun sering sekali justru ketika kita menjauh daripadaNya, Dia menyingkapkan AgendaNya yang tidak diduga. Hal yang sama terjadi pada saya pada hari kedua masa puasa saya. Pagi itu saya berrtelut dalam doa dan menanti di hadapan Tuhan. Saya sungguh merasakan kehadiran dan kasihNya, lalu Ia mengucapkan kata-kata berikut ini ke dalam hati saya.

„Tidak lama lagi namamu akan dikenal di Dunia karena masalah di pengadilan ini. Aku akan menggunakan hal ini untuk tujuan yang kedua. Aku akan mengutus engkau awal Februari 1998 dengan secarik kertas berisi ketikan untuk mengunjungi ummatKu yang sesungguhnya, yaitu orang percaya. Aku mengehendaki agar engkau meminta mereka untuk mencantumkan nama, nama kota, dan negara mereka di bawah tulisan: ‘Kami menciantaimu, Israel’. Setelah engkau mendapatkan sejumlah tanda tangan itu, buatlah itu dalam bentuk gulungan sebagai tanda kasih orang percaya bagi Israel pada hari Raya Nasional Israel yang ke-XXX. Tapi ketahuilah bahwa orang-orang tidak akan mempercayai atau tidak mau memnerima pesan ini, sebab Aku sedang menggunakan Israel untuk menjadi alat pemisah antara gereja yang benar dan palsu. Setiap orang yang membukakan hatinya bagiKu, mengakui Tuhan dan Mesias orang Israel; maka tidak mungkin kalau mereka menutup mata atas bebanKu yang berat dan kasihKu atas Israel dan orang Jahudi.“

Saya tidak tahu bagian mana dari pesan ini yang paling mengherankan saya. Kepala saya dipenuhi sejuta tanda tanya bagaimana mungkin nama saya akan dikenal di Dunia? Siapakah yang akan menandatangi gulungan ini. Saya hanya punya tiga orang teman di Inggris, dua orang di Norwegia, dan beberapa orang di Amerika. Dan bagaimana cara Israel menerima hadiah ini. Apa maksud Tuhan dengan sebutan menggunakan Israel sebagai pedang pemisah?

Dengan terharu saya menyerahkan situasi ini di tangan sang Bapa, sebab saya tahu bahwa Dia sendirilah yang akan melakukannya. Saya juga mengerti bahwa Tuhan secara langsung sedang menyentuh kesombongan saya. Pertanyaan yang paling dalam ialah, apakah saya cukup mengasihi Tuhan untuk bersedia disebut orang bodoh demi namaNya? Apakah dilubuk hati saya yang terdalam ada kerinduan untuk menyerahkan diri kepada Tuhan dengan segenap hati, sehingga saya hanya perlu memandang dan berharap kepadaNya untuk memampukan saya berjalan dalam ketaatan, mengasihiNya dan memampukan saya untuk menyangkal diri dan tidak memusingkan diri dengan pertanyaan, „Tapi apa kata orang?“

Keesokan sore harinya, setelah saya bersama-sama teman-teman mengakhiri puasa itu, Tuhan memerintahkan saya untuk berhenti di sebuah Salon yang bagus untuk mencuci dan merawat rambut saya sebagai persiapan untuk persidangan itu. Oleh karena rambut saya berombak secara alamiah, maka saya hampir tidak pernah ke Salon hanya untuk perawatan rambut. Namun saya menuruti perintahNya.

Tengah malam saya memutuskan untuk membaca sebuah buku yang ditulis oleh Elisabeth Pritchard. Buku ini diberikan teman-teman buat saya sehari sebelumnya. Judulnya ialah, For such a Time diambil dari kitab Ester:

„Sebab sekalipun engkau pada saat ini berdiam diri saja, bagi orang Yahudi akan timbul juga pertolongan dan kelepasan dari pihak lain, dan engkau dengan kaum keluargamu akan binasa. Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu."
Es. 4 : 14.

Sambil menantikan penjelasan dari Tuhan saya membaca buku itu dengan harapan bahwa Tuhan akan berbicara melaluinya.

Ibu Guiness dijuliki sebagai seorang yang praktis, cekatan, penuh pengertian, seseorang yang tidak pernah omong kosong.  Sebelum keberangkatannya kembali sebagai missionari ke Cina, John Adams diminta untuk memberi pesan pada mahasiswa. Dengan senyum dia berkata, dia tidak bisa memberi pesan yang lebih baik daripada pesan yang dia terima dari Ibu Guiness sebelum keberangkatannya yang pertama. Sebagian dari pesannya adalah: "Di bagian missi manapun anda akan melayani, anda harus selalu perhatikan apakah sisiran anda sudah rapi.".

Ketika saya selesai membacanya, saya merasa dijebak, dan saya yakin di wajah saya tergambar sebuah pandangan kosong yang belum pernah saya rasakan. Akhirnya Yesus menolong saya untuk dapat membedakan humorNya dari masalah yang sesungguhnya. – Dia hanya ingin menunjukkan pada saya, betapa Ia sendiri yang memegang kontrol atas segala aspek kehidupan saya – termasuk pengadilan yang akan muncul pada hari berikutnya.

Pagi-pagi keesokan pada harinya, saya bangun dengan senyum, sambil mengikat rambut saya. Setelah sarapan pagi saya segera berangkat menuju kantor Pembela saya. Dan saya masih sempat menunggu beliau yang datang 5 menit sesudah saya. Dengan tergesa-gesa beliau mengenakan jubah hitamnya. Hal yang menjadi kebiaasan di Israel. Di Amerika jika seseorang akan menghadap Pengadilan Tinggi, dapat saya bayangkan bahwa mereka akan naik mobil sampai ke depan gedung pengadilan. Tetapi  di Israel sama sekali bebas dari segala jenis formalitas. Kami benar-benar berlari menuju Gedung dan saya tercecer di belakang, berusaha mengejar sang Pembela dan mahasiswanya.

Kami tiba di Ruang Sidang itu dengan nafas terengas-engas namun tidak terlambat dan dengan duduk tenang menantikan kedatangan ketiga Hakim itu. Saya dipenuhi dengan jaminan Tuhan bahwa semua proses akan berlangsung sesuai dengan kehendakNya, dan segala ketakutan saya lenyap sama sekali.

Tirai pada bagian ruangan belakang terbuka dan kami berdiri untuk menyambut kehadiran para hakim. Sidang tesebut dibagi dalam dua bagian. Menurut daftar acara nama pembela saya tercantum dalam bagian pertama. Pembela saya bangkit dan sebuah dialog terjadi antara sang Pembela dan para Hakim. Oleh karena dialog itu berlangsung dalam bahasa Ibrani, maka satu-satunya yang dapat saya mengerti hanyalah nama sang pembela dan nama saya sendiri. Beberapa menit kemudian sang mahasiswa itu memberi isyarat dengan jari Jempolnya di punggungnya untuk menyatakan bahwa semuanya berjalan dengan baik. Beberapa menit kemudian kami sudah meninggalkan ruangan itu.

Segera setelah kami meninggalkan gedung itu, Pembela saya menjelaskan kejadian itu. „Mereka hanya menanyakan satu hal pada saya,“ katanya, „yaitu, apakah Ibu sudah meneguhkan Visa kependudukan Ibu, saya jawab „ya dan sekaligus menjelaskan bahwa Ibu sekarang sudah ada Ijin Tinggal, maka mereka segera menerima kasus ajuan kita. Mereka telah meminta pihak Kementerian Dalam Negri untuk memberi laporan mengenai alasan penolakan mereka atas permohonan Ibu dalam jangka waktu dua bulan.“ Beliau sangat bersemangat dan saya berterimakasih kepadanya sebelum kami berpisah.

Hari berikutnya dalam Surat Kabar Israel Artikel ini muncul.

MA’AREEV 18 Nopember 1977
SEORANG PUTRI JAHUDI YANG PERCAYA PADA YESUS
MENERIMA ASUTAN
UNTUK MENENTANG MENTERI DALAM NEGERI

„Wartawan, Amos Lavov berkata bahwa Eileen Dorflinger, seorang wanita Jahudi yang percaya pada Yesus, kemarin mendapat dukungan untuk menantang Menteri Dalam Negeri. Mereka memberi kelonggaran dalam jangka 60 hari untuk datang kembali meminta alasan penolakan kewargaannya sebagai orang Israel berdasarkan Undang-Undang. Moishe Cohen, Shlomo Asher, dan Miriam Ben Porot, hakim-hakim memberi dukungan bahwa Ibu tersebut bahkan tidak memerlukan pengacara Eri Huppert untuk mengajukan permohonan untuk itu. Pengacara Huppert membatalkan persidangan yang direncanakan mengingat untuk semenatara Ibu Eileen Dorflinger telah dapat Kartu Penduduk yang berlaku sampai tgl.22 September 1979 dan dalam Kartu Penduduknya dia dinyatakan Warga Jahudi.

Dan tidak lama kemudian artikel demi artikel muncul dalam Majalah-majalah kristen, termasuk dalam Surat Kabar sejarah yang disebarkan ke seluruh dunia melalui Persatuan Para Wartawan. Dalam Surat Kabar tersebut terpampang „DAPATKAH SEORANG JAHUDI YANG PERCAYA PADA YESUS TETAP JAHUDI?“ Jika bukan karena jaminan Tuhan, bahwa Dia ingin menggunakan semua ini demi tujuanNya yang jauh lebih besar, maka semua berita itu telah mengecutkan saya. Walaupun Surat-surat Kabar sebenarnya menginterpretasikan masalah itu sebagai suatu masalah tentang hak-hak ajasi saya, namun saya sendiri belum benar-benar yakin apakah ada tujuan Tuhan di dalamnya.

Beberapa hari setelah sidang tersebut, saya diundang untuk bergabung dengan teman-teman dari Amerika yang datang dengan satu rombongan tour ke Israel. Setelah menemui mereka di Hotel, saya diminta untuk menemani mereka mengunjungi Galilea beberapa hari berikutnya. Oleh karena saya sangat mengagumi keindahan Galilea, maka dengan senang hati saya menyetujui permintaan mereka tersebut.

Kami singgah di sebuah Kibut (Guest House) di pesisir Danau Galilea untuk sejenak melepaskan kelelahan setelah sepanjang hari berkeliling kota. Entah bagaimana, menjelang akhir hari yang kedua, saya mulai merasakan adanya sesuatu yang kurang beres diantara kami. Seorang percaya yang tiba dari Haifa, datang dengan segala gossip dan kritikan-kritikan yang menyerang saya. Ia mengingatkan pemimpin rombongan untuk tidak melibatkan saya dalam acara mereka sebab saya sendiri punya masalah dengan pihak pemerintahan. Hal ini dapat mengancam kehadiran mereka di Israel. Dan yang lebih parah lagi, baik pimpinan rombongan maupun setiap peserta, semuanya memihak kepadanya, tanpa seorangpun menanyakan hal yang sebenarnya kepada saya. Saya hanya dapat merasakan situasi dan tak seorangpun dari mereka lagi mau berbicara dengan saya. Akhirnya saya mengambil keputusan untuk meninggalkan rombongan tersebut bersama seorang teman lainnya. Peristiwa ini mendekatkan saya dengan orang percaya berlatarbelakang Jahudi pada zaman mula-mula kekristenan. Mereka sering diperlakukan demikian.

Saya berangkat menuju sebuah desa di sebelah utara Galilea dan tinggal di sana untuk beberapa hari bersama beberapa orang teman. Beberapa waktu setelah kami tiba di sana, seorang teman memanggil saya. „Barusan saya mengunjungi toko Kristen di Bukit Karmel, ketika saya melihat ini, saya merasa tergerak membeli ini untukmu. Ini adalah hadiah dari Yesus,“ katanya sambil menyuguhkan sebuah kristik salib dihiasi setangkai bunga Mawar persis pada pusat lukisan itu.

Setelah sejenak merenungkan kembali permasalahan yang sedang saya alami, saya teringat pada kedua nubuatan tentang hidup saya, yang saya terima beberapa bulan sebelumnya. Tuhan menolong saya untuk mengerti bahwa jika kita ingin menjadi seorang murid yang sejati, maka kita harus berada pada pusat salib Kristus. Tidak ada jalan iman yang tidak melalui salib. Adalah mustahil untuk menjadi murid yang sejati tanpa menerima salib sebagai bagian hidup, sebab hanya jika kita rela menyalibkan keakuan kita secara terus menerus, maka kita akan dapat mengasihi sesama kita dengan segenap hati. Kita hanya bisa merasakan kebangkitanNya, jika kitapun mati bersama-sama dengan Dia.

Secara akal budi saya mengerti semua ini, namun saya sama sekali belum memahami sudah sejauh mana saya mengidentifikasikan diri dengan kematian dan kebangkitan Yesus. Rupanya keakuan saya masih tetap hidup.

Ketika saya sedang berbelanja di sebuah pertokoan dekat Apatemen saya di Jerusalem, Tuhan mendorong saya untuk membeli sebuah lukisan serumpun bunga mawar yang sangat indah. Firasat saya mengatakan, lukisan bunga mawar ini ada hubungannya dengan hal-hal yang masih bersifat rahasia buat saya dan akan segera disingkapkanNya.

Sikap penolakan dari pihak orang-orang percaya di Israel pada saya, membuat kerinduan saya pada Mike dan Joey semakin bertambah. Suatu malam menjelang Natal, saya mengikuti satu pesta Natal setempat. Seorang dari mereka datang menghampiri saya.

„Apakah kamu masih mengingat saya? Saya dan suami saya pernah mengunjungi ibu bersama anak-anak ibu musim gugur yang lalu di pusat imigrasi di Asdod.“ katanya. Saya masih ingat benar akan kunjungan luarbiasa itu, dimana seseorang datang dan menyelamatkan kami dari kesulitan. „Saya teringat bahwa ibu saat itu menceritakan pada kami tentang rencana ibu untuk menyerahkan anak-anak ibu kepada ayah mereka agar dengan demikian ibu bebas mengikut Tuhan. Bagaimana ibu bisa melepaskan mereka begitu saja, sementara mereka masih kecil.“ lanjutnya.

Pertanyaan-pertanyaannya datang begitu tiba-tiba, sehingga saya sama sekali tidak berdaya untuk menyembunyikan rasa pilu yang sudah lama menekan dan mendesak di dada sejak berbulan-bulan itu. Maka saya cepat-cepat berlari ke sebuah ruangan dan menangis sepuas-puasnya.

Teman-teman membawa saya kembali ke rumah dan melihat kesedihan saya, mereka menawarkan untuk menginap menemani saya malam itu, tapi saya menolaknya, sebab saya tahu bahwa saya harus belajar mengatasi keadaan ini di hadapanNya. Kemudian untuk sementara saya berhasil membendung airmata saya, sampai saya memasuki kamar saya dan mengunci pintu di belakang saya. Baru saja pintu itu terkunci, air mata saya mengalir kembali dengan deras seolah-olah tidak akan pernah berhenti. Sepanjang malam saya menjerit dan menangis. Tangisan seorang ibu yang merasa kesepian dan kemarahan kepada Tuhan yang telah mengambil kedua anak saya. Saya menerima kehendakNya, sebab saya tahu adalah lebih baik taat daripada menyimpang dari rencanaNya, namun ternyata saya tidak mengampuniNya, sebaliknya saya masih menyimpan kepahitan yang dalam tersimpan di dalam lubuk hati saya. Rasa keraguan akan kasih saya sebagai ibu kepada anak-anak saya mulai muncul (pertanyaan yang ditanamkan oleh si Iblis). Saya sama sekali melupakan semua kenangan indah yang kami alami bersama, sebaliknya yang muncul hanyalah kenangan ketika saya terlalu capek menghadapi mereka dan ketidak sabaran saya terhadap mereka. Maka celaan orang-orang percaya itu telah mendapat tempat yang paling baik untuk memojokkan saya, yang sebenarnya adalah menentang saya maupun menentang Tuhan.

„Oh, Tuhan bagaimana mungkin Engkau tega melakukan hal itu? Tidakkah engkau tahu betapa aku mengasihi mereka? Mengapa Engkau melakukan ini pada kami?“

Akhirnya setelah berjam-jam menangis dan membiarkan segala kepahitan memenuhi hati saya, dengan lemah-lembut Dia berkata: „Engkau harus mengampuni Aku oleh karena Aku telah mengambil mereka darimu Ester. Engkau telah menyerahkan mereka dalam tangan saya secara logika, namun perasaanmu masih belum engkau serahkan padaKu. Dan engkau harus bergumul dengan kepahitanmu itu, sebab hanya dengan demikian Aku dapat menggantikannya dengan rasa damai dan ketenangan bagimu bahwa Joey dan Mike berada dalam pemeliharaan saya.“

Kini saya mengerti bahwa setahun sebelumnya, saya hanya mempersembahkan mereka di Altar Tuhan dengan satu tangan, sedang tangan yang lain berusaha mengambil mereka kembali. Maka tidak heran kalau saya kembali menghawatirkan keadaan mereka. Air mata saya kembali bergenang dan sayapun mulai bertelut.

„Bapa di sorga, saya sungguh mengampuni Engkau, karena Engkau telah mengambil kedua anak saya. (Tentu saya tidak berarti mengampuni Tuhan sebagaimana Ia telah mengampuni dosa kita, melainkan pengampunan yang terjadi antara dua orang bersahabat jika salah seorang melukai yang lain.) Tolonglah saya untuk menempatkan mereka di dalam tanganMu, bukan hanya secara simbol melainkan dengan segenap hati. Saya tidak kuat memikul beban ini lebih lama lagi. Aku membutuhkan pertolonganMu gar saya sungguh-sungguh dapat melepaskan mereka. Tolong saya Bapa, tolong saya!“ Akhirnya menjelang pagi saya mulai merasakan damai sejahtraNya dan kekuatan serta kelegaan meliputi hati saya.

Hari itu juga, persis tiga hari sebelum Natal, saya menerima sebuah bingkisan dari Mike dan Joey. Di dalamnya adalah hadiah-hadiah buatan tangan mereka dan sebuah kaset berisi salam dan cerita tentang keadaan mereka. Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan untuk pengalaman yang baru saya lalui bersamaNya, sebab dengan demikian pagi ini saya tidak menerima hadiah-hadiah dan kabar dari mereka dengan rasa bersalah atau sedih melainkan dengan kasih Tuhan yang memenuhi hati saya.

Dalam kaset itu mereka bercerita selama 35 menit buat saya. Betapa indahnya saya dapat kembali mendengar suara mereka. Ketika mereka mengakhirinya, saya pun ingin menyetopnya, tetapi Tuhan mencegah saya. Maka sayapun membiarkan kaset itu terus berputar. Saya mulai merasa seperti orang bodoh, sebab saya tidak mendengar apa-apa. Tetapi ketika saya mendengarnya baik-baik, saya mulai mendengar detak-detik jam, akhirnya saya mengerti bahwa rupanya setelah mereka selesai berbicara, mereka tidak segera mematikan rekaman.

Setelah mendengar bunyi jam tersebut kira-kira 10 menit, saya mendengar suara Joe ketika ia baru pulang dari kantor. Ia berbicara dengan Jude untuk beberapa menit dan saya mendengar suaranya dengan penuh kasih menyapa Mike dan Joey. „Saya akan segera turun dan menonton TV dengan kalian. Kalian mau minum apa? Bagaimana kabar kalian hari ni?“ katanya dan kaset itupun terputus.

Tuhan telah membiarkan saya melayang-layang dengan kebahagiaan saat itu mendengar suara anak-anak saya bersama ayah dan ibu tiri mereka dalam suasana keluarga, lebih-lebih lagi karena dalam hati saya yang terdalam aku tahu bahwa kasih dan pemeliharaan Bapa di sorga meliputi mereka. Betapa baiknya Tuhan. Saya mulai menangis, tapi kali ini bukan lagi tangisan yang menekan dada saya seperti malam sebelumnya, melainkan tangisan suka-cita dan rasa syukur atas pemeliharaan Sang Bapa.

Pada saat itu, Tuhan menyingkapkan makna lukisan bunga mawar yang kini terpajang di dinding kamar saya. Kini saya mengerti, bahwa hanya dengan siraman air matalah iman kita dapat betumbuh dan dengan airmata kepedihan cinta-kasih kita dapat bertumbuh dan berkembang.

Keesokan harinya seorang teman datang berkunjung dan sebelum dia meninggalkan saya, dia menyelipkan selembar kertas dalam buku saya. Kertas itu ditulisinya dengan puisi:

Ketahuilah Mawarku, Aku juga mengawasi mereka

Tertancap dalam debu
berakar di dibumi
sebuah upeti bagi Rajanya

"Percayalah, anakKu,
FirmanKu adalah kebenaran:

Kudandani Mawarku
dengan duri-duriKu

Sebab tangan-tangan jahil
akan mencucurkan airmata olehmu.

Duri-duri bunga mawar berfungsi sebagai pelindung. Mawar dapat mengajarkan banyak hal buat kita. Yesus yang terkasih bermahkota duri, Engkau menerima semuanya dari tangan Bapa, mahkota duri, salib dan olehnya Engkau memampukan kami menghampiri tahtaNya. Tolonglah kami untuk bersedia menerima setiap salib yang Engkau bebankan buata kami, setiap mahkota duri yang meneteskan airmata, sebab hanya dengan demikian kami dapat mengasihiMu..