2 Permulaan yang Baru

Tidak lama setelah Joey pindah sekolah mulailah libur musim dingin. Maka Joey, Michael dan saya, kami bertiga mengadakan perjalanan dengan KA menuju New York. Sebagai mana saya sendiri kedua anak saya juga menyukai tempat-tempat baru! Ketika kami turun dari KA di stasion pusat , Tuhan memimpin saya ke sebuah toko kecil yang kotor, dan dibawah setumpukan sampah, Ia memperlihatkan sebuah plakat yang indah. Di dalamnya tertulis:

Kasih adalah memberi tanpa mengharapkan imbalan. Kasih itu lemah lembut, menyelubungi bagaikan pelindung yang kokoh. Kasih itu mengampuni tanpa mengingat-ingat kesalahan. Kasih itu mengerti kelemahan manusia, dengan keberadaannya sebagai manusia. Kasih itu tenang di tengah-tengah kekacauan. Kasih itu adalah iman kepada Tuhan tanpa memperhitungkan dirinya sendiri. Kasih itu adalah satu kesatuan yang indah, pancaran cahaya mata seorang ibu, keagungan suatu pengorbanan, ketenangan yang memberi jaminan. Kasih itu adalah pengharapan atas pemenuhan janji Bapa kita. Penolakan atas atas pandangan yang salah terhadap sesama. Dia adalah kemuliaan yang lahir dari penyangkalan diri dan kekuatan yang membuktikan kasih Bapa terhadap anak-anakNya. Dia adalah suara yang dapat berbunyi „tidak“ pada saudara kita walaupun bunyi „Ya“ nampaknya jauh lebih indah. Dia adalah kekebalan atas bujukan dunia dan keserakahan. KASIH...adalah satu-satunya yang tidak dapat diambil oleh siapanpun dari kita... sesuatu yang dapat kita berikan secara terus-menerus dan yang memperkaya kita dalam pemberian. KASIH tidak akan melukai, sebab kasih itu melampaui akal. Dia tidak menyakiti maupun tidak disakiti, sebab kasih adlah pancaran kemurnia Allah. Kasih adalah kekal, kekuatan yang baik yang tak mungkin dirusakkan. Kasih adalah kehendak Allah, persiapan, perencanaan, dan kerinduanNya yang terbaik secara terus menerus untuk alam semesta ciptaanNya...

 Luar biasa indahnya! Hati saya disentuh amat dalam dan merasakan adanya kehausan untuk mengalami kasih Tuhan yang begitu besar.

Beberapa hari kemudian, tidak berapa lama sebelum kami kembali dari Bristol, Tuhan menuntun saya ke sebuah toko buku dan mendorong saya untuk membaca sebuah buku. Saya menjadi tertegun! Buku itu adalah sebuah buku kristen; sejarah hidup Paus Johannes XXIII.!

Sebenarnya saya tau banyak tentang iman orang katolik. Pada thn.1960 orang tua saya mengirim saya ke sekolah dan asrama katolik yang di khususkan hanya untuk wanita di Wisconsin . Saya adalah termasuk teenager yang susah diatur sehingga saya pikir mereka tidak tahu mau buat apa dengan saya.! Pengalaman yang pantas untuk dikenang, demikianlah kata halusnya. Para siswi di sekolah tersebut belum pernah melihat orang Jahudi sebelumnya, dan pada malam pertama saya tiba di sana, mereka berdiri mengitari tempat tidur saya bagaikan pengawas keamanan untuk mengamat-amati saya sementara saya mengeluarkan isi Koper saya. Mereka begitu yakin bahwa Koper saya hanya dipenuhi dengan pakaian dan sandal. Sebelum saya tiba, seorang dari para siswi tersebut berteriak: „Ngapain orang Jahudi busuk itu datang kemari“!(Dia kemudian menjadi salah satu dari teman baik saya). Malam itu, ketika lampu di kamar tidur dipadamkan, saya segera menyelinap di bawah selimut. Di sana seseorang telah menyelipkan sebuah salib yang dalam kegelapan memantulkan cahaya. Saya merasa sangat asing dan kesepian. Dengan membenamkan kepala dibawah bantal saya menangis sampai saya tertidur.

Suami saya adalah katolik dan enam tahun di seminari, untuk menjadi seorang pastor.(Saya mengenalnya satu tahun setelah ia meninggalkan seminari tersebut dan kami berdua mendapat diploma guru. dalam bidang pendidikan sosial.) Banyak teman-temannya ex pastor atau keluaran seminare katolik, dan kami sering berdiskusi panjang lebar tentang agama.

Saya mengalami banyak kesulitan karena saya menikah dengan pria katolik. Dalam sejarah keluarga saya, sayalah orang pertama yang menikah dengan non jahudi. Hal yang sangat melukai hati orangtua saya dan dalam famili hal ini dianggap sebagai satu skandal. Semula orangtua saya menolak saya.Pertama kali kami datang baru setelah tiga tahun, yaitu setelah kelahiran anak pertama saya, kami mulai bersatu kembali.

Walaupun saya banyak belajar tentang katolik dan tidak memperkenalkan diri sebagai orang Jahudi, namun saya tidak begitu suka membaca buku-buku kristen. Pada hari itu saya meninggalkan toko buku tanpa membeli buku yang telahTuhan tunjukkan tersebut pada saya. Saya tahu bahwa saya seharusnya membaca buku tersebut, sebab IA sudah ratusan kali menuntun saya dan „Turki“ adalah alasan yang kuat untuk taat. Tetapi sejarah hidup Paus Johannes XXIII ? Sama sekali tak masuk akal saya!

Selama tiga hari berikutnya saya terus gelisah, sebab Tuhan terus menerus mengingatkan saya, bahwa saya tidak taat. Akhirnya saya tidak kuat lagi.

„Baiklah“, pikir saya dengan geram, ketika saya kembali ke toko itu dan mengambil buku tersebut dengan jengkel dari raknya. Saya membukanya begitu saja, ketika saya mulai melihat isinya, mata saya terbelalak. Di sana tertulis „Turki“ paling sedikit tiga kali dalam halaman yang terbuka di depan saya itu.(Dia pernah di Turki sebelum ia menjadi Paus).

Sudah jelas saya membaca buku tersebut. Sebuah kisah yang luarbiasa, bagaimana beliau ini membawa kasih Tuhan yang hidup dalam Vatikan. Nampaknya beliau sangat terbuka pada Tuhan! Tetapi salah satu yang Tuhan garisbawahi buat saya ketika saya membaca buku itu adalah, fakta bahwa kepda beliau telah dinubuatkan, bahwa beliau akan menjadi Paus ketika beliau masih seorang petani biasa. Ketika hal tersebut diberitahukan kepada beliau, tak satupun tanda-tanda di dunia yang mendukung kemungkinan itu. Tetapi kini hal itu terjadi! Maka naluri saya tau bahwa jika satu nubuatan berasal dari Tuhan, nubuatan itu pasti digenapi.

Beberapa hari kemudian Tuhan memimpin saya ke sebuah buku. Ia menghendaki bahwa saya cukup membaca satu kalimat: „Israel pernah, menjadi satu bagian ottomanischen kekayaan, ketika  Israel dibawah pemeintahan Turki“.

Sejak itu saya tidak pernah lagi mendapatkan informasi tentang Turki“ Seminggu kemudian Tuhan mengutus saya ke sebuah toko buku dan menunjukkan sebuah buku yang di tulis oleh Paul Gallico pada saya. Saya ingin membelinya, tetapi Tuhan berkata amat jelas, bahwa saya tidak boleh melakukan hal itu, melainkan saya harus mencari sebuah buku dari pengarang yang sama di rak buku anak-anak di rumah. Buku yang saya punya di rumah tersebutlah yang harus saya baca! Saya meninggalkan toko tersebut, tetapi dalam perjalanan pulang ke rumah saya terus berpikir.

„Sepantutnya saya tau pasti, jika saya benar-benar punya buku dari pengarang ini di rumah, hal itu tidak mungkin! Selama hidup saya belum pernah melihat buku seperti itu!...“

Sambil menggerutu saya berjalan menuju rak buku di kamar Mike dan Joey. Di sana pada rak kedua sebelah kiri saya menemukan buku Paul Gallico berjudul „Ludmilla“. Bulu roma saya merinding! Setelah berbulan-bulan mengalami tuntunan Tuhan yang silih beganti bagaimanakah mungkin saya menolak untuk mempercayaiNya?

Cerita dalam buku itu terjadi di sebuah kampung di Swiss yang mengisahkan tentang jamahan seoarang dewi atas seorang gadis kecil yang mendoakan agar Lembunya dapat memenangkan gelar sebagai penghasil susu terbaik untuk tahun itu di kampungnya, walaupun hal yang ia doakan nampaknya tidak mungkin. Tetapi setelah melalui jalan yang beliku-liku akhirnya lembunyapun berhasil memenangkan seleksi pemilihan Lembu penghasil susu terbaik dan dia tahu bahwa doanya telah terjawab! Pada saat itu orang di kampung itu tidak percaya pada Tuhan dan mereka tidak bisa menerima kenyataan bahwa mujizat telah terjadi. Maka jelaslah bagian terpenting dari cerita tersebut buat saya, khususnya karena cerita itu tidak lama setelah pengalaman saya dengan sekolah tersebut. Buku itu menjelaskan pada saya bahwa mujizat hanyalah mujizat bagi mereka yang percaya akan mujizat, tetapi bagi mereka yang tidak mempercayai mujizat, setiap mujizat akan diaggap sebagai kebetulan. Demikianlah persis dengan sekolah itu. Saya tahu bahwa tangan Tuhan telah membuka begitu banyak pintu, namun kelihatannya tak seorangpun yang berpikir tentang Tuhan.

Beberapa hari kemudian Tuhan memimpin saya pada sebuah buku lain. Dengan teliti Ia mengajarkan jalanNya pada saya melalui buku ini! Dia tentu tahu bahwa saya suka membaca! Buku ini berjudul „ Mujizat Pater Malachy`s „ berisi cerita tentang sebuah desa kecil di Perancis. (Tuhan juga tahu kerinduan saya akan suatu perjalanan panjang!) Pastor Pater Malacy`s di desa itu, ingin menyakinkan Pendeta di gereja di seberang jalan itu bahwa Tuhan itu hidup dan mendengar doa.

Di kota di mana mereka tinggal ada sebuah diskotek yang bagi keduanya menjadi bahan pemikiran. Satu hari sang Pastor berkata pada sang Pendeta: „Jika Anda menjumpai saya besok malam jam 23.30 di depan sebuah disko, saya akan berdoa agar Tuhan memindahkan disko itu ke gunung di seberang laut sana.“ Pada malam berikutnya, mereka tiba sedikit lebih cepat di tempat yang mereka tetapkan.

„Saya yakin bahwa saya dapat meminta agar Tuhan memindahkan disko ini“, ucap sang Pastor, „ tetapi IA ia sedang menolong seorang lain, sehingga kita harus menunggu sampai jam 23.30.“

Dan dengan penuh keyakinan persis jam 23.30 gedung disko itu telah dipindahkan ke sebuah gunung diseberang laut sana oleh tangan Tuhan. Orang yang berdansa di dalamnya hanya bisa kembali ke kota dengan naik perahu! Cerita ini muncul ketika di dunia belum ada terjadi bencana besar-besaran, maka berita ini benar-benar menjadi berita internasional. Tetapi hal ini menjadi penyebab pedebatan yang hebat! Perdebatan hangat tentang suatu fakta yang menunjukkan bahwa gedung disko itu masih berada di puncak gunung dan orang-orang yang di dalamnya telah kembali dengan naik perahu ke kota. Namun tak seorangpun kemudian yang dapat mempercayai bahwa hal itu telah benar-benar terjadi.

Akhirnya Pastor Malacy`s dengan sedih memohon pada Tuhan untuk mengembalikan diskotek itu ke tempat semula.

Sebuah cerita yang indah! dan melaluinya saya belajar tentang alasan untuk berdoa: hanya berdoa, jika Tuhan meletakkan sesuatu dalam hati di dalam hikmatNya, bukan atas keinginan diri sendiri.

Buku berikutnya adalah Novel tentang hidup Paulus. Buku yang amat luar biasa, dan saya menjadi kagum ketika saya tahu bahwa Paulus adalah orang Jahudi. Dan bukan hanya seorang Jahudi bahkan murid seorang proffesor terkenal Gamaliel! Saya pikir pengarang telah membuat kesalahan! Setelah saya membaca setengah dari buku tersebut, saya menjadi ragu: „Mungkinkah saya terlah terjerat dalam segala hal. Apakah Tuhan benar-benar menghendaki saya terus-menerus membaca buku-buku-buku kristen ?“

Saya meletakkan buku tersebut dan mencoba membujuk diri sendiri untuk tidak membaca buku tersebut lagi. Sore harinya saya pergi ke toko untuk membeli coklat sebagai satu kejutan kecil buat Mike dan Joey. Ketika saya berjalan mengitari toko tersebut, saya menemukan sebuah buku kecil „Hallmark“. Saya mulai membacanya, buku kecil itu sungguh buku adalah buku termanis dari semua buku yang pernah saya baca dalam hidup.

 "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi.bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita kaena ketidak adilan, tetapi kaena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurnah. Tetapi jika yang sempurna itu tiba, maka yang yang tidak sempurna itu akan lenyap. Ketika aku kanak-kanak, aku  berkata-kata sseperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa, aku meninggaalkan sifat kanak-kanak itu. Karena sekarang kita melihat dengan samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal. Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar diantaranya ialah kasih.

 Saya sudah menangis sebelum saya selesai membacanya! Dan dalam hati saya mendengar bisikan Tuhan yang lembut. „Perhatikanlah sampul buku ini dan lihat siapa pengarangnya“, ucapNya. Saya memgamati sampul buku itu dengan harapan bahwa saya akan menemukan sebuah nama pengarang modern, ternyata  yang saya temukan ialah:

 „ Ucapan-ucapan Hikmat Paulus dan Kasih di kutip dari I Kor.13“

Luarbiasa peneguhan Tuhan agar saya membaca buku tentang Paulus itu sampai akhir.

Sementara saya membaca buku itu, satu pagi saya menelepon teman saya bernama Marcia. Sudah bertahun-tahun kami bersama-sama mencari jawaban tentang arti hidup. Saya menceritakan segala pengalaman baru saya selama dua tahun terakhir ini padanya. Saya tidak berterus terang padanya bahwa tangan Tuhanlah yang begitu kuat mengarahkan setiap langkah saya, sebaliknya saya menyimpan rahasia itu dalam hati sebab saya belum punya keberanian untuk itu. Namun pagi itu saya berkata pada Marcia bahwa saya sebenarnya tidak memerlukan satu bentuk peneguhan lagi untuk meyakinkan diri saya sendiri bahwa itu benar-benar Tuhan, sebab kejadian demi kejadian satu dengan yang lain saling meneguhkan.

Malamnya beberapa teman datang mengunjungi kami dan mereka membawa serta seorang wanita tua yang baik. Ibu itu memanggil saya, karena beliau ingin mengucapkan beberapa hal pada saya. Saya tahu bahwa ucapan-ucapannya itu berasal dari hati Tuhan. Saya langsung teringat akan pelajaran yang saya dapat dari riwayat hidup Paus Paulus XXIII. Maka saya tahu: Jika yang diucapkan si Ibu tersebut pada saya adalah nubuat yang benar, maka hal itu adalah kebenaran dan akan terbukti!. Tapi malam itu saya mendengarkannya dengan penuh ketidak percayaan. Namun saya masih ingat setiap kata yang diucapkannya pada saya. Dia mengucapkan kata-kata berikut:

 „Engkau adalah salah seorang wanita yang diberkati dari wanita-wanita yang pernah hidup. Akan membutuhkan waktu yang cukup lama sampai engkau dapat  menerima siapa engkau sebab engkau demikian. Tetapi jika engkau menerima hal itu, maka hal itu akan menjadi seperti bunga yang berkembang. Dua salib akan mendapingimu kemana-mana. Dan akan banyak kejadian-kejadian sampai sebuah buku yang membawa berjuta-juta orang lebih dekat pada Tuhan akan muncul“

Saya takut apakah malam itu pancaran wajah ketidak percayaan saya terbacanya, sebab sambil menggenggam tangan saya Ibu itu berkata lagi: „Tetapi engkau tidak perlu takut! Tuhan sangat mengasimu! Tak ada yang harus ditakutkan!“ Beliau berkata pada saya bahwa semua buku yang saya peroleh adalah kiriman seorang pria yang sangat mengasihi saya.

„SEORANG PRIA!“, saya menarik nafas. „Mengapa, bukankah hal itu tidak lucu! Buku-buku ini tidak datang melalui Pos, seharusnya dia tau. Dan darimana dia tau hal itu?“ Beliau tertawa dan lagi meyakinkan saya atas kasih Tuhan.Tidak lama kemudian beliau bersama-sama dengan teman lainnya pergi. Sejak saat itu saya tidak pernah lagi melihatnya.

Jantung saya berdebar. Sebelumna saya minta peneguhan, dan saya tau jika saya tak mengerti dan bahkan tak dapat menerima semua itu, Tuhan telah menjawab doa saya. Demikianlah semakin sulit untuk kenyataan itu, bahwa Tuhan telah menetapkan suatu panggilan dalam hidup saya.

Setelah semua tamu pergi, saya duduk dekat meja dapur. Saya punya sebuah Perjanjian baru yang saya pinjam dari seorang teman, karena saya ingin membaca ucapan-ucapan indah dari Paulus yang beberapa hari sebelumnya saya baca dalam buku kecil Hallmark. Ketika saya duduk dengan Alkitab di tangan saya, saya merasakan kehadiran Tuhan.Saya merasakan kasihNya begitu kuat dan kehangatan ajaib menyelimuti hati saya.Kemudian dengan lambat penuh kasih sayang Ia menunjukkan beberapa bagian Firman Tuhan yang memberkati saya yang tak mampu saya lukiskan dengan kata-kata. Alkitab membuktikan pada saya, bahwa ada banyak hal yang sebelumnya saya percayai terdapat dalam Alkitab, seperti, „Kamu tidak dapat melayani Tuhan dan Mammon“; tetapi saya tidak pernah berpikir bahwa, itu didasarkan berasal dari Alkitab! Saya juga menjadi kagum menemukan beberapa ayat kesukaan saya dalam Alkitab:

 „Untuk segala sesuatu ada masanya;untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, dan ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap, ada waktu untuk menari;
ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara,
ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk berperang, ada waktu untuk damai ...“
Pengkhotbah 3:1-8

Dan dari kehadiran kasihNya yang nyata Alkitab menyingkapkan melalui ayat-ayat berikut:

„Mariklah kita bersukacita dan bersorak sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantinNya telah siap sedia. Dan kepadaNya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!“ Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus. Lalu ia berkata kepadaku: „Tuliskanlah: Berbhaagialah mereka yang diundang ke perjamuan kawin Anak Domba.“ Katanya lagi kepadaku:“Perkataan ini adalah benar, perkataan-perkataan dari Allah!“
Wah.19:7-9

Dalam detik itu juga, tiba-tiba saya mengerti, bahwa Yesuslah yang selalu menuntun saya ke buku-buku itu! Yesus adalah pria yang dimaksudkan ibu tua itu! Rupanya Yesuslah yang berming-minggu bahkan berbulan-bulan sebelumnya saya kenal dan saya cintai itu!Yesuslah yang mengasihi saya!“

Tiba-tiba dengan kekuatan yang luar biasa saya diliputi oleh rasa takut. Sebelumnya saya selalu melihat keindahan alam di sekitar saya dan hal itu menyingkapkan kasih Allah pada saya.“Mungkinkah masih ada sesuatu melebihi itu? Saya hampir tak mampu menguasai sukacita yang saya rasakan ketika saya mengetahui, bahwa Tuhan telah memberikan jawaban atas dosa kita; Dosa yang tanpa Yesus telah memisahkan kita dari Dia bahkan melalui Yesus kita dipimpin kedalam keindahan dunia ini dan akan hidup bersamaNya dan selamanya bersama Dia di sorga! Sungguh amat luar biasa, sukar untuk dilukiskan pengalaman sukacita yang saya alami malam itu dan pengalaman ini sangat jarang meninggalkan saya.

Kasih Allah yang begitu besar jauh lebih besar dari apa yang dapat mengisi hati saya yang kecil ini. Saya menangis dalam penyesalan dan sukacita, ketika saya meletakkan hidup saya dalam tanganNya.

   [index]