23 ORANG ORANG DI TEMPAT TINGGI

Tepatnya tanggal 7 Oktober 1979, pada permulaan perayaan Succoth,  saya dapat hadiah Ijin Tinggal satu tahun lagi di Yerusalem . Pada awal Minggu berikutnya, telah berlangsung perayaan Simchat Taurat yang demikian meriah, yakni sebagai perayaan Sukacita Dalam Hukum Taurat. Di seluruh jalan-jalan di Yerusalem, kaum pria dan anak-anak menari dan bernyanyi dengan gulungan-gulungan Hukum Taurat (Perjanjian Lama) ditangan mereka masing-masing seraya menyampaikan ucapan syukur kepada Tuhanyang telah memberikan FirmanNya kepada kita.

Saya pergi dengan sejumlah teman-teman Israel saya ke Sinanoge mereka untuk turut merayakan pesta, dan karena modernisasi, kaum wanita juga dibenarkan untuk membawa Gulungan-gulungan Kitab. Setelah sekian lama menikmati pesta, salah seorang dari kaum pria menempatkan sebuah Gulungan Taurat di lengan saya. Itulah pertama kalinya  saya memegang satu Gulungan Kitab sejak ulang tahun saya yang ketigabelas. Saya merasakan jamahan Tuhan yang begitu dalam melalui perhatian Sang Bapa dalam hal ini. Seyogianya  saya sudah tidak ada lagi di Israel untuk selamanya, kini  saya masih berada disini, di Yerusalem, menari bersama dengan Firman Tuhandi tangan  saya, dalam suatu perayaan bersama dengan ummat PilihanNYa.

Ketika saya teringat pada Dr. Burg, saya menjadi geli. Pastilah beliau jatuh pingsan kalau melihat saya disini, menari bersama dengan Taurat. Tuhan punya “Chutzpah" yang luar biasa tentunya (Chutzpah adalah istilah Israel yang tidak meiliki terjemahan langsung dalam bahasa Inggris, tetapi artinya kira-kira audacity atau mujijat).

Beberapa hari kemudian,  saya sedang memperlihatkan sekitar Galilea kepada seorang teman dari Australia. Ketika kami sedang duduk di tepi Danau Galilea di sore yang indah itu, Tuhan memerintahkan saya agar dalam waktu tiga hari lagi,  saya terbang ke Amerika Serikat untuk bersama-sama dengan Joy merayakan Ulang Tahunnya yang ke duabelas, supaya dengan demikian Joey mengetahui cara istimewa yang dipergunakan Tuhan untuk memperlihatkan kasih Tuhan baginya. (Saya ada bersama Michael untuk Ulang Tahunnya dua tahun sebelumnya, akan tetapi saya tidak berada di Amerika Serikat bulan November berikutnya untuk Ulang Tahun Joey). Sangat mengherankan, tapi ini pasti khabar gembira tentunya!

Hari berikutnya, sejumlah uang yang pas untuk pembeli Tiket Ke New York tiba. Dan dua hari kemudian, saya sudah dalam perjalanan. Saya telah merencanakan kunjungan dengan Mike dan Joey pada akhir pekan dan melakukan kunjungan pertama ke Baltimore yaitu Sid dan Betsy.

Sid dan Betsy sangat kaget dengan kedatangan saya di Amerika Serikat, sebab mereka pada saat itu, justru menyusun barang untuk mengunjungi saya di Israel. Suatu sukacita besar dapat bertemu dengan mereka kembali. Malam itu juga, walaupun saya masih letih dari perjalanan dan jetlag, mereka mengajak saya ikut ke gereja, untuk mengikuti acara kebaktian malam.

Seorang saudara Kristen dari kota lain sedang berkunjung. Setelah berkhotbah, beliau mendatangi  saya untuk mendoakan saya. Sudah sekian lamanya sejak  saya dilayani, mencucurkan air mata. Dan beberapa menit sesudah dia berdoa, Tuhan memerintahkannya untuk membalik telapak tangan saya. Dan dia mengolesi telapak tangan kanan saya dengan minyak. Minyak itu mengandung aroma yang sangat harum. Saya belum pernah mencium aroma minyak seharum itu. Begitu banyak minyak di telapak tangan  saya, sehingga para anggota jemaat lainnya bisa mencelupkan jari-jari mereka di telapak tangan saya. Selanjutnya, Tuhan memerintahkannya untuk menggunakan minyak tersebut mengurapi  saya atas missiNya yang sedang disiapkanNya di depan. Dengan taat saudara itu memegang tangan  saya, dan menempatkannya di atas dahi  saya dan memberkati  saya dalam nama Yesus buat pekerjaan yang akan segera berlangsung.

        Ketika saya kembali ke rumah, bersama dengan Sid dan Betsy di malam itu, kami masih membahas tanda kehadiran Tuhanyang telah kami saksikan itu lebih lanjut.Saya benar-benar tidak memakaibagaimana caranya menanggapi semua itu. Akan tetapi, didalam hati saya yang terdalam, saya menyadari bahwa itu adalah jawaban Tuhan terhadap semua kritik yang berbulan-bulan telah saya terima dari orang-orang percaya di Israel. Jawaban Tuhan bagi saya malam itu sungguh jelas, meskipun mereka telah menolak saya sebagai milikNya, namun Dia masih tetap bersama dengan saya. Sudah lama sekali,  saya tidak lagi mengalami kasihNya yang sedemikian ini, oleh sebab itu  saya sungguh bersyukur. Kejadian ini sungguh memberikan saya harapan bahwa waktu pengujian mungkin telah berlalu, setidaknya untuk sementara waktu. Malam itu saya pergi tidur dengan penuh suka cita, karena telah merasakan hikmat kasihNya sembari ingin tahu "missi khusus" apa gerangan yang akan terjadi.

        Pada hari Senin malam, Sid dan Betsy harus berangkat ke Israel dengan grup tour dimana mereka turut jadi pemimpin. Tahun selanjutnya, mereka rencanakan untuk tinggal bersama dengan  saya di Ramot. Mereka mendesak  saya untuk menemui mereka hari Senin sore di pelabuhan udara JFK New York untuk menyambut para anggota tour, yang sebenarnya ingin bertemu dengan saya di Israel. Maka kami buat jadwal pertemuan hari Senin sore di Airport.

        Saya sendiri terbang ke Connecticut ke rumah salah seorang teman lama  saya Alease, yang telah menjadi tetangga  saya di ex Apartemen kami bersama Mike dan Joey sebelum kami pindah ke Israel. Rasanya aneh untuk melintasi Apartemen itu setiap harinya sebab rumah itu telah memberi banyak kesan indah bagi kami bertiga.

        Anak-anak dan saya begitu senang karena kami bisa berkumpul kembali. Sebagaimana biasa  saya selalu bersyukur kepada Tuhan karena persekutuan yang dalam yang telah diberikanNYa kepada kami dan memeliharakan kami, sehingga, tidak ada perasaan asing bila kami berkumpul kembali. Bahkan seakan-akan kami tidak pernah berpisah sebelumnya. Saya tahu itu adalah berkat kasih karunia khusus, sungguh luar biasa, karena kami bertiga dapat merayakan hari ulangtahun Joey bersama-sama. Tentu ini adalah hadiah ulangtahun khusus dariTuhan bagi kami semua. Dan selanjutnya, pada hari kedua kebersamaan kami, perkara yang paling indah dan menyentuh hati telah terjadi.

        Michael dan Joey, keduanya berlutut dan menyerahkan hidupmereka Yesus. Mereka telah percaya padaNya sebelumnya, dan telah menyadari secara jelas akan kasihNYa dalam kehidupan mereka, namun mereka belum pernah mengucapkan kata-kata berikut ini sebelumnya: "Yesus,  saya menyerahkan hidupku untuk Mu, Engkau dapat menggunakannya sesuai dengan kehendakMu. Ampunilah dosa-dosa  saya, dan jadikanlah saya menjadi ciptaan baru didalam Engkau."  “Detik-detik yang paling membahagiakan dalam hidup saya. Lagi-lagi  saya sungguh bersyukur karena Tuhan telah menolong  saya dengan kekuatanNya, agar saya tidak berpaling dari panggilanNya. Sebab apabila Dia telah memperkenankan kami untuk hidup bersama selama ratusan tahun berikutnya, tentunya  saya tidak perlu lagi meminta sesuatu yang lebih dari situ. Kini mereka adalah milikNya. Kini  saya tahu bahwa kami memiliki kehidupan kekal bersama-sama.

        Selanjutnya  saya katakan pada mereka ”Sekarang kita akan bersama begitu lama, Saya yakin bahwa setelah seribu tahun pertama berlalu, kita akan bosan terhadap satu sama lain!" Orangtua manakah yang dapat meminta lebih dari janji kehidupan kekal bagi mereka yang paling dikasihiNya?

        Pada hari Minggu malam, Joey dan Mike kembali kerumah ayah mereka, sebab mereka akan kembali bersekolah di hari berikutnya, dan kami telah berencana untuk bertemu kembali pada akhir pekan berikutnya.

        Pada hari Senin pagi, sebelum berisap-siap berangkat kepelabuhan udara,  saya bangun dan mulai membaca Alkitab saya, sebagaimana yang selalu  saya lakukan pada dini hari. Saya membaca Kisah Para Rasul seluruhnya, tetapi ketika  saya sampai pada Bab 23, tiba-tiba Tuhan menggarisbawahi nats berikut dalam hati  saya :

        “Pada malam berikutnya, Tuhan datang berdiri di sissinya dan berkata kepadanya: Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang saya di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma”
Roma 23;11

        Oleh karena  saya sendiri telah menyaksikanNya di Yerusalem, maka bisikan ini benar-benar telah membuat saya menarik nafas. Dan selanjutnya, Tuhan berbicara begitu lembut tetapi jelas di dalam hatisaya: “Saya akan mengutus engkau ke Roma untuk mengunjungi Paus

        “OH, tidak ! saya meronta, seraya menutupkan selimut ke atas kepalasaya. Hal ini merupakan perintah yang luar biasa. Dari seluruh pengalaman hidup  saya, tidak satupun diantaranya yang dapat saya gunakan sebagai penolong dalam keadaan ini. Saya hanya berkata kepada Tuhan. Saya harap saya dapat melukiskannya kembali: "Tuhan, untuk hal yang satu ini saya harap Engkau memberiku peneguhan. Baiklah! Biasanya saya sudah dapat meyakini dan melaksanakan pimpinanNYa tanpa menuntut tanda-tanda khusus, tetapi ini adalah sesuatu yang lain dari pada yang lain.

Beberapa jam kemudian,  saya berada di Kamar mandi, Airprot, Connecticut sebelum penerbangan ke J. F. K. Seorang Ibu yang bertugas dalam bidang cleaning service mengamati bajusaya. Saya katakan padanya bahwa  saya membelinya di Yerusalem. Kejadian itu membukakan pintu bagi saya untuk menceritakan tentang kasih Tuhan padanya. Hatinya demikian terbuka, dan dalam tempo sepuluh menit, dia telah menundukkan kepala dan menyerahkan hidupnya pada Yesus. Hatinya betul-betul sudah disiapkan sejak kematian suaminya yang sangat dikasihinya tiga tahun sebelumnya. Suaminya telah meninggal secara tiba-tiba, dan Tuhan telah menempatkan  saya di sana untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah lama membara didalam hatinya. Kemudian Ibu itu berkata kepada  saya “Saya adalah seorang katolik Roma. Saya belum pernah tahu kalau kasih Yesus juga nyata dari dulu sampai sekarang ini!”

        Pada waktu itu,  saya merasakan peneguhan Tuhan, sebab Dia berkata kepada saya: “Inilah dia peneguhan itu". Sekarang, buatlah rencana untuk perjalananmu ke Roma. Instruksi yang Tuhan katakan padasaya: "Sid dan Betsy akan turut bersamamu ke Roma".Tentu tidak ada lagi konfirmasi yang lebih berharga di dunia ini dibandingkan dengan membuka hati terhadap kasihNya – dan  saya mengetahui fakta bahwa Betsy berlatarbelakang Katolik maka alasan ini tidak salah lagi.

        Persis sebelum pesawat tinggal landas di New York,  saya sedang merenungkan instruksiNya yang membingungkan itu, dimana Tuhan berkata kepada saya, "Sid dan Betsy akan pergi bersama dengan engkau ke Roma": Argumentasi mulai muncul dalam benak saya. Mereka sedang dalam perjalanan ke Israel. Bagaimana saya bisa meminta mereka untuk menyertai saya dalam suatu missi yang kedengarannya tidak mungkin dan mustahil? Saya justru tidak ingin berkata kepada siapapun bahwa  saya akan pergi ke Roma. Akan tetapi tentunya, saya tahu bahwa itu hanya bisikan keangkuhan hati. Saya tau dari Airport Connectcut bahwa dengan jenis tiket yang  saya miliki, untuk kembali ke Israel,  saya hanya perlu tambahan sebesar $75.00 untuk perjalanan stop over di Eropa. Oleh karena itu  saya katakan pada Tuhan, “Apabila Engkau memberikan sebesar $75.00 pada saya, sebelum  saya bertemu dengan Sid dan Betsy, saya akan semakin yakin bahwa semua rencana ini adalah sungguh-sungguh atas kehendakMU (jenis pengujian seperti ini tidak biasa  saya lakukan, juga saya tidak menuntut, kecuali dalam kondisi yang sangat extrim.).

        Ketika  saya tiba di terminal EL AL di JFK,  saya segera bertemu dengan Dorothy dan Beth, dua teman dari persekutuan di Penssylvania yang pernah saya kunjungi tahun 1977.

        “Ngapain kamu di sini?” tanya mereka berdua penuh keheranan? “ Kamu kan, seharusnya di Israel? Maka saya menceritakan pada mereka tentang kejutan ulang tahun Joey. Mereka turut bergembira dengan saya ketika  saya memberitahukan kepada mereka tentang pertobatan anak-anak tersebut.

        Dorothy selanjutnya, sembari menyelipkan sebuah amplop dari tasnya berkata, "Baiklah, karena kita sudah bertemu di sini dan bukan di Israel,  saya kasih ini padamu sekarang, sebenarnya sudah merencanakan untuk memberikan ini untukmu di Israel. Ketika kemudian  saya membukanya, ternyata isinya persis $75.00. Dengan segera saya mencari Sid dan Betsy.

        Ketika  saya menemukan mereka di celah-celah keramaian di Airport, mereka sedang sangat sibuk membantu para anggota tour untuk menempatkan barang-barang mereka dan untuk mengatur segala sesuatunya. Dengan suara yang sedikit panik saya katakan kepada mereka “Dengar,  saya minta maaf karena telah mengganggu kalian, akan tetapi saya harus berbicara dengan kalian selama lima menit” saya tahu bahwa mereka benar-benar merasa terganggu, tapi  saya tidak punya pilihan lain.

        Akhirnya, mereka setuju untuk berbicara dengan saya, akan tetapi hanya lima menit. Ketika kami sendirian, tanpa basa-basi saya menceritakan hal tersebut secepat mungkin pada mereka. Maka dalam sekejab  saya bercerita pada mereka: “Tuhan telah membangunkan saya tadi pagi dan memberikan kepada saya nats Alkitab dari Kis.23;11 dan selanjutnya berkata bahwa  saya harus pergi ke Roma untuk mengunjungi Paus dan kalian harusikut. (Tentulah berita itu kedengarannya mustahil bagi mereka)

        Namun Tuhan segera mengkonfirmasikan hal ini dengan tegas kepada Sid, akan tetapi Betsy tidak menerima konfirmasi dari Tuhan, dan keragu-raguan mulai muncul lagi. Akan tetapi,  saya merasakan bahwa apabila hal ini sungguh-sungguh dari Tuhan, maka kami bertiga akan memiliki konfirmasi yang sama dari Tuhan sebelum mereka meninggalkan pelabuhan pada hari itu.

        Tidak lama kemudian, kami menyanyikan lagu "Stand by Israel", yang memiliki irama yang sangat menyenangkan :

Karena kita mengasihi Tuhan, kita mengasihi Israel,
Karena Firman itu benar, ummatNya pasti menang.
Seperti pasir disepanjang pantai, dan bintang bintang di langit,
satu bangsa tidak akan lenyap.

Kor:
Waktunya telah tiba untuk berdiri bagi ummat pilihan Tuhan
Sekarang waktunya untuk memperdengarkan suaramu
Oh berdirilah bersama Israel, hai anak-nak Tuhan
Berdirilah bersama Israel.

Ada tertulis dalam Firman Tuhanuntuk berdiri dengan Israel
Masa depannya sungguh terjamin, janji-janjiNya sungguh nyata
Biji mataNya, anak-anak Jakob
Buah anggur yang diberkatiNya

Oh orang kristen, apakah engkau mendengar jeritan Israel ?
Dia memerlukan engkau sebagai temannya, ketika ia membutuhkannya.
Medan pertempuran telah dibatasi, dimana kah engkau berdiri?
Oh, berdirilah bersama Israel “

Hal ini mengingatkan Betsy akan berbagai pengalaman yang kami bertiga rasakan bersama. Melihat cucuran airmatanya,  saya yakin bahwa Tuhan telah mengkonfiramsikan perintahNya kepadanya. Persis sebelum keberangkatan mereka ke Israel, dengan terburu-buru kami membuat rencana untuk bertemu di Roma, pada hari Senin, 19 November 1979.

        Setelah melambaikan tangan terakhir, sebelum mereka menghilang di balik pemeriksaan Pasport, Saya segera mengambil penerbangan menuju Pennsylvania untuk menghabiskan waktu seminggu bersama dengan Marcia dan keluarganya. Rumahnya yang jauh di luar kota selalu hangat dan terbuka bagi setiap pendatang, penuh dengan piaraan anjing, kucing dan manusia tentunya, akan tetapi yang paling indah adalah kehangatan kasihnya. Ketika  saya tiba, saya masih terheran-heran akan pintu yang telah Tuhan bukakan di depan, namun saya punya firasat untuk tidak menceritakan hal itu pada Marcia. (Karena ternyata kemudian, Dia sendirilah yang harus berkata hal itu padanya).

        Oh Marcia, ujarku, ketika kami sedang duduk menikmati kopi di atas meja dalam ruang makan. Tuhan telah memberikan perintah yang paling luar biasa pada  saya tadi pagi! Betapa saya sungguh berkerinduan untuk dapat mencertakan hal itu kepadamu sekarang"!

        Dia menanyai saya tentang keadaan yang sedang berlangsung di Israel, dan selanjutnya dia bertanya, “Apa kamu sudah mendengar tentang kunjungan Paus ke Amerika Serikat ? Saya tentunya langsung curiga, karena sepanjang tahun, kita telah bersahabat, kita belum pernah membahas masalah berita.

        “Tidak,  saya tidak mendengar banyak tentang hal itu, jawabku singkat. Saya bisa merasakan kehangatan diwajahku, dan  saya menyadari bahwa warna wajahku pasti berubah. Wajahku tidak pernah merah padam, akan tetapi  saya tidak bisa mengatasinya.

 Akhirnya, Marcia tertawa dan berkata: "Jadi kamu akan pergi ke Roma untuk menemui Paus ?”

        YIKES! Ya, Tuhan bagaimana kamu bisa tahu hal itu ? Saya jadi kehilangan kata-kata.

        Baiklah, tidakkah kamu ingat bagaimana engkau berkata kepada  saya tahun lalu bahwa Tuhan ingin mengutusmu suatu hari mengunjungi Paus?Saya telah lupa sama sekali tentang hal itu. Ketika kamu menyebutkan suatu perintah yang sungguh mengherankan yang kamu terima tadi pagi, Yesus telah berkata kepada  saya bahwa itulah adanya. Apakah kamu tidak curiga ketika  saya berbicara mengenai berita denganmu? Di wajahmu tergambar sukacita! Dan dia kembali tertawa.

Nampaknya dia juga sudah mengetahui hal itu, maka dengan lega saya mulai menceritakannya kepadanya.

        Tak dapat saya bayangkan betapa sulitnya menghabiskan waktu seminggu penuh bersama dengan seorang teman terdekat, tanpa bisa membuka mulut tentang sesuatu yang sangat mengherankan.

Sementara kunjungan tersebut, kami melakukan perjalanan kekota sekitarnya untuk mencari toko buku Kristen di Chambersburg. Di sana, Tuhan kembali memerintahkan saya untuk membeli sebuah Album besar untuk mencatat journal perjalanan  saya ke Roma. Di bagian kulit depannya, ada gambar setangkai mawar besar dan di bawahnya tulisan, “Dia telah membuat segala suatu menjadi indah…" Dan disana juga,  saya menemukan sebuah kartu yang sangat bagus. Bunga Ros di cover depan tersebut memuat tulisan : seorang sahabat adalah orang mengenal kelemahanmu, namun dia tetap mengasihimu.

Melalui hal-hal di atas ini, dapat ku rasakan bahwa perjalanan saya bersama Yesus akan dimulai dengan babak yang baru, semua kepedihan tahun 1979 kini telah berlalu. Dan saya memakaiselanjutnya bahwa mereka semua yang begitu tega mengkritik dan menghakimi, bukanlah sahabat yang sungguhan.

        Pada akhir minggu itu,  saya melakukan perjalanan kembali ke Connecticut untuk menghabiskan waktu akhir pekan yang kedua kalinya bersama Mike dan Joey di rumah Alease. Keramahannya kepada kami bertiga selalu luar biasa. Dia telah memberikan kami kunci rumah dan kunci kenderaannya. Dan jika  saya berkunjung padanya bersama anak-anak, dia selalu menyediakan mobilnya untuk kami gunakan. Kemurahannya ini begitu sangat menolong, sebab dengan demikian, Joy, Mike dan  saya, dapat melakukan banyak hal yang menyenangkan kami bertiga.

        Waktu berlalu begitu cepat, dan sekali lagi, saya berdiri melambaikan tangan pada anak-anak yang berlalu dibawa kenderaan ayahnya. Akan tetapi, kali ini, semua kekuatan dariTuhan hilang lenyap. Saya menangis dan meratap dalam dalam kesedihan dan kesepian yang sangat dalam akibat perpisahan yang memaksa kami. Saya percaya, kali ini Tuhan sengaja memperkenankan saya untuk merasakan risiko menjadi mengikutiNYa sebagai suatu keseimbangan penting bagi berbagai peristiwa ajaib yang akan terjadi berikutnya.

        Ketika  saya tiba di Roma, Saya segera menemukan suatu tempat yang cocok bagi kami di sebuah rumah kontrakan yang tidak terlalu jauh dari areal St.Peter. Lalu saya kembali ke airport untuk menantikan kedatangan Sid dan Betsy. Kami masing masing mengalami sedikit shock karena m10nyadari diri kami sudah berada di Roma.

        Pada hari pertama kami disana, kami pergi ke Vatikan untuk mencari tahu tentang pertemuan terbuka dengan Paus. Kami segera dapat informasi, bahwa pertemuan terbuka diadakan setiap Rabu pagi, maka kami langsung ke kantor untuk mendapatkan tiket masuk.

        Kami mengambil tiket pada hari audiensi itu dan mengikuti prosedur menuju Gedung Vatikan yang dibangun secara khusus untuk tujuan tersebut. Tentu saya menaruh pengharapan besar agar dapat bertemu dengan Paus, sehingga saya sedikit canggung karena mengetahui bahwa 30.000 orang turut menyertai kami di gedung audiensi pada hari itu. Gedung itu begitu besar dan Paus begitu jauh sehingga tidak mungkin rasanya untuk melihatnya tanpa berdiri di atas kepala orang lain. Kami menyingkirkan perasaan putus asa kami.

        Hari berikutnya, kami dapat mencari teman  saya satu satunya di Roma.  Dia seorang kristen percaya bernama Leo, yang  saya di konferensi Dublin kenal tahun sebelumnya. Meskipun  saya hanya ingat nama awalnya, namun kami bisa mencari jejaknya lewat siaran Radio Vatikan, dimana dia bekerja sebagai reporter. Dia membawa kami dengan suatu tour yang sangat mengesankan di Roma. Akan tetapi pandangan beliau tidak memberi pengharapan ketika kami memberitahukannya bahwa  saya datang ke Roma untuk mengunjungi Paus. “Anda tahu, sekitar 800 juta Katolik akan suka mengunjunginya juga. Akan tetapi, hal itu tidak mungkin! Katanya. Selanjutnya, saya menulis surat kepada Paus dengan harapan, untuk menyampaikannya melalui sekretaris pribadinya, akan tetapi, Leo memberitahukan kami bahwa hal itu sangat tidak mungkin, sebab dia menerima rata-rata 3000 pucuk surat perhari, yang sebagian kecil diantaranya akan sampai ke tangan Paus secara pribadi. Maka tampaknya Tuhan telah membawa kami melalui semua jalan sampai ke Roma untuk diperhadapkan dengan pintu yang tertutup.

        Yang lebih parah lagi, pada akhir minggu itu, kami hampir kehabisan uang. Ketika kami berdoa untuk itu, kami merasakan bahwa Sid dan Betsy harus kembali ke Yerusalem, akan tetapi,  saya tetap di Roma selama dua minggu lagi. Sehingga mereka berjanji untuk segera mengirimkan uang dari Yerusalem untuk memungkinkan  saya membayar rekening kamar ekstra dan biaya rumah. Sehingga, beberapa hari kemudian, dengan sedihsayaharus mengucapkan selamat jalan pada mereka di Airport Italia. Saya  merasa tidak bisa sendirian di Roma dengan perasaan sangat tertekan, sehingga hari itu,  saya menumpang kereta api ke Naples untuk sekedar keluar dari kota besar Roma.

        Malamnya,  saya kembali ke Roma dan menghadiri suatu pertemuan Pembaharuan Katolik. Disana saya sangat senang, karenas aya dapat bertemu dengan orang-orang yang pernah  saya temui dalam Konferensi Para Peimpin di Dublin tahun 1978. (Saya bahkan baru tahu bahwa teman  saya Angela, dari Yerusalem, sekarang tinggal di Roma). Akibatnya,  saya diundang untuk bersaksi pada malam itu maka banyak pintu dibukakan bagi saya untuk berbicara dalam berbagai pertemuan di seluruh kota. Setiap kali ada kesempatan, saya menjelaskan kepada setiap orang bahwa Tuhan telah mengutus  saya ke Roma untuk bertemu dengan Paus. Dan  saya selalu diperhadapkan dengan tanggapan yang aneh. “Ya, kami sudah bertahun-tahun tinggal di Roma ini, nampaknya bagi kami tidak berjalan dengan baik dalam usaha kami untuk bertemu dengan Paus, akan tetapi kami akan berdoa untuk anda !”

        Selama hari hari kami menunggu di Roma, Tuhan telah bekerja dalam hatisaya. Dengan rasa bangga dan sedikit arogan,  saya menganggap Tuhan sedang mengutus  saya ke Roma untuk “menobatkan” Paus. Akan tetapi dalam hari-hari berikutnya, Tuhan telah menyadarkan  saya secara khusus bahwa Paus bukanlah orang yang bertanggung jawab secara pribadi selama berabad-abad atas sejarah gereja yang sangat mengecewakan, terutama dalam hal menentang orang Jahudi, maka  saya harus menerimanya sebagai saudara didalam kasih. Kemudian saya membaca sebuah buku berjudul “Man from a far country” (Seseorang dari negeri jauh) oleh Mary Craig. Buku ini sangat menyentuh hati saya, terutama setelah membaca tentang hasil kerjanya di Polandia sebagai Cardinal Crawcow, yang dengan sikap rendah hati dan penuh kepeduliannya terhadap orang-orang Polandia. Persis sebelum kunjungan bersejarahnya ke Roma, ketika dia masih akan dipilih menjadi Paus, dia meninggalkan Cracow, dengan serius berkata pada sahabat-sahatanya: “Sahabat-sahabatku, berdoalah buatku!”. Selanjutnya, setelah mengetahui bahwa beliau terpilih sebagai Paus, dan menyadari bahwa beliau tidak akan kembali lagi ke Polandia, dengan kesedihan yang sangat mendalam, salah seorang teman terdekatnya berkomentar seperti berikut :

 "Sungguh suatu beban yang sangat sulit dan berat apa yang mereka tempatkan di pudanknya. Di puncak sana begitu dingin. Dengan seluruh ungkapan hati kami, kami menginginkannya tetap kuat untuk menahan kedinginan, karena kami mengetahui bahwa dia bukan hanya kedinginan tetapi juga sendirian. Kiranya Tuhanselalu dekat padanya..".

Dan Tuhan telah mengingatkan  saya juga tentang bagiamana Tuhan telah memilih Paus Johannes XXIII, yang tadinya hanya seorang petani sederhana, untuk memberikan kehidupan kasih Tuhan kepada Gereja Katolik. Maka melalui semua ini hati  saya dilembutkan.

        Tuhan juga telah memberi kesempatan buat  saya untuk menbaca “The Cost of Discipleship (Harga yang Harus Dibayar Seorang Murid) oleh Dietrich Bonhoeffer selama waktu itu. Sebuah buku yang sangat membantu dan instruktif. Pesan-pesan dalam buku ini berbicara secara khusus kepada  saya pada waktu dan situasi yang sedang saya hadapi.

        "Bila Kristus memanggil seseorang, Dia mendatangkannya dan mati."

"Kita hanya dapat mencapai kemerdekaan dan menikmati persekutuan yang indah dengan Yesus bila PerintahNya, panggilaNnya untuk memasuki permuridan, dihargai dengan sepenuh hati. Hanyalah mereka yang mengikuti perintah Yesus dan yang betul-betul menggantungkan hidupnya, akan mengetahui bahwa kuk (beban) yang ditanggungkannya adalah ringan, dan dibawah tekanan bagiamanapun, tetap akan menerima kuasa untuk bertahan dalamjalan yang benar.Yesus tidak menuntut apa apa dari kita tanpa memberikan kita kekuatan untuk melaksanakannya. Dan apabila kita menjawab panggilannya untuk memasuki permuridan, kemanakah kita akan dipimpin? Keputusan-keputusan apa dan partisipasi apa yang diperlukan ? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus menghampiri Dia, karena hanya Dia lah yang mengetahui jawabannya. Hanyalah Yesus Kristus yang akan menuntun kita untuk mengikutiNYa karena hanya Dia yang mengetahui akhir perjalanan kita. Akan tetapi, kita sungguh-sungguh mengetahui bahwa akan ada jalan kemuliaan dan kasih karunia yang tidak ada batasnya. Permuridan berarti suka cita”

"Barang siapa yang ingin mengikut Aku, baiklah ia menyangkal dirinya”

"Menyangkal diri adalah suatu kesadaran yang hanya mengakui Kristus dan tidak lebih mengutamakan diri sendiri, hanya melihat Dia yang akan berjalan didepan dan bukan melihat jalan yang terlalu sulit bagi kita. Sekali lagi, penyangkalan diri adalah: "Dia memimpin jalan, bersandarlah padaNya."
Memikul salib bukanlah suatu tragedy, melainkan adalah penderitaan yang akan memberikan buah ketaatan yang tulus kepada Yesus Kristus.
Pada saat kita memutuskan untukmenjadi,  kita menyerahkan hidup kita untuk bersatu dengan kematianNya.--- kita akan menyerahkan kehidupan kita untuk mati bersama dengan Kristus. Maka salib bukanlah suatu akhir yang mengerikan untuk mencapai sisi takut akan Tuhan dan kehidupan sukacita, melainkan salib mempertemukan kita dengan pada permulaan persekutuan dengan Kristus.
Menderita, adalah bagian dari proses permuridan. Memberi diri dalam penderitaanNya adalah jalan satu-satunya jalan untuk mencapai kemenangan atas penderitaaan. …"

Bonhoeffer menyertakan kutipan berikut dari buku Luther:

“ ….. permuridan tidak terbatas pada apa yang dapat anda pahami --- melainkan di luar pemahaman.Tenggelamkan dirimu dalam ketidak pahaman, maka Aku akan memberi pemahaman.Ketidak pahaman adalah pemahaman yang sesungguhnya.Untuk tidak  mengetahui kemana anda pergi itulah pengetahuan yang sesungguhnya. Pemahamanku akan menjad ibagian dari milik anda juga. Sebagaimana, Abraham pergi dari tanah leluhurnya dan tidak mengetahui kemana dia harus pergi. Dia telah mempercayakan dirinya pada pengetahuan saya, dan tidak memperdulikan pengertiannya sendiri, maka dia telah memilih jalan yang benar dan tiba pada tujuannya. Sesungguhnya, itulah jalan salib. Kamu tidak akan dapat menemukannya sendiri, seihngga kamu haruslah memperkenankan saya untuk memimpin engkau seakan-akan kamu adalah seorang buta. Kemana itu bukan urusanmu,tidak ada orang lain, bahkan tidak satu makhluk ciptaan lain selain saya sendiri yang akan memerintahkanmu dengan firmanKU dan Roh KU menuju jalan yang harus kamu tempuh. Bukan pekerjaan yang kamu pili sendiri, dan bukan penderitaan yang harus kamu hindari, melainkan jalan yang sama sekali berbeda dengan apa yang kamu pilih dan inginkan – itulah jalan yang harus kamu tempuh. Apabila kamu melakukannya, akan tiba waktunya Maha Guru akan datang.

 Dan selanjutnya, ketika saya membaca penjelasan Bonhoeffer berikut, saya semakin sadar betapa jauhnya jalan yang masih harus saya lalui.

 “ …jadilah rendah hati seperti Dia, Dia telah melihat kebenaran, dan berbicara tanpa sedikitpun rasa takut.

Pada minggu terakhir saya berada di Roma, sesuai dengan petunjuk Tuhan, saya berangkat ke kantor Bishop Amerika Di Roma, untuk meminta tiket kebagian depan gedung audiensi untuk pertemuan audensi masal Rabu pagi berikutnya.Saya berkesempatan berbicara dengan beliau, dan besok paginya ketika  saya kembali untuk mengambil tiket, Saya tahu bahwa permohonan  saya telah disetujui dan tiket  saya sudah tersedia.

Saya sudah menjadwalkan diri untuk meninggalkan Roma pada tanggal 6 Desember, akan tetapi pada pagi hari tgl.5, yakni satu genap sebulan sejak Tuhan memerintahkan  saya ke Roma, Dia membangunkan  saya untuk menulis sepotong surat langsung kepada Paus, surat itu ditujukan secara langsung kepadanya, bukan kepada Departemen Inggris, atau kepada department Polandia ataupun kepada sekretaris pribadinya, yang merupakan saluran komunikasi yang biasa dilakukan kepada Paus. Sepertinya tidak mungkinkan kalau dia akan menerimanya, akan tetapi saya harus mematuhi perintah Tuhan, seraya meminta izin untuk memakai mesin tik di tempat penginapan. Dalam paragraph terakhir,  saya berkata kepada Paus :

        “Biasanya, ada ketegangan diantara bangsa Israel dengan Vatikan, akan tetapi harus ada bentuk pemahaman umum tentang kasih kita kepada Yesus yang akan mentransformasikan perbedaan agama kedalam persekutuan kasih didalam nama Yesus."

Tujuan surat itu terutama adalah untuk mendorong Paus, sebagai pemimpin rohani dari 800 juta umat Katolik di dunia, untuk dapat merasakan berkat yang tersedia bagi mereka yang mau bergandengan tangan dengan Israel. Lebih jelas lagi jika pihak Vatikan mengkui hak orang Jahudi untuk memiliki tanah perjanjian yang telah disampaikan kepada bapa leluhur mereka.

        Saya akhirnya menyelesaikan surat itu dan memasukkannya ketas tangan  saya, dan selanjutnya, berjalan menuju sebuah bank. Akan tetapi, ketika  saya mendekati bank tersebut, ternyata tutup, (yang kemudian saya tahu rupanya hari itu ada mogok kerja) maka Tuhan memimpin  saya ke gedung audensi.

        Ketika saya tiba, dengan tiket dari kantor Bishop,  saya diarahkan masuk melalui pintu gerbang depan gedung, dan Tuhan membimbing saya untuk duduk di kursi yang masih kosong di barisan paling depan dari gedung yang sangat besar dan sangat megah itu. Akan tetapi, tempat itu jauh sekali di bagian sebelah kanan, sedang Paus selalu berjalan di bagian tengah, sehingga tampaknya masih belum memungkinkan bagiku untuk bisa melihatnya, sebab di sana masih ada dinding yang membatasi orang banyak dari Paus. Namun saya merasakan perintah yang sangat jelas dari Tuhan agar saya tetap disana.

        Sebab saya sangat dini berada di sana, saya meninggalkan jaket saya di tempat duduk saya, dan meminta orang yang duduk disebelah saya untuk menjaga tempat duduk tersebut buatsaya. Lalu saya berjalan kebelakang melingkari bagian depan gedung menuju toilet umum. Sementara saya berada disana, saya berlutut di lantai, dan berseru kepada Tuhan dari lubuk hati saya yang terdalam, “Bapa, saya memohon kiranya jangan biarkan saya gagal dengan rencana-rencana MU. Jagalah saya agar tetap setia dengan tujuan-tujuanMU.

Menjelang waktunya saya mencapai pintu masuk utama itu lagi, saya menemukan pintu sudah tertutup rapat, dan seorang penjaga berkebangsaan Italy sedang mengawasi meminta saya dengan tegas untuk masuk melalui pintu belakang. Saya sebaliknya dengan tegas saya semabari menunjukkan tiket saya,  saya menjelaskan kepadanya bahwa tempat tuduk maupun jaket  saya ada di bagian depan. Akhirnya, dia membuka pintu dan membiarkan  saya masuk. Yang  saya ketahui, itu adalah tangan Tuhan.

Pagi itu, Paus memberikan pesan dalam lima bahasa, menceritakan tentang perjalanannya ke Turki, dan menjelaskan bagaimana dia telah berbicara kepada para pemimpin Jahudi dicsana. (Tuhan meyakinkan saya bahwa dia sangat berbeban bagi orang-orang Jahudi).

Setelah Paus menyelesaikan pesannya, ia menghabiskan waktu beberapa menit untuk berbicara dengan para Kardinal yang sedang duduk di platform bersama dengan dia. Selanjutnya beliu meninggalkan platform dan berjalan hilir mudik untuk berdoa bagi sekelompok kecil anak anak yang membutuhkan proses pemulihan dan yang sedang duduk di bagian khusus di depan ruang yang ada di sebelah kanan saya. Dan beberapa menit kemudian, Paus muncul dan berdiri persis di depan saya.

Saya memberitahukan kepadanya sekali lagi bahwa  saya adalah seorang berkebangsaan Jahudi yang percaya akan Yesus dari Yerusalem. Dia segera menyodorkan tangannya dan berkata dengan hangat “Kiranya Tuhan memberkati anda dan memberkati seluruh bangsa Israel”. Kami berbincang-bincang selama beberapa menit, dan  saya mencoba untuk memberitahukan kepada beliau betapa pentinganya pengakuan Gereja Katolik atas bangsa Israel dan tanggungjawabnya yang khusus untuk bergandengan tangan dalam kasih bersama dengan bangsa Jahudi. Pada akhirnya, beliau menumpangkan tangannya di atas kepala  saya dan berdoa bagi  saya dan juga bagi bangsa Israel, dan sebelum beliau meninggalkan  saya, beliau menunjuk surat di tangan saya. Saya telah lama memegang surat ini sepanjang saat, tapi keharuan membuat  saya lupa akan hal itu. Akan tetapi, akhirnya beliau berkata kepada  saya  “Apakah surat ini untuk  saya ?”

Ya, saya menjawab

Lalu beliau mengambilnya, seraya berjanji akan segera membacanya.

Ketika beliau berjalan meninggalkan saya, sya mulai mengnagis, karena mengetahui bahwa Tuhantelah membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin. Saya benar-benar telah bertemu dengan Paus.

Segera setelah saya meninggalkan gedung audiensi, saya bergegas-gegas menuju kantor telegraph untuk menghubungi Sid dan Betsy di Yerusalem. Segera setelah saya mendengar suara mereka di jalur lain, saya begitu terkesima “ saya langsung berseru histeris “Saya sudah bertemu dengan beliau. Saya sudah bertemu beliau !” saya sudah bertemu beliau !” dan lagi, saya tidak bisa berkata apapun selain menangis. Saya sudah tidak sabar lagi menunggu sampai besok harinya untuk kembali ke Israel untuk menceritakan semua peristiwa ini kepada mereka. Saya begitu kagum dan heran! (Saya begitu kagum dan heran sehingga akhirnya Tuhan berbicara kepada saya, dengan suara yang sangat lembut dan penuh kasih “Mengapa kamu begitu heran ?”. Saya telah mengutus kamu ke Roma untuk menemui Paus).

Sebelumnya saya sudah berencana untuk bertemu dengan Leo jam 6.00 sore untuk secangkir kopi sebelum pertemuan Karismatik Katolik di malam itu. Ketika saya tiba, dengan nada suara yang begitu patronis dia berkata kepadasaya:  “ Na, Esther, bagaimana dengan rencanamu untuk menemui Paus ?”

Saya memandanginya seraya berkata: ya, itulah kenyaatannya, saya telah bertemu dengan beliau sore tadi! Oh, sungguh aneh melihat perubahan mendadak di wajahnya (Ketika saya menceritakan kepadanya kisah pertemuan tersebut secara lengkap, menjelaskan bahwa Paus telah menumpangkan tangannya di atas kepala saya dan berdoa, memberkati saya dengan berkat kerasulan (Papal), yang merupakan suatu kehormatan untuk menerimanya.

Saya juga membagikan berita itu dengan salah seorang pemimpin grup doa yang saya kenal di Dublin, dan dia berkata “silahkan, beritahukan kisah itu kepada grup doa malam ini. Saya tahu itu merupakan suatu dukungan spiritual yang luar biasa bagi mereka semua. Selama hidup di Roma ini, kita mengetahui sepenuhnya sungguh tidak mungkin rasanya untuk menemui Paus. Lalu saya menceritakan kisah tersebut meskipun hanya kepada kebakitan persektuuan biasa dan oleh karena itu, sungguh tidak lazim untuk memberikan kesaksian. Dan semua yang hadir disana merasa sangat terbangun kehidupan rohaninya.

Dalam luapan kegembiraan tersebut, saya sampai terlupa bahwa malam itu uang yang telah dikirimkan Sid dan Betsy belum sampai sama sekali, karena semua karyawan bank mogok. Sehingga, saya masih belum memiliki uang yang cukup untuk menutupi biaya kamar saya dan biaya akomodasi lainnya!. Tetapi hati saya terlalu dipenuhi dengan luapan kegembiraan dan keheranan yang menutupi semua kekuatiran saya, sehingga akhirnya saya tertidur lelap.

Pagi berikutnya, saya ada janji dengan Angela untuk sarapan pagi bersama di kota, sebab penerbangan saya tidak akan berangkat ke Israel sebelum sore hari. Sungguh merupakan satu kasih karunai untuk bisa bertemu dengan beliau di Roma, dan kami berbincang-bincang tentang banyak hal. Dan tentunya, dia juga sungguh heran dengan kisah kunjungan saya ke Paus. Dan sebelum kami berpisah, dia menyelipkan amplop kedalam tangan saya “Ini, katanya, Tuhan perintahkan saya untuk memberikan ini kepadamu!. Dan dalam amplop ada uang sebesar $200.000, persis sesuai dengan jumlah yang yang saya perlukan untuk membayar biaya tinggal selama tiga minggu di rumah pemondokan kami.

Saya kembali ke rumah dan mengkemasi diri, dan selanjutnay bertemu dengan teman lainnya Fr. Celestine, di stasiun kreta api bawah tanah. Beliau adalah seorang penderta dari Amerika serikat yang sangat baik pada saya selama saya berada di Roma. Saya mengenal beliau dengan cara yang sedikit mengherankan. Pada malam pertama, saya menghadiri pertemuan Pembaharuan Katolik, saya tidak tahu persis dimana gereja itu berada. Saya melihat seorang pria yang sedang berdiri di sebuah toko buku kecil di jalan raya yang demikian sibuk, dan Tuhan berkata padasaya: ”Pergilah tanya orang tersebut!“ Jadi saya bertanya “Maaf Pak, apakah Bapak mengetahui dimana St. Sylvester?”

Dia mengamati saya sejenak, akan tetapi dia bukan hanya begitu pasih berbahasa Inggris, bahkan beliau melanjutkan, "Baiklah, mari bersama saya, sebab saya sendiri sedang mau kesana".

Pada hari terakhir saya berada di Roma, kami menikmati kopi bersama kemudian beliau mengantar saya menuju airport dengan menumpang bus, bahkan membayar tiket bussaya. Sampai saat itu, saya tidak menyadari bahwa saya tidak memiliki cukup uang untuk tiket bus tersebut. Akan tetapi, Tuhan sungguh peduli dengan semua perkara, bila kita betul-betul bergantung kepadaNya.

Segera setelah pesawat take off, saya duduk, dan rasanya sangat letih tetapi saya bersyukur karena tempat duduk di sebelah saya kosong. Saya sungguh menikmati istirahat selama perjalanan tiga jam dalam pesawat ini, stelah melewati hari-hari yang penuh emosional dan meletihkan. Akan tetapi, saya mendengar dari seseorang yang duduk persis di belakang saya berkata kepada teman seperjalannya, "Saya sendiri adalah seorang Roma Katolik.” Lalu pada kesempatan itu, Tuhan berbicara kepada saya “Saya ingin kamu sharing dengan beliau”

Reaksi pertama saya adalah memberontak. Setelah saya melakukan semuanya buat Tuhan, bagaimana pula Engkau menyuruh saya untuk sharing dengan orang ini, saya merasa tidak suka berbicara dengan siapapun (Kedengarannya menyedihkan, bukan? Akan tetapi, seberapa sering kita melakukan hal demikian). Saya telah lupa tentunya bahwa saya sesungguhnya tidak melakukan apa-apa , kecuali berdiri di tempat sementara Tuhanlah yang mengantarkan Paus kehadapansaya.

Beberapa menit kemudian, Tuhan kembali menjawab sanggahansaya-- dengan suara lembut– dan saya  dapat mendengar betapa egoisnya saya dan kekanak-kanakan. Lalu saya berkata, Ya, Tuhan, saya minta maaf, saya tertunduk, dan berpaling kepada orang yang duduk persis di belakangsaya. Saya tahu bahwa Tuhan menginginkan saya untuk berbicara dengan beliau tentang Yesus, sehingga saya langsung saja ke point permasalahan, sebab saya tidak suka dengan perbincangan yang tidak bermakna.

Hallo, ujar saya menyapanya, lalu saya tersenyum. “ Jika saya katakan bahwa saya adalah seorang wanita Jahudi yang percaya kepada Yesus dari Yerusalem dan baru saja bertemu dengan Paus, bagaimana tanggapan Anda?

Wow, jawabnya, lalu segera pindah ke tempat duduk yang kosong di sampingsaya. “Kedengarannya sungguh menarik. Tolong ceritakan kepada saya tentang pengalaman anda tersebut”

Sehingga, saya bercerita padanya selama dua jam berikutnya, pertama tentang bagaimana Yesus telah menjamah dan mengubahkan hidup  saya, lalu sebagian pelajaran yang Dia ajarkan kepada saya, dan akhirnya saya menceritakan kisah kunjungan saya ke Paus. Dan pada akhirnya, saya berkata kepada beliau "Saya yakin bahwa Yesus tentunya memiliki tujuan khusus menempatkan saya hari ini di sini, di tempat dan detik ini,. "Apakah anda tahu mengapa? Karena Dia sungguh mengasihi anda, dan Dia menginginkan anda untuk mengetahui semua itu “

Lalu beliau menjelaskan kepada saya bahwa istrinya baru-baru ini juga mengalami jamahan kasih Yesus, dan bahkan telah bergabung dengan suatu kelompok doa di Gereja Chatolic Renewal, dan sedang berdoa baginya. Dan malam ini, saya berjanji bila saya sendirian, saya akan segera menyerahkan hidup saya pada Yesus," katanya.

Ketika dia kembali ke tempat duduknya semula, saya tidak melakukan apapun kecuali menyampaikan pujian didalam hati saya kepada Tuhan, atas jamahanNya yang membuka hati dan hidup orang itu pada kasih Tuhan. Dan saya sangat bersyukur kepada Tuhan, dengan segenap hati, karena Dia telah menolong saya untuk mengatasi rasa egoisme saya dan membuat saya taat untuk dijadikan sebagai bejana kasihNya. Oh, betapa saya merindukan untuk sungguh bebas dari kedagingan yang malang ini.

Kalaupun tidak ada kelanjutan yang terjadi, rasanya pengalaman untuk menyaksikan kasih Tuhan kepada orang ini sudah cukup. Akan tetapi, demikianlah Tuhan telah menyediakan pintu-pintu yang lebih besar untuk dibukakan, yang hanya tergantung pada langkah ketaatan yang sangat sederhana. Suatu persyaratan yang memimpin pada langkah berikut, yaitu suatu yang sangat mengeherankan yang tidak pernah saya banyangkan sebelumnya. Dan pengalaman ini telah menjadi pelajaran yang terdalam yang pernah saya terima sehingga kita tidak berhak untuk mempertanyakan otoritasNya dalam kehidupan kita atau pun untuk berkata “tidak" terhadap kasihNya dalam hati kita. (Saya telah bertemu dengan banyak orang Kristen yang menyepelekan hubungannya dengan Tuhan, dan yang tidak menyadari sama sekali bahwa jika mereka membiarkan dirinya di luar ketaatan maka otomatis merekapun dibawa keluar dari Sorga).

Kejadian berikutnya adalah, ketika orang yang mendengarkan kesaksian saya itu kembali ke tempat duduknya, beliau menjelaskan kepada teman seperjalanannya. “Wanita itu (maksudnyasaya) tinggal di Yerusalem, dan kisahnya sungguh menarik.

Ternyata, seorang wanita percaya yang duduk di sampingnya sedang berencana untuk bergabung dengan grup tour Kristen di Yerusalem, dan dia sedang berdoa: Ya, Tuhan, pertemukanlah saya dengan malaikatMu untuk membantu saya mencapai Yerusalem. Oleh karena dia mendengarkan bahwa wanita yang duduk di depan lelaki itu adalah berasal dari Yerusalem, maka dia mendekati saya, sesaat kami hendak meninggalkan pesawat. Apakah anda keberatan kalau saya bersama dengan anda ke Yerusalem? Tanyanya padasaya. Dan tentunya, saya menyambutnya dengan hati.

Setelah mengambil barang-barang kami, kami berjalan ke luar terminal dan disambut hangat oleh Sid dan Betsy. Kami berempat saling membagi suka sepanjang perjalanan ke Yerusalem, dan saya meneritakan kepada mereka tentang pertemuan saya dengan Paus secara detail. Ketika kami sampai di hotel Patti di kota, dia berkata kepada saya “Esther, saya disini bergabung dengan grup tour Kristen, dan kami akan sangat senang bila anda datang dan bisa berbicara kepada grup kami besok malam? Apakah anda bersedia? Reaksi alami saya undangan itu akan saya tolak, sebab hari itu adalah hari Sabat pertama,.setelah saya kembali ke Israel. Akan tetapi, Tuhan berkata “katakan kepadanya bahwa kamu akan memenuhinya”. Sehingga, kami mempersiapkan diri untuk bertemu di hotel itu malam berikutnya.

        Oh, saya benar-benar hampir saja melewatkan kesempatan besar yang Tuhan sudah siapkan.

        Malam berikutnya, Sid, Betsy dan saya sendiri berangkat ke hotel itu untuk menemui grup tour, yang dipimpin oleh seorang saudara kristen dari Washington DC bernama Dr. Clifton Robinson. Dia telah menjadi seorang missonari di India selama bertahun-tahun, dan saya sangat mengagumi panggilan Tuhan yang demikian dalam didalam hidupnya dan kerendahan hatinya dihadapan Tuhan.

        Saya menyampaikan kesaksian saya di malam itu, dan selanjutnya, disaat makan malam, saya sungguh merasakan sesuatu dari hasil sharing dengan Robinson khususnya tentang pertemuan saya dengan Paus. Ketika saya selesai menceritakannya, beliau berkata kepada ku “anda tahu bahwa, saya memiliki perasaan yang sangat kuat dari Tuhan bahwa Dia menginginkan anda untuk menghadiri acara Sarapan pagi dan Doa bersama presiden di Washington dalam bulan Februari 1980. Apakah anda akan memperkenakan Tuhan bekerja ? saya tidak memiliki gagasan sedikitpun dengan apa yang sedang dia kemukakan, tapi Tuhan kembali berkata kepad saya “katakan kepadanya, kamu akan pergi!”

Sehingga saya menjawab, Ya, saya akan senang bisa menghadirinya bila semuanya berjalan dengan lancar. Terima kamish banyak. Lalu saya memberikan kepadanya alamat serta nomor telefon. Beliau berjanji akan segera memberitahukanku dan kami saling menawarkan tour sedangkan Patti dan Dr. Robinson menyampaikan “Shabbat shalom” dan kembali ke Ramot.

Kemudian malam itu saya berkata kepada Sid dan Betsy, ketika saya mengingatnya, apa maksudnya undangan pria itu tadi ? dan presiden yang mana ?

Sid menjawab, ya, saya ingin berkata kalau anda hanya memberikan jawaban basa basi kepada pria itu. Saya tidak pernah membayangkan kalau kamu tidak menangkap makna khusus dari apa yang dia kemukakan itu. Lalu mereka berdua tertawa besama. Mereka berusaha untuk menjelaskan kepada ku bahwa Acara Sarapan Pagi dan Doa bersama Presiden biasanya dilaksanakan pada Pembukaan Kongress setiap tahun di Washington DC, dan biasanya dihadiri oleh Presiden Amerika Serikat dan kalangan politikus dari berbagai negara yang berkumpul bersama untuk berdoa.

Saya hampir tak percaya. Bayangan untuk menghadiri hari pertemuan resmi Washington dengan kalangan politikus tingkat dudnia, sungguh tidak terpikirkan sebelumnya. Kejadian ini sungguh terjadi setelah saya kembali dari roma dan setelah mengunjungi Paus. Saya berharap dengan sepenuh hati bahwa hal itu hanyalah sekedar ujian, bahwa Tuhan hanya ingin mengetahui apakah saya berkeinginan untuk menghadiri nya, akan tetapi sesungguhnya saya tidak bertencana untuk pergi menghadiriya. Sehingga, ketika saya berdoa did malam itu, saya berkata kepada Tuhan, “Ya Tuhan, apakah ini sekedar ujian ? Bukankah Engkau hanya sekedar ingin mengetahui kalau saya berkeinginan untuk pergi ? Akan tetapi, saya tidak harus pergi bukan ? Namun demikian, jawaban Tuhan kepada ku sama sekali idak memberi jaminan yang meyakinkan. Tuhan hanya berkata : ini adalah kehendakKU, saya akan memenuhinya.

Sehari berikutnya, ketika seorang teman datang berkunjung, dia melemparkan sebuah tas kepada ku, seraya berkata “inilah baju kemasyuranku, dan sebenarnya saya tidak ingin memberikan ini kepadamu, tapi Tuhan memberitahukanku, sehingga saya harus memberikannya. Ketika saya membuka tas itu, didalamnya saya melihat pakamian putih yang sangat indah,dan dengan hiasan sinking hear yang meyakinkan ku bahwa saya harus menghadiri pertemuan sarapan pagi dan doa bersama dengan presiden, pakaian itu sungguh cocok untuk dipakai.

Oh tidak, ujarku. Bagaimana mungkin saya harus pergi ke acara sarapan pagi itu ? bagaimana mungkin saya bisa melakukannya dengan sajian di atas meja dan duduk bersama dengan para tokoh dunia. Tuhan tidak akan mungkin mengutus ku, Dia tidak akan mengutussaya.

Kemudian, ketika saya mencoba mengenakan pakaian putih itu (entah kalau cocok), semua orang yang ada di sekitar saya telah berusaha untuk membuatkan kepad saya spaghetti dengan sauce tomat disaat mengenakan gaun itu, sehingga mereka telah memutuskan kalau saya pasti akan memakan spaghetti disaat memakai gaun putih itu. Sungguh mengherankan . Kami semua tertawa, akan tetapi, saya sendiri memiliki perasaan yang demikian dalam sehingga saya sangat bersyukur kepada kepada Tuhan karena setiap pelajaran yang pernah Dia berikan kepada ku.

Pada waktu itu, saya sedang membaca buku Charles Colson, berjudul Born Again (Lahir baru), dan setiap orang sangat sering berkomentar hal yang sama kepada Sid dan Betsy. Saya tidak tahu mengapa, akan tetapi Tuhan tentunya membuat hal ini agar kami begitu familiar atau terbiasa dengan koneteks pengajaran lahir baru ini. Itulah perasaan yang sangat aneh saat itu. Barangkali karena dia sedang berbicara kepada semua orang bahwa saya mungkin akan segera datang ke pertemuan itu.

Tiga hari kemudian, kami menerima panggilan telefon dari Dr. Robinson. Salah seorang anggota saya telah terjatuh dan melukami paha saya dan tentunya memerlukan waktu untuk menyembuhannya di Rumah Sakit Hadassah sedikitnya selama 2 minggu. suaminya ingin tetap di Israel untuk tetap mendampinginya. Sehingga, saya bertanya :”apakah kamu tahu dimana beliau tinggal sekarang ini sehingga kamu bisa merekomendarikan nya kepada kami ?

Saya memikirkannya selama setengah deitk, lalu menjawab : “ baiklah, mengapa tidak memperkenankannya untuk tinggal bersama dengan kami ? sebab saya tahu ada seuaut masalah ektika saya meninggalkan ruang tempat tidur ku dan tidur di atas mattress di lantai ruang makan selama dua minggu terakhir. Dr Robinson sangat bersyukur, dan sore itu, Rufus Yoder datang dan tinggal bersama dengan kami. Kami sering bepergian bersama untuk mengunjungi istrinya Berla di Rumah sakit Hadassah. Dia adalah salah seorang pasien yang paling ceria yang pernah saya temui.

Disaat kami melakukan kontak kembali dengan Dr. Robinson, saya berkata kepadanya : anda tahu, ketika anda menyebutkan acara Sarapan pagi dan doa bersama Presiden di malam itu di hotel, saya teidak memiliki tanggapan tentang apa yang anda bicarakan itu. Akan tetapi, saya sangat berkeinginan untuk menghadirinya.

“Baiklah, jawabanya, pada dasarnya sangat tidak mungkin bagi anda untuk memperoleh undangan. Undangan sudah disebarluaskan, dan hal itu dilakukan secara cermat sehingga panitia hanya mengundang orang-orang yang sudah mereka kenal sebelumnya dan yang layak menghadirinya. Dan disamping itu, anda harus diberitahukan cara untuk memasuki grup inti di Washington. Sehingga, saya tidak melihat bagaimana undangan itu akan pernah menjadi kenyataan. Akan tetapi saya merasakan hal ini sangat kuat dari Tuhan, sehingga kami akan melihat apa yang akan terjadi. Tuhan telah berjanji untuk tetap memberitahukan saya tentang semua perkara yang sedang berkembang.

Beberapa hari kemudian, setelah dia kembali ke Amerika Serikat, saya menyuratinya tentang proses kemajuan Berla, dan selanjutnya mengakhiri surat itu dengan berkata: "Mengenai Doa sarapan pagi bersama, tampaknya tidak ada kemungkinan untuk saat ini. Akan tetapi, barangkali itu sudah menjadi bahan pikiransaya."

Suatu pagi, saya pergi bersama Peter untuk mengunjungi Uri kembali, sementara kami sedang duduk bersama di kantornya seraya berbincang-bincang tentang banyak hal, Tuhan berbicara : saya ingin agar kamu berkata kepada nya tentang kunjungan anda di Roma.

“ Tapi, Tuhan, dia pasti akan berkata saya gila."
Katakan saja, jawab Tuhan kembali.
Sehingga, saya menjelaskan dengan suara sedikit parau, dan berkata :”Uri, saya baru saja bepergian ke Roma dan bertemu dengan Paus. Kendengarannya sangat lucu dan tidak mungkin. Tetapi pada dasarnya hal itu sungguh tidak mengherankan sama sekali. Sembari mengangkat bahunya menyatakan tidak mugnkin beliau menjawab “itu suatu perkara besar. Dan bila memang kamu sudah menemui Paus, apakah kamu sudah memberitahukan kepadanya bahwa nama pengacara mu adalah Huppert ?”

Peter dan saya saling berpandangan. Kedengarannya dia seperti gila.
Apa ? saya kembali bertanya.
Bila kamu telah berhasil menemui Paus, apakah kamu sudah berkata nama ku kepada nya, Tanya Uri.

‘Ya, memang saya tidak tahu persis bagimana saya bisa melangsungkan percakapan itu --- eh, ngomong ngomong, nama pengacar saya adalah Huppert ! apakah kamu pernah menanyakan itu ? Dia tertawa dengan pandangan yang sungguh meremehkan dihadapan kami.

Apakah kamu ingat bagaimana sya berkata kepadamu bahwa saya besar dan bertumbuh di Polandia ? saya mengangguk. Ya, keluarg saya dan keluarga Paus juga bertumbuh disana. Dan saudari kembar saya adalah salah seorang teman terdekatnya. Mereka sering berkunjung satu dengan lainnya setiap beberapa hari di Roma bahkan sampai sekarang ini.

 Kamu memang sangat polos. Lalu kami berdua berkata. Wow, sungguh fantastis.

Lalu dia berkata kepada kami bahwa Paus telah diberitahukan Tuhan ketika masih seorang kardinal di Cracow bahwa dia akna segera diangkat menjadi Paus, dan telah memberitahukan keluarga Uri tentang kejadian ini. Dan juga ketika Paus b aru diankat, Uri dan semua anggota keluarga nya mengharapkan agar teman lamanya yang akan dililih. Ketika orang lain diajukan untuk dipilih juga, mereka semua sangat terkejut. Akan tetapi kemudian Paus wafat sebulan kemudian,dan teman kembarnya dipilih untuk menggantikan jabatannya. Betapa mengherankan karena Uri telah mengetahui bahwa dia akan dipilih menjadi Paus sebelum dunia mengetahuinya.

“Keika masih berada di Poandia, dia bekejra untuk gerakan bawah tanah anti Nazi dan membantu untuk menyelamatkan jiwa jiwa bangsa Jahudi. Uri menjelaskan kepada kami. (dan kami juga menjelaksan betapa kasih Tuhan sangat menyertainya). Dan ketika dia dipilih menjadi Paus, audiensi pertama yang dia berikan kepada setiap orang di dunia ini adalah saudari kembar saya dan keluarga saya, sebagai penghormatan bagi persahabatan mereka selama bertahun-tahun. Lalu dia kemudian memperlihatkan foto saudara kembarnya bersama dengan Paus Paul Johannes II

Saya mengamatinya dengan penuh keheranan, dan saya berkata dengan lambat : apakah anda ingin berkata bahwa Tuhan telah mengutus saya ke Roma -- sehingga bertemu dengan teman kembar anda yang tebaik ? sungguh berita yang luar biasa kami terima di hari itu.

Kemudian saya membaca sebuah artikel terbitan Reader’ saya Digest berjudul “Nine Days that Moved the World” (Sembilan Hari Yang Menggetarkan Dunia ). Yang menjelaskankan kunjungan bersejarah Paus ke Polandia, dan juga mengkonfirmasikan kasihNya yang khusus bagi ummat Jahudi.

“Pada hari kedatangannya di kampung halamannya, Johannes Paus II membuat kunjungan pertamanya sebagai Paus ke pusat pembantaian Nazi. Itulah perjalanan yang sangat menyedihkan di dunia ini.
Saat yang paling mengesankan adalah acara messe yang diadakan di lapangan penbantaian di Brikenua yang dirayakan bersama dengan para pendeta yang telah menjadi tawanan di camp-camp konsentrasi. Disinilah jutaan ummat manusia digiring  kenderaan cattle kamar-kamar gas. Disini se juta orang menyanyikan lagu himne dengan, yang  membentuk jemaat Paus. “Sungguh tidak mungkin sekedar berkunjung ke (Auschwitz), ujar Paus, yang juga terlibat dalam gerakan bawah tanah anti Nazi dan membantu para pengungsi Jahudi. Adalah sangat penting untuk merenungkan betapa jauhnya keganasan, betapa hebatnya manusia menghacurkan sesamanya, betapa jauhnya kejahatan bisa terjadi..."

Akan tetapi, kejutan Tuhan tidak berakhir sampai disitu saja. Beberapa hari kemudian, saya membuka kotak possaya di pagi-pagi sekali, dan ketika saya mulai membuka satu persatu, mata saya terpaku sepucuk surat yang membuat saya tak berdaya melakukan apapun kecuali memandanginya paling sedikit selama sepuluh menit, tanpa mengetahui sama sekali mau buat apa dengan surat itu. Sebuah surat yang jelas dialamtkan kepada saya dengan tulian tangan saya sendiri dan saya sendiri tidak mengingat apakah saya sudah pernah melihatnya sebelumnya. Saya bediri  memndanginya dan mencoba untuk mengingat-ingat dari mana gerangan datangnya surat itu, namun saya sama sekali tidak dapat mengertinya. Saya sungguh takut membukanya. Apa gerangan isinya? Cobalah bayangkan bagaimana perasaan anda bila suatu hari anda menerima surat dari anda sendiri akan tetapi anda tidak bisa mengingat apakah anda pernah melihat surat itu sebelumnya ?

Akhirnya, saya duduk di lekukan pekarangan di samping pintu masuk apartemen saya, dan secara perlahan membukanya. Dan didalam surat itu, saya menemukan hal yang sungguh mengejutkan.

Setelah membaliknya, surat itu dikirim oleh salah seorang saudari di Zion yang pernah bertemu dengan saya ketikasaya berkunjung ke Roma. Beliau telah meminta alamatsayadi pertemuan akhir, dan menyelipkan secarik kertas untuk menuliskan alamat. Ternyata kertas tersebut adalah sebuah amplop surat, jelaslah bagiamana sepucuk surat itu bisa tiba di alamat ku dengan tulisan tangan saya sendiri. Surat itu berbunyi seperti berikut :

Saudariku Esther,

Beberapa hari setelah keberangkatanmu dari Roma, saya melewati Felici, fotographer offisiel Vatikan. Disana ada gambar anda sedang berbicara dengan Bapa yang Kudus.. Bersama ini saya kirimkan dua lembar yang saya pesan bagimu, dan kalau kamu masih menginginkan beberapa lagi atau yang lebih besar kasih tahu saja.

Saya senang telah meminta alamatmu pada persekutuan hari  Kamis malam di St. Sylvester. Kesaksian yang anda berikan pada pertemuan Minggu dan Kamis itu sungguh merupakan inspirasi besar bagi iman setiap orang dan tentu anda telah menguatkan dan memberi harapan bagi orang- orang muda maupun orang lain yang mendengar anda ketika itu.

Kiranya anda dapat meneruskan perjalanan anda untuk memuji dan mengasihi Tuhan Yesus. Kiranya Dia selalu memberikan kepadamu kekuatan untuk memberitakan kasihNya bagi anda.

Horamt saya
Sr. Evaleen

Dan dibagian dalam surat itu, ada gambar-gambar pertemuanku dengan Paus. Saya begitu terkesima dan heran dengan semua itu. Saya dapat menangis.

Ketika saya melihat Paus, kemudian saya berkata pada diri sendiri. Tidak ada saksi lain yangmelihat bahwa saya sungguh-sungguh pernah menemuinya. Siapa di dunia ini yang akan mempercayaisaya?Adakah orang yang dapat berkata mereka telah pernah ke Roma dan bertemu dengan Paus? Tapi, Tuhan, dengan segala himatNya yang kekal, telah mengerjakan semua itu. Seorang dari secuil manusia di kota Roma yang memiliki alamat saya, menemukan foto pertemuan saya dengan Paus. Dan itulah foto yang merupakan mujijat yang terlalu besar untuk saya pahami. Oh, betapa besar anugrah dan hikmat Bapa di Sorga, dan rasa humorNya yang luarbiasa. Sudah barang tentu surat itu menjadi pusat perhatian saya, tiada bandingannya dari segala surat yang pernah saya terima.

Pada hari Sabtu sebelum Hari Natal, saya menerima telefon. “Shallom Esther, ini Russel More sedang berbicara. Masih ingat dengan ku?" Tentu , saya ingat. Dia adalah salah seorang dari kelompok Penelaahan Alkitab dan team kesaksian dimana saya bergabung setelah saya kembali ke Israel di tahun 1977. Saya tidak pernah lagi mendengar beritanya sejak saat itu, akan tetapi saya sangat bersukacita karena dia sekarang ada di Israel.

Berapa lama anda akan tinggal disini ? Dan kapan anda bisa mengunjungi saya?saya bertanya padanya.
Saya sedang dalam perjalan dengan seorang temansaya dari Sekolah Alkitab kami di Alabama, namanya Harold. Kami sekarang sedang berada di Nahariya, akan tetapi, kami akan datang ke Yerusalem pada tanggal 22 Desember, sehingga kami akan mengunjungimu. Akan tetapi, satu hal telah tejadi dalam diri ku sejak pertemuan kita terkahir, dan saya kira lebih baik menceritakan semuanya padamu.

Lalu beliau mulai memberitahukan kepada ku bahwa satu tahun sebleumnya, dia mulai menderita sakit di bagian kaki sebelah kanannya. Di bagian itu ditemukan sebuah tumor ganas, yang dapat menyebabkannya sangat menderita, maka kakinya harus diamputasi.

Saya sedang berencana untuk datang ke Israel pada musim gugur, ketika mereka menemukan bahwa kanker itu telah menyerang paru-paru saya, maka saya ingin berada disini sekali lagi sbelum saya pergi ke rumah Bapa.

Saya sungguh tergerak dengan apa yang dia katakan. Russel dan Harold tiba seminggu kemudian, dan ketika Rusel berjalan di pintu, air mata saya mulai menetes. Dia telah banyak sekali mengalami penurunan berat badan dan berjalan dengan bantuan tongkat karena kaki palsunya. Semua rambutnya telah gugur karena pengaruh pengobatan kemoterapi, dan kulitnya sudah berwarna abu-abu. Dan lebih buruk lagi, beliau mengalami berbagai kesulitan besar dalam bernafas karena tumor yang berkembang di paru-parunya. Akan tetapi, air mata saya mengalir bukanlah karena ini semuanya, melainkan karena saya tidak pernah merasakan kasih Yesus melalui orang lain dalam kehidupan saya, sebagaimana yang saya rasakan melalui Ruseel ketika dia berjalan melaui pintu di sore hari itu.

Kunjungan kami bersama adalah suatu kesempatan yang patut dikenang. Dan ketika dia dan Harold pergi beberapa saat kemudian, kami bertiga, Sid, Betsy dan saya sendiri, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali duduk dan merenungkan apa yang telah terjadi, sebagai suatu pengalaman yang sungguh terlalu dalam untuk diungkapkan dengan kata kata. Karena rahasia Ruseel adalah bahwa dia mengetahui dia akan segera pergi dalam waktu tidak lama lagi, oleh karena itu tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain dari membagi kasih Yesus sekalipun dalam kesempatan kecil yang masih dia miliki. Ketika dia berjalan ke luar rumah kami, kami menyadari bahwa waktunya sungguh singkat bagi kita semua. Dan segala sesuatu tidak ada yang lebih penting kecuali membagikan kasih Yesus, yang telah kita rasakan bersama. – ya tidak ada yang lebih penting.

“Ya Tuhan, saya berseru kepadaNya dalam hati. “Tolonglah saya untuk tidak menghindar dari tugas yang ada di hadapanku. Sebab apakah yang lebih peting dalam kehidupan kami selain dari membagikan kasih Mu? Apa sesungguhnya yang lebih berharga bagiMu jika kami satu hari kami akan berdiri dihadapanMu, kecuali apa yang kami lakukan dengan ketaatan demi kasihMu terhadap sesama kami. 

Pagi berikutnya, persis setelah sarapan pagi, Tuhan memberikan saya perintahyang agak tegas. “Saya menginginkan kamu untuk menghubungi Mr. Kandishai di kantor Perdana Menteri dan menugaskannya untuk bertemu dengan Ruseel. “Saya tidak tahu mengapa, akan tetapi ini merupakan suatu perkara yang sangat sulit untuk saya lakukan. Akan tetapi akhirnya, saya bergegas juga dan menghubungi orang yang bersangkutan. Dan Mr. Kadishai, segera mengangkat gagang telefon.

“Eileen, bagaimana kabarnya ? Mengapa tidak lagi mengabari saya sejak pertemuan kita dahulu sampai sekarang ? Dia adalah seorang bendahara.

Saya membalas sambutan hangatnya, dan kemudian mengatakatan sambil berdoa dengan sepenuh hati, "Mr. Kadishai, apakah Bapak masih ingat pembicaraan kita ketika saya berkata kepada bapak tentang perbedaan antara apa yang disebut dengan orang Kristen tradisi yang telah menganiaya bangsa kita dan orang Kristen yang sungguh sungguh memiliki Yesus sehingga bersedia membagi kasih-Nya bagi negara Israel dan bagi orang Jahudi lainnya ?

Ya, tentu, saya masih ingat, ujarnya.

"Ya, kemarin, seorang pemuda datang mengunjungisaya dari Amerika Serikat, dia seorang Kristen yang sungguh percaya pada Yesus. Usianya baru dua puluh tiga tahun, dan dia sedang menderita sakit kanker. Dan dia sangat mencintai Israel sehingga dia sangat berkerinduan untuk datang kesini walau sekali lagi sebelum dia mati”. Dan dengantaat pada Tuhan, saya meneruskan percakapan, "Apakah ada kemungkinan baginya untuk bertemu dengan bapak, sekedar berksempatan untuk mengungkapkan kasih itu ?”

Mr. Kadishai, segera menyambutnya. “Tentu, bawalah dia sekarang juga bila kamu berkenan."

“Saya sendiri belum membicarakan hal ini dengan Ruseel sebelumnya, jadi saya kami tidak akan bisa lagi datang hari ini. Bagaimana dengan besok? Dan apakah dia boleh membawa temannya? Maka kami sepakat bahwa kami bertiga akan menemui beliau dikantornya jam 12.00 siang tanggal 24 Desember 1979, persis satu hari sebelum Puncak Hari Natal.

Ketika saya menghubungi Ruseel dan Harold untuk memberitahukan berita ini, mereka begitu heran dan merasa sangat diberkati, dan pagi berikutnya, kami bertiga berangkat menuju kantor Perdana Menteri. Mr. Kadishai telah meninggalkan nama-nama kami di meja resepsi,sehingga kami diberi hak untuk memasuki kantor internal tanpa perlu pemeriksaan security.

Segera setelah Mr.Kadishai dan Russsel berjabat tangan satu sama lain, ikatan persaudaraaan telah terbentuk diantara mereka, dan mereka duduk dan saling berbagi selama satu setengah jam berikutnya. Saya sudah mengatahui bahwa Tuhan telah memberikan hak istimewa bagi Harold dan saya hari itu, hanya sekedar berada di sana untuk menyaksikan jamahan kasih Tuhan melalui saudara kami Ruseel dengan cara yang luar biasa.

Sehari beriktunya, kami menikmati makan malam besama dirumah di rumah dengan teman setempat untuk merayakan Natal,  tentu Russel dan Harold diundang untuk bergabung dengan kami. Dan setelah makan malam, mereka berdua meninggalkan kami dengan pesan Natal yang tidak peranh telupakan oleh kami semua. Sehingga, saya membiarkan Russel dan Harold berbicara kepada mereka, sebab kesaksian mereka juga memberikan perincian tentang kunjungan kami ke kantor Perdana Materi. Karena Rlusel mengalami kesulitan dalam bernafas, dia hanya sedikti berbicara kepada kami, tapi apa yang dikatakannya kepada kami benar-benar kasih karunia, karena memang dia memerlukan banyak energi untuk berbicara dengan kami. Sungguh sore hari itu tidak pernah terlupakan, suatu percakapan dengan cara yang jelas, arti Natal yang sesungguhnya.

Russel Mooree,
Hari Natal 1979
Yerusalem Israel

Kira-kira dua tahun yang lampau, saya berkesempatan untuk mengunjungi Israel dengan sekelompok mahasiswa, diantaranya adalah Esther Dorflinger. Kami menghabiskan waktu tiga minggu di Yerusalem untuk belajar, dan tiga minggu selanjutnya kami bersaksi di taman-taman,  pusat perbelanjaan dan di seluruh Israel. Saya tidakakan pernah melupakan musim panas itu dan kerya  Tuhan dalam hati manusia. Sejak saat itulah saya memutskan bekerjasa sama dengan orang-orang Jahudi dan untuk menjadi saluran berkat bagi bangsa Israel. Sehingga, pada akhir tahun 1977, saya mulai membuat rencana untuk datang kembali ke Israel tahun 1978 untuk bekerja di Kibbutz yang telah pernah dikerjakan oleh seorang temansaya.

Saya saat itu ada di Sekolah Alkitab, dan pada akhir semester di bulan Mei, saya mulai merasa sakit di bagian kakisaya. Saya pergi ke dokter, dan beliau menduga itu adalah karena endapan aklsium dan memberikan saya resep untuk membantu mengatasinya. Saya memakan obat selama berbulan-bulan sementara saya terus merencanakan perjalanan ke Israel. Tuhan telah mengirimkan uang dan segala sesuatu yag saya perlukan. Dan sepanjang waktu, saya terus berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkan lututsaya. Saya menyadari bahwa Tuhanadalah satu-satunya Tabib yang mampu menyembuhkan setiap orang. Bukan para medis atau siapapun yang mampu menyembuhkan. Kesehatan berasal dari Tuhan.

Tanggal 17 Juli tiba, dan saya telah berharap untuk bersiap-siap pergi ke London dan selanjutnya dari London ke Israel. Ya, penerbangan sangat padat sehingga hari itu saya pergi lagi ke dokter. Beliau merontgen kaki saya, dandokter ituberkata: “Russel, tampaknya ada sesuatu yang tidak beres dengan tulangmu. Kami memerlukan anda untuk opname di rumah sakit. Lalu , saya berkata “Puji Tuhan.

Lalu saya pergi ke rumah sakit. Hari Jumat itu, mereka scanning tulang saya, dan pada hari Sabtu, mereka mempelajarinya dan berkata tampaknya ada tumor ganas, di bagian kepala fibula, dan mereka ingin mengeluarkannya. Hari Senin, seminggu kemudian,  ketika saya sudah siap untuk berangkat ke Israel, mereka berhasil mengangkat tumornya. Mereka menemukan osteogenik sarcoma, yang merupakan jenis kanker tulang. Mereka mengirim saya ke Rumah Sakti di Maryland untuk mendapatkan pengujian. Mereka idak berhasil menemukan kanker lagi di tempat lain, akan tetapi mereka ingin mengamputasi kakisaya. Lalu saya katakan, “tidak akan”, saya tidak ingin kaki saya diamputasi. Sehingga mereka mengobati saya dengan Leatrildari mulai Agustus 1978 sampai Januari 1979.

Pertama kali dalam tahun ini, saya kembali merasa sakit kembali di kaki saya, nampaknya sangat buruk dan terjadi sedikit pembengkakakn. Saya kembali menemui dokter, yang telah mel akukan pembedahan. Beliau kembali menyinari kaki saya dengan sinar X dan berkata “Oke Russ, tampaknya dia muncul lagi . Seorang sahabat Kristen kami, yang juga seorang dokter, berkata kepada kami dua tempat kemana kami harus pergi, dan saya memelih untuk menemui dokter di San Diego. Setelah mengobati saya untuk sementara waktu, beliau merekomendasikan saya kepada ke pada seseorang yang lebih ahli di bidang osteogenic sarcoma dan sedang mengerjakan spesialisasi di Houston. Saya berada di Houston dari bulan Maret 1979 sampai Juli 1979, dan selama bersama dokter Kristen ini, ribuan orang berdoa buatsaya.

Mereka telah melakukan yang terbaik yang dapat mereka lakukan untuk menyelamatkan khakisaya. Akhirnya ternyata tumour itu berkembang begitu cepat di kaki saya yang mengakibatkan pembengkakan yang mengerikan pada lututsaya. Maka akhirnya, sekitar tanggal 1 Juli , kami memutuskan untuk melakukan sesuatu karena tubuh saya sudah mulai kebal dengan obat-obatan. Obat-obat itu memang menghancurkan tumor tersebut tetapi tumornya lebih cepat berkembang. Perkembangnya begitu cepat, sehingga ditakutkan bisa-bisa akan muncul di bagian lain tubuh saya, maka kami memutuskan untuk mengamputasi khakisaya. Sehingga pada tanggal 16 Juli, saya menjalani amputasi.

Dapatkah anda membayangkan seseorang dapat memuji Tuhan untuk itu?sayalah itu orangnya, karena saya telah menderita karenanya selama berbulan-bulan. Sebelum amputasi, saya hanya bisa duduk di atas meja dengan kakiku ditopang bantal, dan sering sekali saya hanya berpikir, "Tuhan, mengapa Engkau tidak membunuh saya saja," karena rasa sakitnya luar biasa.  Saya selalu mncatat kapan saya terakhir makan obat penenang. Dan saya hanya bisa tidur krang lebih satu jam malam hari, dan terbangu, barangkali tidur lagi kemudian. Inilah yang terjadi ketika saya berada di Houston, sehingga,  setelah saya kehilangan khaki saya, tidak ada lagi rasa sakit.

Ada nats Akitab yang saya ingin bagikan dengan anda. Tertulis dalam Masmur 90 dan berkata :

Kembalilah ya Tuhan, berapa lama lagi ? dan  sayangilah hamba hambaMu. Buatlah kami bersukacita seimbang dengan hari hari engkau menindas kami, seimbang dengan tahun tahun kami mengalami celaka. Maz.r 90:13,15).

Dan anda mengetahui, saya telah melihat Tuhanmenggenapi nats ini, sejak saya kehilangan kakisaya. Saya mengklaim nats ini, dan saya juga mengklaim nats dalam Ayub dimana dikatakan :

Job 42:12  TUHAN memberkati Ayub dalam hidupnya yang selanjutnya lebih dari pada dalam hidupnya yang dahulu;

Tuhan sungguh menggenapinya. Saya sendiri harus mengakatan bahwa beberapa bulan terakhir, sejak bulan July, telah menjadi hari-hari yang paling bahagia dalam kehidupanku

Akan tetapi, saya masih mengalami perkara-perkara yang lain. Dalam bulan Oktober, saya harus dirontgen kembali. Saya diminta untuk melakukan pemeriksaan sinar X kembali. Dengan jenis kanker ini, sering sekali menyebar ke bagian paru-paru. Sehingga, saya  kembali disinar dan hasilnya tampak sangat baik.  Saya menjalani sinar X berikutnya dua minggu kemudian, karena saya masih menderita sakit di bagian dada dan masalah-masalah lainnya, dan dalam tempo dua minggu, tumor itu telah menyebar di bagian paru-parusaya. Para dokter memberitahukan saya sekitar tanggal 1 November bahwa apabila kanker ini tidak berhenti dalam tempo dua minggu, saya tidak akan memiliki paru paru lagi. Yang bisa dilakukan dokter hanyalah memberikan pengobatan kemoterapi, yang sangat bertentangan dengan kondisiku. Akan tetapi saya harus merelakannya, dan saya telah menjalaninya dua kali, dan dengan ajaib Tuhan menolong. Dua dari tumor saya telah hilang, dan ada kanker yang menghambat saluran udara, akan tetapi sekarang tidak lagi. Pada suatu hari, saya harus masuk rumah sakit jam 1.00 dini hari. Setelah saya berbicara di malam itu tentang Yesus dan memberikan kesaksian saya, paru-paru saya yang penuh dengan cairan, dan sekarang tidak lagi. Para dokter menyedot cairan itu dan memasukkan bahan yang disebut tetrasiline. Akan tetapi, saya mengembalikan kemuliaan bagi Tuhan. Dia hadir dalam obat obatan. Dia menggunakan obat-obatan, Akan tetapi, apabila Dia tidak turut bekerja, maka tidak akan ada obat yang berfungsi sama sekali.

Sepanjang waktu pengobatan ini saya terus berpikir, “Seandainya saya dapat segera kembali kepada Tuhan. Jika Tuhan ingin mengambil saya kembali ke rumah, saya ingin lebih dahulu pergi ke Israel sekitar hari Natal. Sehingga saya mulai membicarakab hal itu dan mulai mengembangkan gagasan.

Saya opname di rumah sakit selama tiga minggu, sekita dua minggu lalu, yakni pada hari Senin, saya masih lemah karena kemoterapi, akan tetapimasih berharap untuk pergi ke Israel hari Jumat berikutnya.  Saya menyampaikan hal itu kepada rekan-rekan saya Kristen dan mereka tidak begitu setuju. Hari berikutnya, dokter datang dan berkata “Russel, kapan kamu mau keluar?" Meskipun saya masih lemah dan tekanan darah saya sangat rendah, dia berkata “Tampaknya kamu sudah bisa pulang ke rumah”. Sehingga pada hari Kamis, mereka memperkenankan saya keluar dari rumah sakit.

Saya mulai menghubungi melaui telephon untuk mengetahui apakah saya bisa berkunjung ke Israel. Apakah anda percaya saya membooking penerbangan di hari Minggu berikutnya? Sehari berikutnya, kedua dokter saya sepakat dan memperkenakan saya pergi, asalkan hari Selasa sampai Minggu, saya relax dan mengalami pemulihan tenaga. Anda tidak akan percaya kalau hari Selasa, saya masih begitu sakit dan lemah sehingga saya tidak bisa msakan apapun, dan Tuhanmenolong saya dengan ajaib. Saya punya dua paman yang sangat baik lucu, Mereka datang mengunjungisaya sehingga selera makan saya pulih kembali. Tuhan telah mengatur perjalanan ini dengan penuh mujijat dan kemuliaanNya.

Saya akan akhiri dengan perkara yang menarik yang telah diperkenankan Tuhankemarin. Ester sedang berbicara dengan pimpinan Perdana Menteri tentang keberadaanku, yakni Mr Kadishai, tentang fakta bahwa saya menderita kanker stadium akhir akan tetapi masih berkeinginan untuk datang ke Israel, maka beliau ingin bertemu dengan saya, sehingga kami mengunjungiyan kemarin.

Kami menghabiskan waktu satu setengah jam dengan beliau. Mr Kadishai dan saya berbicara tentang Alkitab. Saya membagikan sesuatu dengan beliau yang telah saya persiapkan dari bagian Pendahuluan Roma 10 tentang kekhususan Israel dihadapan Tuhan, semua perjanjian yang telah dibuat Tuhandengan bangsa Israel, dan selanjutnya tentang fakta bahwa Yesus telah menggenapi pelayananNYa di bumi bagi ummat Jahudi,  Saya selanjutnya berkata bahwa orang-orang Jahudii tetap tidak percaya sampai semua orang-orang bukan Jahudi ditambahkan kedalam orang Jahudi yang sesungguhnya. Lalu beliau membaca nats tersebut, dan kami menghabiskan waktu indah bersama-sama.

Kami tertawa dan berbicara panjang lebar, bahkan mebaca bersama-sama nats dalam kitab Ibrani. Beliau mencoba memberikan segala sesuatu kepada kami. Beliau memberikan sebuah buku pada saya berjudul “White Nights" yang ditulis oleh Mr. Begin ketika beliau berada di penjara Rusia. Dan selanjutnya beliau berkata “ saya akan minta Mr. Begin membubuhkan tandatanganya bagi anda." Lalu beliau masuk ke dalam dan Mr. Begin menandantanganinya.

Akhirnya, kami siap berangkat. Kami telah menyita waktu beliau. Beliau tidak pernah berkata atau menyuruh kami untuk pergi, akan tetapi, kami menyadari bahwa beliau adalah orang yang sangat sibuk. Beliau juga memberikan sebuah buku kepada Harold dan menandatanganinya. Beliau menerima lembaran yang telah saya siapkan, aya katakan kepada beliau: “Saya menginginkan agar Bapak membaca Roma 10, dan bila Bapak mempelajarinya,  Bapak akan mengerti dengan baik.

Ketika kami akan berangkat, beliau berjalan melintasi ruangan ke kantor lainnya, dan ketika beliau datang kembali, beliau membawa serta Mr. Begin. Sehingga kami berjalan sembari menjabat tangan MR. Begin. Beliau berkata kepada Harold “Tuhanmemberkatimu hai anak muda!. Dan kepada saya beliau berkata:" Tuhanbesertamu anakku." Itulah yang terjadi kemarin. Dan kami juga menemui Dr. Gen Elissar, yang sekarang menjadi duta besar untuk Mesir, ketika beliau datang untuk satu menit. Sungguh mengherankan bagiamana Tuhanturut bekerja sehingga segala sesuatunya berlangsung seperti itu.

Harold
Hari Natal
Yerusalem, Israel

Saya akan menyampaikan beberapa kesaksian saya kepada anda, dan bagaimana saya bisa bertemu dengan Russel, dan mengapa saya berada disini bersama dengan dia.  Saya harus berkata kepada anda sedikit tentang latar belakang saya agar anda dapat memahaminya.

Saya sangat bertrimakasihr karena anda telah menerima kamidan membagi waktu dan kesempatan anda bersama dengan Russel dan saya sendiri. Ini adalah suatu hari yang sangat istimewa dan benar benar istimewa bagiku, karena inilah hari Natal yang kedua kalinya sejak bebas selama sebelas tahun terakhir ini. Saya telah menghabiskan waktu sembilan tahun di penjara. Dan tentunya, hari Natal di penjara bukanlah kesempatan yang menyenangkan karena sebagian besar penjaga sedang bersama dengan keluarganya dan mereka akan mengunci anda dalam sel. Anda hanya diberi makanan, itu cukup. Saya biasanya membenci Hari Natal, dan saya suka berkata: Hari apa saja, tapi jangan Hari Natal..!" Agak sedikit aneh, karena sekarang Hari Natal adalah hari yang istimewa. Saya sungguh- sungguh menikmati dua perayaan natal yang terakhir. Saya sebenarnya ingin bersama dengan ibu saya hari ini, akan tetapi mungkin penting bersama Russel pikir saya, dan Ibu saya setuju.

Saya pikir dalam hidup saya, saya telah memiliki peluang atas apa saja yang setiap orang inginkan. Di SMA, saya tergolong atlit serba bisa dan menerima beasiswa untuk masuk di 150 Perguruan Tinggi, saya menikah dengan seorang gadis kristen yang satu sekolah dengansaya. Sudah tentu saya bukanlah orang percaya. Saya begitu jengkel dengan iman dan tingkah lakunya. Saya adalah mahasiswa tingkat sarjana di Carolina Utara, ketika kami berpisah dan bercerai. Kemudian, saya mulai terikat dengan kehidupan malam, mabuk-mabukan, dan tidak lama sesudah itu saya bertemu dengan dua orang laiki-laki. Kami sedang berada di Atlanta, Georgia, satu malam, dan merekasedang menggunakan obat-obatan, satu dari orang dari mereka sudah mabuk berat dengan obat-obatan, dan kami sedang mabuk. Saya berada satu block dari mereka, ketika mereka ingin merampok sebuah toko. seorang pejalan kaki mencoba untuk membunuh salah seorang dari mereka dan mereka membunuhnya. Mereka tahu kalau mereka menmbak orang itu, akan tetapi mereka tidak tahu kalau orang itu mati. Mereka berbalik ke kenderaan saya dan mereka berkata:, "cepat", cepat!". Kami menembak seseorang". Kami pergi dari sana ke arah Greenshore,  Carolina Utara, dimana kami tinggal. Kira-kira 350 mil dari situ.

Saat berikutnya, saya bertemu dengan kedua orang ini setahun kemudian, dan mereka telah bersaksi menuduhsaya. “Kami dihukum sebagai perampok dan pembunuh bersenjata. Mereka dihukum tiga tahun, dan saya diberikan hukum seumur hidup. Saya dimasukkan ke dalam sebuah sel kecil berukuran 8x10 kaki. Saya tidak dapat katakan kepada anda betapa nikmatnya makan hari ini, karena anda tidak sungguh-sungguh mengetahui apa maksudnya menikmati makanan dan duduk dengan orang  sebelum anda masuk sel ukuran 8 x 10 ft selama dua tahun tanpa jendela. Setiap hari Jumat, jam 1.00, mereka memperkenankan saya keluar untuk mandi dan masuk kembali ke sel.

Kemudian, saya kehilangan permohonan garasi saya yang terakhir dan pergi ke Gerogia State Penitentiary. Selama lima tahun pertama, saya tidak memberitahukan kepada keluarga dimana saya berada, karena saya sangat malu. Mereka tidak berhasil menemukan saya selama lima tahun. Oleh sebab itu selama lima tahun itu saya tidak pernah menerima surat dan saya juga tidak pernah menulis surat.

Suatu hari saya menghadapi kesulitan, mereka meindahkan saya ke sel mati, dimana para narapidana menunggu giliran di bangku listrik. Dan mereka berkata kepad saya, “Selama engkau dalam penjara, kamu akan tetap berada di barisan kematian.

Saya ada disana sekitar empat bulan, dan saya berkata “ya memang betul, tidak ada gunanya untuk hidup." Tentun, saya tidak percaya pada Yesus Kristus. Saya tidak percaya bahwa Dia sungguh ada. Saya dapat mengingat seorang pemuda datang ke sel kematian untuk memberitahuku tentang Yesus. Dan saya berkata “ sebentar!", dan saya mengambil mangkuk minuman di atas komode serta menyiramkannya ke wajahnya. Demikianlah ciri kehidupansaya. Dan akhirnya saya memutuskan untuk mengakhiri hidup saya, dan saya mencoba untuk mengambil racun dari laki-laki pengantar makanan saya, yang adalah juga napi. Dan satu hari, dia berkata “ saya tidak bisa mendapatkannya." Ya, begitulahsaya. Lalu saya tanya dia, "Apa yang harus aku lakukan sekarang?"

Saya masih ingat betul berbaring di tempat tidur hari demi hari dan demi hari tidak pernah keluar dari sel. Di sana, ada sebuah kata yang digoreskan di dinding yang terbuat dari baja dan kata-kata itu hanya bertuliskan “help” (tolong!). seakan akan anda memiliki jarum dan mencoba untuk melekatkan kata “help” tersebut pada dinding logam tersebut. Itu pastii sangat sulit. Ketika saya berbaring disana, saya memandang kearah kata itu, dan saya dapat membayangkan seorang pria yang berdiri di samping tempat tidur dan menuliskannya sebelum mereka (para petugas penjara) membawahnya ke kursi listrik, yang berada persis di depan sel-sel kami. Dan saya dapat membayangkan seseorang yang sedang melakukan itu sedang memohon untuk meminta bantuan. Dan suatu malam, saya tidak akan melupakannya, saya berlutut untuk pertama kalinya dalam hidupku. Sekarang saya tidak percaya kepada Tuhan, dan doa itu kusampaikan malam itu. Saya tidak meminta tapi saya menantang Tuhan. "Apabila Engkau memangada, bila memang engkau adalah Tuhan, cabutlah nyawa saya sekarang, atau bebaskanla saya, karena saya tidak bisa mencabutnya."

Saya tidak mengharapkan seuatu akan terjadi.  Saya berada dalam kebimbangan dan saya berdoa. Akan tetapi, dua minggu kemudian, mereka minta maaf pada saya. Penjaga penjara berkata; suatu kesalahan telah terjadi, kamu tidak seharusnya masuk sel ini. Kami sedang mengurus bagimu untuk mendapatkan status  kepercayaan. Mendapat kepercayaan bagi seorang napi adalah tak ubahnya dengan menjadi seorang gubernur dalam pemerintahan. Dan saya diperkenankan untuk meninggalkan sel mati berpindah ke gedung kepercayaan. Saya juga diperkenankan untuk jalan-jalan disekitar bangunan, mengemudi truk dan sejenisnya, dan saya berpikir “Baik sekali, saya akan melarikan diri”.

Sayatbaru beberapa hari di sana, dan mereka berkata “Anda kedatangan seorang tamu." Dan saya berkata, “Saya tidak suka melihat siapapun." Anda tahu, bahwa tidak seorangpun yang mengetahui dimana saya berada, sehingga saya menduga itu hanya petugas yang datang untuk membahayakansaya. Akan tetapi, mereka menyuruh saya pergi. Dan setelah saya berbalik di sudut, kakak saya berdiri di sana. Dia lebih tua satu tahun delapan bulan darisaya. Seorang tetangga telah melihat foto saya di sebuah majalah detektif, karena kasus saya adalah kasus pidana, dan melalui itulah dia menemukan saya setelah lima tahun.

Sebelum dia meninggalkan saya hari itu, dia menceritakan kepada saya tentang seorang rekan SMA yang kini telah menjadi pahlawan perang di Vietnam. Dia tinggal bertetangga dengan kami sepanjang hidup, saya sama sekali tidak tahu dia telah pergi ke Vietnam. Dia telah kehilangan lengan, mata dan dua pertiga wajahnya telah hangus, hidungnya, mulutnya dan juga giginya. Kedua kakinya telah dipotong. Saya tidak mengetahui semua itu. Kakak saya memberitahukan semua itu kepada saya, dan sbelum dia pergi, dia berkata, "Harold, dia kini sudah menjadi pendeta." Dia memberitakan injil ke seluruh dunia, dan dia ingin bertemu dengan mu.

Saya tidak ingin bertemu dengan siapapun. Saya malu dilihat orang mengenakan baju napi. Akan tetapi, dia datang melihatmu. Dan hari ketika dia berjalan melaui pintu-pintu penjara, saya tidak akan pernah lupakan seumur hidup. Dia mengenakan seragam Marinir, sebuah patch pada mata kirinya, sedangkan tangan kirinya sudah tidak ada, akan tetapi dengan tangan kanannya, dia membawa sebuah Alkitab. Dia sudah menjalani 25 kali operasi plastik, hanya untuk memperbaiki wajahnya. Saya berjalan kearahnya dan semula saya tidak mengenal siapa dia. Sepertinya anda berhadapan dengan seseorang yang sama sama bertumbuh, dan tiba-tiba anda melihatnya, dan berkata “Hei,  siapa ini?" Akan tetapi dia hanya senyum. Dan dia bersujud di depan setiap orang yang berada di penjara itu, dan dia berdoa bersama dengansaya.Dia melihatku dan berkata: "Harold, bagaimana engkau bisa diperdamaikan dengan Tuhan?

Saya malu berkata padanya bahwa saya tidak mengenal Tuhan. Setiap hari, saya berkata Tuhanitu tidak ada. Sungguh tidak ada Tuhan. Ini adalah neraka. Mereka memperlakukanku dengan kehidupan di neraka. Akan tetapi, saya tidak dapat berkata demikian padanya.

Dia menyerahkan Alkitab itu kepadasaya. Dia menghabiskan waktu seharian penuh bersama dengan saya, dan malam harinya, ketika dia hendak pergi, saya tidak pernah melupakan apa yang sudah dia lakukan. Tangan kanannya juga terluka, dan itu hanya sebuah puntung, dia mengambil pena, lalu menuliskan empat ayat Alkitab : 1 John 1;9, 1 Pet. 2;24, Rom. 6;23, dan Wah. 3;23. Dia menyerahkan kertas itu kepada saya dan meberikan sebuah kaset kesaksiannya yang menceritakan bagaimana dia terluka di Vietnam dan bagaimana dia telah bertemu dengan Kristus. Dia berkata, apakah kamu akan berjanji kepada saya bahwa kamu akan mendengarkan kaset dan membaca ayat ayat ini ? saya menjawab : "Saya berjanji padamu, akan melakunanya." Dan disana saya berdiri dengan sebuah Alkitab ditangansaya. Setiap orang memandangiku. Akan tetapi, saya sungguh malu untuk menolaknya.

Dia berjalan ke arah pintu, dan petugas tetap menahan pintu dia berhenti dan berpaling kembali melihatku dan berkata “Harold, I love you.”Dan Tuhanmengasihimu, dan Dia sedang menolongmu. Hari itu sungguh merupakan hari pertama selama lima tahun ada yang berkata “I love you.” saya tidak pernah lagi mendengar kata-kata itu selama lima tahun. Setelah masuk ke ruang selku, dan dikunci, saya memutar kaset itu beberapa kali dan membuka Alkitab untuk pertama kalinya dalam hidupku dan membaca nats-nats yang diberikannya. Saya juga melakukannya hal ini beberapa kali, dan sampai sekitar jam 3.00 dini hari, ketika saya berlutut dan berdoa dan meminta Kristus datang kedalam hidupku.

Anda tahu, tidak mudah menjadi seorang Kristen di penjara. Saya menghadapi hukuman seumur hidup, dan saya diingatkan setiap hari bahwa seluruh sisa hidup saya akan saya habiskan di sana. Saya mulai Bible study. Hal yang paling menakutkan adalah memulai Bible study dan seseorang datang pada anda dan berkata “Apakah anda berkenan berdoa bersama saya untuk menerima Kristus?" saya tidak tahu bagaimana caranya berdoa. Saya telah memanfaatkan kaset Letnan di malam itu untuk didengar beberapa orang napi,  salah seorang dari mereka berkata “ Please pray with me”. Dan saya berkata kepada anda, bahwa itulah perkara yang paling indah dalam dunia, yakni turut ambil bagian dalam membimbing orang lain pada persekutuan pribadi dengan Yesus Kristus. Saya tidak tahu jalan hidup orang Kristen. Saya tidak teman persekutuan, dan tidak ada tempat kemana harus pergi. Saya hanya bisa membaca Alkitab. Sya tidak memakaisesungguhnya apa yang sedang saya baca, akan tetapi saya tidak punya pilihan lain.

Sekitar s atu tahun kemudian, pada suatu hari, petugas memanggil saya ke kantornya. Beliau berkata :”kamu telah dipilih untuk pergi ke luar dan berbicara di sekolah-sekolah tinggi di wilayah ini. Itu belum pernah dilakukan sebelumnya. Beliau berkata: "Kamu harus mengenakan seragam penjara, akan tetapi saya ingin kamu pergi ke semua sekolah tinggi." saya akan mengutus seorang penjaga bersama dengan anda, dan saya minta anda menceritakan kepada mereka khususnya tentang kehidupan di penjara. Saya menginginkan anda untuk menceritakan kepada mereka khususnya tentang bahaya obat- obatan. Dia bukanlah orang Kristen, akan tetapi saya tahu inilah peluang yang baik untuk berbicara kepada mereka khususnya tentang Yesus. Saya tidak pernah bersaksi seperti ini sebelumnya, dan semula saya katakan tidak karena saya malu dilihat dengan pakaian penjara. Akan tetapi, kemudian saya menyetujuinya. Dalam tempo setahun, saya sudah berbicara didepan 15.000 anak anak yang mendengarkan kesaksiansaya. Dan ketika saya beridiri disana dengan pakaian penjar saya, saya memberitahukan kepada anda bahwa Tuhansungguh-sungguh memakaisaya. Saya menerima ratusan surat dari mereka anak laki laki dan perempuan.

Saya masih ingat dengan baik tatkala di bulan Februari 1976, saya menerima sepucuk surat dari seorang gadis usia 16 tahun. Dia berkata kepada saya bahwa dia adalah pencadu obat dan diaberpacaran dengan seorang pria yang sudah menikah. Dia menulis : "Saat anda mengujungi sekolah saya para penjaga sudah menarik anda sebelum saya dapat berbicara dengan anda. Anda adalah satu- satunya di dunia ini yang sungguh saya percayai, tidak ada yang lain tolonglah saya, saya berkata kepada diri sendiri, “Dimana orang Kristen, Para Guru, Orangtua. Sehingga menyurati saya, seorang bodoh menantikan kematian di penjara, dan berkata dia mempercayai saya dan bukan yang lain. Saya berkomunikamsi dengan dia dan enam bulan kemudian saya kembali menerima surat. Dia berkata bahwa dia sudah menghenhentika obat-obatan, Dia sudah lama tidak bertemu dengan pria yang sudah menikah itu lagi, dan dia sudah Kristen yang pergi ke gerja setiap minggunya. Saya langung berlutut di dalam sel itu , dan berkata, “Tuhan, bila saya bebas dari sini, saya akan melayani Engkau, dan aku akan mengabdikan hidupnu untuk menolong anak-anak muda. Dan perkenankanlah saya berkata kepada anda bahwa bila anda sungguh-sungguh berdoa, Tuhanjuga akan memakai anda. Satu satunya kemampuan yang Dia perlihatkan adalah dengan kesediaan anda. Apabila hati anda sungguh siap, Tuhanakan segera memakai anda. Saya adalah saksi hidup dari semua itu.

Saya diwawancarai oleh dewan pembebasan bersyarat tahun 1977, dan mereka berkata “Anda masih tinggal di sini selama 37 tahun lagi. Kami tidak percaya pada rumah agama dalam penjara. Saya sudah sembilan tahun di sana waktu itu. Saya katakan kepada orang itu, bila Tuhan menginginkan saya tetap tinggal disini, saya akan tinggal disini. Akan tetapi, tuan, bila Tuhanmenginginkan saya bebas, saya juga akan bebas. Anda tidak akan bisa menghalangiNya.

Dua minggu kemudian, saya dibebaskan. Saya membuat perjanjian. Saya segera meminta Tuhanuntuk melakukan dua hal. Saya meminta Tuhan untuk memperkenankan saya bekerja dengan kaum pemuda dan mengelilingiku dengan orang-orang Kristen. Saya tidak ingin kembali ke lingkungan yang pernah kujalani sebelumnya.

Akhir Januari yang lalu saya mendaftarkan diri di Bible College di Birmingham, Alabama. Ketika saya berada disana, saya mendengar berita tentang Russel. Professor saya meminta saya mendoakannya. Beliau memberitahukan bahwa Russel ada di Houston, bahwa dia akan segera dioperasi, dia menderita kanker. Saya waktu itu menjadi pelayan di Penajara. Saya pergi kembali ke penjara dimana saya menjalani hukuman sembilan tahun 25 kali selama 15 bulan. Dan saya telah meminta orang orang disana untuk berdoa buat Russel. Orang-orang Kristen di belakang bar juga berdoa buat Russel. Saya bisa mengingat  menandatangani sebuah katu yang dikirimkan kepadanya di rumah sakit. Saya terus mendengar orang-orang bercerita tentang Russel padasaya. Dan saya memang terus mendengarnya.

Saya bertemu Russel di bulan September. Dia telah kehilangan kakinya, dan saya memandanginya, dan saya tidak yakin dengan apa yang saya lihat. Itu bukan seperti apa yang pernah saya bayangkan. Setiap orang di sekolah senang padanya, termasuk Sang Direktur. Dia ada dimana-mana. Dia telah menerima kaki palsunya dan dia tidak bisa berjalan dengan baik, dan dia masih sakit. Akan tetapi dia membawa buku bukunya, memasuki ruang klas, dengan senyum dan bersaksi bagi setiap orang, dan saya jadi mengenalnya. Pertemuan saya dengan dia hari itu sungguh istimewa. Kami langsung akrab. Dia telah mendengar tentang diriku dan dia berkata “Engkau memaklumi saya, demikian juga saya mengerti engkau, katanya. Dan akhirnya kami menjadi sahabat.

Dia minta saya berangkat ke Tana Suci bersama dengan dia, dan saya memberitahukan kepadanya bahwa saya  baru saja pergi bulan Maret sebelumnya. Saya disini, dan berdiri di GardenTobm. Setahun sebelumnya, saya masih di penjara, dan mereka telah berkata “Engkau akan mati disini". "Engkau idak akan pernah bebas lagi". Dan sekarang, saya berada di Garden Tomb. Saya tidak akan melupakan hari itu. Saya bedoa hari itu dan sungguh berterima kasih kepada Tuhankarena saya bebasan. Saya bersyukur bahwa Dia adalah Tuhanyang penuh kasih dan bahwa Dia dapat melakukan segala sesuatu yang Dia kehendaki.

Saya menyampaikan berita ini kepada Russel, dan dia berkata “Baiklah, saya harus kembali lagi ke sana”. Pada waktu itu, dia tidak mengetahui bahwa dia menderita kanker paru-paru. Ya, aku tidak bisa pergi. Saya ingin merayakan hari natal dengan keluarg saya, dan saya mejelaskan itu padanya.

Dia kemudian pergi ke rumah sakit sehari berikutnya, untuk menjalani pemeriksaan sinar X, dan membuktikan bahwa dia memang menderita kanker. Pertama sekali, mereka memberitahukan kepadanya bahwa bila mereka tidak berhasil menghentikannya, dia akan segera mati. Dia sedang duduk di ruangan tamusaya. Dan tentunya, tidak seorangpun yang ingin bercerita tentang kematian, akan tetapi Russel dan saya saling memakaidan memaklumi satu dengan lainya.  Saya menamatinya dan berkata, “Russel, berapa lama lagi menurut kamu, kamu punya waktu?" Dia baru saja kembali dari dokter hari itu. Dia memandangi saya dan berkata, "Ya, bila mereka tidak menghentikan pertumbuhan kankerku, tentunya aka tidak akan hidup lebih lama lagi kak." Dan saya berkata kepadanya: "Apa yang kamu ingin lakukan dalam hidupi, sekarang ini? Apa yang sungguh-sungguh kamu ingin lakukan Russel ? Dia memandangiku, dan saya tidak pernah melupakan apa yang telah dia katakan. "Ada tiga hal yang ingin  saya lakukan : Nomor satu,  saya akan kembali ke perguruan tinggi dan memperbaiki segala yang belum beres. Saya sungguh-sungguh ingin memenangkan jiwa-jiwa. Nomor dua, saya ingin pergi ke penjara bersama dengan engkau. Saya suka ke sana dimana engkau pernah berbicara dengan orang-orang disana Dan nomor tiga, saya ingin pergi ke Israel sebelum akhirnya  saya mati.  Saya begitu terbeban dengan orang ini.  Saya ingin bersaksi buat mereka semua."  Saya tidak sanggup mempercayai semua ini, namun itulah pernyataanya.

Saya meminta Rektor dari perguruan tinggi untuk memperkenankan Russel berbicara kepada dewan. Beliau akhirnya memperkenankan Russel tampil ke depan seluruh organisasi sekolah, dan perguruan tinggi itu,  sejak saat itu keaadaan di sana berubah sama sekali karena pengaruh pernyataan Rusel. Dia menantang mereka semua. Dan begitu banyak dari anak anak sekolah yang berkata. “Saya akan mengabdikan hidupku untuk melayani Tuhan karena Russel."

Suatu malam, seorang Bapak menelepon dan meminta  saya untuk berbicara di gerejanya. Saya bertanya kepadanya, “Dapatkah saya membawa seorang teman?" Dia setuju, sehingga saya membawa Russel. Dan malam itu,  ketika dia mulai berbicara, gereja itu tidak perna lagi yang sama seperti sebelumnya.

Dia hampir mati di malam itu, dan dini hari berikutnya, mereka mengantarkannya ke rumah sakit, mereka menahan dia disana sampai sebelum keberangkatan kami minggu lalu ke Israel.  Saya akan mengunjunginya setiap kali ada kesepakatan. Dan  saya tidak pulang ke rumah untuk acara Thanksgiving.  Saya tetap bersama Russel. Saya menjaganya berbaring disana, dan  saya tidak pernah melihat seseorang dengan semangatnya yang luar biasa. Dia bersaksi kepada para perawat rumah sakit. Dan dia juga telah besaksi kepada para dokter. Bahkan Setiap orang yang datang ke ruangannya. Dia juga bersaksi kepada para pasien lainnya. Dan dia tetap berkata kepada ku : "Ayo kita pergi ke Tanah Suci, Harold, saya mengira orang ini akan segea meninggal dan dia tidak akan perah lagi kesana, sehingga  saya berkata, tentu kawan kita akan pergi, karena saya tidak mengira saya harus pergi lagi. Akan tetapi, saya tidak bisa berkata tidak kepadanya. Dan dia terus katakan kepada ku, saudaraku, kita akan pergi."

Suatu hari,  saya datang ke kamarnya, dan dia berkata, “Sabar dulu, kamu tidak bisa masuk." Jumlah sel darah putihnya sudah menurun sampai 800, dan tentunya dia sangat sensitive terhadap infeksi, sehingga mereka tidak membiarkan seorangpun masuk dalam ruangan itu. Akan tetapi, melalui pintu yang terbuka itu dia berkata kepada  saya, "Saudaraku, berdoalah bersama saya. Berdoalah supaya jumlah sel darah putih itu bertambah dua kali lipat." Saya percaya bahwa Dia akan melakukannya. Tuhan akan membantu. Apabila jumlah sel darah putihnya terus menurun, dia akan segera meninggal.

Pagi berikutnya dia menelfon saya dan berkata : “Jumlahnya tiga kali lipat." Dia bukan dua kali lipat, tapi telah tiga kali lipat." Dia semakin pulih, dan beberapa hari kemudian, dia kembali menghubungi  saya dan berkata kepada saya :  "Apakah anda sudah siap?"  Saya berkata siap untuk apa? Dia lalu menjelaskan :  "Saya akan pergi ke El AL untuk membuat reservasi, dan kita akan berangkat ke Israel. Kita akan berangkat tanggal 16 Desember!"

Saya telah memberitahukan ibu dan saudara-saudara serta seluruh keluarga saya bahwa  saya akan datang pada hari Natal. Saya sungguh-sungguh tidak mempercayainya. “ Satu hal lagi yang harus kamu lakukan, lanjutnya, “Kamu harus bertemu dengan dokter  saya, saya telah memilih kamu sebagai pendamping saya ke Israel”. Sehingga saya menemui dokternya, dan beliau menjelaskan pada  saya tentang segala sesuatu yang perlu  saya ketahui tentang kondisi Russel. Beliau berkata kepada  saya secara tepat apa yang akan dihadapi. Beliau memandangi  saya dan berkata, “Saya ingin mengajukan satu pertanyaan kepada anda. Apakah anda siap berangkat ke luar negeri dengan seseorang yang hampir mati di tangan anda ?”  Saya tidak berkata bahwa Russel akan segera mati. Akan tetapi,  saya ingin berkata, bahwa itu diluar kekuasaan  saya, Itu ada di tangan Tuhan. Saya telah melakukan segalanya yang bisa  saya lakukan." Saya jawab. “Ya dokter, saya siap." Dokter itu kemudian berkata, “baiklah, andalah orang yang akan mendampinginya." Beliau memperlihatkan kepada saya cara melakukan injeksi (yang harus dilakukan setiap enam jam) dan yang harus disuntikkan apa yang harus dikerjakan.

Setiap orang berkata “Kamu gila melakukan ini”. Seluruh perguruan tinggi berkata, “Kamu tidak bisa melakukan ini. Kami tidak akan ambil bagian dalam pendanaan perjalanan ini, karena kami tidak akan menyetujui ide ini. Apabila engkau pergi ke sana dan terjadi sesuatu, kami tidak bertanggungjawab." Setiap orang mencoba berkata hal sama kepada saya. Dokter itu berkata, “Mereka akan menjuluki  saya sebagai dokter gila dan mereka akan memanggil kamu idiot. Saya sudah siap dan kamu? Saya menjawab “Ya”. Dan saya menghubungi ibu  saya dan memberitahukannya bahwa  saya tidak akan datang ke rumah. Saya berpikir bahwa beliau pasti kecewa. Lalu beliau berkata kepada saya. "Dengarkan, melayani Tuhan adalah perkara terbesar yang bisa dilakukan seseorang. Jangan datang ke rumah untuk Hari Natal. kamu pergi saja dengan temanmu. Kamu boleh kembali setiap kali kamu inginkan. Ibu akan berdoa untukmu."

Sehingga Russel dan  saya berangkat ke Israel. Kamu sedang melihat Russel sekarang, akan tetapi dia jauh lebih baik daripada sebelumnya. Hari kebeangkatan kami dia sangat sulit melangkah. Saya menduga memang saya gila. Di perjalanan menuju airport, dia tersenyum disepanjang jalan, dan karena sangat lemas, dia tidak mampu berjalan. Kami naik pesawat di Birmingham, dan ibu serta ayahnya sudah ada disana untuk menyaksikan kami terbang. Dan anda perlu mengetahui bahwa mereka adalah orang-orang istimewa. Ibunya adalah salah seorang Kristen yang paling baik di dunia ini. Mereka menginginkannya untuk datang ke Israel, karena mereka mengetahui apa yang dia inginkan, walaupun mereka mengetahui bahwa mereka mungkin tidak akan pernah melihatnya lagi.

Di New York, EL AL sedang menunggu kami dengan kursi roda bersama dengan seseorang yang bersikap begitu manis menyambut kami, dan kami mendapat perhatian khusus. Mereka membiarkan tempat kosong diantara kami untuk kaki Russel, dan kami ditempatkan persis dekat kamar mandi di pesawat supaya dia bisa masuk  jika ia butuh suntikan. Segala sesuatu berjalan begitu baik.

Di Israel, kami menyewa sebuah mobil, dan kami membawa orang lain dan mulai bersaksi kepada mereka sembari dalam perjalanan. Kami sampai di Haifa dan obat-obatan habis. Kami telah melipatkangandakan dosis obat karena Russel begitu letih, dan kami terus melakukannya sehingga kami kehabisan obat-obatan. Kami mengalami kesulitan komunikasi dengan para Apoteker, Russel akhirnya sepuluh jam tanpa injeksi. Sehingga dia tidak dapat memberi respons bila  saya berbicara dengannya, dan saya mengetahui bahwa apabila dia tidak diinjeksi, dia akan segera mati.

Tuhan sungguh mengajarkan  saya sesuatu melalui kejadian ini. Saya berlutut di tempat tidur dan berdoa  saya tidak pernah berdoa seperti itu seumur hidup. Akan tetapi, kami berhasil menghubungi dokter, dan dokter berkata, "Saya akan segera kesana.”  Dokter itu mulai menanyai  saya, dan  saya menjesakan segala sesuatu kepadanya, lalu beliau mengamati Rusel dan segera memberikanya injeksi. Selanjutnya dokter itu pergi ke Apotek dan membawa semua obat yang kami perlukan. Anda tidak akan percaya bagaimana Tuhantelah bekerja dan mengambil alih. Sehingga kami telah dimampukan untuk melakukan perjalanan sembari memberikan kesaksian kepada setiap orang yang kami temui.

Dan kemarin, kami memiliki kesempatan melalui Esther untuk menemui Mr. Kadishai serta bersaksi kepada beliau. Dan anda mengetahui,  saya sendiri sebenarnya tidak telalu heran. Saya katakan itu dengan jujur kepada anda, karena telah banyak yang alami dalam kehidupan saya. Saya pernah putus di penjara. Saya mengira bahwa  saya tidak akan pernah bebas kembali menghirup udara. Ketika anda kehilangan harapan, anda pasti kehilangan segala sesuatunya. Saya telah putus asa sebelumnya, dan selanjutnya  saya melihat apa yang dikerjakan Tuhan, secara berulang-ulang dari waktu ke waktu. Saya mengetahui bahwa Tuhanmampu menyembuhkan Russel. Saya tahu itu. Dan  saya tahu bahwa adalah kehendakNya bagiku untuk ada disini bersama dengan Russel. Dan kemarin,  saya tahu bahwa adalah kehendak Tuhanuntuk memakai Esther, karena Dia juga berkenan memakai orang.

Saya duduk disana dan mengamati  Mr.Kadishai, dan orang itu sungguh-sungguh tersentuh oleh kesaksian Russel. Beliau mendorong kursi roda Russel dan terus mengamati. Saya hanya bisa menyaksikannya mengagumi Russel. Dan Russel sendiri, dia duduk disana sembari bersaksi kepada beliau, dan Mr. Kadishai juga bersaksi kembali kepadanya. Esther dan  saya hanya duduk disana melihat mereka saling bersaksi, dan Esther melihat  saya seraya tersenyum.

Orang itu ingin melakukan sesuatu yang istimewa. Dan beliau mengambil gulungan kitab yang diserhkan Esther. Dia begitu bangga memperlihatkannya kepada kami.  Gambarnya terpampang di tembok. Anda melihat bahwa hal itu sangat berarti baginya. Gambar itu ada di dindingnya. Tidak ada gambar-gambar lain yang terpampang kecuali gambar para tokoh dan kejadian-kejadian politik.

Dan beliau begitu bangga membawa Mr. Begin menemui kami. Beliau membawa Sang Presiden kepada kami. Setelah satu setengah jam, kami pun berkata “ Kami tahu Bapak sibuk," dan tentunya telephone terus berdering. Lalu beliau berkata “ya memang, lalu mengambil buku yang sudah ditandatangani untuk Russel. Dan beliau bercerita kepada Mr. Begin tentang kami. Saya tidak tahu apa yang beliau katakan, akan tetapi MR. Begin keluar dan berjalan ke arah kami, dan  saya tidak akan melupakan hal itu. Beliau menjabat tangan  saya dan memandangi saya dan berkata “Tuhan memberkatimu, anak muda. Dan beliau memegang tangan  saya erat sekali. Lalu beliau berkata kepada Russel “Kiranya Tuhan menyertaimu, anakku lalu memeluknya.

Saya ingin sekali membagikan sesuatu dengan Mr.Kadishai. Akan tetapi setiap kali  saya mulai memberitahukannya tentang Russel, dia terus melangkah, sepertinya dia ingin melakukan sesuatu, karena beliau memang punya pendirian kuat. Saya ingin memberitahukannya sesuatu tentang Russel, tetapi beliau tidak memperkenankan  saya sampai selesai. Sehingga Esther berkata “katakankan, katakan sekarang." Ketika kami mulai beranjak, saya berkata “Bapak, masih ada sesuatu yang ingin  saya katakan. Suatu hari,  saya melihat Russel dan berkata kepadanya : Russel, bila engkau masih memiliki waktu empat hari untuk hidup, apakah kamu masih ingin pergi ke Israel ? aJika kamu tahu bahwa kamu akan segera mati ? Dan Russel berkata.  "Ya,  saya memang ingin mati disana. Dan  saya memberitahukan itu kepada Mr.Kadishai yang sedang berdiri di sanai. Lalu beliau memeluk Russel. Dia sungguh prihatin. Benih kasih telah tertaburkan. Itulah yang bisa kami lakukan. Anda tahu, kami tidak bisa menyelamatkan sesorang.  Saya hanya memuji Tuhan karena semua perbuatanNya ini. Dan saya bersyukur kepada Tuhan karena Russel.

Dan saya tahu bahwa kami akan kembali di Amerika Serikat. Anda lihat, sebagian besar orang tidak menduga Russel juga akan kembali. Mereka mengira dia akan kembali di tanganku. Akan tetapi, dia lebi sehat sampai hari ini daripada ketika kami berangkat. Dan saya tidak dapat menunggu lebih lama untuk menaiki pesawat. Ibunya akan ada disana. Saya ingin ibunya melihatnya, bukan menggiring mayatnya dari pesawat, tapi dia berjalan menyongsong ibunya. Saya hanya bisa bersyukur kepada Tuhan karena Dia dan berkatNya yang sungguh-sungguh dalam hidupku. Berbaring di tempat tidur setiap malam dan membangunkanku setiap jam 3.00 dini hari, untuk memberikan suntikant kepadanya dan kesaksian-kesksiannya kepada setiap orang. Kejadian ini merupakan sesuatu yang sungguh nyata dalam hidup  saya yang tidak bisa saya lupakan. Dan  saya menginginkan seandainya setiap orang di Amerika Serikat dapat menyertai saya. Dan saya tidak dapat menunggu lebih lama lagi untuk memberitahukan kepada mereka bahwa mereka salah. Karena bila anda berada dalam kehendak Tuhan, itulah hal yang paling berharga di dalam seluruh aspek kehidupan anda di dunia ini. Bila anda berada dalam kehendaNYa, anda tentunya tidak akn pernah salah. Dan tangan yang memegang orang ini, tidak akan pernah menjatuhkan seorangpun.

Anda tahu, suatu hari, kami sedang mengemudi kenderaan di jalan tidak lama setelah Russel mengetahui bahwa dia mungkin akan mati. Dia menatap  saya dan berkata “saudaraku, jangan sedih. Kembali ke Surga bukanlah suatu perkara yang buruk yang bisa terjadi bagi dirimu. Lihatlah jalan ini. Saya tidak berkata bahwa  saya akan pergi kesana mendahuluimu. Bagaimana kalau kamu satu saat menjadi sombong dan meyimpang dari Tuhan,  saya akan bilang "Tuhan ambil dia!" Dan dia berkata lagi, “Kemungkinan lain, kalau ban mobilmu kempes ketika kamu sedang mengemudi, maka  saya akan mengirimkan para malaikat untuk memberi pertolongan kepadamu." Itulah sikap hidup yang dia miliki dan itulah sikap yang telah merubah begitu banyak kehidupan orang lain dalam dau bulan terakhir ini. Saya berharap anda dapat melihat kehidupan yang telah dijamahnya. Tuhan sungguh telah memakainya. Dia telah memakai Russel lebih dari yang lain. Saya tahu hal dalam jangka waktu yang singkat. Saya akatakan kepada anda, Tuhan kita layani itu sangat besar. Dan  saya kira kami berdua adalah bukti hidup bahwa Tuhan dapat memakai setiap orang. Dan filsafat anti Kristus di dunia sekarang ini adalah meyakini bahwa orang tidak dapat berubah.

Anda tahu, orang sering berkata akau kristen, saya sudah lahir baru. Saya percaya." Akan tetapi, apakah mereka benar-benar percaya? Maksud  saya, Apakah benar mereka percayaTuhan dapat melakukan segala sesuatu. Akan tetapi, kamu harus percaya bahwa hal itu bisa terjadi. Saya telah sering melihat hal itu terjadi  dalam hidup orang ini. Dan saya bersyukur sekali kepada Dia yang telah menempatkan saya kedalam situasiynya dimana kebanyakan orang tidak diinginkan.

Adalah satu hak istimewa berada disini bersama dengan Russel,melayani menginjeksi dia dan sekedar berada disampingnya bila dia memerlukan segelas air. Hal ini telah membuat  saya menjadi Kristen yang lebih baik. Saya sudah tidak bisa sabar menunggu kembali ke penjara dan melakukan mebagikan kepada mereka disana, karena mereka juga sangat memerlukan bantuan. Mereka tidak memiliki pengharapan. Mereka membutuhkan kasih. Dan  saya tidak dapat menunggu untuk kembali ke Georgia State Penitentiar bersama dengan Russel dan memberitahukan orang-orang disana apa yang telah Tuhan lakukan dalam kehidupan Russel. Hal ini merupakan sesuatu yang dapat mereka yakini, dan ratusan jiwa akan diubahkan. Dan  saya tidak dapat menunggu lebih lama untuk mengambil bagian didalamnya. Saya sungguh bersyukur kepada Tuhan.

Saya kira saya dapat menceritakan kepada anda jutaan perkara yang telah Tuhan lakukan dalam kehidupan  saya, Akan tetapi,  saya akan menceritakan satu kisah sebelum saya mengakhirinya, yaitu tentang seseorang yang baru  saya kenal di musim panas ini. Saya sedang berada di penjara Florida selama tiga hari Penginjilan. Kami menghabiskan waktu mulai dari Jumat, Sabtu dan Minggu memberikan kesaksian kepada para narapidana disana. Kami akan makan bersama dengan mereka dan pergi jam 8.00 pagi dan kembali jam 8.00 malam. Hari pertama disana  saya melihat seorang pemuda ganteng. Beliau dapat menjadi seorang bintang film. Disana seluruhnya ada 850 jiwa, akan tetapi dia lain. Hari pertama, dia tidak berbicara dengan saya. Akan tetapi, hari kedua, dia berjalan kepada  saya dan memberikan amplop kepada saya. Lalu beliau berkata, “Anda membacanya di motel, nanti malam!

Malam itu saya membukanya, dan  saya tidak akan pernah melupakan apa yang  saya baca. Orang ini seorang pembunuh kelas kakap. Seseorang telah memberikannya uang $5.000.00 untuk membunuh orang lain. Orang itumembawa dia ke sebuah pusat perbelanjaan, lalu dia berkata “Lihat mobil Kadilak berwarna putih itu? Kalau seseorang keluar dan masuk dalam mobil kamu membunuhnya." Lalu  dia membunuhnya.” Ketika seseorang datang dan mendapatkan mobil Kadilak itu, dia mengambil senjata dan mencoba untuk membunuhnya. Dia tidak mengetahuinya, tetapi dia dia melumpuhkan orang itu mulai dari leher ke bawah. Hari berikutnya, dia membaca di sebuah media masa bahwa dia telah menembak orang yang salah. Kemudian dia ditangkap. Kisah yang sedang saya bacak itu adalah sebuah artikel yang ditulis oleh seorang reporter media massa, karena telah menjadi kasus sensational di seluruh Miami, Florida. Orang yang telah membayarnya untuk membunuh orang itu adalah seorang milioner dan orang yang ditembaknya juga adalah seorang milioner. Sehingga, orang yang membayarnya menyadari bahwa bisa jadi dia akan menghianatinya sebagai orang yang bersalah, maka diamendatangkan pengacara terbaik yang dapat dibeli dengan uang.

Hari sebelumnya, mereka kepengadilan, dia berbaring di selnya. Dia merasakan sesuatu dibawah tempat tidurnya. Lalu dia menggapainya dan menemukan bahwa ada Alkitab Perjanjian Baru ukuran Kecil yang telah dibagibagikan Lembaga Gideons disana. Dan untuk pertama kali dalam hidupnya, seperti ketika  saya berada di penjara, dia membukanya dan dia mülai membaca. Lalu dia bersujud dan meminta Kristus untuk masuk kedalam hidupnya di malam itu juga. Pagi berikutnya, dia berjalan ke ruang pengadilan. Ruang pengadilan itu begitu padat. Disana ada kamera TV dan penuh dengan wartawan yang ingin mendengar tentang pengadilan sensasional ini. Ia berdiri dan berkata “Yang terhormat,  saya ingin membebaskan semua pengacara, saya tidak memerlukan mereka. Tadi malam  saya telah mejadi seorang Kristen. Saya memohon belas kasihan dihadapan anda sekalian. Bapak Hakim  saya harus menydari dalam sepanjang hidup  saya bahwa sayalah yang menyebabkan kelumpuhan Bapak diseberang sana. Sekarang juga, jika beliau menerima itudalam hatinya,  saya minta diampuni. Saya ingin bersih dan  saya akan menceritakan siapa telah membawayar  saya, dan dia melakukan hal itu. Para hakim menghukumnya empat puluh tahun dan menghukum orang yang membayarnya selama tiga puluh tahun.

Saya tidak dapat menunggu sampai besok pagi untuk kembali  ke penjara itu untuk bertemu dengan orang itu dan menghabiskan waktu seharian bersama dengan beliau. Dia sudah ada di penjara selama empat tahun ketika dia memberikan surat itu pada saya. Dia tersenyum melihatku. Dia adalah seorang yang paling bahagia yang penah anda temukan dalam kehidupmu. Dia memimpin sebuah Bible Study di penjara itu. Pendeta penjara itu berkata kepada saya, “Orang itulah yang pendeta bukan saya." Para petugas jaga membawa anak-anak mereka yang kecanduan obat-obatan agar dia dapat brsaksi kepada mereka. Saya menghabiskan waktu seharian bersam danean dia, dan kami berkomunikasi sekarang setiap minggu. Dia berkata kepada saya “Harold, saya tidak tahu kapan saya akan bebas. Saya mendapat hukuman empat puluh tahun. Dan dia sekarang sudah berusia 30 tahun. Lalu dia berkata:” akan tetapi Harold, bila saya keluar, saya ingin melakukan seperti yang kamu lakukan. Dan bila saya bisa menghentikan satu orang saja yang sedang berjalan di jalan yang pernah saya lakukan, hal itu cukup bagi saya.

Pada tanggal 15 Januari, persis tiga minggu sebelum Presidential Prayer Breakfast dijadwalkan untuk dimulai, saya menerima jawaban surat saya dari Dr. Robinson. Beliau menuliskan pesan-pesan berikut :

Saudariku Esther

Kartu dan catatan anda yang dikirimkan tanggal 23 adalah yang pertama dari tumpukan surat dalam kotak pos saya selama Musim Liburan. Saya segera menjawabnya.

Saya yakin bahwa anda pasti mengetahui bahwa anda sangat terkesan dalam hati dan doa kami sejak kami bertemu dengan anda di Yerusalem dan anda telah bersaksi tentang iman anda dengan kami. Terima kasih banyak atas semua yang telah adan berikan dan anda juga telah melakukan hal yang sama bagi rekan-rekan istimewa kami, Yoders. Kami telah berhubungan dengan para pewakilan travel kami dan mereka telah memberikan kami laporan yang paling bagus tentang kasih dan kepedulian yang telah kamu berikan kepada Berla dan Rufus. Tidak ada yang bisa kami lakukan selain berterima kasih kepada anda, sungguh, kasih anda telah tertanam dalam seluruh kepribadian kami dan bahkan telah menambah pengalaman kami. Meskipun demikian, kami menyadari bahwa didalam ini Tuhan sedang bekerja untuk mencai tujuanNya yang kekal. Amin.

Harap sampaikan salam kami kepada saudari kami Betsy dan Sid Rigel. Mereka tampaknya sangat terkesan dengan kepribadian maupun iman dan keyakinan anda. Saya bersyukur kepada Tuhan atas mereka dan kepemimpinan mereka bersama dengan anda pada waktu yang sangat mengesankan dalam mengembangkan visi dan pelayanan anda.

Jarang sekali saya merasakan desakan Roh Kudus dibandingkan dengan apa yang saya rasakan dalam "keinginan" agar anda bisa hadir di National Prayer Breakfast tahun ini. Sampai sekarang saya belum melihat pintu terbuka, walaupun dua orang senator panitia  keja sama dengansaya dalam hal itu. Tetapi saya yakin bahwa bila Dia berkenan, kita akan tahu waktu pada waktunya. Saya akan memberitahukan anda melalui kabel segera setelah saya ketahui. Memang benar, tampaknya tidak ada kemungkinan untuk melakukan hal itu sekarang ini. Akan tetapi, Dia tahu semua tentang it., Amin.

Sementara itu, jangan lupakan kami  dan teruslah berdoa agar KehendakNYa yang terjadi.

Tuhan memberkati,
Dalam persektuan Kristen
Clifton J. Robinson

Tampaknya sangat tidak mungkin bagi saya bahwa dua orang senator sedang bekerjasama dengan beliau untuk mengurus undanganbuat saya. Tampaknya seperti impian belaka. Akan tetapi, kemudian pada tanggal 23 Januari 1980, saya menerima perintah dari Tuhan bahwa pada tanggal 27 Januari, saya harus berangkat dengan Iman ke Amerika Serikat, dan saya harus mengirimkan telegram segera kepada Dr Robinson yang memberitahukannya tentang rencana saya. Tuhan meneguhkan selanjutnya bahwa setelah tiba di Amerika Serikat, saya akan terus kerumah Russel di Alabama, sebab dia sangat merindukan saya datang mengunjunginya. Lalu saya memutuskan  untuk mengirim telegram pada Dr. Robinson, lalu hari berikutnya, telegram jawaban berikut tiba :

SELAMAT DATANG BERIKAN JAM KETIBAAN PESAWAT SEHINGGA KAMI BISA MENEMUKAN PESAWAT ANDA TETAP PERCAYA TUHAN AKAN MEMBERI KESEMPATAN KEPADA   ANDA UNTUK MENYAMPAIKAN BERKAT DALAM ACARA PRESIDENTIAL PRAYER BREAKFAST.

DR. CLIFF ROBINSON “

Hanya lima belas hari sebelum acara National Breakfast, pintu masih belum dibukakan.

Ketika saya tiba di Birmigham, Russel dan ibunya menemui saya di airport. Saya tidak dapat membayangkan betapa sulitnya hal itu baginya, sebab dia sangat menderita sakit. Saya memghabiskan waktu lima hari bersama dengan keluarga Moore, dan menyaksikan langsung betapa hebatnya iman orangtuanya. Russel tidak dapat tidur lebih lama sepanjang malam, sebab dia batuk terus dan mengeluarkan darah. Ibunya tetap setiap mendampinginya sepanjang malam, dan Tuhan sendirilah yang memberinya kekuatan untuk menanggung semua penderitaan anaknya. Dan yang paling penting, Russel sendiri sangat prihatin dengan kebutuhan orang lain.

Ketika saya menghubungi Dr. Robinson, beliau menjelaskan bahwa keinginan saya untuk datang ke Amerika adalah langkah iman di atas air, karena saat itu, Laut Merah sedang terbelah. Detik detik setelah telegram saya tiba dan beliau telah dijawabnya, beliau telah menerima pemberitahuan bahwa saya telah memperoleh undangan internasional resmi dan bahwa saya akan mewakili bangsa Israel di acara National Prayer Breakfast tanggal 7 Februari 1980. Saya sudah tahu bahwa Tuhan akan menghargai iman perjuangannya.

Russel dan saya bercakap-cakap berjam-jam lama, sebab pada hari kedua dia sudahterlalu sakit untuk meninggalkan kamarnya. Sering sekali dia menyebutkan seorang wanita yang sangat dia inginkan untuk saya temui di Washington. Namanya adalah Marian Johnson, dan Russel sangat suka menyebutnya "guardian angle" (malaikat penjaga). Sungguh mengherankan bagaimana Tuhan pada akhirnya memenuhi permohonannya.

Tidak seorangpun dalam keluarganya, dan tidak seorangpun yang datang mengunjunginya selama sakit, yang dapat mengerti ketidak perduliannya pada dirinya sendiri. Dia begitu rela menderita demi Yesus, sepanjang dia masih mampu menyentuh hati orang dengan kasih Yesus. Dan banyak sekali jiwa-jiwa telah disentuh termasuk hati saya sendiri. Sehari sebelum saya berangkat, dia memberikan saya uang terakhirnya dan meminta saya bersama dengan ibunya untuk membeli sebuah kamera untuk mengambil foto pada acara Presidential Breakfast. Saya tidak akan pernah melupakan itu sepanjang usia saya, semangatnya dan kasih pengorbanannya, bahkan saya yakin bahwa dia punya tempat khusus di hati Tuhan.

Pada tanggal 1 Februari, saya meninggalkan Russel untuk menghabiskan waktu tiga hari di Nasville, Tennesse, mengunjungi seorang wanita bernama Marie Rice. Marie adalah mutiara yang sangat berharga, ke terbukaannya dan kesadarannya yang tinggi tentang Tuhan sungguh terpancar. Dia termasuk pada orang-orang pamer jalanan sebelum Tuhan menjamah hidupnya.

Dan ketika Dia menyentuh hatinya, dia berkata kepadaNya, “Bapa, utuslah saya kepada mereka yang tidak mendapatkan pertolongan dari orang lain. Tuhan menjawab sesuai dengan apa yang dia ucapkan, dan banyak wanita pelacur, pecandu obat dan penjahat yang dibawa kepada Tuhan karena Marie sangat peduli dan merindukan untuk membawa mereka kedalam kasih dan terang Tuhan.

Saya belum mengenal betul wanita ini sebelum kunjungan ini, akan tetapi, rekan-rekan meras bahwa barangkali dialah yang harus menulis buku kisah perjalanan saya dengan Tuhan. Saya sangat enggan untuk memindahkan buku itu dari mesbah, dimana buku itu ditempatkan sesuai dengan keinginan rekan-rekan di Israel selama bulan-bulan sebelumnya. Akan tetapi Tuhan telah memberikan kami berdua damai sejahtra untuk melakukannya dan meyakinkan kami bahwa buku itu harus diambil dari Altar. Oleh karena saya hidup oleh iman, saya merasa tidak layak mengambil keuntungan melalui kesaksian saya atas kasih Tuhan dalam hidup saya, oleh karena itu, saya tidak merasa senang dengan cara-cara lazim dalam mempromosikan dan mendistribusikan buku itu. Akan tetapi, malam itu, setelah kami berdoa, Tuhan menjamin kami bahwa Dia akan memberikan dana agar buku itu dapat dicetak dan disebarluaskan, sehingga saya bebas untuk memberikan kepada siapa secara cuma-uma. Dan hal ini bagi saya tentunya adalah suatu jaminan besar bahwa nubuatan pertama tentang buku tersebut, kini akan digenapi Tuhan.

Malam itu, hati saya terbeban dengan hubungan Mariedan Russel, sehingga saya sangat berkerinduan untuk mendengar penderitaannya selama malam malam yang panjang. Kami menangis dan berseru kepada Tuhan untuk memberikan kemurahanNYa atas Russel. Lalu Marie berkata kepada saya “ Tuhan akan segera menyembuhkan Russel dengan cara mengambilnya kembali. Dan itulah kesembuhan terbesar. Kami berdua menagis, akan tetapi tidak lama kemudian, kami merasakan suatu kedamaian yang luar biasa dari Tuhan.

Hari berikutnya, kami menghadiri pertemuan wanita Kristen. Marie akan menjadi pembicara, dan ini merupakan suatu sukacita tersendiri untuk mendengarkan renungannya. Pemimpin pertemuan itu tidak mengetahui apapun tentang saya, akan tetapi, setelah pertemuan usai, dia berkata kepada saya “Dengar, ketika anda berjalan masuk di pintu, Tuhan memberitahukan saya bahwa ini untuk anda.“ Lalu dia mengambil kalung dari lehernya, dimana bagian ujung kalung itu adalah mahkota perak yang persis sama dengan yang pernah saya terima di stasiun radio tahun 1978. Inilah konfirmais kehendak Tuhan yang tidak dapat disangkal agar buku itu dapat diproses, dan saya sangat tersentuh dengan kasih Tuhan sehingga saya tidak dapat berkata apapun selain “Terima kasih”

Melalui ketaatan wanita itu kepada Tuhan, telah terjadi mujijat lainnya. Saya telah tiba di Amerika serikat dengan tiket satu kali perjalanan dan dengan uang secukupnya untuk melakukan perjalanan ke rumah Russel dan kemudian ke Nashiville, akan tetapi saya tidak memiliki uang yang diperlukan untuk melakukan penerbangan ke Washington. Saya harap saya akan tiba disana dalam tempo tiga hari.

Piring persembahan terletak di atas mejaj tidak jauh dari saya, dan saya melihat bahwa pemimpin pertemuan memasukkan selembar cek kedalamnya, dan beberap menit kemudan dia mengambil cek itu kembali, merusaknya lalu mengggantikan dengan cek lainnya. Dan beberapa menit kemudian dia kembali mengambil cek itu, merusakkannya lalu menggantikan dengan cek lainnya. Akhirnya, dia menjelakan kepada kami, pada akhir pertemuan. “Oleh karena Marie menjadi pembicara, Tuhan telah memerintahkan saya untuk memberikannya berkat sebesar $100. sehingga saya meuliskan sebuah cek dan menempatkannya kedalam kotak persembahan. Akan tetapi kemudian, Dia berkata kepada saya untuk memberikan hadiah juga kepada anda. Akan tetapi tampaknya tidak adil untuk memberikan anda cek yang jauh lebih besar dari pembicara, sehingga saya kembali menuliskan cek kedua dengan jumlah yang lebih kecil dari diperintahkaNya pada saya. Akan tetapi, Tuhan kembali menegaskan bahwa kamu perlu $200, sehingga saya kembali menuliskan cek lainnya.

Saya memeluknya, dan menceritakan kisah bagaimana pintu mujijat telah dibukakan bagi saya untuk menerima undangan ke acara National Presidential Breakfast, akan tetapi saya tidak memiliki uang yang diperlukan untuk melakukan penerbangan ke Washington. Melalui ketataannya, saya sekarang sudah bisa menghadirinya.

Ketika saya kembali dengan Marie ke apartemennya, Marie berkata kepada saya “ Tuhan telah memberitahukan saya untuk melihat kepermu. Jadi silahkan buka, okey? Saya menatapnya dengan serius,   tetapi sayamenyeret koper itu dan membukanya. Dia mengeluarkan baju-baju saya (yang sedikit yang saya miliki) dan dia berkata kepada saya, "Ini yang kamu rencanakan akan kamu pakai ke Wasington?"
"Ya, saya menjawab."
"Semuanya sangat jelek!"

Dia berteriak dengan penuh persahabatan, "Kamu sama sekali tidak mungkin pakai ini - Apalagi ke Washington."

Dan kemudian, terjadi perkara yang mengherankan, yang menolong saya untuk memahami sesungguhnya apa maksud Yesus ketika Dia berkata :

“Dan mengapa kamu kuatir dengan pakaian ? Perhatikanlah bunga bsayang di ladang, yang tumbuh tanpa bekeja dan tanpa memintal, namun saya berkata kepadamu : Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian. Tuhanmendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia kan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya ? Matius 6;28-30).

Lalu Marie menyodorkan pakaiannya yang paling indah yang penah saya lihat."Ayo, cobalah”. tegasnya. Dan ketika saya mencobanya, setiap sudut pakaian itu cocok sekali seakan-akan telah dijahitkan khusus untukku.

Lalu dia menjelaskan, seorang sahabatku yang kaya raya telah memberikannya kepada saya beberapa minggu yang lalu, dan saya mengetahui bahwa pakaian itu ditujukan untukmu. Maka saya mengkemasi kembali semua pakaian saya dengan semua barang-barang yang telah dia berikan kepada saya, termasuk sebuah jaket. Persis tiga hari sebelum acara sarapan pagi, Tuhan telah mencukupkan apa yang saya akan pakai. Tampaknya seperti sebuah cerita dongeng, ataupun seperti kisah Cinderalla, dan saya tahu bahwa memang saya akan pergi bersama dengan Raja.

Saya berangkat ke Wasington dengan baju-baju yang indah, sebuah tiket pesawat ditangan saya, dan $20. wang kertas. Ini adalalahbukti-bukti nyata penyertaan Tuhan dan rasa humorNya bagi saya. Dia mendandani saya dengan pakaian seperti ratu, tapi hapir tidak punya satu senpun di dompet. Tidak diragukan lagi bahwa Dia melakukan semua ini untuk menegakkan langkah-langkah ku tetap tegar.

Ketika saya tiba di Washington Dc, saya dijemput istri Clifton di Airport, bernama Betty, yang begitu ramah untuk menyambut saya tinggal di rumah mereka selama konferensi. Saya segera menghubungi rumah Russel dan mengetahui bahwa satu hari setelah saya berangkat, dia telah dipindahkan ke rumah sakit.

Halo Russ, saya berkata ketika saya menghubunginya di rumah sakit. Lalu saya memberitahukan kepadanya kisah tentang penyediaan Tuhan atas pakaian dan keperluan lainnya dan berjanji akan menghubunginya kembali setelah acara National Presidential Breakfast selesai.

"Saya masih tetap berdoa untukmu “, katanya, akan tetapi suaranya kedengarannya sangat lemah dan jauh.

Bety memberitahukan kepada saya bahwa pertemuan akan berlangsung tiga hari, dimulai di pagi hari dengan Luncheon yang disebut “Lunch with the Vice President (Makan siang dengan Wakil Presiden). Konferensi akan dilaksanakan di Washinton Hilton dan ketika saya tiba esok paginya, saya dibawa memasuki ruang resepsi para tamu internasional, yang disebut stateroom, dimana saya disuguhi secangkir kopi. Kemudian saya diberika sebuah map penuh dengan lembaran-lembaran acara selama tiga hari dan termasuk semua tiket, preservasi dan undangan yang akan diperlukan. Hadirin pertemuan tiga hari itu terdiri dari kaum politikus dan dignitary kelas dunia dari 100 negara, kebanyakan diantaranya orang yang sangat mengasihi Yesus.

Tujuan National Presidential Breakfast dijelaskan dalam bagian pendahuluan berikut :

BRIEFING tentang National Presidential Berakfast
Dan persekutuan kaum wanita dan pria di seluruh dunia.

Pada tahun 1942, di tengah-tengah perjuangan yang berlangsung dikalangan para pemimpin negara kita, telah muncul kesadaran bahwa diperlukan hubungan yang lebih erat untuk bekerjasama secara lebih baik untuk mendapatkan solusi-solusi yang tepat dalam menghadapi negara dan umat manusia di seluruh penjuru dunia. Sebagai hasil dari perjuangan kolektif dan pribadi ini, sebagian mulai berkumpul, berbicara dan berdoa bersama. Hal itu terjadi 30 tahun lampau, dan masih berlangsung sampai sekarang ini. Para anggota Senat Ameika Serikat dan Dewan Perwakilan Rakyat mengadakan pertemuan secara pribadi tentang dasar-dasar yang perlu dibicarakan, dipikirkan dan didoakan bersama, setiap minggu ketika Kongress sedang berlangsung. Pertemuan-pertemunan kecil ini akhirnya telah mencapai skore pertemuan dan bukan saja di Wilayah Anation’s capitol melainkan juga di seluruh parlemen dunia.

Adalah penting sekali untuk menyadari bahwa yang telah bekembang selama bertahun-tahun ini bukanlah organisasi atau badan agama baru, melainkan kekeluargaan dan persahabatan.

Ide ini memunculkan basis orang peorang melalui komitmen terhadap Kristus dan semua hal hal yang diajarkanNYa -- membangun hubungan dengan Tuhan, dengan keluarga, dan satu dengan lainnya. Hasil dari persahabatan ini, adalah adanya saling keprihatinan dan kepedulian satu dengan lainnya, bersama dengan pemahaman yang lebih besar berkembang meskipun masih ada perbedaan mendalam didalam pemikiran dan latar belakang.

Satu hal  penting tejadi tahun 1953 keika orang-orang yang terlibat dalam grup Senat dan perwakilan rakyat, mengundang Presiden Dwitht Eisenhouer untuk bergabung bersama dengan mereka secra pribadi untuk saling berbagi satu dengan lainnya khususnya tentang persekutuan dan persahabatan yang mereka nikmati bersama didalam Kristus. Hal ini tejadi dari kehangatan dan semangat pertemuan pertama yang telah bertumbuh melalui National Presidential Breakfast. Sekarang setiap tahunnya pada pembukaan kongres, para anggota senat dan perwakilan rakyat mengundang para pemimpin dunia yang bertanggungjawab secara praktis dari setiap negara untuk datang dan berpatisipasi. Undangan disebarluaskan tanpa mempersoalkan latarbelakang kebangsaaan, agama, ekonomi dan politik dengan keinginan yang jujur untuk semua orang dari segenap bangsa dunia guna menyadari kepentingan dan manfaat pertemuan bersama melalui kuasa Tuhan untuk menjadi satu hati dan satu pikiran. Dan untuk menyadari melalui persekutuan Roh Kudus, meskipun ada pandangan pandangan yang berbeda tentang cara untuk mendekati situasi dan masalah personal dan dunia, namun ada harapan besar melalui kuasa Tuhan”

Event pertama dalam agenda adalah “Makan Siang dengan Wakil Presiden”. Persis sebelum acara makan siang, saya berbicara kepada seorang lanjut usia, dari Kanada, tentang realita kasih Yesus. Setelah makan siang selesai, saya punya kesempatan yang luar biasa untuk berdoa baginya, dia menyerahkan hidupnya kepada Tuhan.

Ketika acara Lunchoen mulai berlangsung, saya duduk di meja yang sudah ditentukan. Acara perkenalan mulai berlangsung. Saya duduk bersama empat orang anggota DPR Inggris dan undangan lainnya, masing-masing menyebut nama dan jabatn mereka. Sementara itu saya tetap berbicara pada diri saya sendiri: “Apa yang harus saya katakan nanti? Apa yang akan saya katakan? Akan tetapi Tuhan mengingatkan saya jauh sebelumnya untuk tidak pernah malu melayaniNya, itulah keistimewaan terbesar yang saya miliki di dunia ini dan inilah yang Tuhan ingatkan hari itu.

 Pada saat giliran saya memperkenalkan diri, saya berkata “Nama saya adalah Esther Dorflinger. Saya seorang Jahudi yang percaya pada Yesus, dari Yerusalem, Israel, dan saya adalah pelayan Raja. Semuanya sepakat bahwa melayani Tuhan adalah lebih penting dari segala-galanya.

Acara makan siang itu berlangsung luarbiasa. Wakil Presiden Mondale memberikan sambutan hangat, dan ikatan persaudaraan sangat dirasakan oleh setiap orang. Mengherankan sekali buat saya bahwa saya berada disana, namun lebih mengherankan lagi adalah bahwa Tuhan telah memberikan saya kasih karunia untuk bersikap ramah dan sama sekali tidak merasa minder. Tuhan memperlihatkan kepada saya, bahwa mereka yang hidup dalam lingkaran politik dan sangat banyak disoroti mata pulbik, bisa jadi sangat kesepian dan memerlukan kasih Tuhan sebagaimana orang lainnya. Bahkan adakalanya, tekanan dari publik begitu besar, dengan demikian kebutuhan mereka akan kasih dan perhatian justru jauh lebih dalam. Kasih Tuhan yang nyata saya rasakan bagi orang-orang yang ada disana sangat menolong saya untuk tidak bersikap kaku dan saya merasakan jauh lebih dari biasanya. Pakaian yang diberikan Tuhan untuk saya pakai, sungguh menunjukkan hikmatNya juga, sebab dengan demikian saya tampak tidak berbeda dari hadirin lainnya.

Saya berjabat tangan dengan Mr.Mondale ketika beliau akan berangkat meninggalkan ruangan, dan beliau sangat antusias menyadari bahwa saya mewakili Israel, sebab baru pertama kali seorang dari Israel menghadiri pertemuan seperti itu. (Ironisnya, Israel bukanlah negara "Kristen" meskipun kekristenan secara keseluruhan terdiri dari orang Jahudi dan semua penulis Alkitab adalah orang Israel.)

Selama sore hari, ketika saya kembali ke Stateroom untuk menikmati secangkir kopi, seorang wanita Jahudi berjalan menghampiri saya, dan menjelaskan bahwa dia sangat senang karena ada orang yang mewakili bangsanya petemuan tersebut. Dia bukan merupakan bagian dari konferensi, akan tetapi tinggal di Washington dan sedang melintasi areal konferensi. Saya menjelaskan kepadanya bahwa saya adalah seorang Jahudi yang percaya pada Yesus. Tersingkaplah bahwa Tuhan sebenarnya telah begitu dalam menyentuh hatinya sejak lama. Kami berdua kemudian menghabiskan waktu sejam mengobrol bersama, dan akhirnya, dia juga menyerahkan hidupnya kepada Mesias Israel itu. Sungguh merupakan haduah yang luar biasa dari tangan Bapa.

Malam itu, saya diundang untuk makan malam di sebuah hotel dibawah pimpinan Dr.& Mrs. Robinson. Ketika saya menghampiri meja resepsi, saya diberitahukan bahwa makan malam harganya lipuluh dollar satu orang. Paginya demi menaati Tuhan, saya talh menghabiskan uang sebesar limabelas dollar di salon rambut,  sehingga uang saya hanya punya sisa lima dollar. Ya, Tuhan, apa yang harus saya lakukan? Sebab ini adalah malam formal, saya mengenakan pakaian hitam panjang, degan swaeter yang indah, dan jaket sable saya. Siapa yang percaya kalau saya hanya memiliki uang lima dolar di seluruh dunia ini? Saya menyebut nama saya, pada pelayanan sembari saya belum tahu cara mengatasi keadaan. Tetapi pelayan tersebut bergumam : Oh, Nyonya Dorflinger? Seseorang telah membayar anda untuk makan malam ini. Sehingga saya bertanya kepada diri saya sendiri tentang event yang mengherankan ini. “Mengapa saya harus kuatir? Mengapa saya harus melakukan itu? Mengapa?"

Malam itu, Dr Robinson mengundang saya untuk memberikan kesaksian, dan delapan puluh undangan semuanya telah menandatangani The Love Scrool (Gulungan Kasih). Saya juga berkesempatan menemui Senator Frank Carlson, seorang peramah, yang memimpin doa sarapan pagi di Eisenhower.

Pagi berikutnya, ketika masih sangat subuh, adalah National Presidential Breakfast. Tiga ribu orang tamu yang hadir, dari sekitar 100 negara, termasuk Presiden dan Nyoya Jimmy Carter. Sampai saat itu, Tuhan membuat kehadiran saya di sana seperti biasa-biasa saja, sebab Dia punya cara kerja sendiri. Akan tetapi pada waktu saya mulai duduk, Tuhan mengambil semua perasaan itu, dan dalam sekejab saja saya sudah dipenuhi dengan rasa kagum dan kerdil. Bagaimana mungkin saya bisa duduk sarapan pagi dalam ruangan yang sama dengan Presiden Amerika Serikat, di kalangan para politiker dari berbagai negara dunia? Tampakanya sungguh tidak mungkin dan sulit untuk dipercayai kalau saya betul betul ada disana.

Dalam program itu sendiri, terdpat kutipan berikut dari Abraham Lincoln :

"Dengan menjadi sarana yang rendah hati di tangan Bapa Surgawi kita, saya mengingatkan agar semua kata kata dan tindakan saya dapat sesuai dengan kehendakNya dan dengan demikian, saya akan memberikan syukur kepada TuhanYang Maha Tinggi, serta senantiasa menantikan pertolonganNYa”

Juga dikutip dari Amsal 3:5-6

Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan jangan bergantung kepada pemikiranmu sendiri.

Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Dia akan meluruskan jalanmu.

Selama sarapan pagi, kami dihidangkan sajian quiche lorraine yang lezat, dan saya makan seolah-olah dalam mimpi. Setelah sarapan pagi dan minum kopi, kami semua bangkit menyanyikan lagu himne yang begitu indah “Amaging Grace”, dan kemudian pesan utama disampaikan oleh Ketua DPR AS Guy Vander Jagt. Sambutannya sungguh merupakan tantangan yang dalam untuk memberikan komitment yang sangat menggerakkan hati. Lalu Presiden Carter juga memberikan pesan khusus bagi pertemuan tersebut.

Ketika saya melihat ke sekeliling ruangan tersebut, dan menyadari bahwa orang-orang ini telah berkenan meluangkan waktunya yang sibuk untuk berkumpul bersama, memuji Tuhan dan memasuki persekutuan yang indah dengan Nya selama beberapa hari. Hal ini telah membuat saya begitu bangga menjadi bagian dari masayarakat yang bebas dan demokratis, suatu tempat, dimana segalanya adalah mungkin dan saya dapat merasakan Tuhan juga berkenan. Suasana ini telah memberikan saya suatu pengertian yang dalam bahwa Dia memiliki ummatNya di segala tempat, dan mereka yang ada dalam posisi kepemimpinan dan politik, juga memerlukan kasih dan doa kita secara khusus.

Pada penutupan Doa Sarapan Pagi itu, kami semua berdiri bersatu menyanyikan dengan hikmat  menyanyikan “Haleluyah”. Kehadiran Tuhan dapat dirasakan oleh setiap orang dalam pertemuan itu dengan sangat mendalam. Sungguh merupakan moment yang sangat istimewa bagi kami semua dan juga tentunya bagi Yesus.

Setelah acara Doa Sarapan Pagi, pertemuan dibagi kedalam kelompok kecil yang tediri dari beberapa ratus orang untuk menghadiri "Seminar Kepemimpinan Naisonal". Mark Hatfiled dalam sambutan tertulisnya pada para peserta berkata

“Kami menyambut anda semua dengan sangat antusias dalam seminar kepemimpinan ini. Banyak diantara kami dalam Kongres Amerika Serikat telah menganjurkan agar pertemuan ini sungguh menciptakan suatu keluarga dalam Yesus  Kristus dari seluruh dunia. Anda akan menjadi saksi hidup dari semua kaum pria dan wanita yang mewakili berbagai negara dan bangsa. Masing masing akan membagikan buah pemikirannya tentang pengalaman dalam hidup dan bagaimana Roh Tuhan telah bekerja dalam keluarganya, masayarakat atau bangsanya. Kita semua tentunya sangat bersyukur karena kita dapat berkumpul di pagi ini. Kita semua berharap agar anda dikuatkan dan diberi semangat baru melalui pertemuan dengan wakil-wakil dunia, yaitu mereka yang mengambil keputusan utama dan terbesar dengan serius dalam hidupnya: "Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, dan segenap jiwa dan pikiranmu”

Masing masing pembicara menangkan berkat,  tetapi saya secara khusus terkesan dengan pesan yang disampaikan oleh Arthur Blessit, yang oleh ketaantannya kepada Tuhan, telah memikul salib menjelajahi seluruh dunia. Ucapannya sangat menantang. Saya sangat menyukainya, demikian juga penjelasannya tentang kunjungannya ke Israel. Beliau menceritakan bagaimana orang mengecilkan hatinya dengan beban salibnya ke Israel, akan tetapi di Israel sendiri, dia telah disambut hangat dan penuh kasih dari orang-orang Israel, bahkan telah diundang oleh Komandan Angkatan Bersenjata bagian Utara Israel untuk berbicara kepada ratusan tentara Israel.

Menjelang akhir pertemuan itu, saya mulai merasa khawatir. Saya tahu bahwa Tuhan melalui kuasaNya yang Agung itulah yang memampukan saya untuk menghadiri pertemuan istimewa ini. Saya tahu bahwa dengan segala campur tanganNya, mulai dari hal undangan bahkan pakaian, pastilah Dia punya sasaran tertentu. Maka ketakutan mulai muncul dalam hati saya, apakah saya tanpa sengaja telah kehilangan petunjuk-petunjukNya dan melalaikan sesuatu yang  semestinya saya harus lakukan. Saya sangat dipengaruhi oleh berbagai pertanyaan dan keraguan, sehingga rasanya tidak mungkin untuk berkonsentrasi mendengar pesan-pesan tersebut sampai akhir. Pada akhirnya, saya menyadari betapa piciknya pemikiran saya. Bukanlah tanggungjawab saya untuk melakukan apapun. Yang jelas, Tuhanlah yang telah mengundang saya, sehingga tanggungjawabNyalah untuk membukakan pintu bila Dia menginginkan pintu dibukakan. Disamping itu, saya mengetahui bahwa rasa takut dan ragu tidak berasal dari Tuhan, maka tidak ada yang perlu saya takutkan ataupun ragukan. Lalu saya minta Tuhan untuk mengampuni saya atas semua keraguan tersebut, menghela nafas panjang, menempatkan kembali seluruh beban ke tanganNya, dan saya mulai rileks. Pada waktu itu, Tuhan berkata kepada saya “ Angkatlah tanganmu ke atas". Pada waktu itu juga.

Dan tidak lama kemudian, seorang Senator yang bertanggungjawab dalam pertemuan mengumumkan “kita masih ada waktu beberapa menit. Ada yang ingin memberikan kesaksian singkat ?

Segala sesuatu terjadi demikian cepat, melampaui kesadaran pemikiran saya. Sebab seandainya Tuhan memberi kesempatan buat sa untuk memikirkan hal itu, mustahil saya akan berani untuk melakukan esuatupun. Akan tetapi perintah Tuhan begitu nyata, sehingga segera setelah dia membuat pengumuman tangan saya sudah terangkat di udara. Dan ternyata, sayalah satu satunya yang telah mengangkat tangan. Hanya beberapa menit kemudian, saya sudah berdiri dibelakang podium. Saya sungguh gemetar ketika berbicara dengan Senator “Anda bermaksud agar saya bisa berbicara?” tanyaku, beliau mengangguk dan memberi semangat lalu menyesuaiakan microphone.

Saya menghadap orang-orang yang berkumpul, dan saya berdoa sepertinya saya tidak pernah berdoa sebelumnya.

Saya memberikan kesaksian saya di kalangan politikus pada hari itu, dan memberitahukan bagaimana Yesus telah menyentuh hidup saya, meminta saya untuk menyerahkan anak-anak saya ketanganNYa, mengajar saya tentang pengertian komitment total bagiNya, dan menolong saya untuk memahami penganiayaan orang Kristen secara berabad-abad, menentang orang orang Jahudi, yang sebenarnya tidak ada hubunganya sama sekali dengan Dia. Selanjutnya, saya berkata pula bagaimana Yesus telah mengajarkan saya, bahwa Dia adalah penggenapan seluruh janji-janji Mesias bagi ummat Jahudi, dan bahwa setiap orang yang percaya dan yang telah menerima Mesias Israel dan Tuhan Israel tidak akan dapat lagi dipisahkan dari bangsa Israel dan nasib orang Jahudi. Saya juga memberikan penjelasan bagimana Tuhan telah memperlihatkan kepada saya bahwa bangsa Israel sekarang ini adalah merupakan penggenapan dari nubuatan Alkitab, sebagai kunci penentu bagi zaman akhir bahwa Dia sendirilah yang telah menyerahkan negeri ini bagi ummat Jahudi. Dan saya menutup dengan berkata “Bahkan nasib bangsa-bangsa akan bergantung kepada panggilan Tuhan untuk memberkati bangsa Jahudi dan negara Israel, sesuai dengan janji Tuhan bagi Abraham." Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan akan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.

Saya biasa membaca tentang “lutut saling mengetuk", saya menganggap hal itu adalah pribahasa, akan tetapi ketika saya sampai di tempat saya semula, lutut saya benar-benar "knocking together". Saya sungguh heran karena saya sudah berbicara di depan para kelompok pembesar dunia ini, seandainya itu saya sendirian saya akan menangis. Saya begitu shock. Tentu saya juga tidak tahu bahwa Tuhan telah mengurapi kata-kata yang telah saya ucapkan dengan kehadiran dan kasihNya.

Setelah pertemuan itu, banyak orang menghampiri saya untuk mengucapkan terima kasih atas kesaksian saya dan menyatakan, betapa jamahan Tuhan menyentuh hati mereka. Seorang pria menghampiri saya dengan linangan air mata, beliau merangkul saya sambil berkata: "Saya adalah orang Arab di Palestina, oleh karena saya telah mengenal kasih Yesus, saya ingin katakan pada anda bahwa saya sungguh mengasihimu dan sangat mengasihi Israel juga. Saya adalah orang Arab tanpa negera dan anda adalah orang Jahudi tanpa passport - tetapi kita memiliki kota yang jauh lebih indah", Detik-detik yang begitu indah dalam kerajaan Tuhan.

Setelah acara luncheon dilaksanakan untuk para tamu Internasional, saya menghadiri Seminar Wanita di sore hari. Segera setelah saya duduk di salah satu meja, wanita di sebelah kanan saya langsung menangis. Beliau telah mendengar ketika saya berbicara pada Seminar Kepemimpinan, oleh sebab itu beliau sangat berkeinginan untuk bisa berbicara secara langsung dengan saya. Tapi karena begitu banyak orang yang ingin berbicara dengan saya, maka wanita ini menyerah dan berdoa agar Tuhan kiranya memberikan kemungkinan lain baginya. Kemudian Tuhan membawa saya dalam seminar yang sama dengan ibu untuk duduk persis disampingnya. Tuhan begitu perduli bahkan terhadap hal-hal kecil sekalipun yang diinginkan anak-anakNya. Dia bahkan bekerja bagi kami berdua sehingga kami  masing bisa punya waktu dengan tenang berbincang-bincang selma satu jam setelah acara pertemuan selesai.

Sementaraseminar, kami duduk bersama mengelilingi meja besar, dan pada akhir pertemuan itu, kami semua diminta untuk memberikan sedikit waktu untuk sekedar sharing satu dengan lainnya. Di meja kami, kami mulai melakukan perkenalan, dan tentunya saya termasuk orang yang kurang dikenal disana. Akan tetapi, setelah saya menyebut nama saya, sebagian besar wanita mengkleim “oh, kami telah banyak mendengar tentang anda di acara makan siang hari ini." Silahkan membagikan kisah anda dengan kami juga". Saya tidak pernah membayangkan kalau para peserta dalam seminar di pagi hari itu telah memberitahukan kepada yang lain tentang saya, akan tetapi demikianlah Tuhan bekerja sehingga saya berbicara lagi di depan mereka.

Malam itu, bersama dengan pasangan Robinson saya menghadiri acara makan malam yang dilaksanakan di Crystal Ballroom di Washington Hilton. Acara makan malam tersebut dikelolah secara luar biasa oleh Doug Coe dan Dick Halverson, dua orang anggota inti dari grup Washington. Malam itu sungguh menarik, dan sekali lagi, saya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberikan saya pakaian yang sesuai dengan acara makan gala itu.

Pagi berikutnya, Kelompok Doa para Ibu-Ibu Anggota Kongres mengundang para tamu wanita internasional untuk acara makan siang di Fellowship House. (Saya telah membaca tentang Rumah Persekutuan ini dalam buku yang ditulis oleh Cuhck Colson, di dalamnya beliau menjelaskan tentang keindahan Gedung Persekutuan dan Doa tersebut). Sebelum acara makan siang, setiap tamu wanita diberikan kesempatan beberapa menit untuk menyampaikan apa yang sedang dilakukan Tuhan dalam lingkaran kehidupan politik di negara asalnya masing-masing. Sungguh mengagumkan karya Tuhan yang menyentuh hati para politikus di berbagai negara.

Kelompok Doa para Ibu-Ibu Anggota Kongres, telah menyediakan Lunscheon secara luar biasa baiknya.

Paginya ketika saya meninggalkan rumah keluarga Robinson, saya sudah membawa barang-barang saya ke Fellowship Hause, sebab dari sana saya berencana memenuhi permintaan Patti (dari pesawat) dan suaminya untuk tinggal beberapa hari di rumah mereka. Karena Patti termasuk anggota grup inti dari Orang-orang percaaya Washington, maka kami menunggu sampai, sebagian besar tamu internasional lainnya sudah pulang. Maka Barbara, seorang pengurus Felloship House itu, datang menghampiri saya dan berkata “Esther, kami telah banyak mendengar tentang diri anda dalam tiga hari ini, dan juga berkat kasih Tuhan yang telah anda sebarluaskan. Sehingga kami berpikir pakah anda berkenan memberikan hal yang sama dengan kami sore ini. Para anggota Kelompok Doa Ibu-ibu Kongres akan berkumpul bersama dalam ruang tamu, bila anda berkenan, datanglah dan berbicaralah kepada kami. Lagi lagi perkara yang luar biasa memenuhi hati saya, dimana Tuhan telah membuka pintu lain di depan saya.

Saya membagikan perkara-perkara besar kepada mereka pada sore hari itu - bahkan jauh lebih banyak dari yang pernah saya lakukan dalam berbagai pertemuan pertemuan-sebelumnya. Saya memberitahukan kepada mereka kesaksian saya secara keseluruhan, dan tentang kunjungan saya ke Roma, dan juga tentang kunjungan Rossel kepada Perdana Menteri, dan saya menunjukkan fot-foto kpad mereka. Dan ketika saya berbicara, Tuhan menjamah hati mereka begitu dalam dengan kasihNya yang demikian dalam  diri mereka sehingga mereka semua menangis. Dan akhirnya, Barbara berkata kepada saya dengan penuh linangan air mata : "Kamulah yang menutup dalm doa, karena kamulah satu satunya yang bisa melakukannya."

Setelah pertemuan itu, mereka semua menandatangani lembaran gulungan kasih yang telah ditempatkan di atas piano, dan banyak yang berkata bahwa mereka telah berdoa untuk meminta jamahan kasih Tuhan seperti yang pernah mereka terima hari itu untuk tahun-tahun berikutnya. Pertemuan ini sungguh indah, apalagi melihat cara Tuhan menjamah hati setiap orang,  hal yang jauh lebih berharga dari emas.

Saya meninggalkan Gedung Persekutuan dengan barang-barang saya ke rumah Patti. Tuhan telah membukakan kempatan bagi saya berbicara sampai empat kali dalam tempo tiga hari. Dan tidak satupun daripadanya, ya tidk satupun daripadanya akan terjadi bila saya tidak menaati Tuhan dan berbicara dengan orang yang duduk persis di belakang saya dalam pesawat pada hari itu. Sungguh merupakan pertimbangan yang rendah hati.

Patti, suaminya dan saya sendiri menikmati makan malam brsama hari itu, dan menikmati jam-jam yang indah berbicara bersama sama di depan fireplace mereka. Dan tiba-tiba saya teringat, bahwa jaket sable saya tertinggal di closet Gedung Persekutuan itu.  Saya sungguh lupa kalau saya punya jaket, maka saya menertertawakan diri sendiri. Tampaknya bagi Cinderella tidaklah semudah itu untuk berubah menjadi seorang prince. Patti dan saya sedang berencana untuk menghadiri suatu pertemuan disana pada malam berikutnya, sehingga saya menghubungi Barbara dan memberitahukan kepadanya bahwa saya akan mengambil jaket saya yang tertinggal (mereka sudah menduganya).

Pada pagi hari tanggal 9 Februari, dua hari setelah berlangsungnya National Prayer Breakfast, Tuhan membangunkan saya seraya berkata dengan lembut   “Diantara semua penduduk dunia ini, Aku memilih Russel untuk menyampaikan kasihKu kepda para pemimpin Israel …”

Sorenya, saya menghubungi Russel di rumah sakit untuk memberitahukan kepadanya semua peristiwa, sebab acar Breakfast itu begitu berharga baginya. Tiba tiba suara orang lain menjawab di telephon, dan ketika saya bertanya tentang Russel, dia memberitahukan saya bahwa dia sudah tidak disana lagi. Ketika saya menghubunginya di rumahnya, ibunyalah ang menjawab telephone.

“Hai ini Esther sedang berbicara. Saya ingin bercerita kepada Russel tentang acara National Presidential Breakfast, sebab acara itu begitu fantastis. Bagaimana dengan keadaan di sana?" tanya saya segera setelah saya mendengar suara ibunya.

Oh dear, jawabnya. Pastilah tidak ada orang yang memberitahukannya kepadamu, Russel meninggal tanggal 7 Februari , yakni pada hari Prayer Breakfast itu. Aku mendampinginya sampai akhir hidupnya, dan dia begitu senang mengetahui bahwa dia akan segera bersama dengan Yesus. Suaranya mulai perlahan. Akan tetapi penguburannya akan berlangsung esok sore,  dan bila memungkinkan, tolong usahakan untuk datang. Hal itu akan menjadi penghiburan besar bagi kami, jika anda bersama dengan kami“ Saya memberitahukannya akan mencoba untuk datang, dan menutup telephon. Meskipun Tuhan telah memberikan persiapan sebelumnya, saya menangis, sebab saya telah kehilangan Russel Moore.

Saya sadar bahwa dengan uang $5.00, saya tidak akan bisa mencapai Birmingham Alabama, akan tetapi Tuhan selalu peduli dengan semua perkara. Patti dan suaminya membelikan tiket untukku.

Malam itu, Patti dan saya pergi ke Gedung Fellowship untuk suatu pertemuan dengan kalangan pengusaha Washington. Saya sangat merasa santai, seakan akan tidak mungkin kalau saya akan memberikan sharing lagi. Segera setelah Patti memperkenalkan saya kapda pemimpin petemuan, dia berseru “ Esther Dorflinger. Wow, sungguh laur biasa. Saya memiliki tiga dari sekian kaset anda di rumah dari siaran radio broadcast, anda saya harus berbicara sedikit pada mereka malam ini.

Pembicara utama malam itu adalah seorang Jahudi dari England, dia sangat kaya dan salah satu anggota Parlemen Inggris. Akan tetapi, dia berbicara begitu tegas tentang panggilan Injil, dengan menggunakan bahasa Inggris British begitu sempurnah. Mengingatkan saya terhadap penginjilan Paulus. Saya begitu terkesan.

Saya memberikan kesaksian saya kepada grup doa disana pada malam itu, dan mengambil jaket kulit saya dari tempat gantungan pakaian lalu memberi ucapan selamat tinggal pada Barbara, dan kembali ke rumah dengan Patti. Dan pagi besoknya, saya terbang ke Birmingham untuk mengikutidalam acara penguburan Russel.

Untuk pertama kalinya saya menyaksikan dukacita bercampur dalam penguburan seorang Kristen --sukacita yang dalam karena mengetahui bahwa dia kini sudah sembuh total, tidak lagi sakit, dan diam bersama dengan Yesus, kekasihnya, dan kesedihan karena rasa kehilangan seorang saudara. Hal ini tentunya sungguh berbeda dari rasa keputusasaan dan ketakutan yang pernah saya rasakan dalam satu acara penguburan orang Jahudi yang saya hadiri ketika saya masih anak-anak, karna didalam Yesus, kita memiliki harapan yang kekal. Kebaktian penguburan dilaksanakan di Perguruan tinggi BibleColelge Russel, dan banyak orang yang menghadirinya. Orangtuanya dapat merasakan melalui  banyak hal bagaimana iman Russel mempengaruhi banyak orang.

Karena Acara Prayer Beakfast sangat berarti bagi Russel, setelah penguburan tersebut, orangtuanya meminta saya untuk menceritakan tentang acara itu bagi semua keluarga yang masih berkumpul. Sehingga saya menceritakan seluruh kisah tersebut, dan ketika saya menyebutkan Fellowship House, Tantenya Russel dari Flordia tampak terperanjat. “ Ah, kamu di sana, apakah kamu melihat portrait di dinding ruang tamu?" tanyanya.

Ya, aku menjawabnya, memang aku berdiri persis dibawah portrait selama aku menyampaikan kisah Russel kepada kaum istri Kongres.

“Sungguh luar biasa, jawabnya. Itu portrait ibu saya, Marian Johnson, sebab dia adalah salah seorang pendiri Fellowship House. Saya menceritakan kisah Russsel persis dibawah portrait wanita itu yang Russel inginkan harus saya temui. Dan beberapa minggu sebelumnya, Marian telah mendaftarkan nama Russel buat para pendoa di Washington dan di Gedung Fellowship House. Tidak seorangpun yang menyadari pada wktu itu, Russel yang saya sedang ceritakan, adalah Russel yang sedang mereka doakan. Dan berita itu adalah berita yang menyenangkan, dan memberi penghiburan kepada kami semua.

Tuhan memang telah mengutus aku di Roma, Yerusalem dan di Wasington DC untuk orang-orang pejabat (kelas tinggi). Akan tetapi Russel telah mencapai tempat yang paling tinggi.

“Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setaNya atas orang yang takut akan Dia.