3 Dari kegelapan kepada terang

Sejak malam itu kehangatan yang sama terus menyelimuti hati saya. Pengalaman nyata yang selalu mengingatkan saya akan kehadiran Tuhan dalam diri saya. Jika saya merasa sedih, hati saya menjadi syarat dan jika saya merasa takut saya menjadi kecut. Namun saya lebih sering merasakan kehangatan kasih Allah yang mengagumkan itu.

Sepanjang hidup saya, saya selalu punya bayangan atas kebaikan Allah. Tetapi saya tidak mengetahui dan tak pernah memikirkan tentang kejahatan atau kuasa-kuasa kejahatan dalam kegelapan. Saya merasakan hal itu ketika mereka berbalik melawan saya dalam masalah sekolah dulu, tapi saya menganggap bahwa perasaan itu adalah tahyul yang tak pantas dipercayai. Baru setelah saya mengalami kasih Yesus, saya mulai mengenal kenyataan setan-setan dan kuasa-kuasanya.

Semuanya itu dimulai, ketika Sandy dan Jim memperkenalkan salah seorang dari teman-teman mereka bernama Greg pada saya. Greg memimpin saya ke dalam satu dunia roh yang baru. Hal-hal yang bersifat “Spektakular“muncul dan saya menjadi benar-benar berkuasa, hal itu saya anggap berasal dari Allah, tetapi kuasa tersebut terus memojokkan saya. Greg meminpin saya pada rapat roh-roh. Di sana diberikan banyak janji-janji nubuatan, tetapi bila saatnya tiba untuk penggenapan janji-janji tersebut dan ternyata tidak digenapi, maka kuasa-kuasa kegelapan mempersalahkan, bahwa mereka tidak menggenapi janji itu karena saya kurang percaya. Satu hari saya mendapat sabda Allah: Setan telah menginjakmu“, saya merasakan racun dan kebenciannya.

Sementara semua hal ini terjadi, saya masih merasakan kehangatan kasih Yesus dalam hati saya. Atas suatu alasan tertentu nampaknya Ia telah mengijinkan semua ini terjadi! Dalam minggu-minggu itu ada banyak  kejadian dan saya semakin dibingungkan. Satu malam saya pergi pada Sandy dan Jim. Waktu itu Greg sedang di sana dan perasaan atas kehadiran kuasa gelap sangat kuat. Malam itu Setan benar-benar beracun dan saya merasa dituduh oleh rasa kebencian yang dalam dan kuasa si jahat. Greg adalah pendeta setan hal ini baru kemudian saya tahu dan malam itu sedang memerintahkan setan-setan untuk membunuh saya. (Persembahan korban di kalangan penyembah setan bukan hal yang asing bagi orang Amerika termasuk bagi kalangan berpendidikan. Persis minggu itu di hutan dekat Bristol seseorang telah dibunuh!).

Saya tidak tau bahwa Greg telah memberi saya gelas yang berisi campuran barbiturate dan ganja yang mendatangkan hallusinasi dengan limun dengan ukuran yang berlebihan. Di bawah pengaruh ganja Setan dapat memperaktekkan kuasanya yang besar dan sayapun terperangkap dalam khayalan yang mengerikan. Di kamar lain saya mendengar Greg berkata: „Saya ingin tahu mengapa ia membutuhkan waktu begitu lama.“ Sayapun merasa sakit parah dan menyadari bahwa saya berada dalam kematian. Greg mengambil dua buah pisau dan berkata:“Kini kita mendapat korban domba berikut, dan yang terindah didalamnya ialah bahwa tak seorangpun akan mengetahuinya!“

Saya melihat kedua anak saya dengan tenang tidur di sofa dan di dalam kepanikan saya, saya berpikir bahwa setan mencoba mengambil nyawa mereka dan bukan nyawa saya. Oleh sebab itu saya merasa hidup saya terancam diantara mereka dan dengan ragu saya berteriak: „Oh Yesus! Ambillah nyawa saya dan bukan nyawa mereka!“ Tetapi dengan tidak terlukiskan, saya merasa menjadi lebih baik. Tuhan telah menyelamatkan nyawa saya! Saya menggendong anak-anak ke mobil dan kembali ke rumah. Saya benar-benar terperanjat dan menelepon polisi. Saya minta agar mereka membawa saya ke Rumah sakit dan mengirim seseorang untuk mengasuh anak-anak sampai saya sehat kembali. Ketika saya tiba di rumah sakit, saya diberi anti ganja maka saya bisa tidur. Sebelumnya saya tidak pernah mencoba ganja, tetapi kebencian para setan memberikan hal itu pada saya dan hal itu merupakan pengalaman terburuk dan paling menakutkan dari segala sesuatu. Saya memutuskan tiga hari tinggal di rumah sakit, karena saya merasa takut kembali ke rumah.

Dalam tiga hari itu Sandy menelepon saya dan minta agar saya tidak melaporkan mereka pada polisi. Ia menjelaskan bahwa mereka tidak tahu sama sekali tentang segala sesuatu yang direncanakan Greg. Dia juga berjanji tidak akan mengusik saya lagi. Saya berjanji untuk tidak menggugat mereka.

Ketika saya di rumah sakit, seorang teman baik mengunjungi saya. Namanya Kren Austin. Dia dan suaminya Emery tinggal di jalan yang sama dengan saya ketika saya belum cerai dan tinggal di kampung. Dia punya tujuh orang anak dan banyak tanggungjawab, namun dia selalu punya waktu untuk berbuat baik dan selalu bersikap ramah. Hari itu Karen mengunjungi saya di rumah sakit dan memberikan sebuah kartu dan hadiah kecil. Dalam kartu itu ia menulis pesan berikut:

 „Hal kerajaan Sorga itu seumpama biji sesawi, yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Memang biji itu yang paling kecil kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.“
Mat.13:31-32

Jika kamu punya iman sebesar biji sesawi, tak ada yang mustahil bagimu!
 Dengan kasih,
Karen dan Amery

Dan di sana dengan seksama terletak satu bungkusan kecil biji sesawi, yang telah dijanjikan sejak lama. Secuil penghapan dan pengharapan inilah yang saya pegang teguh. Pada saat itu nampaknya saya tak punya iman sama sekali lagi. Sebelum pengalaman saya dengan kuasa si jahat itu, saya meyakini semua pengalaman saya yang diluar kebiasaan itu berasal dari Tuhan. Tetapi setelah pengalaman yang mengerikan itu saya menjadi sangat sensitif dan curiga sebaliknya mulai berpikir bahwa semua itu bersumber dari setan. Akibatnya pengalaman saya dengan Yesus tersingkir dan sesudah tiga hari saya dikuasai oleh perasaan terancam kemabali ke rumah dan yakin bahwa di sana saya akan diperhadapkan dengan kehampaan hidup yang menakutkan. Pada hari pertama dari tiga hari berada kemabali di rumah tidak terjadi apa-apa. Mungkin bagi kebanyakan orang hal seperti itu biasa-biasa saja, tapi bagi saya hal itu adalah kejutan. Sudah bertahun-tahun saya punya pengalaman-pengalaman tersendiri! Kisah nyata tentang sekolah itu sebenarnya cukup sebagai tanda, ditambah lagi dengan pengalaman hidup sehari-hari yang tidak pada tempatnya.

Misalnya satu hari saya memohon teman-teman untuk menjemput surat-surat dari rumah saya, tiba-tiba saya mendapat telepon dari mereka: „Eileen, seseorang telah masuk ke rumahmu dan mengobrak-abrik segala-sesuatu di dalamnya sehingga keadaan rumahmu sangat kacau balau, saya pikir kita harus menepon polisi!“ Kami berembuk dengan polisi dan dengan ditemani polisi saya masuk ke rumah saya untuk memeriksa segala kerusakan. „Mungkin suami anda telah datang kemari“ kata sang polisi ketika beliau mendengar bahwa saya baru bercerai. „Dapatkah anda menyebutkan apa saja yang hilang? Saya pikir sebaiknya anda mengadukan hal ini kepada pengadilan!“ Saya berpikir sejenak, berangsur-angsur saya menjadi sadar, lalu saya menjawab „Tidak apa-apa, nampaknya tidak ada yang hilang oleh sebab itu saya tidak perlu mengadukan hal itu! Trimakasih atas bantuan anda!“ ucap saya sambil mendapingi mereka menuju ke pintu sebagai syarat agar bveliau segera pergi. Tetapi polisi tersebut dan teman-teman saya masih berusaha mendorong saya agar saya mengadukan hal itu pada pengadilan, namun dengan tegas saya menolak anjuran mereka tersebut.

Segera setelah polisi tersebut pergi sayapun menjadi tertawa. Apa yang terjadi atas seorang ibu rumahtangga yang beberapa hari sebelumnya punya pengalaman buruk dan keadaan rumahnya nampaknya menjadi morat-marit ? Ja, tidak apa-apa! Mungkin mereka masuk saja di rumahnya dan kalau mereka sudah punya waktu maka mereka akan merapikannya kembali. Tetapi bagaimana dengan saya ? Teman- teman saya yang sepuluh kali lebih pintar dari saya, memutuskan untuk menelepon polisi datang untuk mengadakan penyelidikan. Kini mereka menertawakan saya dan bertanya, „Mengapa kamu tidak menceritakan hal itu pada kami? Saya sedang mengajukan permohonan hak merawat dan membina anak-anak saya! Polisi akan berpikir bahwa keadaan rumah saya yang morat-marit tersebut adalah hal yang lumrah bagi saya!“

Namun bukan itu saja! Setiap hari ada saja yang tidak beres. Meilenhohe Zitronenkremtrorte saya zerlief di Lemari es.

Ketika Yvonne dan saya mulai berteman, saya mencoba menjelaskan padanya bahwa pengalaman hidup saya boleh dikatakan kacau-balau. Pada suatu hari kami sedang pergi ke pusat perbelanjaan, kedua anaknya Ritchie dan Russell beserta kedua anak saya Michael dan Joey. Tiba-tiba Ivonne sadar bahwa anaknya Russel telah menghilang di tengah keramaian! Kami mencarinya di segala penjuru bahkan kami meminta bantuan polisi di pusat perbelajaan tersebut, namun kami tidak menemukannya. Akhirnya Yvonne bilang: „Kamu tinggal di sini mengawasi anak-anak dan saya akan ke mobil, siapa tahu dia sudah berada di sana.“ Beberpa menit kemudian ia muncul bersama anaknya yang diiringi airmata bercerita, bahwa ia pergi ke mobil dan menunggu kami di sana setelah ia tidak berhasil menemukan kami dikeramaian itu.Sementara itu tiba-tiba Yvonne berteriak lagi: „Eileen dimana Ritchie?“ Saya tidak tahu bagaimana hal itu telah terjadi, yang jelas anaknya yang keduapun menghilang! Ketika akhirnya kami menemukan Ritchie, yang pergi ke arah penjualan hewan, kamipun secepat mungkin selagi semua anak-anak belum hilang meninggalkan pusat perbelanjaan itu!.

Pengalaman yang mirip terjadi juga dengan Diane teman Ivonne dan saya. Satu sore Diane bersama anak perempuannya dan saya pergi ke pusat perbelanjaan yang sama. Kami memasuki sebuah restorant mau makan, tetapi anak perempuan Diane sudah tidak ada! Saya teringat akan pengalaman bersama Ivonne, maka saya bertanya pada Diane: Biasaya kalau dia kehilangan kamu, apakah dia pergi mobil? Dengan mata terbelalak Diane memandang saya sambil berkata: „Untuk pertama kali dalam hidupku saya kehilangan anak saya!“

Satu kesempatan lain, Yvonne, Diane dan saya, dengan nekad naik mobil menuju New York untuk menjemput sebuah Paket yang dikirim oleh ibunya Sarellas dari Turki melalui seorang Kaptn kapal Turki. Di pelabuhan kapal tersebut kami dijamu secara rramah-tamah dengan makanan yang lezat. Dan malamnya bersama paket tersebut kamipun agak terlambat berangkat kemabali menuju Connecticut. Diane tidak punya pandangan yang sama tentang abenteuer yang mengikat bersahabatan antara Yvonne dan saya, sebaliknya ia sangat takut karena memikirkan suami dan anak-anaknya akan risau menantinya di rumah. Ketegangan dalam mobil lama kelamaan semakin hangat. Kami hampir melewati perbatasan antara perkotaan New York dan desa Connecticut dan dari sana dua jam lagi. Cuaca agak berkabut, tapi kami sangat yakin bahwa kami akan segera tiba di rumah. Tiba-tiba kami melihat sebuah plakat yang ditulis dengan huruf besar berwarna hitam: „Selamat datang di New York“. Yvonne dan saya tertawa terbahak-bahak karena rupanya sepanjang jalan yang kami telah lalui adalah jalur pinggiran jalan, namun tak seorang pengendera mobil lainnya yang memberi isyarat pada kami atas kebodohan yang kami lakukan itu! Akhirnya saya mengemudi mobil sampai kami menemukan tempat dimana kami bisa mendapatkan informasi yang kami perlukan. Saya pergi ke sebuah restaurant dan bertanya: Dapatkah anda menjelaskan dimana kami sekarang berada?“ „Lebih baik kita tidak membicarakan dimana anda sekarang“, jawab Bapak tersebut, melainkan hendak kemana anda sebenarnya.“ Dengan demikian kamipun menemukan kembali jalan yang kami cari, kali ini jalan Tol yang benar menuju rumah kami. (Sejak saat itu Diane tidak pernah lagi berbicara dengan saya).

Segudang cerita yang mirip yang terjadi setiap tahun masih dapat saya ceritakan. Tapi saya yakin saya telah memberikan contoh-contoh yang cukup untuk menjelaskan mengapa saya begitu heran atas pengalaman tiga hari tanpa keanehan itu. Hari- hari yang belalu tidak begitu baik tapi juga tidak begitu jelek. Sama sekali tidak ada yang aneh! Hal benar-benar suatu ketengan yang belum pernah saya alami.

Pagi-pagi pada hari yang keempat, saya terbangun dan kembali mendengar pimpinan Tuhan. Tiba-tiba saya berada dipersimpangan jalan. Setelah peristiwa mimpi buruk yang baru saya lewati itu saya masih merasa takut untuk mempercayai Tuhan kembali. Saya percaya bahwa semua kejadian yang saya alami berasal dari setan, walaupun sebelumnya saya selalu mengembalikan pujian pada Tuhan atas kejadiaan-kejadian tersebut. „Apa yang harus saya perbuat?“

Saya menelepon Marcia dan menjelaskan dilemna saya padanya. „Saya punya ide“, jawab Marcia. „Saya baru bertemu dengan seorang pendeta bernama DR.Reid. Mungkin beliau bersedia berbicara denganmu. Biasanya beliau sangat sibuk, namun saya akan meneleponnya untuk mengetahui tindakan apa yang dapat kita perbuat selanjutnya. Kemungkinan untuk hari minggu ini belum bisa, tapi kitaq akan melihat!“ Beberpa menit kemudian ia menelepon kembali. „Luarbiasa!“ katanya, „Saya menelepon beliau dan beliau menjawab bahwa beliu sudah sempat berangkat meninggalkan rumah hendak berpergian untuk beberapa hari, tetapi tiba-tiba beliau teringat akan sesuatu yang tertinggal di rumah dan kembali untuk menjemputnya. Tetapi ketika beliau masuk ke rumah, beliau mendengar telepon berdering. Beliau bisa berbicara denganmu hari Minggu setelah kebaktian, hanya tiga hari lagi!“ „Ah Marcia, saya mau bilang apa pada beliau?“ keluh saya. „Jangan takut Eilenn., Tuhan selalu bertindak pada waktunya. Pada saatnya Ia akan menunjukkan padamu!“.

Saya meletakkan gagang telepon dan merasakan damai yang meliputi hati saya ketika saya menyadari bahwa iman saya pada Yesus tidak sia-sia. Nampaknya Ia telah kembali melakukan sesuatu dalam hidup saya!“Apa yang akan saya katakan pada DR.Reid hari minggu depan?“ tanya saya pada Tuhan, ketika saya meresakan hubungan saya dengan Yesus yang saya miliki sebelum saat „Pencobaan“ melalui setan itu kembali pulih.“Ceritakan padanya segala pengalamanmu“, jawabNya segera. „ „Oh, tidak, tidak semua!“, jawab saya dengan rasa malu. Namun lubuk hati saya berkata, bahwa sudah saatnya buat saya untuk secara terbuka menceritakan segala sesuatu terjadi selama 1 ½ tahun tekhir itu.

Saya menemani Marcia ke Gereja dan buat saya hal itu adalah ssesuatu yang istimewa. Ketika saya masih di sekolah katholik saya pergi ke Gereja demikian juga kemudian beberapa kali dengan suami saya. Tapi belum sebagai seorang yang percaya pada Yesus!

Hari itu kebaktian dipimpin oleh kelompok pemuda dan sungguh indah. Seorang gadis berdiri di depan dan berkata:“Saya ingin membandingkan pertumbuhan kita sebagai kristen dengan pertumbuhan bunga...“Saya terpukau, karena Tuhan segera mengingatkan saya atas kata-kata yang diucapkan seorang ibu tua pada saya. –“Akan membutuhkan waktu yang cukup lama samapai engkau dapat menerima keberadaanmu, tetapi jika engkau menerimanya, semuanya akan menjadi seperti bunga yang berkembang...“Kebaktian hari itu nampaknya mirip dengan kuliah yang amat berharga. Seterusnya ia mencabut akar-akar segar dari tanah dan kelihatan morat marit. Lalu ia berkata:“Sebagaiman kita lihat akar-akar ini tidak begitu indah dan tidak berkesan. Tak seorangpun diantara kita berminat membawanya ke rumah dan menempatkannya di sebuah vas bunga kristal!  Tetapi sebelum bunga-bungaan dapat berkembang, mereka harus berakar di tanah. Mereka harus mendapatkan cukup makanan dan menjadi kuat, baru kemudian dapat bertumbuh.“ Dengan tangan yang lain ia mengambil setangkai bunga mawar.“Sebelum bunga berbunga ia harus lebih dahulu berakar. Akar-akar itu kelihatannya tidak indah, namun hal ini melambangkan pengajaran-pengajaran penting dan saat-saat yang sulit bagi kita, dimana secara terus-menerus sari-sari makanan dan perawatan dari pihak pemilik kebun untuk memperlembut kehidupan kita. Sebagai orang kristen, kita tidak akan bisa berbunga sebelum akar-akr ini dibentuk.

Pada detik itu tuhan menolong saya untuk memahami, bahwa untuk menunggu sampai „setangkai bunga“ berkembang diperlukan waktu yang panjang.“Akar“ saya harus lebih dahulu bertumbuh...

Swetelah kebaktian selesai dan setelah semua orang meninggalkan gereja itu, DR.Reid dan saya menuruni tangga untuk berbicara.Saya menceritakan semua kisah hidup saya sambil menunjukkan buku-buku dan peneguhan-peneguhan Tuhan lainnya pada beiau. Sementara percakapan itu saya merasa seperti orang bodoh yang terperangkap. Dan saya percaya bahwa Tuhanlah yang meminpin percakapan tersebut, sehingga saya dapat menceritakan kisah tersebut dari awal sampai akhir. Ketika saya mengakhirinya, dengan tersenyum DR.Reid berkata: „Semula melalui buku-buku dan semua yang kamu bawa telah membuat saya sedikit bingung. Tetapi Tuhan segera memperingatkan saya, agar saya tidak membiarkan diri saya terbawa-bawa, melainkan mengikuti jalan ceritanya untuk melihat benang merah di dalamnya. Banyakan orang punya banyak mujizat. Apa yang akan kamu buat dengan kantong tebal berisi segumpal mujizat itu? , tanya beliau dengan senyum hangat.“

Beliau berdoa dalam hati beberapa menit kemudia berkata: „Saya tahu dari Tuhan, bahwa Allah lah yang telah memimpin kamu, dan Yesus memanggilmu untuk satu tugas tertentu. Firasat saya berbicara dengan kuat, bahwa Dia akan mengutusmu utuk sementara waktu ke gurun pasir rohani, karena Ia harus mengajarkan banyak hal kepadamu. Saya percaya, engkau harus mengetahui perbedaan antara hal-hal yang berasal dari setan dan hal-hal yang berasal dari Tuhan. Ia telah menunjukkan kepadamu bahwa setan-setan bernar-benar berexisten, tetapi kamu harus mempelajari bahwa Yesus tetap sebagai pemenang jika kita memandang kepadaNya! Salah satu syarat penting untuk mengenal antara Tuhan dan setan ialah, jika sesuatu terjadi dan kamu tidak menemukan dasar kejadian tersebut dalam Alkitab, maka kamu harus melihat bahwa kejadian itu bukan berasal dari Tuhan! Saya juga merasa bahwa Tuhan menghendaki agar kamu dibabtis, namun dengan syarat tidak mengingatkan diri pada satu jemaat. Saya tidak mengerti bagian terakhir ini, Eileen, tapi nampaknya inilah firman Tuhan!“

Seharusnya saya terperanjat kaena seorang pendeta menasehatkan agar saya tidak mengikatkan diri pada satu jemaat, – tetapi pikiran saya tentang babtisan, membuat saya sesak nafas. „Saya dibabtis?“ ucap saya menarik nafas. „Oh tidak! Apakah kamu yakin bahwa saya harus dibabtis ?“DR.Reid menjelaskan bahwa babtisan bukan berarti satu ikrar pada satu keyakinan melainkan ketaatan pada Firman Tuhan. Babtisan melambangkan manusia baru, yang membawa kita kepada pengampunan dosa, yang kita terima jika kita menerima Yesus dan menyasikannya.

Melalui reaksi penolakan saya tersebut, yang walaupun hati saya ingin menyetujuinya, saya menjadi sadar bahwa saya sebelumnya adalahYahudi. „“Tapi seharusnya tidak disaksikan siapa-siapa bukan?“ tanya saya dengan harapan agar acara babtisan trsebut dilaksanakan secara rahasia. „Ja“ biasanya beberapa saksi seharusnya berada di sana!“ DR.Reid mulai menceritakan pengalaman hidupnya. Ia bercerita bahwa ia sedang merencanakan perjalan kariernya ketika tiba-tiba panggilan Tuhan baginya untuk menjadi pendeta menjadi jelas. „Maksudmu Tuhan bisa memanggil seseorang menjadi pendeta?“ tanya saya dengan heran. „Ja, banyak orang memilih jadi pendeta sebagaimana yang lain memilih jadi sarjana hukum. Tetapi menjadi seorang pendeta yang sungguh-sungguh, ia harus mengenal Tuhan secara pribadi dan bukan sekedar mempelajari tentang Tuhan,“ jelasnya.(Seketika itu juga saya jadi mengerti bahwa Pendeta Schmidt nampaknya tidak mengenal Tuhan).

DR.Reid kemudian menceritakan pada saya, bahwa pelayanan dimana Tuhan memanggilnya, pada saat itu di duduki oleh „Interim“ pendeta. Saya pergi ke jemaat, kemana tuhan mengutus saya dan kadang-kadang ke sana, sementara jemaat menantikan untuk memilih pendeta tetap. Tuhan biasanya mengutus saya pada sebuah jemaat yang membutuhkan Hidup dan kasihNya. Sering Ia mengutus saya ketempat lain segera setelah jemaat tersebut mengenal Dia.“ Buat saya tugas yang dipikulnya adalah tugas berat.

Hampir sepanjang sore itu kami habiskan dalam percakapan dan begitu gembira atas pengenalan pribadinya atas Yesus dan atas sikap humornya. Tetapi yang paling menyenangkan ialah, kaena beliau mengerti semua yang baru terjadi dalam kehidupan saya.

Sebelum kami berpisah, beliau berkata: „ Jika kamu butuh bantuan, mungkin istri saya atau saya sendiri dapat membantumu, maka jangan segan-segan menelepon, ya Eileen! Kami sangat gembira jika kamu datang ke kereja kami!“ Dalam perjalanan menuju rumah Marcia (saya telah berjadi akan menceritakan padanya, tentang semua pembicaraan kami), saya mengalami reaksi krise. Sampai saat itu belum pernah seorangpun meyakinkan saya bahwa Allah telah menyertai saya, (kecuali ibu tua yang beberapa minggu y.l. datang kerumah saya).Tiba-tiba saya menjadi sadar bahwa saya harus menerima panggilan Tuhan dalam hidup saya dan memberi diri untuk itu. Sekarang saya menjadi milik Yesus dan tidak boleh menahan semua kejadian itu berlama-lama mengabaikannya. saya menjadi gelisah.

Ketika saya tiba di rumah Marcia, saya segera menelepon DR.Reid, karena pengetahuannya akan jalan Tuhan sangat menghiburkan saya. Saya menjelaskan ketakutan yang saya rasakan. „Kamu berkata, saya boleh meneleponmu jika saya memerlukan bantuan“, ucap saya mengingatkan beliau. „ Bolehkah saya mulai sekarang?“ tanya saya. DR.Reid tertawa. „Ja, saya harus mengakui bahwa saya tidak menduga kalau saya akan kamu telepon secepat ini! Tetapi saya tahu bahwa Tuhan akan terus memimpinmu Eileen, ayo teruskan!“, jawabnya.

Demikianlah petualangan yang baru dimulai.

   [index]