6 Wawasan Baru

Nampaknya mustahil bahwa baru saja 4 bulan sejak saya pertama kali mengenal Richard. Tuhan memberinya visi, bahwa saya akan pindah ke Israel bulan September 1976 dan dalam waktu yang sangat singkat itu saya banyak belajar dari Tuhan! Untuk pertama kali dalam hidup saya  Ia menyingkapkan identitas bangsa Jahudi pada saya dan dengan kasihNya yang besar pada bangsa saya Ia menggerakkan hati saya agar saya dengan rela kembali ke sana.

Suatu sore saya menceritakan semuanya itu pada DR.Reid. Saya menanyakan pendapatnya tentang rencana kepindahanan saya pada musim gugur itu. Dengan singkat dan jelas ia menjawab saya: „Jika hal itu berasal dari Tuhan, bahwa Tuhan menggerakkan hatimu untuk pergi ke sana, maka Ia akan memungkinkan hal itu dan hal itu akan menjadi kenyataan. Serahkan saja dalam tanganNya!“

Pada bulan April saya menulis surat ke kantor Aliyah (yang mengurus segala prosedur bagi setiap orang Jahudi yang ingin kembali ke Israel) di New York untuk meminta sebanyak mungkin informasi. sebuah langkah iman, sebab hanya Tuhanlah yang dapat memungkinkan kepindahan kami ini. Setelah beberapa minggu berlalu masih belum juga ada jawaban, maka saya memutuskan untuk menelepon kantor Aliyah itu. Ibu yang menjawab dalam telepon punya aksen Brooklyn yang sangat enak untuk di dengar. Saya menceritakan semua kerinduan saya untuk kembali ke Israel dengan kedua anak saya. Ia menanyakan tentang identitas suami saya dan saya menjelaskan, bahwa saya adalah janda cerai. „Apakah anda bercerai di depan rabi ?“,tanyanya.

Hati saya menjadi kecut „Tidak“, jawab saya.
„Sayang sekali, anda tidak akan bisa kembali ke Israel tanpa surat perceraian dari rabi. Silahkan menelepon kami lain kali...“
„Tidak! Tunggu sebentar! Jangan dulu letakkan telepon! Saya tidak bisa mendapat surat cerai dari rabi, sebab kami tidak menikah di depan rabi!“ Saya memohon agar dia membuat jadwal dengan saya untuk mendiskusikan hal itu. Saya yakin bahwa dia sangat kaget mendengar jawaban saya yang non jahudi ortodox itu, sehingga dia memberi jadwal untuk seminggu kemudian.

Minggu berikutnya, saya tiba di kantor Alyah tepat pada waktu yang telah ditentukan. Saya melaporkan kehadiran saya dan mengambil tempat duduk dan menunggu! Duapuluh menit telah berlalu. Kemudian hampir satu jam. Posisi dimana saya duduk sangat jelas, sehingga nampaknya lucu kalau saya harus melaporkan diri kembali. Akhirnya saya mulai merasa menjadi seperti sepotong dekorasi peralatan kantor, maka sayapun berjalan menuju tempat melapor kembali.  Nampaknya penerima tamu itu telah lupa menyampaikan pesan saya! Dalam menit itu juga saya sudah berada dalam ruangan seorang Bapak. Ia memaafkan keterlambatan saya! Saya ragu untuk menjelaskan keadaan yang sebenarnya! Percakapan saya dengannya sangat membangkitkan semangat. Dia memberitsahukan pada saya bahwa Pekerja Sosial sangat membutuhkan pendidikan dan pengalaman saya, dan dia berkata bahwa ada progaram khusus untuk Pekerja Sosial yang akan dimulai pada bulan September –  persis pada waktu dimana saya akan pergi! Dia menyerahkan semua informasi penting dan formulir-formulir pendaftaran. Dia menerangkan bahwa pemerintah Israel akan memberikan uang untuk menutupi segala perongkosan saya dan anak-anak. Kami akan mendapat perumahan selama enam bulan di pusat imigrasi dimana saya secara intensip akan belajar bahasa Ibrani. Kemudian mereka akan mencarikan rumah dan pekerjaan dimana kami mau tinggal di Israel. (Biasanya mereka memberi uang tunjangan bagi pendatang baru, tapi karena saya mendapat uang tunjangan anak-anak, maka hal itu tidak berlaku buat saya.) Nampaknya semua berjalan dengan baik menuju kenyataan. Mungkin kami benar-benar akan pergi...

Ketika saya untuk pertama kali membayangkan akan pindah ke Israel, bagi saya hal itu bagaikan sebuah mimpi, sebab saya dan anak-anak hanya punya sedikit uang. Tetapi sekarang dengan pertolongan Israel persoalan uang akan teratasi. Namun jalan keluar ini masih dalam proses! Saya sama sekali tidak dapat membayangkan bagaimana mungkin Joe, ex suami saya akan mengijinkan anak-anak meninggalkan Amerika! Penolakannya bisa berkuasa mutlak: dia sangat menyayangi Michael dan Joey! Namun saya juga sadar bahwa nasehat DR:Reid adalah benar – Jika Tuhan menghendaki kami pergi, maka Ia akan membuka semua pintu!

Nampaknya buat saya hal itu adalah hal yang tidak mungkin. Saya tidak tahu mau buat apa! Saya berpikir, yang terbaik ialah mempercayai bahwa Tuhanlah yang dapat melakukan yang terbaik. Selama kita mengikuti cara kita dan mgnggunakan akal pikiran kita, kita lebih sering (bahkan bisa sama sekali) tidak membiarkan Dia bertindak. Tetapi jika kita sama sekali menjadi buntu, maka dengan mudah kita akan menyerahkan persoalan itu ke tanganNya.

Sampai saat ini saya masih termangu-mangu membayangkan jalan keluar yang dipihNya untuk mengatasi persoalan itu!

Semuanya dimulai ketika saya membeli beberapa meter kain dari „Bulu palsu“ untuk menyarungi Sofa dan beberapa bantal sofa di ruang tamu. Setelah semua selesai saya jahit, ruangan itu menjadi amat cantik kehitan! Tapi beberapa hari kemudian, saya mendapat kesulitan dalam bernafas, dan nampaknya, hari demi hari keadaan saya semakin memburuk.

Akhirnya saya berkosutasi dengan dokter. Sang dokter menduga, saya punya alergi terhadap buluh binatang. Setelah di test, ternyata saya alergi terhadap hampir segala sesuatu!

„Kasus seperti ini biasanya sering ditemukan pada orang setengah usia,“ jelas dokter itu pada saya. bagaikan letupan uap, nampaknya alergi itu telah bertahan bertahun-tahun akhirnya bulu itu menjadi puncak penyebab dari semua alergi. Maka tidak salah lagi kalau dokter itu menganjurkan agar saya mennyingkarkan semua dekorasi saya tersebut. Saya diberi obat pengatur pernafasan dan keseimbangan untuk melawan alergi, dengan harapan semua akan berjalan dengan baik kembali, sebagaimana seharusnya.

Pada saat itu seorang teman lama saya bernama Chris kembali menghubungi saya dari Massachusetts. Sudah bertahun-tahun saya tidak pernah melihatnya! dia baru saja mengenal kasih Yesus dan dia mulai belajar mengenal kasihNya pada Israel, pada orang Jahudi. Maka ia teringat, satu-satunya teman Jahudi yang pernah ia kenal – adalah saya sendiri!  Pastilah ia menjadi sangat kaget mendengar, bahwa saya juga sudah mengenal kasih Yesus.

Saya dan anak-anak bersama Chris dan keluarganya mendapatan kesempatan saling berkunjungan dan mebdapat kesempatan mengenal banyak dari teman-teman mereka. Semuanya berjalan baik sampai saya mengalami alergi itu. Kemudian saya kembali mendengar yang sama! „Itu adalah akibat dosa! Kamu harus menerima penyembuhan yang sempurnah. Mengkleim kesembuhan yang sempurnah dan kesejahteraan!“

Namun penyakit saya bertambah parah. Dan tanpa sepengetahuan saya, saya mendapat infeksi pernafasan. Setiap kali saya pergi ke dokter minta pertongan, mereka merawat saya dengan yakin bahwa itu hanya alergi yang biasa-biasa saja. Oleh sebab itu infeksi tersebut semakin parah. Untuk sementara waktu saya merasa lega tetapi kemudian saya benar-benar menjadi sakit lagi. Suatu malam paru-paru saya benar-benar menjadi akkut. Saya pergi ke ruang atas ke tempat tidur, tetapi saya tidak dapat cukup nafas lagi untuk membaringkan diri. Kenyataannya saya tidak bisa bernafas untuk melakukan sesuatu apapun dan saya tahu bahwa saya benar-benar sakit. Saya menarik nafas dan menjadi lemah dalam ketakuan. Anak- anak sudah tidur dan saya tidak bisa mengendarai mobil ke rumah sakit. Saya tidak tahu apa yang harus saya per buat!

Akhirnya saya bertelut di kaki Tuhan dalam kebingungan. Saya berseru kepadaNya, „Tuhan aku tau Engkau dapat menyembuhkan saya!Engkau telah menyelamatkan hidup saya! Mengapa hal itu tidak boleh terjadi?! Apa yang salah dengan iman saya? Mengapa rasanya Engkau amat jauh?“ Mengapa saya sakit keras? Mengapa Engkau menginjinkan hal ini terjadi ? Saya yakin saya tidak akan memberi reaksi yang begitu tajam atas masalah sehari-hari seperti penyakit ini, jika teman-teman tidak mempesalahkan saya.Tetapi sindiran tidak langsung yang mereka lontarkan membuat saya ragu akan hubungan saya dengan Tuhan!

Malam terasa panjang bagaikan tak berujung jika tidak bisa tidur. Akhirnya ditengah-tengah tangisan dan keluhan saya itu, saya mendengar suara Tuhan yang tenang dan halus. „Percayalah padaKu,“ hanya itu yang Dia ucapkan. Maka sayapun melakukan sperti yang Dia perintahkan, saya menyerahkan semuanya ke dalam tanganNya dan mencoba melakukan yang terbaik malam itu.

Pagi hari berikutnya entah bagaimana, saya masih mampu membawa Joey ke sekolah dan mengganti pakaian Michael, kemudian saya menelepon seorang teman untuk membawa saya ke Rumah Sakit Darurat. Dokter memberikan pertolongan pertama, tetapi setelah melihat bahwa obat tersebut tidak menolong, katanya dia berpendapat lebih baik jika saya segera diopname. Saya jadi sangat terkejut dan mencoba dengan sekuat tenaga untuk membicarakan hal itu dengan dokter tersebut.

Saya pikir anda tidak ada pilihan lain. Kondisi paru-aparu anda sangat memburuk, maka anda harus segera mendapat perawatan dan pengobatan, ucapnya untuk meneguhkan keputusannya.

Beberapa menit kemudian saya sudah berada di kamar saya di rumah sakit. Saya mengingatkan tentang Joey, dan beliau berjanji akan mengatur yang bersangkutan untuk mengurusi anak-anak. Saya segera mengerti bahwa perawatan ini akan menjadi waktu khusus!

Secara jasmani saya boleh katakan, bahwa saya sakit keras. Mula-mula saya diberi diet cairan untuk meringankan tekanan pada paru-paru, saya mendapat dua infus –air garam dan antibiotika. Selain itu dengan bantuan alat pernafasan saya diberi oxigen. Untuk melonggarkan paru-paru saya, tempat tidur saya harus dimiringkan. Saya juga menggunakan alat pernafan kecil dan tiga macam obat untuk mengeluarkan lendir dari paru-paru.

Ketika Chris dan teman-temannya mendengar bahwa saya sakit, saya benar-benar diperslahkan. „Lihat saja dia!“ kata mereka. „Benar-benar imannya sangat lemah!“ Dan mereka sama sekali tidak mampu mengasihi pada saat yang dibutuhkan itu.

Semua hal ini sangat membingungkan saya, namun saya tahu Yesus telah berkta:“Percayalah padaKu.“ Melalui hal itu Dia mengajarkan hal yang amat penting dalam hidup saya, bahwa jika kita berada di puncak gunung dan berlimpah dengan anugrah Tuhan, iman kita sangat lemah. Disana  kasih Tuhan nyata! Tetapi jika kita berada di lembah kekelaman dan masih dapat dengan tenang menikmati kasihNya, maka kita mulai belajar, apa artinya berjalan dalam iman.

Walaupun saya sakit keras, namun saya masih dapat menyaksikan kesetiaanNya. Dan sebagai hasilnya. kehidupan banyak orang telah disentuh oleh kasihNya. Orang-orang dari gereja yang biasanya tidak akan datang mengunjungi saya, datang. Saya dapat bersaksi kepada para pasien, kepada para perawat dan kepada para pegawai lainnya. Waktu yang amat indah dan penuh berkat!

Saat-saat yang khusus, dimana masih hari kedua saya mampu bertelut di kamar mandi, memuji Dia oleh karena berkatNya melalui sakit-penyakit! ReaksiNya mengingatkan saya akan sikap humorNya yang agung.

Ketika saya bersyukur kepadaNya, Dia berkata, „Jangan lupa bahwa bagian rumah sakit jiwa hanya satu lantai di atasamu!“ Dan tiba-tiba saya membayangkan diri saya menjadi tontonan dunia dan saya tidak dapat berbuat apa-apa kecuali tertawa! Di mana saya hanya mengenakan kemeja pasien dan dengan dua infus di lengan, mengucap syukur kepada Tuhan karena Dia menganugrahkan saya sakit penyakit! Sungguh dunia tidak akan pernah dapat mengerti hal itu! (Benar-benar lucu, sebab  ex suami saya adalah direktor rumah sakit jiwa!) Kasih Tuhan adalah penghiburan!

Ada banyak contoh bagaimana Tuhan mengubah kesempatan saya di rumah sakit menjadi kesempatan bagi banyak orang menerima kasihNya. Suatu sore, seorang ibu dari gereja mengunjungi saya. Pada saat dia tiba, Tuhan menggerakkan hati saya untuk memesan makanan tamu buat dia. Hal ini sangat mengejutkan saya, sebab biasanya ia sangat sibuk, dan nampaknya sangat mustahil kalau ia akan bisa tinggal sampai jam makan malam yang baru satu jam kemudian! Namun saya mengajukannya dan ternyata dia setuju. Ia menelepon pembantu di rumahnya untuk menjelaskan hal-hal yang harus dikerjakannya di peternakan dan lain-lainnya, lalu dia duduk dan mulai bercerita.

Sejak saat itu saya tidak pernah lagi dapat kesempatan berbicara dengannya! Mula-mula, telepon berdering. Dari seorang teman yang baru saja mendengar bahwa saa opname. Tidak berapa lama setelah saya meneletakkan gagang telepon kembali, telepon berdering lagi. Dari seorang tetangga. Saya menjadi sangat gelisah. Dengan jengkel saya mengomel pada Tuhan, „Tuhan mengapa telepon terus-menerus berdering? Saya jadi tidak bisa berbicara dengan Barbara!“ Kemudian IA memberi saya isyarat untuk mencapai sasaranNya. Saya masih belum bisa berbicara dengannya, tapi sudah saya tahu mengapa, maka saya hanya menjadi tersenyum!

Lama kemudian teleponpun berhenti berdering. Baru saja kami memulai percakapan, seorang perawat datang untuk mengukur temperatur saya. Kemudian perawat khusus untuk pernafasan oxsigen datang untuk mengatur perawatan pernafasan saya. Semula saya diberi oxigen selama 20 menit. Kemudian saya harus menggunakan alat pengisap udara selama 12 menit. Semua waktu yang sisa buat kami sebelum makan malam sudah berlalu, lalu saya mengusulkan agar Barbara makan lebih dahulu. Sementara sup saya menjadi dingin, perawat itu masih sibuk memiringkan tempat tidur saya agar saya dengan posisi miring berbaring. Dua jam telah berlalu sejak Barbara tiba, dan saya masih terlalu sibuk sehingga saya tak bisa berbicara dengannya. Satu-satunya pertanyaan yang dapat saya ajukan padanya ialah: „Barbara, tahukah kamu mengapa semua ini terjadi! Jawabnya selalu hanya singkat, „Tidak“. Lalu percakapan kami akan terputus kembali sebelum saya sempat menjelaskannya! sedemikian banyak ketegangan yang melelahkan!

Akhirnya ketika perawat khusus pernafasan itu meninggalkan ruangan saya, saya berkata, O:K:, Tuhan silahkan ambil alih situasi ini! Engkau tahu bukan, bahwa saya sakit?“ Silahkan hentikan semua gangguan dan biarkan saya menjelaskannya dengan cukup waktu!“ (Barbara memperhatikan dengan terheran-heran.) Kemudian dalam hati saya berdoa agar Dia memberi saya hikmat untuk mengetahui apa yang harus saya katakan.

„Barbara,“ saya memulai pembicaraan itu, „Coba pikir apa yang baru saja terjadi, kamu datang dua jam yang lalu untuk mengunjungi saya. Saya memesan makanan buatmu agar kita bisa makan malam bersama. Sejak itu kita tidak ada kesempatan lagi untuk berbicara. Mengapa? Apa yang terjadi?“

Dengan lugu ia menjawab. „Kamu sangat sibuk sepanjang waktu.“

Benar! Gangguan demi gangguan tidak putus-putusnya dan saya tidak ada kesempatan untuk berbicara. Sementara saya sibuk, dengan sabar kamu duduk dan menunggu kesempatan untuk berbincang-bincang dengan saya, tapi kesempatan tak kunjung tiba!“ Saya berhenti sejenak. „Barbara, tak satupun dari semua kejadian ini yang salah. Tuhan telah mengatur semua itu untuk menunjukkan kepadamu secara praktis  tentang keadaan hubunganmu denganNya. Yesus mengasihimu. Ia menanti-nantikan saatmu sendirian bersamaNya. Ia rindu agar engkau lebih dekat kepadaNya. Tetapi engkau selalu terlalu sibuk dan tidak punya waktu untuk duduk tenang berbincang-bincang bersaNya. Dia dengan sabar menantimu, persis seperti yang engkau lakukan dengan sabar menantikan saya!“

Hal itu adalah pelajaran yang baik untuk kita untuk lebih memperhitungkan perbandingan waktu yang kita prioritaskan untuk gunakan sendirian bersamaNya. Pelajaran ini sangat penting khususnya buat Barbara.

Barbara masih tinggal satu jam lagi dan kami memperhatikan, bahwa kami tidak lagi mengalami gangguan. Namun dari satu pokok percakapan kami itu, nampaknya amanat Tuhan baginya tidak jelas. Ketika saya menyadari hal itu, saya menjadi bingung. Saya yakin bahwa dalam dua menit berikutnya, telepon akan berdering, perawat akan datang, empat belas orang akan tiba dan lagi-lagi gangguan tidak akan berujung. Saya menegakkan posisi saya di tempat tidur dan melaluinya saya dapat melihat perhatiannya yang serius. Dengan memohon saya berkata kepadanya, Tolong Barbara, katakn pada saya bahwa kamu akan merenungkan hal itu! Cepat! Sebelum menjadi sibuk kembali!“ Ia tertawa tan berjanji untuk mengingat hal itu setiap saat.

Jam 7.30 pagi berikutnya, telepon berdering.

„Hallo Eileen, Di sini Barbabara! Saya hanya ingin menceritakan sesuatu buatmu!“ Ia begitu bersemangat. Ia bercerita bahwa pagi itu ia bangun seperti biasa. Pertama ia memberi waktu untuk Tuhan. Ia berdoa. Ia merasakan kehadiranNya. Ia membaca Alkitab. Bukan saja  ia punya cukup waktu untuk menyelesaikan semua tugas-tugasnya, melainkan untuk pertama kali sejak 17 tahun ia dapat tiba lebih pagi di tempat kerja. Suaranya yang mengharukan di telepon itu tidak dapat membendung airmata kebahagiaan saya.

„Maka ia menyimpulkan, „Saya pikir kamu sangat bahagia mendengar berita ini“, katanya. Benar, saya sangat berbahagia.

Sementara saya di rumah sakit, saya mulai membaca komentar tentang kitab Ayub, yang saya dapat sebagai ucapat semoga cepat sembuh! Sedemikian banyak kesulitan yang menimpa nya, yang nampaknya sangat menghancurkan hidupnya.Tapi pengarang komentar itu berkata, bahwa Ayub tidak punya Alkitab untuk dibaca dan menguatkannya“ Namun ia masih tetap percaya pada Tuhan! Saya mengalihkan perhatian saya pada Yesus, „Oh, bukankah hal itu tidak masuk akal! Bagaimana mungkin Ayub masih dapat percaya pada Tuhan setelah mengalami semua itu!“ Kemudian Tuhan mengingatkan saya kembali pada saat saya hampir dibunuh oleh setan setahun sebelumnya.

Sampai detik itu bagi saya peristiwa itu adalah suatu kenangan dimana Ia menyembuhkan saya dan Dia tidak pernah meminta saya memikirkan hal itu dengan sesuatu yang lain kecuali berterimakasih atas kemenangan yang dikerjakanNya malam itu. Tiba-tiba ingatan itu kembali meliputi hati saya. Saya teringat kembali pada peristiwa yang mengrikan itu dan kemenangan Tuhan semakin jelas bagi saya. Dan malam itu, di tempat tidur saya, dengan lembut Yesus mengingatkan saya, bahwa saya juga tetap beriman padaNya walaupunsaya belum membaca Alkitab! (Tuhan menunjukkan hal itu pada saya satu tahun setelah kejadian itu. Seandainya Dia menyingkakapkan hal itu pada saya sebelumnya, maka saya akan menilai hal itu sebagai kekuatan iman saya. Tetapi sekarang melalui kenyataan, bahwa saya masih mempercayaiNya, bukanlah kaena saya sendiri punya iman yang besar, melainkan karena Ia memelihara hidup saya. Hal itu menjelaskan buat saya bahwa Ia punya rencana tersendiri bagi tiap-tiap kita. Kita hanya diminta berserah padaNya tanpa takut!)

Kemudian Ia menunjukkan ayat ini dari kitab Markus:

„Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang percaya... sekalipun mereka minum racun maut mereka tidak akan mendapat celaka...Mark.16:17-18

Saya telah diberi minuman beracun oleh pendeta setan, dan racun itutidak menghancurkan saya. Semua buku di bumi tidak akan bisa mengajarkan kemahakuasaan Allah kecuali pengalaman saya sendiri! (Hal yang akan menjadi pelajaran yang tak ada bandingannya pada masa yang akan datang, dimana Tuhan semakin menarik saya masuk ke tengah-tengah peperangan rohani.)

Dua minggu kemudian, dokter berkata, bahwa saya sudah boleh pulang ke rumah, setelah ia melihat bahwa keadaan saya sudah membaik. „Tetapi,“ katanya mengingatkan saya, „Jika terjadi lagi sesak nafas, silahkan menelepon saya di kantor dan segera datang kembali ke rumah sakit.“

Saya begitu bahagia akan melihat kedua anak saya kembali! Saya sudah sangat merindukan mereka! Jean Donegan, seorang teman dari gereja menelepon dan menawarkan untuk tinggal di rumah kami satu atau dua hari untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumahtangga dan memasak. Suatu pengorbanan yang mulia, dan saya pun menerima tawaran ini dengan senang hati.

Pada hari terakhir saya berada di rumah sakit saya sudah tahu bahwa DR.Reid akan datang mengunjungi saya dan saya tahu bahwa dia akan dengan senang hati membawa saya kembali ke rumah. Maka saya mempercayai kebijaksanaanNya dan saya tidak memesan siapa-siapa. Saya menjelaskan hal itu kepada teman yang menelepon saya dan menawarkan akan membawa saya kembali ke rumah.

„Terimakasih, saya akan kembali ke rumah bersama DR.Reid.“
„Oh, kamu sudah berbicara dengannya?“
„Sebenarnya tidak, tapi Tuhan katakan pada saya, bahwa ia sedang menuju ke sini“
„APA? Dan kamu tidak menceknya?“

 Kami berdua sama-sama bingung. Bagi saya sudah jelas, bahwa jaminan yang paling besar di dunia ialah, jika Tuhan mengatakan pada saya bahwa DR.Reid sedang menuju tempat saya –apa kita yang mengenal segala sesuatu!

Sementara baginya hal itu adalah, mempercayai sesuatu yang tak masuk akal!

Menjelang siang, perawat khusus untuk pernafasan masuk untuk mengorganisir alat pengatur pernafasan saya untuk terakhir kalinya. Ketika ia memberikan  topeng oxigen pada saya, saya segera tahu bahwa saya tidak lagi harus berbaring miring, dan saya harus bergembira karena saya bebas dari situ. Segera saya menyetel tempat tidur saya, saya berbaring dengan relax dan melekatkat topeng oxsigen pada wajah saya dan menutup mata saya, mengucap syukur pada Tuhan atas semua mujizat kasihNya yang telah saya saksikan. Pada saat itu DR.Reid tiba di pintu kamar saya.

Walaupun sampai saat itu ia belum pernah mengunjungi saya, namun melalui pengalaman pribadinya, ia tau kekuatan Tuhan dalam keadaan sakit. Oleh sebab itu ia datang ke rumah sakit dengan harapan akan melihat saya dengan penuh sukacita! Ketika ia memasuki kamar saya dan melihat saya berbaring dengan oxigen, ia langsung berpikir bahwa ia telah diberi nomor yang salah oleh pihak penerima tamu di rumah sakit. Ia pergi keruang jaga perawat dan minta nomor kamar Ny. Dorflinger. Ketika ia telah menerima nomor yang dimintanya, ia menjadi bingung! Dia takut bahwa kesalahan  telah benar-benar terjadi! Dia masuk lagi ke kamar itu, kali ini ia menantikan yang lebih buruk. Saya tidak akan pernah melupakan betapa ia dengan halus dan hati-hati menyebut nama saya! Ia menjadi sangat lega, ketika saya membereskan diri, bangun dengan dipenuhi oleh sukacita dari Tuhan dan minta kesediannya membawa saya kembali ke rumah!

Saya telah memperlajari banyak hal selama dua minggu itu! Jika kita mempercayai Tuhan dalam segala situasi– .walaupun hal itu nampaknya sangat bertentangn dengan „teori agama populer“ masa kini– kita akan melihat, bahwa Ia benar-benar berkuasa. Perawatan saya dimulai dari kebingungan rohani. Orang-orang berkata, bahwa ada sesuatu yang salah dalam iman saya yang mengakibatkan saya sakit. Tetapi pada akhirnya, setelah aya melihat ,bahwa Yesus telah memberkati banyak orang dengan kasihNya, saya tahu bahwa tuduhan mereka itu tidak benar! Tuhan tidak pernah menjanjikan hidup yang sempurnah pada kita! Sebaliknya Ia menjanjikan kepada kita untuk memberi kekuatan dalam menghadapi apa saja yang datang dalam perjalanan hidup kita. Melalui semua itulah kita mendapatkan janji kemenanganNya! Ia mengunggunakan penyakit saya untuk menguatkan saya berjalan disisi Nya; menjamah banyak kehidupan dengan kasihNya; dan lebih dari semua itu, Ia menggunakan penyakit itu untuk membuka pintu agar saya dapat membawa anak-anak saya ke Israel!

Dokter saya sangat sedih melihat kondisi saya yang sangat lemah. Ia merasa, jika saya tetap tinggal di udara dingin pada musim dingin, bisa-bisa saya akan mati karena bahaya yang besar kalau-kalau infeksi terjadi lagi. Sebelumnya saya telah menjelaskan rencana saya untuk pindah ke Israel. Ia kenal rumah sakit paru-paru di sana dan udara kering di Israel sangat cocok buat saya. Maka ia menulis surat keterangan:

„Adalah suatu kharusan bagi pasien ini untuk pindah ke Israel. Diagnose: Bronhitis berat, streptokokkus dan infeksi bakteri.“

Sebuah surat keterangan dokter untuk pindah ke Israel! (Saya bisa saja pindah ke Arizona, dimana udara mirip, tetapi saya tidak punya uang. dan perpindahan ke Israel telah mulai direncanakan dengan janji uang tunjangan, dengan ongkos perjalanan, bahasa, perumahan dan pekerjaan!)

Oleh karena Joe kerja di rumah sakit yang sama dimana saya diopname, maka dia tahu betapa lemahnya kodisi saya. Ketika kami membicarakan surat rekomendasi dari dokter dan bahwa kami dapat uanng tunjangan, maka ia hanya bisa mnjawab ya! Oh, sebuah mujizat besar!

saya merasakan kepedihan hatinya, sebab saya tahu betapa ia mngasihi anak-anak. (Dia tidak tahu sama sekali jalan iman saya dengan Yesus; dan juga cukup menyedihkan karena dia bahkan tidak mengenal Yesus)

Akhir bulan Juni, dua minggu setelah saya membicarakan rencana imigrasi kami ke Israel bulan sepember dengan Joe, ia membawa anak-anak kembali ke rumah setelah prtemuan mingguan mereka itu (Dalam proses perceraian di Amerika maupun di Eropah selalu ada persetujuan bersama antara suami dan istri, pihak mana yang lebih berhak merawat dan mendidik anak-anak. Jika anak-anak diberikan pada pihak ibu, sang ayah harus membiayainya dan berhak bertemu dengan mereka sesuai dengan pesetujuan bersama). Dia meminta untuk berbicara dengan saya.

„Saya mau agar kamu tahu,“ ucapnya memulai pembicaraan itu secara resmi, bahwa saya akan menikah. Jude dan saya telah menetapkan tanggal pernikahan kami tgl.5 Juli.“

Airmata saya bercucurran. „Oh, Joe saya senang sekali medengar hal itu. Hal itu pasti sesuatu yang terbaik bagimu!“

Saya tahu bahwa keadaan Joe akan benar-benar lebih baik. Saya tidak lagi begitu sedih mengambil anak-anaknya, ketika saya tahu bahwa ia telah memulai hidup yang baru dengan seseorang yang sangat mencintainya. Hal itu semakin meyakinkan saya, bahwa Tuhan mennghedaki agar kami pindah ke Israel! Setelah saya berdoa saya juga tahu dari Tuhan bahwa saya harus menyisakan uang anak-anak perbulan, agar Joe dan Jude dapat mengongkosi anak-anak sekali setahun ke Amerika.

Pintu benar-benar telah terbuka! Musim panas berlalu, saat keberangktan kami ke Israel semakin dekat. Pada suatu malam yang khusus di bulan Agustus, pikiran saya sangat penuh, ketika saya sedang mengepak dan memilih barang-barang yang akan kami bawa. Kota pelabuhan Ashdod akan menjadi tempat tinggal baru kami. Kami akan tinggal di sebuah pusat imigrasi di bagian Mediterania. Kedua orangtua saya telah pernah menngujugi pusat imigrasi trebut pada waktu perjalanan mereka ke Israel, dan menjelaskannya pada kami. Kompleks itu terletak  berhadapan dengan pusat perbelanjaan dan berbatasan dengan sebuah Taman yang indah sampai ke laut. Kedengarannya sangat bagus! Namun tidak mudah untuk meninggalkan rumah, dan mengucapkan selamat tinggal pada teman-teman dan keluarga dan menghadapi negara asing yang baru!

Tiba-tiba saya merasakan kehadiran Tuhan, dan tidak pernah membayangkan apa yang akan diucapkanNya malam itu telah mengoncangkan dunia saya. Dia datang kepada saya dengan penuh kasih untuk menyingkapkan selubung salib yang telah disiapkanNya untuk kupikul.

Ia mengajukan sebuah pertanyaan: „Apaah engkau mengasihi saya melbihi segala sesuatu“ dalam hidupmu?“

Saya coba sejenak merenungkan, bahwa saat itu saya sedang meletaktakan Tuhan dan kehendakNya atas segala sesuatu yang terdekat di hati saya. – rumah saya, kampung halaman saya, teman-teman saya dan sanak saudara saya. Tetapi jika saya membandingkan semua itu dengan kebesaran kasihNya, saya tahu saya jauh lebih mengasihiNya. Maka setelah beberapa saat berlalu saya menjawabNya, „Ya, Tuhan, aku mengasihiMu melebihi semua ini!“

Tetapi Tuhan tidak membiarkan diriNya dikaburkan., dan Ia tahu bahwa semua itu tidak begitu bernilai buat saya. Saya tahu bahwa teman akan tetap teman dan sanak saudara tetap sanak saudara!

Ia mengulangi pertanyaanNya: Tetapi apakah engkau mengasihi Aku lebih dari segala sesuatu dalam hidupmu?“

 Saya tidak tahu apa yang akan datang kemudian, tapi saya sudah mulai merasakannya, sebab tanpa sepengetahuan saya, saya mulai menangis. Lalu Ia mengucapkan satu kalimat pada saya – hanya satu kalimat, yang menamcap di jantung saya. „Jika engkau mengikuti kehendakKu dalam hidupmu, engkau dan anak-anakmu hanya punya waktu bersama sebagai keluarga selama enam bulan di Israel, kemudian mereka akan kembali ke ayah dan ibu tiri mereka di Amerika.“

Anak-anak saya! Tuhan tahu hal itu! Sebab merekalah satu-satunya yang menjadi buah hati saya! Saya mengasihi mereka melebihi segala sesuatu! Saya sangat kecut dan mencoba menghayalkan bahwa itu hanyalah sebuah ujian iman. „Oh, Tuan, pasti engkau tidak menghendaki hal itu!“ Namun saya tahu Dia menghendaki hal itu. Pelan-pelan saya menaiki tangga menuju kamar tidur mereka. Mereka sedang tertidur pulas, kedua anak yang kukasihi, dan saya sungguh dipenuhi dengan keputusasaan dan kepedihan yang dalam yang tidak dapat dilukiskan. Saya berlari ke kamar saya, melemparkan tubuh saya di tempat tidur dan menjerit, menjerit , menjerit dan menjerit.

Setelah nampaknya hal itu tak berkesudahan, saya bertelut kembali menghadap Tuhan. Malam itu Ia telah menyentuh yang tedalam dalam hati saya. Ia tahu bahwa saya tidak dapat memberi yang lain padaNya yang lebih berarti dari situ. Si kecil Joe dan Michael adalah yang paling berharga bagiku! Tetapi saya tahu, saya sungguh tidak punya pilihan lain. Tuhan telah mengajarkan hal penting dalam hidup saya: Yang pertama dari semua itu, kehidupan diluar kehendak Allah sama seklali tidak ada artinya, terserah dengan siapa kita! Dan yang kedua, Saya tahu bahwa Joey dan Michael telah menjadi milikNya. Bahkan saya telah menuliskan dalam bahagian depan Alkitab saya kata-kata dari Tennyson, Tuhan berilah kami kami kasih, tapi seseorang untuk dikasihi, Dia pinjamkan pada kita...“ Maka saya membayangkan untuk meletakkan mereka sebagai kurban di Altar Tuhan, sama seperti yang dilakukan Abraham dengan Isak jauh sebelumnya. Saya dapat membayangkan betapa pilu hatinya saat itu. Saya menyerahkan mereka di tangan Tuhan, berdoa dengan segenap jiwa bahwa itu adalah hanya ujian. Namun dalam dalam lubuk hati saya, saya tau bahwa hal itu bukan sekedar ujian.

Satu-satunya cara yang dapat saya tempuh pada hari berikutnya ialah, membuang hal itu dari ingatan saya, dengan satu harapan yang jauh bahwa saya telah salah mengeti dan hal itu sebenarnya tidak akan pernah terjadi. Namun saya tidak bisa lega! saya menceritakan kepada beberapa teman apa yang telah terjadi antara saya dan Tuhan malam itu, tetapi sebagian besar saya menolak keyakinan saya akan hal itu.

Hari yang dinanti-nantikan  akhirnya tiba untuk terbang ke Israel. Joe dan Jude membawa Joey dan Michael ke Lapangan Terbang New York untuk mengucapkan selamat jalan. Alease, tetangga baik saya dan Jean Donegan besrta beberapa teman dari gereja membawa saya ke lapangan terbang Connecticut, dari sana saya terbang ke New York. (Marcia telah pindah ke Pennsylvania.) Persis sebelum saya naik ke pesawat, dengan bergandengan tangan kami berdiri dan berdoa. Mereka berdoa agar minta berkat Tuhan buat saya. Mereka berjanji akan terus berdoa, menyurat bahkan bersedia membantu kami sedapat mungkin jika diperlukan. Saya tahu, bahwa saya akan merasa kehilangan mereka.

 

    [index]