9 KEHENDAKMULAH YANG JADI

Enam minggu permulaan kami di Israel terasa berlalu sangat cepat! Namun ada beberapa catatan yang tidak menyenangkan. Ketidakmampuan saya untuk menangkap pelajaran bahasa Ibrani merupakan hal yang sangat mengecewakan. Ditambah lagi, sepanjang waktu itu tidak sebuah suratpun kami terima dari teman-teman di Amerika. Ibu saya yang kekasih adalah satu-satunya sahabat yang setia dalam hal ini! Juga adalah suatu ketegangan berat, karena tak seorang temanpun yang dapat diajak bertukar pikiran, saya tidak menemukan seorangpun yang dapat dipercaya. Satu-satunya penghiburan saya adalah melihat Michael dan Joey yang mulai terbiasa tinggal di tempat baru itu!

Suatu hari saya menerima surat dari ibu guru Joey yang isinya mengharapkan pertemuan dengan saya di sekolahnya. Saya pergi dengan harapan akan mendapat laporan positip, oleh sebab itu saya benar-benar tanpa persiapan untuk mendengar berita yang harus disampaikannya. Dengan pertolongan penterjemah, beliau menjelaskan pada saya bahwa sekolah tersebut telah terbiasa dengan anak-anak imigran sebab Israel sendiri dibangun atas imigran-imigran. Beliau meneruskan bahwa kelakuan anak saya Joey adalah salah satu hal yang paling buruk yang pernah mereka hadapi sejak sepuluh tahun terakhir dan nampaknya saat itu adalah saat yang paling krisis baginya. Hampir tak mampu saya mengucapkan sepatah katapun. Nampaknya dia gembira dan mulai merasa betah di komplek imigrasi itu!

Saya meninggalkan sekolah itu dan berjalan menuju pantai, saya ingin sendirian bersama Tuhan. Air mata saya mulai bergenang. Saya mencurahkan seluruh isi hati saya padaNya. Saya hanya sendirian di negara yang baru itu! Saya tidak bisa berbicara dalam bahasa mereka. Tak satupun surat dari teman-teman di Amerika; dan di sini tak seorangpun teman yang dapat diajak berdoa bersama-sama! Dan sekarang, saya mendengar situasi anak saya yang mengegspressikan kekecewaan! Sendirian saya duduk di sana di tepi pantai, dari lubuk hati saya menjerit, „Tuhan, tolonglah saya!“

Saya menantikan penghiburan kasihNya, janji tentang hari-hari yang lebih baik, perasaan akan pengertianNya. Namun jawabanNya begitu jauh, sejauh mungkin. Saat itulah Ia mengingatkan saya, bahwa itulah saat terakhir setelah enam bulan saya bersama anak-anak, dan sekarang saya harus mulai menerima kenyataan itu. Dengan hati yang pilu saya meninggalkan pantai itu.

Satu atau dua hari berikutnya saya harus menelefon Joe di Connecticut untuk mengetahui tentang cek keuangan anak-anak. Cek itu begitu lambat tiba sementara wang saku kami sangat kecil! Saya juga menceritakan padanya tentang kesulitan Joey di sekolah dan firasat saya yang mengatakan bahwa Joey membutuhkan perhatian yang lebih banyak dari apa yang dapat saya berikan saat itu. Dan dalam perasaan seolah-oleh hidup saya telah berakhir, saya menanyakan apakah dia dan Jude bersedia mengambil alih tanggungjawab atas Joey dan Michael. Jawabannya sungguh hadiah dari Tuhan! Dia menjelaskan bahkan cek itu sudah diposkan bersama sepucuk surat dari padanya. Ia mengutip isinya:

„Saya tahu betapa besar arti anak-anak itu bagimu dan saya tidak akan pernah mengambil mereka daripadamu. Tetapi sejak mereka pergi, saya semakin merasakan betapa berartinya mereka bagiku juga. Jika engkau berubah pikiran tentang pemeliharaan mereka, Jude dan saya telah sepakat untuk menerima mereka.“

Kata-katanya selanjutnya begitu baik! Eileen, kau sangat mencintai mereka. Pikirkan baik-baik sebelum kau membuat keputusan. Kemudian mari kita lihat bersama-sama.“ Saya berjanji untuk melakukannya, dan dengan sangat hati-hati saya ucapkan goodbye, jangan sampai ia mengetahui tentang air mata saya yang sudah bercucuran dipipi.

Saya begitu sedih mengetahui tantangan yang dihadapi si kecil Joey. Saat itu saya tidak mengerti mengapa hal itu mesti terjadi, namun kemudian saya menjadi mengerti bahwa dalam hikmat Tuhan, Ia mengijinkan hal itu untuk meneguhkan, bahwa kasih kepada anak-anak berarti merelakan mereka pergi. Ayah mereka telah siap dan mampu memberikan keamanan bagi mereka, dan seorang ibu serta suasana kekeluargaan yang mereka perlukan – semua hal itu sudah menjadi kebiasaan mereka termasuk keluarga dan teman-teman. Di pihak lain, saya tidak dapat memberi perhatian yang lebih banyak bagi mereka. Kesehatan saya sangat buruk, dan keamanan yang mereka butuhkan nampaknya sangat tidak mencukupi. Demikianlah situasi yang terjadi atas diri saya, yang mengharuskan saya memilih satu dari dua alternatif. Jika saya memikirkan tentang diri saya dan kebutuhan saya sebagai seorang ibu, saya tidak akan pernah bisa berpisah dari mereka, bahkan untuk satu haripun tidak. Tetapi jika saya melupakan diri saya dan memikirkan mereka maka pilihan saya adalah jelas.

Sore harinya saya menerima telefon dati Richard, teman yang kami kenal tahun sebelumnya di Minepolis yang mendapat perasaan bahwa saya akan ke Israel pada bulan September 1976. Hal yang sangat luarbiasa menyenangkan mendengar suaranya yang tidak asing lagi bagi saya.

„Shalom, Eileen! Saya sekarang sedang berada di Gereja Skandinavia di Asdod, mungkin kamu bisa datang dan bertemu dengan orang-orang kristen di sini sekaligus ikut persekutuan. Saya akan singgah di tempatmu jam 8 malam ini.“

Hampir-hampir saya tidak bisa berkata-kata karena suka cita. Yesus telah menuntun saya ke sebuah meja hidangan di padang gurun! Sehari sebelumnya saya duduk di pantai, sendirian di hadapan Tuhan. Pada hari berikutnya saya tidak sendirian lagi, terpujilah namaNya! Betapa suka citanya saya!  Di belakang saya, di Amerika, saya telah menempatkan persekutuan orang percaya sebagai suatu garanti, tapi malam ini saya belajar betapa hal ini semata-mata hadiah dari Tuhan.

Saya bertemu dengan tiga orang malam itu yang akhirnya menjadi teman buat saya– seorang pemuda dari Jerman bernama Klaus, dan sepasang suami istri dari Norwegia yang bernama Jenny dan Wolfgang. Masing-masing mereka adalah tenaga sukarela yang melayani di gereja Skandinavia itu selama satu tahun.

Saya menceritakan dalam persekutuan kecil itu masalah Joey yang cukup serius di sekolah dan surat perintah dokter agar saya pindah ke Israel karena kesehatan saya yang memburuk. Kemudian saya menjelaskan kemungkinan bagi anak-anak untuk kembali ke Amerika, kepada ibu tiri dan ayah mereka itu. Saya begitu terhibur memiliki orang lain yang turut membawakan beban itu kepada Tuhan!

Persis sebelum persekutuan itu berakhir, pendeta setempat berdoa buat saya. „Berilah Eileen kekuatan seorang ibu yang akan berpisah dari anak-anaknya,“ katanya. Dan hal itulah yang terjadi dalam hati saya pada saat perpisahan kami.

Saya kembali ke tempat tinggal kami di komplek imigrasi itu. Dengan berjingkat saya memasuki kamar kedua putra saya untuk menyelimuti mereka dan mencium mereka, sebagaimana yang lajim saya lakukan. Saya berdiri sejenak mengamati mereka tidur nyenyak dan mendengar dengusan nafas mereka yang penuh damai. Kemudian saya mengerti bahwa mereka sudah lebih dahulu anak-anak Tuhan, kemudian dipercayakan pada saya sepanjang tahun itu; dan sekarang mereka juga adalah milik ayah mereka di dunia ini.  Mereka begitu berarti bagi saya, dengan diam-diam saya meraung, tak mampu saya membayangkan kehidupan ini tanpa mereka. Merekalah yang menjadi pusat kehidupan saya untuk beberapa tahun lamanya!

Kemudian, di dalam kepedihan itu, Yesus memberikan kesempatan pada saya untuk melihat kepedihan hatinya di Taman Getsemani. Oleh karena kesedihan saya begitu dalam saat itu, saya dapat melihat sebagaian dari apa yang dirasakanNya pada malam yang sunyi dan panjang, ribuan tahun yang lalu, ketika Ia juga harus berpisah dari semua yang dikasihiNya. Entah bagaimana, saya menjadi tidak lagi terlalu merasa sedih atas keadaan saya sendiri. Sebaliknya saya dapat bersyukur karena Ia mengijinkan saya untuk mengerti  sebagian kecil dari seluruh pengorbananNya yang membawa keselamatan itu. Pengorbanan kasihNya saat itu jauh lebih berarti buat saya dari saat-saat sebelumnya.

Sejak malam itu saya tahu dalam hati, bahwa Tuhan akan memenuhi panggilanNya dalam hidup saya. Maka suatu sore ketika anak-anak saya sedang bermain motor-motoran di tempat tidur mereka itu, saya menulis surat pada Joe, meminta kesediaannya dan Jude untuk mengambil alih perawatan anak-anak, dan agar dia mengirim tiket pesawat anak-anak, jika semuanya telah siap.(Potongan tunjangan anak-anak selama ini akan cukup untuk biaya transportasi mereka.)

Saya tidak akan pernah dapat melukiskan keadaan saya saat itu.

Suatu malam, ketika saya bertelut, Tuhan berpesan pada saya dan pesan itu bahkan sempat saya catat dalam sebuah catatan kecil. Bunyinya:

„Jika engkau dihukum Tuhan, keadaan itu adalah bagaikan perjalanan melalui api penyucian, tapi hal itu bukan membuatmu lebih berarti. Sebaliknya hal itu akan semakin meyadarkanmu akan ketidak layakanmu, dan atas kemahakudusan Allah“

Saya sama sekali tak dapat mengerti hal tersebut malam itu, bagi saya itu bertentangan dengan logika. Tapi saya mau mengerti bahwa saat „penyucian „ bisa saja sudah terbentang di depan!

Malam lain Tuhan memasuki bagian yang lebih dalam lagi dan mengajukan pertanyaan yang kedua, mengingatkan saya akan pertanyaan yang diajukanNya suatu malam di musim panas sebelumnya, yang menyatakan saya mempercayakan anak-anak di tanganNya.

„Apakah engkau mengasihiKu dan rela mati bagiKu?“

Kematian adalah sesuatu yang selalu dihindarkan dalam tema percakapan orang Jahudi secara tradisional, namun tetap menjadi sesuatu yang misteri. Reaksi pertama saya adalah ketakutan, kemudian yang paling mengherankan Tuhan mengajukan pertanyaan atas SAYA! Hal itu membuat saya tertawa. Saya yakin bahwa Tuhan sangat mengenal saya, oleh sebab itu Dia tidak mungkin tidak melihat kenyataan bahwa diantara semua yang bernyawa, saya yang paling pengecut. Saya akan segera berteriak hanya diperhadapkan dengan seekor kecoa! Apalagi menghadapi siatuasi yang dihadapi oleh para martir!

Namun akhirnya saya mengerti bahwa Ia ingin mengetahui kesediaan saya untuk mati bagiNya. Ia menolong saya untuk melihat apakah saya memang bersedia mati bagiNya dan pada waktu penderitaan sampai kematian, kekuatanNya akan memimpin saya. Tetapi jika saya tidak bersedia, maka Ia tidak akan memberikan kesempatan bagi saya untuk menghadapi sesuatu yang berbahaya. Saya bertelut dan menyerahkan hidup saya kembali ketanganNya secara baru, saya nyatakan bahwa jika itu kehendakNya, saya akan bersedia mati bagiNya...dengan pengetahuan, bahwa hanya kekuatanNya dapat memimpin saya melalui hal itu.

Segera setelah saya mengucapkan doa itu, saya merasa ringan bagaikan beban berat di hati saya terlepas. Saya bebas dari rasa takut bahkan saya sangat sukacita! Akhirnya saya mengerti kebenaran sederhana, bahwa jika kita bersedia mengasihi Dia melebihi segala sesuatu dalam kehidupan kita, termasuk hidup kita sendiri, maka tak satupun di dunia ini yang dapat membuat kita ketakutan, kecuali ketakutan akan keluar dari jalan kehendakNya! Sesuatu yang memberi kelegaan!

Hari berikutnya adalah pelajaran yang mengagumkan.

Sebagaimana biasa setiap pagi setelah bangun saya menyerahkan hari itu ketangan Tuhan, Dia memerintahkan kami untuk menghabiskan hari itu di Tel Aviv! Anak-anak dan saya sendiri senang sekali, sebab kami belum melihat banyak di Israel. Dengan buru-buru kami menyelesaikan sarapan pagi itu dan kami berangkat dengan bus. Kami menghabiskan pagi itu dengan melihat pemandangan-pemandangan dan sorenya kami naik bus menuju Jaffa. Kami turun di halte bus yang saya pikir ternyata salah. Persis di depan kami ada sebuah toko buku kecil. Kami masuk untuk menanyakan arah jalan, tapi setelah kami masuk, kami jadi terheran-heran karena kami sedang berada di sebuah toko Alkitab dengan sebuah ruang pertemuan, hal yang sangat jarang! „Apakah ini sebuah ruang doa?“ tanya saya pada seorang wanita yang duduk di sana.

Saya benar-benar tak siap atas jawabannya! „Ya, tempat ini adalah ruang pertemuan bagi orang-orang Jahudi yang percaya pada Yesus,“ ucapnya menjelaskan. Hal yang saat itu di Israel penemuan seperti itu dapat diibaratkan seperti penemuan suatu harta yang terpendam, yang hampir tidak ada bandingannya!

„Saya sendiri orang Jahudi yang percaya pada Yesus,“ jawab saya, sambil berusaha mengontrol sukacita saya, sambil beliau mempersilahkan saya duduk. Beliau menjelaskan bahwa beliau adalah seorang percaya yang sudah 50 tahun tinggal di Israel. Sangat sulit menyatakan bagian mana yang lebih mengagumkan saya! Beliau menceritakan sekian banyak mujizat Tuhan ketika Israel berdiri sebagai bentuk nyata dari janji-janjiNya! Beliau menceritakan tentang penderiaannya beserta suaminya oleh karena iman mereka itu.

„Suami saya sering berpikir untuk kembali oleh karena kesulitan-kesulitan,“ dengan berbisik beliau menceritakan, „karena sekarang ini sangat sulit untuk menyatakan orang percaya sungguh-sungguh!“

Maka beliau menceritakan tentang sebuah kisah yang luarbiasa:

„Beberapa tahun yang lalu, orang-orang kristen di Rusia sedang berdoa dan memuji Tuhan di sebuah ruangan yang besar. Tiba-tiba, ditengah-tengah persekutuan mereka itu, pintu di dobrak dan trbuka, seorang militer masuk dengan senjata di tangan di hadapkan kepada orang banyak. „BARANG SIAPA YANG TIDAK PERCAYA PADA YESUS BOLEH MENINGGALKAN RUANGAN INI!“ teriaknya pada kumpulan itu. Walaupun setiap orang yang hadir di sana atas namaNya,  namun kebanyakan diantara mereka masih jauh lebih mengasihi sesuatu yang mereka miliki daripada Dia; apakah itu rumah mereka, atau keluarga mereka, bahkan mungkin nyawa mereka. Dalam sekejab saja ruangan itu menjadi kosong, sebab orang-orang berlari secepat mungkin untuk meninggalkan ruangan tersebut – kecuali segelintir manusia, yang walaupun diperhadapkan dengan senjata yang mematikan, namun mereka lebih mengasihi Yesus daripada menyangkalNya. Tentara itu berdiri sejenak dan mengamati wajah mereka satu persatu, secara perlahan-lahan menurunkan senjatanya, dan dengan lembut beliau berkata, „Saya sendiri juga percaya pada Yesus, saya ingin tahu siapa-siapa orang percaya sungguh-sungguh, agar dengan demikian kita dapat bersukacita bersama!“

Beliau tersenyum memandangi genangan air mata saya. „Suatu malam kesukaan yang tidak ada bandingannya!“ ucapnya mengakhiri kisahnya. Saya dapat membayangkan apa arti malam itu bagi mereka yang tidak meninggalkan ruangan itu!

Waktu berlalu begitu cepat! Kami telah berbicara selama dua jam, dan melaluinya kedua anak saya sudah mulai jenuh. Saya merencanakan untuk kembali kelak berbakti dengan mereka. Beliau memeluk kami satupersatu dan kamipun pergi!“

Kemudian kami turun di gereja Santo Petrus, kami bertemu dengan seorang Bruder yang dengan kebaikannya menemani kami menelusuri gereja itu. Diikuti dengan makan Mie, lalu kami naik bus menuju rumah.

Setelah anak-anak naik ke tempat tidur dan berdoa malam buat mereka, barulah saya dengan tenang memikirkan kembali segala kejadian hari itu. Tiba-tiba Tuhan memberi pengertian buat saya tentang pertanyaanNya pada saya – mengasihiNya lebih dari segala sesuatu yang saya miliki dalam hidup ini, termasuk nyawa saya– bagiNya tidak ada yang terlalu berharga. Dengan sederhana Ia menyingkapkan pada saya, apa arti kekristenan.

Ketika waktu perpisahan kami semakin mendesak,  saya menerima kekuatan dengan cara tidak diduga dari Tuhan!

Suatu hari saya menerima cheq sejumlah $100.00 dari persekutuan Massachusetts. Saya begitu rindu menunjukkan Israel sebanyak mungkin kepada anak-anak sebelum mereka kembali ke Amerika, maka saya segera menyusun rencana empat hari menuju bagian Eilat, yang terletak di pantai Laut Mati. Saya menukar uang itu, mengepak barang-barang dan kamipun berangkat! Saya tidak membicarakan hal itu dengan Tuhan, kaena saya takut jangan-jangan jawabNya tidak. Saya mau pergi ke Eilat!

Oleh karena hal itu tidak sesuai dengan kehendakNya, kami tiba di Eilat dengan tiga hari panjang yang berliku-liku. Segala sesuatu berjalan tidak pada tempatnya. Malam pertama di tempat penginapan kami penuh dengan serangga. Malam kedua kami pindah ke sebuah penginapan yang menghadap ke Laut Mati. Malam itu amat dingin sehingga kami mau tidak mau harus membungkuk sepanjang malam di bawah selimut mencari kehangatan! Ditambah lagi, camera Joey hilang. (Sebuah hadiah yang diterimanya dari Jude dan Ayahnya ketika ia genap 9 thn.) Terlalu dingin untuk berenang. Kami menghabiskan uang untuk penginapan hari ke tiga entah dimana dan kemudian kami harus kembali ke Asdod. Dan saya masih merasakan tekanan dari setan. Anak-anak sangat menjengkelkan demikian juga saya sendiri. Kami terus-menerus saling menjengkelkan satu dengan yang lain dan pertengkaran nampaknya tidak beralasan.

Satu-satunya kesukaan yang menjadi jalan keluar ialah, ketika kami mengunjungi Aquarium di bawah air. Hal yang sangat mengagumkan! Kehidupan laut itu begitu indah, dan sebagian ikan-ikan dihiasi dengan aneka ragam warna. Kami keluar dipenuhi dengan perasaan kagum akan ciptaan Tuhan.

Tetapi kemudian kami menyadari, bahwa kami baru saja ketinggalan bus, yang hanya berangkat satu kali satu jam menuju Eilat, akibatnya kami harus duduk menunggu untuk sekian lama. Seorang Arab pemilik Unta dekat halte bus itu membujuk para touris unt
uk menunggangi Untanya. Kamipun tidak terkecuali! Saya katakan padanya bahwa kami imigran baru, bukan touris, oleh sebab itu kami tidak bisa bayar itu! Anak-anak memohon sampai hatinya menjadi lunak. „ Saya akan kembali,“ ucapnya, menunjuk ke arah Eilat. „Ayo, hanya tidak usah 200 sikal cukup 20 sikal saja.“

„Tapi saya geli menunggang Unta!“ Jawab saya memprotes. Pandangan mata Michael dan Joey membuat saya tidak ada pilihan lain. Apalagi saya harus pergi bersama dengan mereka! Dengan hati-hati saya naik. Michael dan saya duduk di atas sadel Unta yang seharusnya untuk satu orang, dan Joey memegang tali penunggang. Cara Unta berdiri sedikit mengerikan! Mula-mula mereka menegakkan kaki belakang dan kemudian menegakkan kaki depan, sehingga kita didorong ke depan dan kemudian dibanting ke belakang!

Saya masih tersenyum jika saya menggambarkan kami bertiga, di tengah-tengah padang gurun Sinai, tinggi di pundak seekor unta, di giring oleh seorang arab yang pecinya diterbangkan angin. Kami menunggang unta lebih tiga kilo meter, lalu orang Arab tersebut menyadari bahwa Bus sedang di belakang kami. Secepat mungkin kami memacu unta menuju halte bus berikutnya, dibawah sorak sorai penumpang bus! Israel punya fitalita seperti itu. Selalu saja ada kesan menarik, walau hanya dengan berjalan kaki di jalanan. Biasanya hal inilah yang kemudian paling saya senangi. Namun adalah hal yang mustahil untuk turun dengan gampang dari pundak unta, maka saat itu saya benar-benar tidak dapat menghargai teriakan itu! Namun demi anak-anak merasa puas, acara menunggang unta itu telah menyelamatkan suasana hari itu!

Bagi saya, kelelahan atas tiga hari kegagalan itu adalah pengalaman yang sangat mematahkan semangat. Pelajaran yang dapat saya tangkap, amat dalam. Tuhan menolong saya untuk mengerti, bahwa kehidupan diluar kehendakNya, tidak akan mempunyai arti. Jika saya merubah pikiran akan kehendakNya dan mempertahankan anak-anak itu, saya tidak akan dapat hidup dalam ketidak taatan namun tetap mengharapkan berkatNya atas saya. Maka pengalaman itu memberi kekuatan buat saya untuk tetap memandang ke jalan di depan.

Pada hari yang lain saya benar-benar merasa kasihan atas diri saya sendiri. Saya merengek kepada, Tuhan, „Engkau telah meminta agar saya menyerahkan anak-anak saya!“ Lagi Tuhan memberi saya kekuatan, tetapi dengan satu keyakinan, bahwa saya harus berhenti mengeluh. Sore itu, ketika kami bertiga sedang berjalan bersama sambil makan Es Cream (sebagai kejutan bagi mereka hari itu), kami melewati seorang anak kecil yang sedang berjalan dengan ibunya. Wajah anak tersebut sedemikian buruk. Saya terpaksa memalingkan muka.

Malam itu juga, di pusat imigrsi itu diputar dua buah film untuk orang dewasa. Satu adalah tentang pembangunan Israel, dan yang lain adalah film dokumen dari peristiwa Holocoust. Saya melihat anak-anak dirampas dari rangkulan ibu mereka untuk dibunuh.

Melalui kedua kejadian tersebut, saya tahu bahwa Tuhan sedang menunjukkan pada saya, bahwa tidak ada alasan bagi saya untuk merasa berbelas kasihan pada diri sendiri. Saya memiliki dua anak laki-laki ganteng yang akan kembali ke kengahatan dan kasih keluarga di Amerika Serikat. Dan bukan hanya itu, mereka adalah milik Raja segala raja...

Satu hal yang luar biasa menyusahkan saya. Saya sudah menjadi orang percaya, di babtis dalam Roh Kudus berbulan-bulan sebelumnya, saya mempunyai pengalaman-pengalaman yang dalam tentang kasih Yesus–namun saya masih merokok! Orang-orang percaya telah sering mengkritik saya atas hal itu. Saya telah mencoba segala sesuatu untuk menyetopnya, namun semuanya sia-sia. Nampaknya hal itu adalah hal yang mustahil!.

Suatu hari Klaus singgah untuk menjemput anak-anak pergi jalan-jalan di pasir. Mereka selalu punya waktu bersama yang menyenangkan seperti itu! Ketika mereka pergi, Klaus mengingatkan, „Kamu harus berhenti merokok, tau ngak!“ Tuhan sungguh menggarisbawahinya dengan keras, sampai saya terduduk dan menarik nafas.

„Tetapi Tuhan,“ saya menggerutu, „Engkau tahu berapa kali sudah saya coba!“

Lalu Ia mengajukan sebuah pertanyaan pada saya. „Mengapa engkau ingin berhenti merokok?“ Satu-satunya pertanyaan yang hanya Dia, yang dapat menjawabnya, yang terus dikerjakanNya.

„Engkau ingin berhenti merokok bukan karena hal itu membahayakan kesehatanmu dan perhambaan kepada setan! Engkau ingin berhenti merokok, karena orang kristen lainnya hunjuk jari terhadapmu dengan celahan dan engkau ingin dianggap benar di depan mereka! Itu adalah kesombongan yang dapat menjadi penyakit kanker yang jauh lebih membahayakan dari pada konsekwensi akibat merokok!“ Ia terus mengajarkan pelajaran-pelajaran penting pada saya.

Ia memberi pengertian pada saya bahwa tiap-tiap kita adalah manusia berdosa. Adalah karya Roh Kudus untuk menyucikan dan melengkapi kita, namun dalam kepahanaan hidup kita ini, kita tidak akan pernah sempurna. Sebagaimana Paulus nyatakan, menyingkapkan keberdosaan alamiah:

 „Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.“
Ro.7:19

Sebagai orang percaya, kesombongan kita akan membuat kita ingin diperkenankan Tuhan, mulai dengan penyelesaian dosa-dosa yang kelihatan – seperti merokok – sementara Yesus lebih mementingkan dosa-dosa tersembunyi yang dapat lebih berbahaya.

Oleh karena rokok saya, saya mendapat celaan dari banyak orang percaya yang saya temui. Bahkan sebagian menyatakan, bahwa tak mungkin saya seorang kristen sementara saya masih terus terikat dengan rokok!  Oleh karena itu, saya belajar mengerti perasaan orang yang dihakimi.

Tuhan menolong saya untuk melihat, bahwa tak seorangpun dari kita ini yang sempurna. Hanya satu orang sempurna yang pernah hidup! Yaitu Yesus!  Untuk kita yang fana ini, walaupun kita akan berumur panjang seperti Metusala, namun Roh Kudus masih akan terus bekerja untuk kesempurnaan kita. Tapi kita tidak akan pernah mencapai kesempurnaan dalam perjalanan kita di dunia ini. Oleh sebab itu, bagi kita orang percaya, adalah sangat tidak baik untuk saling menghakimi! Sementara kita menghakimi dosa orang lain yang kelihatan, kita menunjukkan dosa kita yang lebih dalam di dalam diri kita sendiri! Sebagaimana Paulus nyatakan pada jemaat di Korintus:

 „...Dia, yang menghakimi aku, ialah Tuhan. Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Maka tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah....supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari yang lain. Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punya yang tidak engkau terima?“
I Kor.1:4-7

Tuhan memampukan saya untuk mengerti bahwa Ia menempatkan kita di dunia ini, bukan untuk saling menghakimi, melainkan untuk saling mengasihi! (Setiap kali menunjuk kesalahan orang lain, kita harus sadar bahwa paling tidak tiga jari lainnya menunjuk kearah kita sendiri!).

Oleh karena hidup saya telah banyak melewati celaan, saya mengerti apa artinya dicela. Saya tau, terserah apapun yang dikatakan manusia tentang saya, saya tetap milik Tuhan, hal ini saya ketahui dulu walaupun saya belum seperti ini, bebas dari rokok! Sejak saat itu, jika saya melihat kesalahan dalam diri seseorang, saya tahu bahwa Tuhan akan membereskannya pada waktuNya, selama orang itu terus mengikutNya. Dan kita tidak tahu apa yang sedang dikerjakan Tuhan dalam diri seorang lain yang mungkin hanya Tuhan yang tahu. Setiap orang terlebih dahulu memerlukan kasih Tuhan dan anak-anakNya sebelum mereka mampu memiliki perasaan melihat dosa orang lain tanpa celaan! Hal ini justru menolong saya untuk membawa dosa seseorang yang kelihatan kehadapan Tuhan dalam doa, daripada melihat mereka secara kritik dan menghakimi, seolah-olah saya sendiri tidak punya dosa! Pagi berikutnya, Tuhan berbicara sekali lagi. „Mulai pagi ini engkau tidak akan merokok lagi.“

Sejak detik itu, saya merasa seolah-olah saya tidak pernah merokok! Saya tidak dapat percaya bahwa selama lima belas tahun, dua puluh kali sehari, saya telah mengisap asap yang buruk itu di tenggorokan saya! Hal ini tidak sulit dihentikan, oleh karena keinginan sama sekali telah hilang. Saya dibebaskan dari rokok!

Segalanya berjalan baik sampai hari ketiga. Dan inilah yang saya pelajari dari kebebasan memilih! Walaupun saya tidak lagi punya keinginanan untuk merokok, si setan mendorong saya untuk mencoba apakah saya memang benar-benar telah bebas. Dengan sedih saya harus katakan, bahwa saya ingin melakukan apa yang dia katakannya, maka saya coba lagi! Dan saya langsung menerima upah. Setan menemani saya selama tiga hari yang mengerikan. Saya kehilangan kehadiran Tuhan, dan saya merasa sukacita yang hambar serta tudingan-tudingan si musuh. Saya tidak tahu apakah hal itu akan berakhir dan berulang kali saya minta ampun pada Tuhan.

Pada hari keempat, akhirnya saya kembali merasakan kehadiran Yesus sekali lagi. Sementara itu Ia meletakkan kata-kata ini dalam hati saya: „KARYA SAYA BUKANLAH UNTUK DIPERMAINKAN!“

Sejak saat itu saya tidak pernah lagi merokok. Tetapi saya masih terus berperang melawan kesombongan saya!