Perjalanan Keagamaan Dari Roma

...
Ruth dan saya menemukan bahan-bahan dari seminar pendeta sangat membantu dan informatif hingga bagian yang terakhir.
Penceramahnya berasal dari General Conference di Washington, DC, dan beberapa dari pernyatannya sangat menggelitik. Yang menjadi titik balik bagi hidup saya adalah tulisan Ellen G. White yaitu “diilhami sama seperti Matius, Markus, Lukas dan Yohanes”.
...


 

Jutaan, bahkan mungkin mayoritas dari umat Roma Katolik hanya Katolik dalam nama, karena budaya, atau hanya menganut secara pasif. Sebaliknya keluarga kita adalah pengikut Roma Katolik berdasarkan keyakinan. Kita memahami dan menjalankan pengajaran dari kepercayaan kita. Kita percaya gereja kita adalah satu-satunya gereja yang benar yang didirikan oleh Yesus Kristus. Karena itu kita menerima tanpa ragu apapun yang diajarkan pastor kita. Pada masa lampau sebelum Vatican II, kepercayaan umum adalah bahwa “di luar Gereja Roma Katolik tidak ada keselamatan”. Hal ini membuat kita merasa aman dan merasa benar. Kita aman dalam rangkulan “gereja suci bunda”.   

Sejak ayah saya meninggal (saya hampir berusia sepuluh tahun saat itu), ibu saya menghadiri misa harian, tanpa alpa seharipun selama lebih dari dua puluh empat tahun. Keluarga kami dengan setia membacakan rosario setiap petang. Kami didorong untuk secara rutin mengunjungi sakramen pemberkatan. Sebagai tambahan dari pengajaran di rumah, semua sekolah kami adalah sekolah Roma Katolik. Tuan Hubert Cartwright dan pendeta lainnya di biara gereja kami, the Cathedral of Saints Peter and Paul di Philadelphia, Pennsylvania, dulu sering berkata bahwa keluarga kami lebih katolik daripada Roma.

Tidaklah heran pada saat saya mencapai usia di tingkat SMU, saya merasa terpanggil untuk menjadi pastor Roma Katolik. Daripada memilih biara sekular, yang melayani jemaat, saya memilih untuk mendaftar di Discalced Carmelites, salah satu dari order biara yang lebih ketat dan telah berdiri lama.

Termotivasi oleh Kasih

Dari hari pertama di Holy Hill, Wisconsin, saya mencintai kehidupan religius, dan cinta ini merupakan motivasi yang saya perlukan untuk melalui pelajaran bahasa Latin dan lainnya yang sangat sulit bagi saya. Dedikasi dan pengorbanan dari para pendeta yang mengajar kelas-kelas kami merupakan peringatan terus menerus akan nilai pengorbanan untuk mencapai tujuan kami yaitu pentahbisan.

Pelatihan yang saya terima dalam empat tahun di seminari SMU, dua tahun persiapan di biara, tiga tahun di filosofi, dan empat tahun di teologi (terakhir setelah pentahbisan) adalah menyeluruh. Saya tulus dalam menjalankan berbagai penyangkalan dan disiplin lainnya dan tidak pernah sekalipun meragukan panggilan saya atau apapun yang diajarkan. Mengambil sumpah untuk hidup dalam kemiskinan, kesucian, dan ketaatan mewakili komitmen seumur hidup saya bagi Tuhan. Bagi saya, suara dari gereja adalah suara Tuhan.

Kristus yang Lain

Pentahbisan saya di Pastori Roma Katolik dilaksanakan di Shrine of the Immaculate Conception of Mary di Washington DC, gereja terbesar ketujuh di dunia saat ini. Ketika “Yang terhormat, Bishop” John McNamara menumpangkan tangannya di kepala saya dan membacakan ayat dari Mazmur 110:4, “….Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek.” Saya begitu terpesona dengan keyakinan bahwa saya kini menjadi perantara antara Tuhan dan manusia. Pentahbisan dan penyatuan tangan saya dengan kain khusus menandakan bahwa sekarang tangan saya telah disucikan untuk merubah roti dan anggur menjadi tubuh dan darah Yesus Kristus secara nyata, untuk mengabadikan pengorbanan di Kalvari melalui misa, dan untuk membagikan anugrah keselamatan melalui sakramen baptisan Roma Katolik, pengakuan dosa, konfirmasi, pernikahan dan penguburan. Pada saat pentahbisan, konon pendeta Roma Katolik menerima tanda yang permanen: mengalami perubahan terus menerus dari karakternya menjadi karakter Kristus, sehingga ia dapat menjalankan tugasnya sebagai “Kristus yang lain” (alter Christus) atau berada di tempat Kristus. Orang banyak berlutut dan mencium tangan kami yang telah disucikan, kepercayaan ini begitu tulus.

Setelah menyelesaikan tahun terakhir di teologi, yaitu persiapan terakhir untuk berkhotbah dan mendengar pengakuan dosa (yang mencakup memberikan pengampunan dosa), saya mendapatkan sesuatu yang telah lama saya rindukan yaitu menjadi misionaris di Filipina.

Menemukan Kebebasan Baru Dalam Kehidupan Misionaris

Perubahan dari kehidupan biara yang sangat ketat terkontrol ke kesederhanaan dan kebebasan dari kehidupan misionaris merupakan tantangan di mana saya belum dipersiapkan. Saya suka bepergian ke delapan puluh atau lebih perkampungan primitif dibawah tanggung jawab kami dan saya juga sangat menikmati mengajar kelas agama di Sekolah Menengah Carmelite di kota kecil kami. Sampai saat tersebut hidup saya hampir semata-mata untuk orang-orang lain. Saya menikmati saat melihat para gadis tertawa-tawa dan menggoda para pria. Selang sesaat, perhatian saya tercurah pada satu dari murid yang lebih rajin, yang sepenuhnya menarik minat saya. Gadis muda ini sangat dewasa melebihi umurnya karena tanggung jawab yang jatuh padanya setelah ibunya meninggal. Dia dengan manis dan malu-malu menanggapi saat kami mencuri waktu untuk bercakap-cakap berdua setelah kelas usai. Ini adalah petualangan baru, dan segera saya menginterpretasikan perhatian kami yang baru sebagai cinta.   

Tidaklah heran bahwa bishop segera mendengar hal ini, walaupun beliau berada bermil-mil jauhnya, dan beliau segera mengirim saya kembali ke Amerika sebelum hubungan yang makin serius sempat terbina. Rasa malu karena disiplin ini sangat sulit bagi kami berdua, tetapi hidup harus terus berjalan.

Sesudah mengalami petualangan dan kebebasan di Filipina, saya tidak mempunyai motivasi untuk kembali ke kehidupan biara, maka Pastor di Provinsi memberikan ijin pada saya untuk bekerja sebagai pengerja di Discalced Carmelite di Arizona. Saya menikmati tanggung jawab saya di biara itu, tetapi penugasan saya berikutnya tidak begitu memuaskan. Segera saya mendapat dispensasi dari Roma untuk meninggalkan order Carmelite untuk melayani sebagai pendeta sekuler (diocesan). Selama melayani jemaat yang besar di San Diego, California, saya mengajukan permohonan untuk memasuki angkatan laut Amerika Serikat sebagai pendeta Roma Katolik. Di sana tujuan-tujuan baru, pangkat dan kesempatan bepergian merupakan pelarian dari apa yang secara bertahap menjadi ritual dan upacara dalam kehidupan paroki yang steril.

Kehidupan keagamaan saya menjadi terbuka secara cepat saat saya bergabung dengan para pendeta non-Katolik. Untuk pertama kalinya, saya tinggal di luar budaya Roma Katolik saya. Di tengah suasana seperti itu saya secara bertahap menjadi netral. Kemudian saat Vatican II membuka jendela dari tradisi yang kaku untuk mengijinkan udara segar masuk, saya mengambil nafas yang dalam dan dengan penuh kegembiraan. Perubahan terjadi. Beberapa menginginkannya secara radikal, yang lain hanya menginginkan sedikit modernisasi.

Mempertanyakan Otoritas Roma

Seringkali iman Roma Katolik gagal untuk memberikan jawaban atas masalah umum di masa kini. Banyak orang merasa dikucilkan dan disalahmengerti. Hal ini khususnya terjadi pada pendeta. Dengan segala perubahan, kependetaan telah kehilangan kemegahannya. Pendidikan pendeta tidak lagi dianggap jauh lebih tinggi dari jemaat. Tidak lagi kebudayaan dari pendeta itu berada di atas orang awam. Pengalaman krisis identitas dikalangan pendeta lebih banyak daripada yang diketahui, bahkan dikalangan pelayan gereja.

Pada awalnya saya dengan sangat malu menyadari bahwa beberapa dari pelayan gereja Katolik berkencan. Saya mendengar dengan penuh minat saat beberapa secara terbuka mendiskusikan ketidakpraktisan mendasar dari keharusan untuk hidup sendiri.  Segera sayapun memiliki keberanian untuk mempertanyakan otoritas dari gereja kami yang terus mempertahankan tradisi tersebut, khususnya saat hukum dari hidup sendiri merupakan sumber dari banyak masalah moral di kalangan pendeta. Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya meragukan otoritas dari agama saya, bukan karena kesombongan intelektual, tetapi merupakan masalah suara hati.

Sebagai siswa sekolah pendeta, kami tahu dengan jelas mengenai tradisi lampau yang mengikat pendeta Roma Katolik untuk hidup sendiri. Kami tahu jelas bahwa dari sedikit yang mendapatkan ijin dari Vatican untuk menikah tidak akan menjadi pendeta lagi. Tetapi waktu telah berubah. Pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah disuarakan, diajukan ke pertemuan Vatican di Roma. Banyak yang berpikir bahwa pendeta yang beristri, seperti umat Protestan, membuatnya lebih peka dan mengerti masalah pernikahan dan keluarga. Diskusi mengenai hal-hal tersebut adalah umum setiap kali para pendeta berkumpul, bahkan saat mereka mengunjungi apartemen tempat saya dan ibu saya tinggal.

Ibu tidak sungkan untuk ikut berdiskusi. Beliau adalah seorang yang cerdas dan berpengetahuan banyak, saya sangat menghargai pendapatnya. Saya mengingat betapa terkejutnya beliau bahwa teori evolusi diajarkan di sekolah Katolik dan bahwa Roma mengadakan dialog dengan komunis. Beliau telah lama merasa terganggu dengan beberapa konflik yang diamatinya antara pengajaran Alkitab dengan kekurangan dalam prinsip kepercayaan dasar diantara para pemimpin agama di gereja kami. Lama sebelumnya, tuan Cartwright telah menghibur ibu dengan mengingatkan bahwa walaupun ada banyak masalah di gereja kami, Yesus berjanji bahwa “…. Pintu neraka tidak akan menang atasnya.” Ibu selalu sangat menjunjung tinggi Alkitab. Walaupun beliau membacanya dengan setia selama bertahun-tahun, sekarang beliau menjadi murid yang bersemangat dalam mempelajari Alkitab. Saat saya mengamati tren liberal yang berkembang diantara kolega saya, ibu saya bersandar pada patokan yang berbeda. Itu merupakan misteri bagi saya. Ketika yang lain mendiskusikan mengenai peraturan dan ritual yang lebih santai dan longgar, ibu mengemukakan kerinduannya untuk melihat penekanan Alkitab yang lebih lagi di gereja – perhatian yang lebih terhadap aspek spiritual dari hidup dan penekanan yang lebih pada Yesus, bahkan hubungan pribadi denganNya.

Mempertanyakan Kepercayaan Roma

Pada awalnya saya tidak mengerti, tapi secara bertahap saya mengamati perubahan yang begitu indah pada ibu. Pengaruhnya menolong saya untuk menyadari pentingnya Alkitab dalam menentukan apa yang kita percayai. Kami sering mendiskusikan topik seperti keistimewaan Petrus, kesempurnaan papal, kehidupan pendeta, baptisan bayi, pengakuan dosa, misa, konsep kesempurnaan Maria, dan pengangkatan Maria ke surga. Pada saatnya saya menyadari bahwa bukan saja kepercayaan tersebut tidak tercantum di Alkitab, semua itu sebenarnya jelas-jelas bertentangan dengan pengajaran Alkitab. Akhirnya pagar yang membatasi keyakinan pribadi saya telah pecah. Tidak ada keraguan di pikiran saya mengenai pandangan Alkitab mengenai hal-hal tersebut, tetapi efek apa yang akan timbul dalam kehidupan saya sebagai pendeta?

Saya sepenuhnya percaya bahwa Tuhan telah memanggil saya untuk melayaniNya. Dilema etis sedang diperhadapkan pada saya. Apa yang harus saya perbuat? Benar, ada pendeta-pendeta yang tidak percaya semua dogma dari Roma. Benar, ada pendeta-pendeta yang secara rahasia mempunyai istri dan keluarga. Benar, saya dapat tetap menjadi pelayan gereja Katolik dan terus melayani tanpa menyuarakan ketidaksetujuan saya. Saya dapat terus menerima gaji dan keuntungan dari pangkat di militer. Saya dapat terus menerima bagian dan keuntungan lainnya untuk ibu saya. Ada banyak alasan untuk tinggal, baik secara profesional ataupun materi, tapi untuk melakukannya merupakan kepura-puraan dan tidak etis. Dari masa muda saya selalu berusaha untuk berbuat benar, dan itulah yang salah pilih sekarang.

Memutuskan Hubungan dengan Ajaran Katolik

Walaupun Bisop saya baru-baru ini telah memberi ijin bagi saya untuk menjalani duapuluh tahun di militer, saya mengundurkan diri setelah hanya empat tahun. Ibu dan saya dengan diam-diam pindah dekat kakak saya, Paul, dan istrinya, di San Fransisco. Sesaat sebelum kami pindah, ibu memutuskan hubungannya dengan ajaran Roma Katolik dengan cara menerima baptisan di gereja Advent-hari-ketujuh. Saya tahu beliau telah mempelajari Alkitab dengan salah seorang pengerja gereja tersebut, tetapi beliau tidak memberitahu saya mengenai baptisannya sampai saya telah memutuskan untuk meninggalkan jabatan pendeta.

Keputusan untuk meninggalkan semua itu sangatlah sulit. Roma mengklaim bahwa tidak adanya alasan yang obyektif untuk meninggalkan ”gereja yang satu dan am” merupakan sesuatu yang harus dikaji secara seksama. Umat Katolik tradisional akan tetap menamai saya “pendeta Yudas”, dikutuk, dikucilkan dan dihindari. Benar, ada banyak kesulitan saat meninggalkan posisi aman Roma Katolik, tetapi saya mendapati bahwa Yesus tidak pernah mengecewakan.

Otoritas dari Alkitab

Setelah mengibaskan debu Roma Katolik dari sepatu saya, saya dihadapkan pada hal yang penting: dimanakah otoritas yang tertinggi dapat ditemukan? Melalui proses eliminasi, secara bertahap saya menyimpulkan bahwa Alkitab adalah satu-satunya otoritas yang tidak dapat diguncang. Banyak sistem, termasuk Roma Katolik, telah mencoba tanpa hasil untuk mempertanyakan kelengkapannya, keefisiennannya, kesempurnaannya, bahkan penulisan oleh orang-orang kudus Allah yang digerakkan oleh Roh Kudus.

Sebab tidak pernah nubuat dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang-orang berbicara atas nama Allah.
II Petrus 1:21.

Betapa sukacitanya saat semua yang menyebut nama Yesus Kristus mengerti bahwa Alkitab adalah sumber otoritas satu-satunya yang tidak berubah. Itu merupakan otoritas tertinggi karena identifikasinya yang lengkap dengan Pengarangnya yang takkan pernah berubah. Tuhan telah menyampaikannya dengan jelas. Adalah tragis bahwa aliran Roma dan kebanyakan dari aliran Protestan tradisional, begitu pula pantekosta dan kelompok-kelompok lainnya, menolak kepenuhan Alkitab. Mereka lebih memilih untuk berpegang pada tradisi yang patut dipertanyakan, penglihatan, roh atau nubuatan. Bukan hanya sumber-sumber tersebut tidak dapat menggantikan Tuhan, bahkan banyak diantaranya yang bertentangan dengan ajaran Alkitab.

Mungkin alasan mengapa banyak yang menganggap Alkitab kurang lengkap adalah karena mereka belum mempelajarinya secara menyeluruh. Catatan saya dari tigabelas tahun belajar di Discalced Carmelite Order menunjukkan bahwa saya hanya mendapat dua belas kredit semester untuk mempelajari Alkitab. Itu saja merupakan bukti bahwa Alkitab bukan merupakan dasar pengajaran Roma Katolik.

Keinginan Dini untuk Bergabung dengan Gereja

Setelah meninggalkan ajaran Roma Katolik saya ingin belajar Alkitab. Saya merupakan orang yang berorientasi pada gereja, tidak menolak untuk bergabung dengan denominasi lain. Setelah menyelidiki beberapa gereja Protestan, dengan sedih saya menyimpulkan bahwa dalam kebodohan pandangan tentang gerejanya, mereka telah mengarah pada Roma dengan mengorbankan kebenaran Alkitab. Mengamati gereja-gereja demikian dapat menjadi sangat mengecewakan bahkan berbahaya bagi mantan pengikut Katolik dalam prosesnya mencari kebenaran.

Sebaliknya, pertemuan dengan teman-teman Adven ibu sangat menyenangkan. Mereka bersemangat dalam iman dan kasih mereka terhadap Alkitab, menggemakan kerinduan saya untuk belajar Alkitab. Hal ini membuat keputusan dini untuk bergabung dengan denominasi Adven-hari-ketujuh. Pendeta yang membaptis saya mengatur agar Konferensi Southern California mengirim saya ke seminari di Universitas Andrew selama setahun.

Pada saat membuat rencana untuk studi setahun, saya bertemu dengan Ruth. Selama sekitar setahun saya telah berharap dan berdoa agar menemukan istri. Dari sejak pertama kali Ruth datang ke gereja kami, saya tahu dia akan menjadi teman hidup saya. Kami menikah sesaat sebelum saya masuk seminari. Dia berpindah ke aliran Adven dan seperti semua orang mengasumsikan saya adalah seorang Kristen karena saya hendak masuk ke seminary.

Lahir dari Roh

Menyadari bahwa saya belum pernah menyinggung kelahiran baru, istri saya suatu hari bertanya, “Bart, kapankah engkau menjadi Kristen?” Jawaban saya yang sulit dipercaya adalah “Saya dilahirkan sebagai seorang Kristen”. Dalam pembicaraan selanjutnya dia berusaha untuk membuat saya mengerti bahwa manusia, yang lahir dalam dosa, pada suatu saat harus menyadari kebutuhan akan juruselamat dan lahir baru dalam Roh dengan percaya hanya kepada Yesus Kristus untuk menyelamatkannya dari konsekuensi dosa. Ketika saya menjawab bahwa saya selalu percaya pada Tuhan, dia mengamati bahwa menurut Yakobus 2:19:

Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.

Pada saatnya, karena pembicaraan tersebut dan karena pelajaran di kelas mengenai kitab Roma, Galatia dan Ibrani, saya akhirnya memahami bahwa saya telah bersandar pada kebenaran diri sendiri dan usaha-usaha keagamaan dan bukan pada pengorbanan yang penuh dan lengkap dari Yesus Kristus. Ajaran agama Roma Katolik tidak pernah mengajarkan pada saya bahwa kebenaran kita adalah kedagingan dan tidak dapat diterima oleh Allah, dan bahwa kita hanya perlu percaya pada kebenaranNya. Dia telah melakukan segalanya yang perlu dilakukan dari pihak orang percaya. Kemudian suatu hari dalam ruang ibadah, Roh Kudus menegur saya akan kebutuhan saya untuk bertobat dan menerima “hadiah” dari Tuhan.

Selama bertahun-tahun dalam kehidupan biara saya bersandar pada sakramen dari Roma untuk memberikan pada saya karunia, untuk menyelamatkan saya, tapi sekarang oleh karunia Tuhan saya telah lahir secara roh: saya telah selamat. Ketidakpedulian akan kebenaran Tuhan, seperti orang Yahudi di jaman Paulus, saya telah membangun kebenaran diri sendiri, tidak bersandar pada kebenaran Allah
(Roma 10:2-3).

Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.

Saya tidak kenal siapa anda atau bagaimanakah hubungan anda dengan Tuhan, tetapi ijinkan saya menanyakan pertanyaan terpenting dalam hidup: apakah engkau seorang Kristen yang Alkitabiah? Apakah anda percaya hanya pada pengorbanan penuh dari Kristus untuk pengampunan atas semua dosamu? Bila tidak, mengapa tidak menyelesaikannya sekarang? Seperti pada saat pemberkatan pernikahan, berjanjilah pada Tuhan akan kasihmu, penyerahanmu, kepercayaanmu. Menerima Yesus sebagai juruselamat bukanlah sesuatu yang anda lakukan sebagai ritual keagamaan, itu merupakan komitmen sekali saja dalam hidupmu kepadaNya untuk pengampunan dari segala dosamu. Sejak saat anda melakukannya, Yesus Kristus mengambil posisi penting dalam keberadaanmu, dan anda menerima hidup yang kekal. Setelah itu, anda akan berubah. Alkitab berkata,

Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik dia antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.
Filipi 1:6

Beberapa… Akan Merubah Injil Kristus

Mendekati tahun keempat sebagai pengikut Adven saya dipengaruhi oleh beberapa anggota gereja untuk menghadiri pertemuan penganut karismatik. Mereka berkata bahwa Roh Kudus telah menumbangkan batasan denominasi pada hari-hari menjelang kedatangan Yesus kedua kali. Menginginkan semua yang Tuhan sediakan bagi saya, saya pergi ke ruang doa untuk menerima “karunia lidah”. Saya di satu pihak meragukan semua itu, terutama karena saya tidak mengalami apa yang disebutkan banyak orang. Saya secara pribadi melatih lidah, tapi saya tidak dapat menarik orang untuk mengikutinya. Adalah lebih penting bagi saya untuk menggerakkan orang untuk mempelajari Alkitab, untuk membawa orang percaya Kristus, dan untuk hidup sesuai prinsip Alkitab. Ketertarikan utama saya dalam pergerakan karismatik adalah perhatian pada orang lain yang memberikan inspirasi. Hal ini, bersamaan dengan spontanitas dan sikap antusias membuat saya kagum, hal tersebut adalah contoh kehidupan Alkitabiah dimana sepertinya kurang nampak di banyak gereja.

Tidak lama setelah saya ditahbiskan sebagai pendeta Adven-hari-ketujuh, Konferensi Southern mempromosikan secara khusus tulisan Ellen G. White, salah satu pendiri Adven dan seorang yang dipercayai pengikut Adven sebagai nabi. Ruth dan saya menemukan bahan-bahan dari seminar pendeta sangat membantu dan informatif hingga bagian yang terakhir. Penceramahnya berasal dari General Conference di Washington, DC, dan beberapa dari pernyatannya sangat menggelitik.

Yang menjadi titik balik bagi hidup saya adalah tulisan Ellen G. White yaitu “diilhami sama seperti Matius, Markus, Lukas dan Yohanes”.

Merasa terganggu, saya berkonsultasi dengan pemimpin yang sangat dihormati tetapi tidak dapat menyelesaikan ini dalam hati nurani saya. Saya sudah mulai merasa terikat secara spiritual dalam Adven karena keberadaan dan keeksklusifannya, tetapi ini adalah menambahkan Alkitab. Ketika saya memilih untuk tidak memulai pengajaran yang bernama “Penghitungan mundur Kesaksian” di gereja kami, beberapa anggota protes. Dalam beberapa hari, saya menyadari, dalam prinsip kebenaran, bahwa saya tidak dapat terus menjadi pendeta Adven. Tanpa dukungan dan pertolongan dari beberapa teman pelayanan non-Adven perubahan itu akan menjadi terlebih sulit.

Selama empat tahun berikutnya saya melayani dua gereja dan bertumbuh dengan pesat dalam pengetahuan akan Alkitab dan menyadari sulitnya untuk menghadapi orang yang tidak berada dalam sistem yang terkontrol. Saya juga memiliki banyak kesempatan untuk memberikan kesaksian. Saya diyakinkan bahwa Tuhan telah “menganggap saya setia, menempatkan saya dalam pelayanan” tetapi bukan sebagai pendeta.

Misi bagi Umat Katolik

Dengan penuh doa dan tujuan saya memutuskan untuk kembali ke San Diego, dimana saya pernaj melayani sebagai pendeta di biara. Sadar bahwa Vatican II telah banyak memberikan umat Roma Katolik kebingungan dan ketidakpuasan, saya merasa dipimpin untuk memulai pelayanan untuk menolong mereka dalam transisi dari denominasi Katolik. Tak lama kemudian, Tuhan membukakan pintu bagi saya untuk berbicara. Orang-orang ingin mengetahui nama dari pelayanan ini. Jawaban kami adalah bahwa itu seperti misi bagi umat Katolik.

Saat saya dan Ruth bertumbuh secara rohani, kami yakin akan penyimpangan dari pergerakan karismatik dan meninggalkannya. Pada saat hampir bersamaan, kami bertemu beberapa penganut Alkitab fundamentalis yang percaya dan dengan iman mempraktekkan pengajaran Alkitab. Walaupun kami mempunyai banyak teman di gereja Injili, kami adalah anggota dari gereja Baptis Fundamental, dimana saya ditahbiskan.

Misi International untuk umat katolik dibentuk dan ditetapkan sebagai organisasi nirlaba. Sejak berdiri telah membagikan jutaan traktat, buku dan kaset yang memaparkan kontradiksi antara ajaran Roma Katolik dan Alkitab dan mejelaskan keselamatan yang Alkitabiah. Warta mingguan tersedia bagi partisipan yang menginginkannya. Tuhan telah mengijinkan kami sedikit publikasi di radio dan televisi dan kami bersyukur bahwa autobiografi saya, Pilgrimage from Rome, telah diterbitkan dan mendapat sambutan sangat baik, dalam bahasa Inggris maupun bahasa Spanyol. Kami mengadakan pertemuan dan membawa bahan bacaan ke banyak negara asing dan pemesanan melalui pos dikirim 5 hari dalam seminggu melalui rukan kami di San Diego.

Pertemuan membuat kita sibuk, seringkali sampai mencapai tigabelas minggu dimana kami berkeliling Amerika dan negara-negara lain. Sekolah penginjilan bagi umat Roma Katolik menyediakan seminggu atau lebih untuk pelatihan intensif bagi para pastor dan pengerja lainnya yang rindu untuk membangun pelayanan khusus untuk menjangkau komunitas umat Roma Katolik secara efektif melalui gereja mereka. Misionaris dan mantan umat katolik juga didukung untuk menghadiri (terutama mantan pendeta dan biarawati, agar mereka dapat siap sedia untuk melayani di antara umat fundamentalis.

Pada misi bagi umat Katolik kita diyakinkan bahwa bukanlah kasih untuk menahan kebenaran dari mereka yang berada dalam kegelapan. Umat Roma Katolik perlu ditantang untuk mengkaji apa yang mereka percayai dan untuk mempelajari Alkitab, membandingkan kepercayaan mereka dengan kebenaran Alkitab. Barulah kemudian mereka akan mengalami kemerdekaan dan pencerahan dari kebenaran Ilahi.

“dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.”
(Yohanes 8 : 32)


Bartholomew F. Brewer

Lahir di Amerika di mana beliau menerima keselamatan alkitabiah. Saat ini pelayanan Brewer mencakup seluruh Amerika dengan pelayanan berkala di Eropa dan Filipina. Beliau adalah direktur dan pendiri Misi Internasional untuk Umat Katolik (Mission to Catholics International).

 

 

 

 

Alamat: Missions to Catholics International, Inc.
P.O. Box 19280
San Diego, CA 92159-0289 U.S.A.
Telepon. (619) 698-1823
bart@mtc.org